Completed
202
BAGIAN I — WIRA DAN SARIYA: ANTARA HARAPAN DAN KEKHAWATIRAN
Malam itu, angin berhembus lembut di balkon lantai atas Pradana Mansion. Langit bertabur bintang begitu terang, seakan ikut merayakan kebersamaan yang akhirnya terwujud setelah sembilan belas tahun terpisah. Wira berdiri di sana, memandang cakrawala yang gelap namun indah, sementara Sariya melangkah mendekat perlahan, lalu menyandarkan punggungnya ke dada lebar suaminya. Wira melingkarkan kedua lengannya erat di pinggang wanita itu, menariknya semakin dekat — seakan takut jika dilepaskan sesaat pun, ia akan lenyap kembali seperti mimpi yang sempat ia rasakan ratusan kali di dimensi asing itu.
"Kau masih takut aku akan hilang?" bisik Sariya lembut, tangannya mengusap punggung tangan suaminya yang melingkar di dadanya.
Wira mencium puncak kepalanya pelan, napasnya hangat menyentuh rambut istrinya.
"Sembilan belas tahun... Sembilan belas tahun kau menungguku. Dan bagiku... itu terasa seperti selamanya di tempat yang sunyi tanpa cahaya. Sekarang saat kau ada di sini... di pelukanku... aku masih takut ini hanyalah ilusi yang akan lenyap saat matahari terbit."
Sariya berbalik perlahan di pelukannya, menatap wajah pria itu lekat-lekat. Tangannya naik lembut menyentuh pipi Wira, menelusuri garis-garis wajah yang kini terasa lebih dalam, lebih dewasa — jejak kesepian dan perjuangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Ini nyata, Wira. Aku nyata. Kau nyata. Dan Kirana... putri kita... dia juga nyata dan tumbuh menjadi gadis yang luar biasa."
Wira menutup matanya, menyandarkan dahinya ke dahi istrinya.
"Itulah yang membuat hatiku berat, Sariya. Dia luar biasa... tapi dia juga masih muda. Kekuatan di dalam dirinya begitu besar, dan musuh yang mengincarnya semakin gelap dan semakin kuat. Aku melihat mata Durga saat itu... ada sesuatu yang lain di baliknya. Sesuatu yang jauh lebih tua dan jauh lebih dingin. Aku takut... pertempuran yang akan datang mungkin bukan pertempuran yang bisa kami menangkan hanya dengan kekuatan semata."
Sariya menatapnya, matanya berkaca namun teguh.
"Kau lupa siapa yang membesarkannya selama ini? Kau lupa darah apa yang mengalir di nadinya? Dia bukan sekadar Putri Phoenix, Wira. Dia adalah gabungan kekuatan dua klan terkuat — Wirabuana dan Lembayung. Dan dia tumbuh bukan di tempat yang terlindungi, tapi di tempat yang mengajarkannya bertahan hidup sejak kecil. Dia lebih kuat dari yang kita bayangkan."
"Tapi dia masih anak kita..." suara Wira bergetar pelan. "Bagiku... dia tetaplah bayi yang dulu kau gendong di pelukanmu. Bagaimana mungkin aku tidak khawatir? Bagaimana mungkin aku tidak takut kehilangan dia seperti dulu kita hampir kehilangan segalanya?"
Sariya menarik napas panjang, lalu memeluk suaminya erat-erat, meletakkan kepalanya di dada pria itu, mendengarkan detak jantungnya yang tenang namun penuh kegelisahan.
"Kita tidak bisa melindunginya selamanya, Wira. Tugas kita bukan menahannya agar tidak terluka — tugas kita memastikan bahwa saat ia jatuh, ia tahu cara bangkit kembali. Dan saat hari itu tiba... kita akan berdiri di belakangnya. Bersama. Seperti yang seharusnya kita lakukan sejak awal."
Wira menghela napas panjang, perlahan merilekskan ketegangan di bahunya. Ia menatap istrinya dengan pandangan yang penuh kasih sayang dan kekaguman yang tak pernah pudar.
"Kau selalu lebih bijaksana dariku, Sariya. Bahkan saat kita masih muda... kau selalu tahu hal yang benar sementara aku hanya tahu cara bertarung."
Sariya tersenyum lembut, jari-jemarinya menyentuh dada kiri suaminya tepat di atas jantungnya.
"Dan tanpa kekuatanmu... kebijaksanaanku tak akan berarti apa-apa. Kita saling melengkapi, Wira. Seperti api dan cahaya. Seperti malam dan siang. Dan begitulah juga Kirana — dia membawa keduanya di dalam dirinya."
Wira tersenyum, lalu mencium kening istrinya pelan dan penuh kasih sayang.
"Terima kasih... karena selalu menungguku. Terima kasih karena tidak pernah menyerah pada harapan."
"Aku tidak pernah bisa menyerah pada kalian," bisik Sariya lembut. "Karena kalian adalah rumahku. Dan ke mana pun kau pergi... aku selalu tahu kau akan kembali pulang."
Mereka berdiri berdampingan, memandang langit malam yang luas dan penuh bintang. Di balik kebahagiaan kebersamaan itu, ada kekhawatiran yang samar namun tak bisa dihilangkan — bayangan pertempuran yang semakin dekat, semakin gelap, dan semakin tak terduga. Namun selama mereka berdiri bersama... selama api dan cahaya tetap menyatu... mereka tahu ada harapan.
Â
BAGIAN II — DIMAS, SERENA, DAN LARASATI: TERJEBAK DALAM KETAKUTAN
Jauh dari kemewahan Pradana Mansion, di sebuah gubuk tua yang remang dan lembap di pinggir hutan, suasana terasa begitu gelap dan mencekam. Tidak ada lampu yang terang — hanya sebatang lilin kecil yang nyalanya terus berkedip-kedip, seakan takut untuk menyala lebih lama. Dimas duduk menunduk di sudut ruangan, kedua tangannya mencengkeram rambutnya erat, wajahnya pucat dan penuh keringat dingin. Serena duduk diam di seberangnya, tubuhnya gemetar sesekali tanpa alasan yang jelas, sementara Larasati berlutut di dekat jendela yang retak, menatap kegelapan luar dengan mata yang bengkak dan merah — bekas tangis yang tak kunjung kering.
"Sudah tiga hari..." bisik Larasati pelan, suaranya serak dan lemah. "Sudah tiga hari sejak kita lari dari gua itu. Tapi aku masih merasakannya... setiap malam... setiap kali aku memejamkan mata... aku merasakannya di sini." Ia meletakkan tangannya di dada, napasnya tersengal seakan ada beban berat yang menekan dadanya. "Rasanya seperti ada tangan dingin yang mencengkeram jantungku. Dan semakin lama... semakin kuat cengkeramannya."
Serena mendongak perlahan, wajahnya tampak lebih tua dari biasanya, penuh kerutan ketakutan yang dalam.
"Itu bukan perasaanmu saja..." suaranya bergetar. "Semalam... saat aku terbangun... aku melihat bayangannya di dinding. Bayangan itu bergerak sendiri... seakan menertawakan kita dari kegelapan. Perjanjian itu... perjanjian yang kita tandatangani dengan darah itu... ia tidak pernah melepaskan kita. Justru semakin lama... semakin kuat ikatannya."
Dimas mengangkat kepalanya perlahan, matanya kosong dan penuh keputusasaan.
"Kita tidak bisa lari," ucapnya pelan dan hancur. "Ke mana pun kita pergi... ia selalu tahu. Setiap kali kita berpikir tentang melarikan diri... perjanjian itu justru semakin kuat. Aku merasakannya kemarin — saat aku berencana pergi ke kota lain... rasanya seperti ada yang meremas perutku dari dalam. Sakit sekali... seakan tubuhku sendiri menolak keinginanku."
"Kenapa kita harus setuju?" Larasati tiba-tiba berbicara, suaranya pecah, air mata kembali jatuh membasahi pipinya. "Kenapa Ayah setuju? Kenapa Ibu tidak menahannya? Kirana... Kirana tidak pernah berbuat jahat padaku... aku yang selalu membencinya tanpa alasan. Aku yang selalu iri padanya... dan sekarang... karena keserakahanku dan kebencianku... kita semua terjebak di sini. Dan aku takut... aku takut suatu hari ia akan meminta kita melakukan sesuatu yang tak bisa dimaafkan lagi."
"Larasati..." Serena mencoba menenangkan putrinya, namun suaranya sendiri tak memiliki kekuatan sama sekali. "Kita tidak punya pilihan saat itu... dia mengancam akan membunuh kita bertiga..."
"Kita bisa mati saja!" Larasati berteriak pelan namun penuh kepedihan, bahunya terguncang isak tangis yang ditahan. "Lebih baik mati dengan bermartabat daripada hidup seperti ini — menjadi budak kegelapan, menjadi alat untuk mencelakai orang yang tidak bersalah! Aku menyesal... aku sangat menyesal. Jika aku bisa kembali ke masa lalu... aku tidak akan pernah membenci Kirana. Aku tidak akan pernah meminta kemewahan itu. Aku hanya ingin hidup biasa... tanpa ketakutan ini setiap detiknya."
Dimas menatap putrinya dengan mata yang penuh penyesalan mendalam. Ia ingin mengatakan sesuatu — ingin meminta maaf, ingin menghiburnya, ingin berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun ia tahu itu semua bohong. Tidak ada yang bisa ia janjikan. Tidak ada jalan keluar.
"Aku sudah mencoba memutusnya..." ucap Dimas pelan. "Aku sudah berusaha segala cara — memotong jari yang menandatangani perjanjian itu, berdoa, meminta bantuan siapa pun... tapi tidak ada yang bisa. Perjanjian itu bukan ditulis di atas kertas. Itu ditulis di dalam darah kita sendiri. Dan selama darah itu masih mengalir di tubuh kita... ia akan selalu memiliki kita."
Larasati menunduk dalam, menangis dalam diam, bahunya terguncang hebat tanpa suara. Penyesalan datang terlambat — dan harganya ternyata jauh lebih mahal dari yang pernah ia bayangkan. Di luar gubuk itu, angin malam menderu pelan, seakan ikut meratapi nasib mereka yang terjebak di antara keserakahan dan ketakutan. Dan di kejauhan, di tempat yang jauh lebih gelap, sebuah bayangan tersenyum — tahu bahwa ketiga alatnya tetap berada di genggamannya, tak akan pernah bisa lepas.
Â
BAGIAN III — DURGA: KEKUATAN BARU DAN PERTANYAAN YANG TAK TERJAWAB
Di kedalaman gua yang jauh lebih dalam dan lebih gelap dari sebelumnya, di tempat yang udaranya terasa begitu dingin hingga bahkan batu-batu di dindingnya tampak membeku, Durga berdiri di tengah ruangan besar yang diterangi cahaya ungu pekat. Luka-lukanya telah sembuh sepenuhnya — bahkan tidak meninggalkan bekas sedikit pun. Namun tubuhnya kini terasa berbeda. Kulitnya lebih pucat dari sebelumnya, matanya yang dulu merah kini bercahaya ungu gelap yang menyilaukan, dan setiap kali ia bergerak, bayangannya di dinding bergerak lebih dulu — seakan bayangannya memiliki nyawa sendiri.
Di hadapannya, sebuah batu besar yang kasar dan keras berdiri tegak. Durga mengangkat tangan kanannya perlahan, dan tanpa bersentuhan pun, batu itu tiba-tiba hancur menjadi debu halus dalam sekejap — tanpa suara, tanpa ledakan, hanya hancur begitu saja seakan tidak pernah ada sebelumnya.
Durga menurunkan tangannya, menatap debu itu jatuh perlahan ke lantai. Ia merasakan kekuatan yang mengalir di dalam dirinya — begitu besar, begitu dahsyat, namun juga begitu asing. Sebagian besar kekuatan ini bukan miliknya. Ia hanya meminjamnya. Dan itu membuatnya tidak tenang.
Siapa dia? pikirnya, matanya menatap ke arah kegelapan gua yang lebih dalam — tempat di mana sosok itu muncul beberapa hari lalu. Penguasa Bayangan... ia telah hidup jauh sebelum aku lahir. Ia melihat segala sesuatu terjadi dan berlalu. Mengapa ia memilihku? Mengapa dari sekian banyak makhluk yang lebih kuat, lebih kuno, dan lebih berbahaya... ia justru menawarkannya kepadaku?
Ia berjalan pelan di ruangan itu, langkahnya terdengar berat namun penuh kekuatan baru.
Dan Kirana... namanya terasa pahit di lidahnya. Mengapa ia menginginkan darah gadis itu begitu penting? Katanya... darah Phoenix adalah kunci untuk membuka gerbang yang telah tertutup sejak zaman purba. Gerbang ke mana? Dunia lain? Kekuatan yang tak terbayangkan? Atau sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari itu semua?
Durga berhenti di depan cermin hitam yang terbuat dari batu mengkilap. Di sana, ia melihat bayangannya sendiri — namun di belakang bahunya, samar-samar terlihat bayangan lain — bayangan yang jauh lebih besar, jauh lebih mengerikan, dengan sepasang mata ungu yang sama persis dengan matanya sekarang.
Ia melihat melalui mataku... pikirnya ngeri namun tetap berdiri tegak. Setiap kali aku menggunakan kekuatan ini... ia melihat. Ia tahu apa yang kulihat. Ia tahu apa yang kupikirkan. Aku bukan sekadar sekutunya. Aku adalah wadah. Alat. Dan saat tugasku selesai... apa yang akan terjadi padaku?
Ia menggelengkan kepala perlahan, mencoba menyingkirkan keraguan itu. Sekarang bukan waktunya ragu. Sekarang waktunya menjadi kuat — cukup kuat untuk bertahan hidup, cukup kuat untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, dan cukup kuat untuk... mungkin suatu hari... membalas dendam kepada sosok yang kini berdiri di atasnya.
Durga merentangkan kedua tangannya, dan di udara di hadapannya, bola energi ungu pekat perlahan terbentuk — berputar perlahan, memancarkan hawa dingin yang mematikan.
"Kau punya rencanamu..." bisiknya pelan ke udara kosong, seakan berbicara langsung kepada Penguasa Bayangan itu sendiri. "Dan aku pun punya rencanaku. Kau mengira aku hanya alat? Biarlah. Biarkan kau berpikir begitu. Tapi ingatlah satu hal — api Phoenix tidak pernah mudah ditaklukkan. Dan jika aku harus menyerahkannya kepadamu... aku akan memastikan aku mendapatkan bagian yang setimpal. Tidak kurang sedikit pun."
Ia mengepalkan tangannya, dan bola energi itu meledak perlahan menjadi asap ungu yang lenyap di udara. Matanya menyala penuh ambisi dan keteguhan yang mengerikan.
"Kirana... Wira... Sariya... dan kalian semua yang berdiri di pihak cahaya. Bersiaplah. Karena kali ini aku datang bukan dengan kekuatanku sendiri. Aku datang membawa kekuatan yang bahkan kalian takut untuk sebut namanya."
Share this novel