Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
202
Get the app for full experience
Di dalam dimensi pribadinya, waktu terasa mengalir dengan cara yang berbeda. Langit ungu-keemasan itu tak pernah benar-benar gelap, dan tak pernah benar-benar terang. Kirana terus berlatih — hari demi hari, atau mungkin minggu demi minggu, ia tak lagi menghitungnya. Setiap tetes keringat, setiap napas yang memburu, setiap kali ia jatuh dan bangkit kembali — semuanya terasa menyatu dengan dirinya. Ia tak menyadari bahwa di dunia luar, waktu terus berjalan, dan di Pradana Mansion serta di kediaman setiap klan, kesibukan yang luar biasa sedang berlangsung.
Di luar sana, Klan Bayu sibuk mengirimkan laporan demi laporan, memantau setiap pergerakan yang mencurigakan di seluruh penjuru kerajaan. Klan Sena memperkuat pertahanan tanah dan benteng, memastikan tidak ada titik lemah yang bisa dimasuki. Klan Aruna mendalami kitab-kitab kuno sihir, mencari cara mematahkan setiap kutukan dan sihir gelap yang mungkin muncul. Klan Ardika, di bawah kepemimpinan baru Kesuma, mulai kembali menegakkan sumpah leluhur, melatih prajurit dengan tekad yang tak pernah ada sebelumnya. Dan di Pradana Mansion, Darma dan Haris mengatur segala persiapan — logistik, perlindungan, serta penyatuan seluruh klan agar tidak ada perpecahan yang bisa dimanfaatkan musuh. Semua orang sibuk, semua orang bersiap, menantikan pertempuran yang tak mereka ketahui kapan tepatnya akan tiba.
Namun di dalam dimensi itu, Kirana tak tahu apa-apa. Ia hanya tahu satu hal — ia harus menjadi lebih kuat.
Hari itu, setelah berlatih bertarung dengan sosok buatan cahaya hingga keringat membasahi seluruh tubuhnya, Kirana berhenti sejenak. Ia berdiri tegak, napasnya teratur, menatap kedua telapak tangannya yang berpendar keemasan. Selama ini ia selalu bertarung di tanah — melompat, menghindar, menyerang. Namun sesuatu terus mengganggu pikirannya.
Phoenix adalah burung api yang terbang tinggi di langit... pikirnya. Mengapa aku hanya bertarung di tanah?
Ia menutup matanya, menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan kekuatan api di dalam dirinya mengalir bebas — bukan ke tangan, bukan ke kaki, melainkan ke punggungnya. Ia membayangkan sayap — besar, kuat, terbuat dari api murni yang tak membakar dirinya sendiri.
Perlahan, panas terasa menjalar di punggungnya. Cahaya keemasan mulai menyembul dari kedua bahunya, membentuk dua gumpalan api yang terus membesar. Namun saat ia mencoba mengendalikannya, api itu bergejolak tak menentu, membakar pakaiannya dan membuatnya kesakitan. Kirana terhuyung ke depan, api itu lenyap seketika.
"Sial..." geramnya pelan, menahan rasa perih di punggung. "Kau bagian dari diriku. Mengapa kau tak mau menurut?"
Ia mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi. Puluhan kali ia gagal — api terlalu besar, terlalu panas, tak berbentuk, atau tiba-tiba padam di tengah jalan. Namun setiap kali gagal, ia belajar. Ia belajar menyeimbangkan kekuatan itu, menyalurkannya dengan lembut namun teguh, membiarkan api itu membentuk sayap bukan dengan paksaan, melainkan dengan kehendak yang tenang dan yakin.
Sampai pada satu momen... semuanya berubah.
Kirana berdiri diam, matanya tertutup, hatinya tenang sepenuhnya. Ia tidak memaksa. Ia hanya berbisik dalam hati: Kita satu. Kau bagian dari api ini. Terbanglah bersamaku.
Dan saat itu juga, dua sayap besar terbentang lebar di punggungnya — terbuat dari api keemasan yang murni dan hidup. Nyala apinya bergerak lembut seperti bulu burung, memancarkan cahaya hangat namun tidak membakar kulitnya. Kirana membuka matanya, terkejut sekaligus kagum melihat bayangannya di permukaan danau cahaya tak jauh dari sana. Sayap itu indah, megah, dan penuh kekuatan yang tak terlukiskan.
Tanpa ragu sedikit pun, ia melompat ke atas.
Untuk sesaat ia jatuh — namun dengan satu kepakan sayap itu, tubuhnya melesat naik ke udara dengan kecepatan yang luar biasa. Angin menerpa wajahnya, langit dimensi itu kini terlihat begitu dekat. Kirana tertawa kecil — tawa bahagia, tawa kemenangan. Ia berputar, menukik, melayang — menguasai langit yang sebelumnya tak pernah ia sentuh.
Namun ia belum selesai. Di udara, pertarungan terasa berbeda. Keseimbangan berubah, sudut pandang berubah. Kirana memanggil kembali sosok buatan cahaya itu — kali ini ia juga muncul bersayap, siap bertarung di ketinggian.
Pertarungan udara pun dimulai. Kirana menukik cepat melepaskan bola api, lalu membelok tajam di detik terakhir. Ia belajar menyerang dari atas, dari samping, dari belakang — sudut yang tak bisa dijangkau dari tanah. Ia belajar mempertahankan keseimbangan sambil melepaskan serangan, mengatur kekuatan sayap agar tidak terlalu cepat maupun terlalu lambat. Berkali-kali ia hampir kehilangan kendali dan jatuh — namun setiap kali sayap itu mengepak pelan, menahannya, membawanya kembali naik.
Hingga akhirnya... ia menguasainya sepenuhnya.
Di ketinggian itu, Kirana berhenti bergerak, melayang diam di udara seakan berdiri di atas tanah. Sayap apinya membentang megah di belakangnya, memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Matanya bersinar penuh keyakinan baru. Ia merasakan kekuatan yang sebelumnya tak pernah ia miliki — kebebasan, ketinggian, dan sudut pandang yang tak dimiliki siapa pun yang bertarung hanya di tanah.
Ini bukan sekadar kemampuan baru... pikirnya sambil tersenyum tipis, senyum yang penuh percaya diri dan sedikit tantangan — senyum miring yang penuh arti. Ini adalah senjata rahasia. Dan tidak ada yang perlu tahu tentang ini... sampai saat pertempuran itu tiba.
Ia mengepakkan sayap pelan sekali lagi, api di sekitarnya berkilau indah.
"Simpan ini untuk saat yang tepat," bisiknya pelan dengan senyum miring yang tak tersembunyikan . "Biarkan mereka berpikir aku hanya bisa bertarung di tanah. Biarkan mereka meremehkanku. Dan saat aku membentangkan sayap ini di hadapan mereka... itu akan menjadi kejutan terakhir yang akan mereka lihat."
