84. Tujuan Sebenar

Romance Series 154

Durga berhenti tepat di tepi lingkaran bercahaya merah. Matanya menyala terang, menatap Kirana seakan sedang melihat benda yang sudah lama ia cari. Tidak ada rasa terkejut, tidak ada rasa ragu. Hanya kepuasan yang mendalam.
"Sudah lama sekali aku menunggu momen ini." suaranya berat dan bergema, membuat tanah di sekitarnya sedikit bergetar. "Pewaris terakhir Phoenix. Darah yang akan membuka segala pintu."
Kirana menatapnya lurus, meski tubuhnya masih terasa berat dan kaku.
"Siapa kau? Dan apa yang sebenarnya kau inginkan dari darahku?"
Durga tersenyum lebar, memperlihatkan gigi yang tajam dan putih.
"Aku adalah satu-satunya orang yang tahu betapa berharganya darahmu. Kau pikir Dimas dan keluarganya melakukan semua ini demi nama atau harta? Mereka hanya alat yang kubayar dengan apa yang paling mereka inginkan. Namun sebenarnya..."
Ia melangkah mendekat hingga wajahnya hampir sejajar dengan dinding cahaya merah.
"...sebenarnya, mereka hanya pembuka jalan bagiku."
Dimas yang berdiri di belakang terdiam seketika. Wajahnya berubah pucat.
"Tuan... bukankah janji kita..."
"Janji?" potong Durga dingin tanpa menoleh sedikit pun. "Aku tidak pernah berjanji pada siapa pun. Aku hanya memberikan apa yang kalian pantas dapatkan sebagai imbalan atas jasa kalian."
Serena dan Larasati saling pandang dengan wajah ketakutan. Mereka mulai menyadari bahwa mereka telah terjebak jauh lebih dalam dari yang mereka duga.
"Apa yang kau maksud?" tanya Dimas dengan suara bergetar.
Durga akhirnya menoleh sejenak ke arah mereka bertiga. Tatapannya dingin dan tajam, seakan mereka hanyalah serangga kecil yang tidak berharga.
"Kalian telah melakukan tugas dengan baik. Kalian telah membawanya ke sini tanpa menimbulkan kecurigaan. Kalian telah membiarkan darahnya menetes dan mengaktifkan ritual ini. Dan untuk itu... kalian akan menjadi saksi kebangkitanku."
Larasati mundur selangkah, suaranya pecah karena takut.
"Kau bilang kami akan menjadi orang paling berkuasa! Kau bilang kami akan mendapatkan semua yang kami inginkan!"
"Dan kalian akan melihatnya." jawab Durga tenang. "Hanya saja, bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai bagian dari kekuatan yang akan tercipta."
Seketika itu juga, kabut di sekitar lembah berputar semakin cepat. Dari tanah di sekitar kaki Dimas, Serena, dan Larasati, muncul akar-akar bayangan hitam yang melilit pergelangan kaki mereka dengan cepat. Ketiganya berteriak kaget dan berusaha melepaskan diri, namun kekuatan itu terlalu kuat.
"Apa ini?! Lepaskan kami!" teriak Dimas sambil meronta.
"Kalian tidak berpikir aku akan membiarkan kalian hidup begitu saja setelah mengetahui rahasia ini, bukan?" ucap Durga dingin. "Darah Phoenix saja tidak cukup. Aku juga butuh pengorbanan dari mereka yang paling dekat dengannya. Kebencian kalian, keserakahan kalian... semua itu adalah bahan bakar yang sangat baik."
Kirana menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Rasa marah kepada mereka perlahan tergantikan oleh rasa ngeri melihat betapa kejamnya orang yang mereka sebut sekutu.
"Kau tidak akan lolos dari ini." ucap Kirana lantang. "Ada orang lain yang datang bersamaku. Mereka menyaksikan semuanya."
Durga tertawa pelan, suaranya penuh keyakinan.
"Aku tahu mereka ada di sana. Aku merasakan keberadaan mereka sejak awal. Biarkan mereka menonton. Biarkan mereka melihat bagaimana harapan terakhir mereka akan dihancurkan di depan mata mereka sendiri."
Ia kembali menatap Kirana.
"Kau bertanya apa yang aku inginkan? Aku ingin meminum darahmu hingga tetes terakhir. Aku ingin menyerap kekuatan Phoenix sepenuhnya ke dalam tubuhku. Dengan begitu, aku akan menjadi makhluk terkuat yang pernah ada. Tidak ada klan, tidak ada dewa, tidak ada apa pun yang bisa menghentikanku."
Cahaya merah di dalam lingkaran semakin terang. Garis-garis di tanah mulai bergerak, seakan hidup sendiri. Kirana merasakan kekuatan di dalam dirinya ditarik keluar dengan paksa, mengalir ke arah Durga. Tubuhnya terasa semakin lemah, napasnya semakin pendek.
"Kau tidak akan berhasil..." bisiknya pelan namun tegas. "Api Phoenix tidak bisa dimiliki oleh orang yang hatinya penuh kegelapan."
"Kita akan lihat." ucap Durga dingin.
Di atas tebing batu, kelima orang penjaga menyaksikan segalanya dengan dada sesak.
"Dia berniat menyerap kekuatan Kirana sepenuhnya." ucap Bima dengan suara berat. "Dan dia juga berniat mengambil nyawa ketiga orang itu sebagai pengorbanan tambahan."
Darma tidak lagi bisa menahan diri. Ia melangkah maju dengan tangan terkepal kuat.
"Kita tidak bisa diam lagi. Jika kita menunggu lebih lama, Kirana akan kehabisan tenaga."
Aran mengangguk setuju, matanya menatap tajam ke arah Durga.
"Benar. Permainan ini sudah berakhir. Saatnya kita turun."
Durga seakan mendengar ucapan itu. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan.
"Datanglah. Biarkan kalian menjadi bagian dari kekuatan baruku juga."
Seketika itu juga, dinding kabut hitam muncul di sekeliling lembah, menghalangi jalan keluar masuk. Dari dalam tanah, muncul bayangan-bayangan hitam yang bergerak menuju ke arah tebing tempat mereka berdiri.
Di dalam lingkaran, Kirana merasakan sesuatu yang lain. Di tengah rasa sakit dan lemahnya tubuh, ia merasakan api yang perlahan bangkit dari dalam dirinya. Bukan api yang lemah, melainkan api yang membakar segala kegelapan. Ia menatap Durga dengan mata yang perlahan mulai bersinar keemasan.
"Kau pikir kau bisa mengambil apa yang bukan milikmu?" ucapnya pelan namun dengan kekuatan yang mengguncang seluruh lembah. "Kau pikir Phoenix akan tunduk pada keinginanmu?"
Durga tertegun sejenak, merasa ada perubahan yang terjadi di dalam lingkaran. Cahaya merah yang tadinya menyala terang perlahan berubah menjadi warna keemasan yang lebih terang dan lebih panas.
"Apa yang terjadi?" gumamnya tidak percaya.
Kirana berdiri tegak, meski kakinya masih terasa berat.
"Kau telah menyiapkan jebakan ini dengan sangat rapi. Kau telah memanfaatkan kebencian dan keserakahan orang lain. Tapi ada satu hal yang tidak pernah kau pahami."
Ia menatap lurus ke mata Durga.
"Api Phoenix tidak bisa dipaksa. Ia hanya bangkit untuk mereka yang berani membakar diri demi kebenaran."
Seketika itu juga, cahaya keemasan meledak dari tubuh Kirana, menerangi seluruh lembah yang gelap. Garis-garis merah di tanah terbakar menjadi api emas yang membakar setiap bayangan yang menyentuhnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience