39. Bebas Tapi Berat Dihati

Romance Series 154

MATAHARI YANG LAIN
Matahari menyentuh kelopak matanya terlebih dahulu — lembut, hangat, tidak menyengat seperti cahaya yang dulu masuk melalui jendela kamarnya yang kecil dan kotor. Kirana membuka mata perlahan, napasnya masih berat sisa tidur yang paling panjang, paling tenang yang bisa ia ingat seumur hidupnya.
Langit-langit di atasnya bukan yang ia kenal. Tidak ada retakan. Tidak ada noda air hujan. Halus, putih, dihiasi ukiran bunga halus di pinggirannya. Dia berbalik perlahan — jendela besar, tirai sutra berwarna krem yang melambai ditiup angin pagi. Karpet tebal menutupi lantai hingga menyembunyikan dinginnya batu. Perabotan kayu gelap berkilau dipoles sempurna.
Hatinya berdebar pelan. Ingatan mengalir — gaun putih bersulam perak, lorong panjang, tatapan ratusan mata, tangan Darma yang terulur, sumpah yang diucapkan di hadapan Haris Pradana. Kemarin. Pernikahan. Dia bukan lagi di Ardika Mansion.
Dia menoleh ke samping. Tempat tidur luas di sebelahnya — kosong. Seprai rapi, tidak ada bekas tidur. Darma tidak ada.
***********
KERTAS YANG MEMBEBASKAN
Saat ia duduk, pandangannya jatuh ke meja kecil di samping tempat tidur. Di sana — selembar dokumen ditekan gelas bening agar tidak jatuh. Seolah-olah diletakkan dengan sengaja, agar ia melihatnya saat pertama kali membuka mata.
Kirana mengernyit. Tangannya meraihnya perlahan. Kertas itu tebal, bermeterai, tulisan resmi yang rapi. Matanya menyapu baris demi baris — dan perlahan, napasnya tertahan.
Perjanjian Pemutusan Hubungan Klan Ardika — Kirana tidak lagi memiliki ikatan hukum maupun keluarga dengan Klan Ardika. Dilarang menghubungi, mengunjungi, atau meminta apa pun darinya. Tanda tangan sah: Dimas Ardika.
Tangan Kirana gemetar. Matanya kembali membaca nama itu — goyah, terburu-buru, seakan dia tidak sabar menandatanganinya. Air mata tumpah sebelum ia sadar. Satu, lalu banyak, jatuh membasahi pipi, menetes ke kertas — ia buru-buru menyekanya agar tidak merusak tulisan.
Dia tidak menangis karena sedih. Dia menangis karena rasa bersalah yang menghantam dadanya lebih keras daripada rasa lega.
Mereka membeliku. Mereka memutuskan ikatanku — dan membayarnya. Pradana membayar Dimas agar melepaskanku. Aku bukan istri yang mereka terima dengan tangan terbuka. Aku barang yang ditebus. Beban yang harus mereka pikul sekarang.
Dia meletakkan kertas itu di pangkuan, menutup wajah dengan satu tangan, bahunya bergetar tertahan.
Aku tidak ingin ini. Aku tidak ingin dibeli. Aku tidak ingin menjadi beban bagi orang-orang yang baru saja ku kenal. Darma... Haris... mereka tidak tahu apa yang mereka ambil ke dalam rumah mereka. Gadis yang tidak diinginkan siapa pun. Gadis yang dijual ayahnya sendiri.
***********
KETUKAN PINTU YANG LEMBUT
Ketukan pintu halus terdengar. Tiga ketukan, teratur, tenang.
"Boleh aku masuk?"
Suara Darma. Tenang, seperti biasa.
Kirana buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan, menarik napas panjang, mencoba menenangkan wajah.
"Silakan."
Pintu terbuka perlahan. Darma melangkah masuk, membawa nampan di tangan — teh hangat, roti lembut, buah yang dikupas rapi. Dia berjalan tenang menuju meja di samping tempat tidur. Langkahnya terhenti sesaat. Matanya menangkap jejak air mata di pipi Kirana, pandangannya jatuh ke kertas di pangkuannya.
Dia tidak bertanya "kenapa menangis". Dia hanya meletakkan nampan perlahan di meja, lalu duduk di kursi kecil yang sama tempatnya duduk semalam — jarak yang cukup dekat, namun tidak memaksa.
***************
PERCAKAPAN DI BAWAH CAHAYA PAGI
Kirana menunduk, jari-jemarinya meremas ujung kertas di pangkuannya.
"Kau... membayar untukku."
Suaranya pecah pelan. Bukan tuduhan. Pengakuan yang menyakitkan.
Darma menatapnya lurus.
"Itu bukan pembayaran untukmu. Itu harga agar mereka melepaskanmu. Dan itu hal yang sangat berbeda."
"Tapi mereka menjualku. Dan kalian membeli. Aku tahu nilainya di atas kertas. Dan aku tahu... aku tidak sepadan."
Darma menggeleng pelan, condong sedikit ke depan — matanya jernih, serius, tidak bercanda.
"Kau salah memahami segalanya, Kirana. Dimas melihat angka di atas kertas. Itu satu-satunya bahasa yang dia pahami. Jadi kami berbicara bahasanya — agar dia melepaskan apa yang tidak pernah miliknya."
"Tapi sekarang... aku milik kalian. Beban yang harus kalian bawa. Gadis yang tidak punya apa-apa, tidak punya siapa-siapa..."
"Kau tidak menjadi beban." Potong Darma lembut namun tegas. "Kau menjadi tanggung jawab. Dan bagi Pradana — tanggung jawab bukan beban. Itu kehormatan."
Kirana mengangkat wajah, air mata kembali jatuh, tapi tatapannya mulai berubah.
"Kenapa? Kenapa melakukan ini? Kau tidak tahu siapa aku. Dari mana asalku. Apa yang tersembunyi di dalam diriku. Kau bahkan belum pernah memintaku satu hal pun."
"Aku tahu cukup. Aku tahu mereka menyiksamu sejak kecil. Aku tahu mereka menganggapmu alat. Aku tahu kau tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan — kau hanya bertahan. Dan seseorang yang mampu bertahan selama itu tanpa kehilangan kelembutannya... layak dilindungi. Bukan karena kewajiban. Tapi karena itu hal yang benar."
Kirana terdiam. Kata-katanya tidak manis. Tidak berbunga-bunga. Tapi setiap kata terasa berat, kokoh, seperti batu yang diletakkan satu per satu di bawah kakinya agar tidak jatuh.
Dia menatap kertas di pangkuannya, lalu perlahan melipatnya rapi.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, Darma. Aku berjanji. Aku akan belajar. Aku akan berusaha menjadi... seseorang yang layak berdiri di sisimu."
Darma tersenyum tipis — senyum yang langka, lembut, menyentuh matanya.
"Kau tidak perlu berusaha menjadi orang lain. Cukup menjadi dirimu sendiri. Itu sudah lebih dari cukup."
Dia mendorong cangkir teh sedikit lebih dekat ke arahnya.
"Makanlah. Minumlah. Hari ini tidak ada yang akan memintamu melakukan apa pun. Istirahatlah. Kau berada di bawah perlindungan Pradana. Tidak ada yang bisa menyentuhmu. Tidak ada yang bisa menyakitimu. Tidak ada yang bisa memaksamu menjadi apa pun kecuali dirimu sendiri."
Kirana mengangkat cangkir, uap hangat menyentuh wajahnya. Rasanya manis, hangat, menjalar ke dada yang selama ini terasa dingin dan kosong. Dia menatap Darma lagi — dan untuk pertama kalinya, air mata yang jatuh bukan karena kesedihan. Itu karena dia mulai percaya — mungkin, mungkin saja, dia berhak hidup.
"Terima kasih, Darma."
"Selamat pagi, Kirana."
Darma berdiri, berjalan menuju pintu. Berhenti sesaat sebelum keluar.
"Pintu tidak dikunci. Jika kau butuh apa pun — ketuk. Aku ada di ruang kerjaku."
Pintu tertutup pelan.
*****************
DIA TIDAK SENDIRI LAGI
Kirana duduk sendirian di tepi tempat tidur. Kertas perjanjian terlipat rapi di meja. Teh hangat di tangannya. Cahaya matahari pagi menyinari ruangan yang luas dan tenang.
Mereka membeliku dengan uang. Tapi Darma... dia membeliku bukan untuk memiliki. Dia membeliku agar aku bebas.
Dia meletakkan cangkir perlahan. Menyeka sisa air mata terakhir. Wajahnya berubah — lembut, tapi matanya mulai menyala. Rasa bersalah masih ada, tapi di bawahnya tumbuh sesuatu yang lebih kuat: tekad.
Aku akan mencari ibuku. Aku akan menemukan kebenaran tentang siapa aku. Dan aku akan membuktikan — bahwa uang yang mereka bayar bukanlah harga penebusan. Itu adalah investasi. Dan aku akan membuatnya berkembang seribu kali lipat.
Dia mulai makan. Perlahan. Tenang. Untuk pertama kalinya — dia makan di rumah yang memberinya makan bukan karena harus, tapi karena dia berharga.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience