93. Jejak Yang Tertinggal

Romance Series 154

Di lobi utama Pradana Mansion yang luas dan megah, Dimas, Serena, dan Larasati berdiri dengan tangan saling meremas di depan perut. Mereka tidak berani duduk, tidak berani menatap ke sekeliling, bahkan tidak berani menarik napas terlalu dalam. Langit-langit tinggi yang dihiasi lampu gantung kristal yang berkilauan, lantai marmer yang memantulkan bayangan diri mereka sendiri — semuanya terasa menegaskan betapa kecil dan tidak berharganya mereka di tempat ini.
Haris berdiri di depan mereka, wajahnya tenang namun tatapannya tajam dan menuntut. Di sampingnya berdiri Darma, Bima, Aran, dan Kesuma.
"Kalian sudah melihat dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya terjadi." ucap Haris pelan namun tegas. "Kalian telah bersekutu dengan kejahatan terbesar yang pernah ada di dunia ini. Dan kalian hampir saja menyerahkan nyawa gadis yang menyelamatkan kita semua."
Dimas menunduk dalam, suaranya hampir tak terdengar.
"Kami... kami tidak tahu siapa dia sebenarnya. Dia hanya menjanjikan apa yang kami inginkan. Kami tidak tahu bahwa dia adalah iblis yang sebenarnya..."
"Kalian tidak tahu?" potong Aran pelan namun tajam. "Atau kalian hanya menutup mata karena terlalu terpesona oleh janji manisnya? Kalian rela menjual orang lain demi keinginan kalian sendiri."
Serena menggigil hebat, air mata mulai jatuh di pipinya.
"Kami menyesal... kami benar-benar menyesal..."
Larasati menatap lantai dengan mata berkaca-kaca. Selama ini ia membenci Kirana, meremehkannya, berharap gadis itu lenyap dari dunia ini. Namun hari ini ia menyaksikan sendiri — gadis yang selalu ia anggap lemah itu adalah satu-satunya harapan yang menyelamatkan nyawanya. Rasa malu membakar hatinya lebih menyakitkan daripada api apa pun.
"Aku..." suaranya pecah. "Aku tidak pantas meminta maaf. Aku sudah terlalu banyak menyakiti Kirana..."
Kesuma melangkah maju selangkah, menatap mereka bertiga dengan pandangan yang berat.
"Kalian adalah bagian dari klan Ardika. Kalian seharusnya menjadi pelindung, bukan menjadi alat bagi musuh. Kesalahan ini tidak bisa dimaafkan begitu saja. Namun karena kebaikan hati Kirana, kalian masih berdiri di sini hari ini."
Haris menghela napas panjang.
"Kalian boleh pulang. Tapi ingatlah satu hal. Jika kalian kembali berhubungan dengan kegelapan, jika kalian kembali menyakiti Kirana atau orang-orang yang dilindunginya... tidak ada yang akan menolong kalian lagi. Bahkan Kirana sendiri pun tidak akan mengampuni kalian untuk kedua kalinya."
Dimas mengangguk berulang kali, kepalanya hampir menyentuh lutut.
"Kami mengerti... kami tidak akan berani lagi..."
Mereka bertiga berjalan keluar dari lobi itu dengan langkah gontai, seolah memikul beban batu yang berat di punggung mereka. Pintu besar tertutup di belakang mereka, memisahkan mereka dari dunia yang penuh cahaya dan perlindungan itu.
 
Sementara itu, di kamar perawatan lantai atas, Kirana masih duduk setia di tepi tempat tidur ibunya. Sariya sudah terlelap nyenyak, napasnya teratur dan tenang. Cahaya matahari sore yang lembut masuk melalui jendela, menyinari wajahnya yang mulai terlihat lebih segar.
Kirana menggenggam tangan ibunya erat, matanya menatap wajah itu lekat-lekat. Di dalam hatinya, rasa syukur bercampur dengan kelegaan yang mendalam. Ia tidak lagi sendirian. Ia memiliki ibunya kembali.
Namun di tempat yang jauh, di sebuah lembah tersembunyi yang dikelilingi kabut emas, seorang pria berdiri diam memandang ke arah cakrawala. Cahaya keemasan yang lembut melingkupi tubuhnya, membuatnya tampak bercahaya seakan terbuat dari cahaya itu sendiri.
Itu adalah Wira.
Ia tersenyum lembut saat merasakan ikatan yang selama ini terputus perlahan terhubung kembali. Ia bisa merasakan kehadiran Sariya, merasakan detak jantungnya yang perlahan kembali kuat. Dan ia juga bisa merasakan pertarungan yang baru saja terjadi — api yang membakar kegelapan, tekad yang tak tergoyahkan, dan kekuatan yang mulai bangkit perlahan namun pasti.
"Putriku..." bisiknya pelan, suaranya lembut namun penuh kebanggaan yang tak terlukiskan. "Kau sudah berani melawan kegelapan sendirian. Kau sudah berani melindungi orang yang kau cintai."
Namun senyum itu perlahan memudar, digantikan oleh tatapan yang lebih dalam dan serius.
"Namun kekuatanmu belum sepenuhnya terbangun." ucapnya pelan seakan berbicara pada angin. "Masih terlalu kecil. Masih banyak yang belum kau pahami. Dan musuhmu belum benar-benar kalah."
Ia menatap ke arah bayangan gelap yang jauh di ujung cakrawala.
"Durga masih hidup. Dan dia akan kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar."
Wira menghela napas panjang, lalu menatap kembali ke arah tempat Kirana berada.
"Tetaplah tumbuh, anakku. Teruslah belajar. Dan ingatlah... kekuatan terbesarmu bukanlah api yang membakar musuh. Melainkan hati yang tulus dan cinta yang tak akan pernah padam."
Ia mengangkat tangan perlahan, seakan menyentuh udara di hadapannya. Cahaya keemasan yang sangat tipis dan hampir tak terlihat melayang perlahan, terbang menembus langit, menembus awan, menuju ke arah Pradana Mansion.
"Terimalah ini sebagai tanda bahwa Ayah selalu bersamamu."
 
Di kamar perawatan, Kirana tiba-tiba merasa ada sesuatu yang hangat menyentuh keningnya. Ia menutup mata sejenak, merasakan kehangatan itu menyebar ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa tenang dan kuat.
Ia tidak tahu dari mana datangnya perasaan itu. Namun di dalam hatinya, ia merasa seakan ada seseorang yang sedang memeluknya dari kejauhan. Seseorang yang sangat ia rindukan.
"Ayah..." bisiknya pelan tanpa sadar.
Di luar kamar, Darma berdiri diam di lorong yang sepi. Ia melihat cahaya keemasan yang sangat samar melintas di bawah pintu kamar, lalu lenyap seketika. Ia tidak tahu apa itu, namun ia merasakan satu hal — Kirana tidak lagi berjuang sendirian.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience