Series
154
DI TEMPAT YANG TAK TERJANGKAU
Di ruang yang terbuat dari cahaya dan kabut kuno... Wira berdiri sendirian. Sosoknya perlahan kembali menjadi bayangan yang samar, namun matanya masih menatap ke arah di mana putrinya lenyap menuju dunianya. Tangannya masih terulur perlahan, seakan masih bisa merasakan kehangatan tubuh putrinya yang baru saja memeluknya erat.
Kirana... anakku...
Suaranya bergema pelan di ruang kosong itu, penuh rindu yang tak terlukiskan. Ia menutup mata, dan bayangan wajah Sariya muncul di benaknya — wajah wanita yang dicintainya sejak masa kanak-kanak, yang kini terbelenggu jauh di dalam gua gelap. Hatinya terasa tercabik setiap kali teringat rantai yang melilit tubuh istrinya, setiap kali teringat darah yang menetes tanpa henti.
Sariya... kekasihku... tunggulah sebentar lagi. Putri kita telah bangkit. Darah kita telah bersatu dalam dirinya. Segera... kita akan kembali bersatu.
Wira melangkah pelan ke arah cahaya samar di kejauhan. Rasa rindu itu bukan sekadar kerinduan biasa. Ia adalah rasa sakit yang menembus jiwa — bertahun-tahun terpisah dari orang-orang yang dicintainya, hanya bisa melihat mereka dari kejauhan, hanya bisa menunggu waktu yang tepat untuk menyatukan kembali kekuatan yang terpecah. Ia tersenyum pahit.
Maafkan Ayah, Kirana... karena tak bisa berdiri di sisimu sekarang. Maafkan karena kau harus menanggung beban ini sendirian di usia yang masih muda. Tapi kau adalah darahku. Kau adalah darah Sariya. Dan api di dadamu... tak akan pernah padam.
Â
DI LUAR PINTU KAMAR
Di lorong kediaman Pradana, lima orang berdiri dalam keheningan yang berat. Pintu kamar Kirana tertutup rapat di belakang mereka.
Haris menghela napas panjang, menatap pintu itu dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Aku belum pernah melihat cahaya seperti itu seumur hidupku." suaranya rendah dan berat. "Bukan api biasa. Bukan sihir biasa. Cahaya itu... terasa seperti matahari yang terlahir kembali."
Bima Sena menyilangkan tangan di dada, matanya masih tak lepas dari pintu kamar.
"Kekuatannya berubah sepenuhnya. Sejak ia terbangun... aura di sekelilingnya terasa berbeda. Lebih tua. Lebih dalam. Seakan membawa ingatan ribuan tahun."
Arga Bayu mengangguk pelan, wajahnya masih tampak serius.
"Dan kau perhatikan matanya? Saat ia menatap kita... seakan ia sudah tahu segalanya. Tentang masa lalu. Tentang kita. Tentang apa yang menantinya."
Aran Aruna berdiri di samping mereka, matanya menatap lurus ke arah pintu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ia telah melewati sesuatu yang tak bisa kita pahami. Tempat yang hanya bisa dijangkau oleh jiwa yang kuat dan darah yang murni." suaranya lembut namun tegas. "Biarkan ia tenang. Jangan paksa ia bercerita jika belum siap."
Darma berdiri paling dekat dengan pintu. Tangannya tergenggam erat di sisi tubuh, matanya menatap pintu kayu itu seakan bisa menembusnya.
"Aku hanya khawatir..." suaranya terdengar berat. "Apa yang ia lihat atau dengar di sana... mungkin terlalu berat untuk seorang gadis seumurnya."
Haris meletakkan tangan di bahu putranya.
"Ia bukan gadis biasa, Darma. Dan lihatlah... meski berat... ia tetap berdiri tegak. Itu tanda kekuatan yang tak terlihat."
Mereka berdiri sejenak dalam diam, seakan berjanji dalam hati — tak peduli apa pun yang terjadi, mereka akan menjaganya.
Â
DI TEMPAT GELAP
Sementara itu... di tempat yang jauh, di kediaman yang terbuat dari batu hitam dan bayangan abadi... suasana penuh kemarahan yang menakutkan.
Durga berjalan mondar-mandir di ruang utama, wajahnya penuh amarah yang membara. Di hadapannya berlutut dua bayangan hitam, tubuh mereka gemetar ketakutan.
"Sepuluh hari!!!" bentak Durga, suaranya menggelegar bagai guntur yang membelah langit. "Kalian membiarkan Phoenix itu tidur selama sepuluh hari... dan kalian bahkan tidak tahu apa yang terjadi padanya?!"
Salah satu bayangan berbicara dengan suara gemetar.
"Tuan... ada perisai kuno yang melindungi kediaman itu. Sihir Elf... sangat kuat. Kami tak bisa melangkah masuk sedikit pun. Kami hanya bisa menunggu di luar..."
Durga berhenti melangkah, menatap tajam ke arah jendela yang gelap.
"Perisai Aran... jadi dia akhirnya turun tangan." Durga tertawa sinis, namun tawanya penuh ketakutan yang tersembunyi. "Itu berarti... kekuatan Phoenix itu sudah bangkit. Atau sedang dalam proses."
Bayangan yang lain menunduk semakin dalam.
"Kami juga merasakannya, Tuan. Sesuatu yang sangat kuat mengalir di dalam dirinya. Seakan... sesuatu yang lama hilang telah kembali."
Durga mengepalkan tangan erat, kuku menancap ke telapak tangannya sendiri.
"Maka waktunya semakin mendesak." suaranya rendah dan dingin. "Percepat persiapan. Jika Phoenix itu sudah bangkit sepenuhnya... tidak ada yang bisa menghentikannya. Kita harus bertindak sebelum ia menyadari sepenuhnya apa yang ia miliki."
"Dan Sariya..." Durga tersenyum miring kejam. "Jaga dia baik-baik. Dia masih kartu terbesar kita. Selama dia masih di tangan kita... Phoenix itu tidak akan berani bertindak sembarangan."
Â
DI BALIK JENDELA
Malam semakin larut. Di kamar Pradana... Kirana berdiri di balik jendela besar, memandang bulan purnama yang bersinar terang di langit malam. Angin malam menyelinap masuk, menerbangkan helaian rambutnya yang jatuh di pipi.
Tangannya perlahan terangkat menyentuh dadanya. Di sana... masih terasa hangatnya pelukan ayahnya. Masih terasa aliran kekuatan yang mengalir perlahan, menenangkan, namun juga menuntut tanggung jawab yang besar.
Ayah... Ibu... pikirnya dalam hati. Aku tahu sekarang. Aku tahu siapa aku. Aku tahu dari mana aku berasal. Dan aku tahu apa yang harus kulakukan.
Matanya menatap tajam ke arah langit gelap. Di balik keindahan malam itu... ia merasakan kehadiran bayangan yang jauh namun mengintai. Ia tahu musuh sedang bergerak. Ia tahu waktu tidak banyak.
Tunggu sebentar lagi, Ibu. Aku akan datang menjemputmu. Dan semua kebohongan yang menimpa kita... akan kubakar habis menjadi abu.
Ia menarik napas panjang, lalu perlahan menutup jendela. Tatapannya berubah teguh. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi ketakutan.
Besok... aku akan mulai.
Share this novel