Series
17
Pintu kayu jati tebal berukir burung Phoenix tertutup rapat di belakangnya. Ruangan itu luas, sejuk, berbau kayu tua dan kertas yang disimpan berpuluh tahun. Di dinding tergantung peta-peta lama, silsilah yang membentang dari lantai ke langit-langit, dan lambang Klan Bayu — seekor elang emas yang mencengkeram obor menyala.
Arga Bayu, kepala klan generasi ke-14, duduk di meja kerjanya. Punggungnya tegak, bahu lebar, rambut hitam beruban di pelipis. Matanya tajam, cokelat tua, biasa menembus kebohongan dalam sekejap. Di tangannya, segel lilin merah — lambang Klan Pradana.
Ia memecahkan segel itu. Kertas di dalamnya tebal, berbau dupa khas kediaman Pradana. Tulisan tangan rapi, tegas, tanpa kata berlebihan.
Kepada Kepala Klan Bayu — Arga Bayu.
Mohon jalankan penyelidikan menyeluruh atas gadis bernama Kirana Ardika, calon menantu Klan Pradana. Lampirkan fotonya.
Butuh laporan lengkap: siapa ibu kandungnya, di mana ia lahir, bagaimana hari-harinya di kediaman Ardika sejak kecil — siapa yang melayaninya, siapa yang memarahinya, apa yang ia lakukan setiap hari. Setiap detail sekecil apa pun. Jangan ada yang terlewat.
Segera. Rahasia mutlak.
— Haris Pradana.
Arga meletakkan surat itu. Lalu mengambil amplop kedua — foto yang dilampirkan.
Jari-jarinya berhenti di tepi foto. Ia mengeluarkannya pelan-pelan.
Napasnya tertahan.
Ia berdiri perlahan. Foto itu tergenggam di tangannya, didekatkan ke cahaya jendela — seakan cahaya bisa mengubah apa yang dilihat matanya.
Wajah itu. Garis rahang itu. Bentuk mata itu.
Arga mundur selangkah. Punggungnya membentur tepi meja. Matanya melebar, detak jantungnya menghantam rusuk. Ia tidak salah melihat. Ia tidak mungkin salah. Wajah itu — persis sama. Persis sama dengan foto tua yang ia lihat puluhan tahun lalu, saat masih anak-anak, di gudang leluhur yang terkunci. Foto yang tidak boleh dibuka siapa pun kecuali kepala klan. Foto yang tidak ada nama di belakangnya. Foto yang dikatakan leluhurnya — jangan dicari. Jangan disebut. Tunggu.
Arga memejamkan mata sebentar. Lalu membukanya lagi. Foto itu masih sama. Wajah tenang, mata jernih, tidak tersenyum, tidak menunduk. Seakan menatap lurus ke masa depan. Seakan menatapnya.
Ia berbalik. Melangkah cepat ke pintu.
"Siapkan kendaraan," katanya pada pengawal yang berdiri di lorong. Suaranya tidak bergetar, tapi tegas lebih dari biasanya. "Aku ke Aula Tetua."
Aula Tetua terletak di sayap paling jauh kediaman Klan Bayu. Dindingnya batu, lantainya batu. Cahaya hanya dari obor di dinding. Tiga orang tua duduk melingkar di tengah — pakaian sederhana, wajah penuh kerutan, mata tajam tidak berkurang dimakan usia.
Arga melangkah masuk. Langkahnya berat. Ia berhenti di hadapan mereka, menunduk hormat.
Tetua tertua, Kakek Bayu Agung, mengangkat kepala. Matanya menyipit. "Ada hal mendesak sampai kau datang sendiri, Arga?"
Arga mengangguk. Ia tidak bertele-tele. Mengeluarkan surat Haris dan foto Kirana, menyerahkannya.
"Permintaan dari Haris Pradana. Menyelidiki gadis ini — Kirana Ardika."
Ketiga tetua menunduk melihat foto itu. Keheningan. Lalu napas tertahan. Saling berpandangan.
"Haris Pradana..." gumam Tetua kedua. "Dia juga melihatnya."
Arga menatap lurus ke depan. "Saat saya melihat foto ini... saya teringat hari saya berumur tujuh tahun. Hari Kakek membawa saya ke Gudang Leluhur. Foto yang tergantung di dinding paling dalam — yang tidak boleh saya tanya siapa namanya." Ia berhenti sebentar. "Wajahnya persis sama. Tidak ada perbedaan."
Keheningan yang panjang. Obor di dinding menari-nari, bayang-bayang bergerak di wajah mereka.
Kakek Bayu Agung meletakkan foto itu perlahan. Jarinya menelusuri wajah di atas kertas, seakan menyentuh sesuatu yang panas.
"Kau yakin?" suaranya rendah, parau.
"Saya tidak mungkin lupa wajah itu, Kakek. Itu satu-satunya foto yang membuat saya takut sekaligus ingin tahu seumur hidup saya." Arga menatapnya tegas. "Saya minta izin membuka Gudang Leluhur. Saya harus membandingkan sendiri. Saya harus tahu."
Tetua ketua menggeleng pelan. "Gudang itu terkunci puluhan tahun. Tidak ada yang masuk sejak ayahmu meninggal. Kuncinya disimpan bukan untuk dilupakan — tapi untuk dijaga sampai waktunya tiba."
"Mungkin waktunya sudah tiba." Arga melangkah selangkah maju. Suaranya naik sedikit, tidak membantah, tapi memohon dengan keyakinan. "Haris Pradana sendiri mengirim permintaan ini. Dia tidak menulis alasannya. Tapi dia tahu. Atau setidaknya — dia merasakannya. Jika gadis ini memang orang yang ditunggu leluhur kita... maka kita tidak bisa menunggu lagi."
Kakek Bayu Agung menatapnya lama. Menatap matanya. Lalu menatap foto itu lagi. Ia menghela napas panjang — napas yang terdengar seperti angin melewati gua dalam.
"Kunci gudang..." suaranya berat, bergetar, "selalu digantung di leher kepala klan. Ayahmu memakainya sampai hari terakhir. Lalu ia memberikannya kepadamu. Dan kau tidak pernah menggunakannya."
Ia menatap Arga dalam-dalam.
"Hari ini — gunakanlah. Tapi ingat — begitu pintu itu terbuka, tidak ada jalan kembali. Apa yang kau temukan di dalam... akan mengubah jalannya klan ini selamanya. Bisa membawa kemuliaan. Bisa membawa api yang membakar kita semua."
Arga merogoh kerah bajunya. Mengeluarkan rantai emas yang tersembunyi di dalamnya. Di ujungnya — kunci tua berwarna hitam, berukir burung dengan sayap terbentang. Ia memegangnya erat-erat. Logam itu terasa dingin di kulit.
"Saya mengerti."
Kakek Bayu Agung mengangguk pelan.
"Pergilah. Dan lihatlah dengan matamu sendiri. Tapi bawa juga foto itu. Bandingkan. Jangan percaya ingatan saja. Percayalah pada mata leluhur kita."
Arga menunduk. "Terima kasih, Kakek."
Ia berbalik. Melangkah keluar aula. Pintu tertutup di belakangnya. Langkahnya tidak terburu-buru, tapi pasti. Tidak ada keraguan. Tidak ada ketakutan. Hanya tekad.
Gudang Leluhur berdiri terpisah dari bangunan utama — di ujung halaman belakang, di bawah pohon beringin raksasa yang daunnya menutupi cahaya matahari. Dindingnya batu tebal, atapnya berat. Pintu kayu hitam, berukir pola yang melingkar tanpa ujung.
Arga berdiri di hadapannya. Mengangkat kunci. Memasukkannya ke lubang gembok. Memutar.
Bunyi berderit panjang — gembok yang tidak bergerak puluhan tahun akhirnya terbuka.
Ia mendorong pintu. Bunyi gemuruh. Udara keluar — berbau debu, kayu lapuk, dan sesuatu yang samar — seperti dupa yang masih menyala meski puluhan tahun lalu padam.
Cahaya masuk menyinari debu yang melayang. Arga melangkah masuk. Di dinding kiri, kanan, depan — berderet foto, lukisan, naskah, benda-benda yang tidak ada nama. Semua tertutup lapisan debu tebal.
Ia berjalan lurus ke bagian paling dalam. Ruangan semakin gelap. Hanya seberkas cahaya matahari yang menembus celah di atap. Di bawah cahaya itu — satu bingkai foto besar tergantung di dinding. Tanpa tulisan. Tanpa nama.
Arga berhenti. Napasnya berhenti.
Foto itu — hitam putih, sudah memudar, retak di sudut. Di dalamnya, seorang gadis berdiri tegak. Matanya menatap lurus ke depan. Sama. Sama persis. Garis dahi, bentuk mata, rahang, bibir — semuanya sama.
Ia mengeluarkan foto dari saku — foto Kirana yang baru dikirim Haris. Menyandingkannya.
Satu di tangan kiri — gadis dari masa lalu. Satu di tangan kanan — gadis hari ini.
Dua orang. Terpisah ratusan tahun. Wajah yang sama.
Arga berdiri lama di sana. Cahaya matahari bergeser perlahan, menyinari kedua foto itu. Debu terus berputar di udara. Tidak ada suara.
Ia menghembuskan napas panjang. Suara pelan, bergetar di ruangan sunyi.
"Jadi kau benar-benar kembali."
Ia menyatukan kedua foto, memeluknya erat di dada. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah pintu terbuka, ke arah dunia di luar sana yang belum tahu — tidak tahu siapa yang telah bangkit.
"Jika kau benar-benar orang yang ditunggu leluhur kita..." bisiknya pelan, namun penuh janji yang tidak bisa dipatahkan, "...maka tidak peduli dari mana kau datang. Tidak peduli siapa yang menganggapmu milik mereka. Aku akan melindungimu. Dengan nyawaku. Dengan darahku. Dan dengan seluruh Klan Bayu."
Ia berbalik. Melangkah keluar. Pintu gudang tertutup kembali di belakangnya. Tapi kali ini — bukan untuk dikunci dan dilupakan. Pintu itu tertutup sementara. Karena api sudah bangun. Dan penjaganya sudah siap.
Share this novel