51. Api Yang Mula Menyala

Romance Series 154

BUKTI KEKUATAN
Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak. Kirana menarik napas panjang, lalu menatap Arga, Haris, dan Darma — satu per satu. Matanya yang tadi penuh air mata kini mulai berkilau dengan cahaya yang berbeda. Lebih terang. Lebih hangat. Lebih... kuno.
"Kau bilang butuh kekuatan untuk mematahkan rantai itu?" ucapnya perlahan. "Maka biarkan kalian melihat apa yang telah mulai bangkit di dalam diriku."
Ia mengangkat tangan kanannya perlahan. Telapak tangan menghadap ke atas, seakan menampung udara kosong. Mata ketiga lelaki itu terpaku pada gerakannya. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang bernapas.
Perlahan... dari celah-celah jari Kirana, muncul sesuatu. Cahaya lembut berwarna keemasan, memancar pelan lalu semakin terang. Cahaya itu berputar perlahan di telapak tangannya, membentuk nyala api yang tidak membakar — hangat, hidup, berdenyut seakan memiliki jantung sendiri.
Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih hangat. Bukan panas yang menyengat. Melainkan kehangatan yang meresap ke tulang, ke dada, ke tempat yang paling dalam. Cahaya itu memantul di mata mereka bertiga — melebar, tak percaya.
"Ini..." bisik Haris, melangkah mundur selangkah seakan tak percaya pada pandangannya sendiri. "Ini bukan sihir biasa..."
"Rumor..." gumam Arga Bayu, matanya tak berkedip menatap nyala di tangan Kirana. "Rumor yang dikatakan leluhur... bahwa api Phoenix tidak membakar miliknya sendiri. Bahwa cahayanya dapat dilihat namun tidak dapat ditiru oleh siapa pun."
Darma berdiri di sampingnya, menatap nyala api itu dengan tatapan yang bercampur kagum dan takut — takut pada kekuatan yang begitu besar bersemayam dalam gadis yang baru beberapa hari ia kenal seutuhnya. Cahaya itu menerangi wajah Kirana, membuatnya tampak seakan dikelilingi lingkaran cahaya.
"Ini baru permulaan," ujar Kirana pelan, menatap api di tangannya yang berdenyut selaras dengan detak jantungnya. "Masih lemah. Masih belum terlatih. Tapi ini ada di dalam diriku. Selalu ada."
Perlahan ia menutup telapak tangannya. Cahaya itu tidak meledak. Tidak hilang. Ia masuk kembali ke dalam dirinya, seakan tidak pernah ada. Namun jejak kehangatannya tetap tertinggal di udara, di mata mereka, di hati mereka yang kini menyadari — legenda itu bukan dongeng. Ia berdiri di hadapan mereka, bernapas, hidup.
 
KEPUTUSAN DAN RENCANA
Kirana menatap Arga Bayu dengan pandangan yang kini jauh lebih teguh.
"Tolong sampaikan pesanku kepada Bima Sena dan Aran Aruna," ucapnya jelas dan tegas. "Katakan pada mereka... Kirana meminta bantuan. Katakan pada mereka bahwa rantai yang mengikat ibuku membutuhkan kekuatan bumi untuk mendekat, dan kekuatan cahaya untuk memahami sihir kuno itu. Aku tidak bisa melakukannya sendirian."
Arga mengangguk perlahan, matanya masih menyimpan sisa kekaguman yang belum hilang.
"Aku akan menyampaikannya. Dan mereka akan datang. Sesuai sumpah leluhur."
"Tapi katakan juga..." lanjut Kirana, suaranya menjadi lebih berat, lebih tajam. "Katakan bahwa Aku tidak menginginkan bantuan dari Klan Ardika. Biarkan mereka tetap di tempatnya. Biarkan mereka menikmati apa yang mereka miliki. Ibuku akan dibebaskan oleh Penjaga yang sesungguhnya — bukan oleh mereka yang melupakannya selama bertahun-tahun."
Ia menarik napas panjang, menatap lurus ke depan, seakan melihat Gunung Suci dari ruangan itu.
"Sementara itu... aku akan melatih kekuatanku. Aku harus belajar mengendalikannya. Aku harus memahaminya. Karena ketika hari itu tiba... aku tidak boleh lemah. Aku tidak boleh gagal. Karena di balik rantai itu... ibuku sedang menungguku."
Keheningan menyelimuti ruangan sekali lagi. Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang meragukan. Karena mereka baru saja melihatnya sendiri. Api itu nyata. Dan gadis itu... sedang tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada bayangan siapa pun yang berdiri di ruangan itu.
 
DI BALIK RANTAI KEGELAPAN
Jauh di sana. Di bawah Gunung Suci. Di tempat yang tidak diketahui peta mana pun.
Sariya terbaring di atas tanah batu yang dingin. Pakaiannya robek, tubuhnya penuh luka yang belum sempat sembuh. Rantai hitam yang melilit pergelangan tangan dan kakinya memancarkan kabut gelap yang perlahan menggerogoti kekuatannya. Darah menetes pelan dari lukanya, jatuh ke tanah yang tidak pernah menumbuhkan kehidupan.
Dua sosok berdiri di kegelapan. Wajah mereka tertutup bayangan. Suara mereka berat, berdenting seakan berasal dari dinding gua itu sendiri.
"Kekuatanmu semakin memudar, Phoenix. Berapa lama lagi kau akan bertahan?"
Sariya mengangkat kepalanya perlahan. Wajahnya pucat, bibirnya pecah berdarah. Namun matanya — matanya masih menyala. Masih teguh. Masih penuh harapan yang tak bisa dipadamkan.
"Aku tidak akan menyerah," suaranya lemah namun jelas. "Selama ada napas... aku akan menunggu."
"Menunggu siapa? Takdirmu telah berakhir di sini. Tidak ada yang tahu tempat ini. Tidak ada yang mampu menembus penjagaan kami."
Sariya tersenyum samar, senyum yang penuh kasih sayang dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Ia menatap ke arah dinding gua yang gelap, seakan menembus batu, menembus gunung, menembus jarak ribuan li.
"Kau salah," bisiknya lembut. "Dia tahu. Dia sedang belajar. Dia sedang tumbuh. Dan suatu hari... dia akan datang. Dan ketika itu terjadi... rantai ini akan hancur. Dan api akan kembali menyala di langit ini."
"Mimpi kosong!" bentak suara itu. "Kekuatanmu habis! Darahmu perlahan mati!"
Sariya kembali menatap ke kegelapan, senyum itu belum hilang dari bibirnya. Darah baru menetes dari sudut bibirnya. Tubuhnya gemetar hebat. Namun matanya tetap terang.
"Biarkan tubuhku menderita..." bisiknya pelan, hampir tak terdengar. "Asalkan dia selamat. Asalkan dia tumbuh kuat. Asalkan dia tahu... ibunya selalu merindukannya. Selalu mencintainya. Dan selalu menunggunya."
Ia memejamkan mata perlahan, tubuhnya terkulai lemah. Rantai itu bergetar pelan. Namun di dalam hatinya... satu nama terus berdenyut, berulang, menjadi kekuatan yang tak bisa dipadamkan.
Kirana... anakku...

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience