Series
154
PINTU KAMAR DAN UCAPAN MALAM
Darma berjalan di samping Kirana sepanjang lorong yang diterangi cahaya lembut lampu dinding. Langkah keduanya pelan, seakan tidak ingin berpisah namun tahu malam semakin larut. Suasana di antara mereka masih terasa berat — penuh hal yang baru saja diketahui, penuh rahasia yang baru saja terungkap.
Sesampainya di depan pintu kamar Kirana, Darma berhenti. Ia menatap gadis itu, suaranya rendah namun tegas, penuh perhatian yang tak perlu diucapkan berlebihan.
"Istirahatlah, Kirana. Kumpulkan kekuatanmu. Kita belum tahu apa yang akan datang esok hari. Namun apa pun itu... kau harus siap."
Kirana mengangguk pelan. Matanya masih menyimpan sisa kilauan keemasan yang perlahan memudar, namun tatapannya jauh lebih teguh daripada saat mereka pertama kali bertemu.
"Aku tahu. Terima kasih, Darma. Selamat malam."
Ia melangkah masuk dan menutup pintu perlahan. Bunyi pintu yang tertutup lembut seakan menjadi tanda — di balik pintu itu, ia sendirian. Dan di luar... seorang lelaki masih berdiri memandang pintu itu dalam diam.
Â
RAHASIA YANG TIDAK LAGI MITOS
Kembali ke ruang kerja yang luas dan sunyi. Arga Bayu berdiri di dekat jendela, menatap ke luar namun matanya tak melihat apa pun di sana. Pikirannya masih tertahan pada pemandangan yang baru saja ia saksikan — cahaya keemasan yang memancar dari telapak tangan gadis itu, hangat, hidup, tak terbakar.
Haris Pradana berdiri di belakang meja, kedua tangannya mencengkeram tepi kayu tua itu. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak bergetar samar.
"Itu bukan mitos..." bisik Haris pelan, seakan tak percaya pada kata-katanya sendiri. "Selama ratusan tahun... kita anggap itu sekadar dongeng leluhur. Cahaya yang tidak membakar pemiliknya. Panas yang tidak menyakiti yang dicintainya. Itu benar-benar ada."
Arga berbalik perlahan, wajahnya tetap tenang namun matanya berat.
"Mitos lahir dari kebenaran yang terlupakan. Kita hanya tidak menyangka... akan melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dan pada gadis yang selama ini dianggap tidak berharga oleh keluarganya sendiri."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan sejenak. Hingga Haris mendengus pelan, napasnya terdengar berat.
"Klan Ardika..." gumamnya. "Mereka mencatat sebagai Penjaga. Namun sikap mereka terhadap Kirana... tidak pernah menyerupai penjaga. Mengapa mereka menindas yang seharusnya mereka lindungi? Mengapa mereka menyembunyikan siapa ibunya selama ini? Dan mengapa... mereka seakan takut akan kebangkitan itu?"
Arga menatap lurus ke arah lantai batu, pikirannya bekerja cepat.
"Ada sesuatu yang tidak beres di sana. Lebih dalam daripada sekadar kebencian ibu tiri atau kecemburuan adik. Seakan mereka tahu sesuatu... dan memilih untuk membiarkannya terkunci. Seakan mereka takut jika kekuatan itu kembali tumbuh."
"Maka selidikilah," ujar Haris tegas, menatap Arga. "Selidiki Ardika. Dari awal. Siapa mereka sebenarnya. Apa yang mereka sembunyikan. Dan mengapa mereka begitu takut pada Sariya dan putrinya."
Arga mengangguk. Cahaya di matanya berkilat tajam.
"Sudah menjadi tugasku. Dan tampaknya... tugas itu baru saja bertambah berat."
Ia memberi salam hormat sekali lagi, lalu berbalik melangkah keluar. Pintu tertutup. Dan Haris kembali sendirian di ruangan yang mulai terasa sepi.
Â
KOTAK TERKUNCI DAN WARISAN LELUHUR
Haris berdiri diam sejenak. Lalu melangkah perlahan ke arah lemari besi tua di sudut ruangan. Lemari itu jarang dibuka. Di dalamnya, tersimpan sebuah kotak kayu berukir naga dan api — kuncinya sudah tidak ada lagi, namun tutupnya tak pernah dibuka selama puluhan tahun.
Ia membawa kotak itu ke meja. Di ruang tengah, di bawah cahaya lampu gantung yang hangat, Darma berdiri sendirian. Punggungnya tegak namun bahunya tampak berat. Matanya menatap ke luar jendela besar — ke arah langit yang gelap, di mana awan perlahan berkumpul pekat. Seakan ia bisa merasakan sesuatu yang datang dari jauh.
Haris melangkah mendekat, suara langkah kakinya memecah keheningan.
"Darma."
Darma berbalik perlahan. Melihat kotak di tangan ayahnya, matanya sedikit menyipit.
"Ayah? Itu..."
Haris meletakkan kotak itu di atas meja panjang di ruang tengah. Debu halus beterangan di bawah cahaya lampu.
"Ini tersimpan di ruang kerja sejak sebelum kakekmu meninggal. Dikunci sejak puluhan tahun lalu. Tidak ada yang tahu persis kapan ia diletakkan di sana."
Haris perlahan membuka tutup kotak itu — tanpa kunci, seakan kayu itu sendiri mengerti siapa yang memegangnya. Di dalamnya, terbaring seutas kalung sederhana namun memancarkan kehangatan samar. Logamnya berwarna keemasan pudar, berbentuk seperti sayap yang melingkar, dengan batu berwarna merah menyala di tengahnya.
"Leluhur kita berkata... kalung ini adalah pemberian dari Phoenix. Diberikan kepada leluhur klan Pradana sebagai tanda ikatan. Sebuah janji perlindungan dan kesetiaan." Haris menatap kalung itu, suaranya perlahan bergetar. "Namun tidak ada yang tahu... kegunaannya. Tidak ada catatan. Tidak ada mantra. Hanya pesan singkat: 'Berikan kepada keturunanmu yang berdiri di sampingnya saat api kembali bangkit.'"
Darma menatap kalung itu. Hatinya berdebar pelan. Batu merahnya seakan berdenyut selaras dengan detak jantungnya sendiri.
"Maka sekarang..." lanjut Haris, menatap lurus ke mata putranya. "Kau berdiri di sampingnya. Api itu telah bangkit. Dan kalung ini... telah menunggu ribuan tahun untuk kembali digunakan."
Ia mengangkat kalung itu perlahan. Cahaya di ruangan itu seakan berubah — sedikit lebih terang, sedikit lebih hangat.
"Simpanlah. Jangan lepaskan. Pelajari. Siapa tahu... saat yang tepat kelak... kau akan mengetahui maknanya."
Darma menerima kalung itu. Saat jari-jemarinya menyentuh logam keemasan itu... sebuah rasa hangat menjalar perlahan dari ujung jari, naik ke lengan, hingga ke dada. Bukan panas yang membakar. Melainkan rasa pulang. Rasa ikatan yang belum terucap.
Ia mengepalkan tangan erat, menyembunyikan kalung itu di telapak tangannya. Di luar sana, angin mulai bertiup kencang. Awan hitam semakin pekat. Seakan badai yang telah lama tertunda... akhirnya mulai mendekat.
"Aku akan menyimpannya," ujar Darma pelan namun tegas, menatap kalung di tangannya. "Dan aku akan menjaganya. Seperti aku menjaganya."
Share this novel