67. Api Yang Menjadi Senjata

Romance Series 154

BAYANGAN PERANG DI ALAM RUANG
Langit keunguan di atas dataran keemasan berubah perlahan menjadi kelabu gelap. Angin berhembus lebih kencang, membawa udara yang terasa berat dan dingin. Di hadapan Kirana, bayangan-bayangan mulai terbentuk dari kabut tipis — ratusan sosok berwajah gelap, bermata merah menyala, membawa senjata tajam yang memancarkan cahaya hitam.
Aran berdiri di kejauhan, suaranya terdengar jelas di tengah angin kencang.
"Ini adalah bayangan musuh yang kau hadapi nanti. Mereka bukan sekadar mainan. Setiap serangan mereka akan terasa nyata. Setiap luka akan terasa sakit. Tapi di sini... kau tidak akan mati. Dan setiap kali kau jatuh... kau akan bangkit lebih kuat."
Kirana berdiri tegak di tengah dataran. Tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Di dalam hatinya, satu nama terus berputar: Ibu.
Aku tidak bisa gagal. Aku tidak bisa kalah. Di ujung pertempuran ini... Ibu sedang menungguku.
Bayangan-bayangan itu melesat maju serentak.
 
PEDANG DARI API PHOENIX
Kirana mengangkat tangan kanannya perlahan. Ia memusatkan perhatian pada api yang mengalir di dalam dadanya, menariknya naik ke lengan, ke telapak tangan.
Jadilah perpanjangan dari keinginanku. Jadilah senjata yang melindungi.
Cahaya keemasan memancar dari genggamannya. Perlahan, api itu membentuk garis lurus, memadat, memancarkan panas yang terasa namun tidak membakar kulitnya. Sebuah pedang panjang bermata dua terbentuk di tangannya, berkilau bagai emas murni yang sedang menyala lembut.
"Pedang Api Phoenix..." bisiknya pelan.
Saat bayangan pertama mendekat dengan senjata terangkat, Kirana mengayunkan pedang itu. Cahaya keemasan menyapu udara, menebas tubuh bayangan itu hingga ia lenyap menjadi kabut hitam.
Namun yang lain datang terus. Satu per satu ia tebas, tapi gerakannya masih kaku. Pedang itu terasa berat, api di ujungnya tak stabil. Saat ia berusaha menangkis serangan dari arah kiri, api di gagang pedang tiba-tiba melemah. Sebuah bayangan menabraknya hingga ia terlempar ke belakang.
Kirana bangkit perlahan, napasnya terengah-engah. Tangannya menatap pedang yang hampir padam.
"Kau tidak memaksanya," suara Bima terdengar dari kejauhan. "Kau menyatu dengannya. Api itu adalah bagian dari dirimu. Jangan kau pegang seolah itu benda asing."
Kirana menutup mata sejenak. Ia menarik napas dalam, merasakan denyut api yang sama dengan detak jantungnya. Saat ia membuka mata kembali, ia tidak lagi memanggil api — ia membiarkan api itu mengalir keluar dengan sendirinya.
Pedang itu kembali terbentuk, kali ini lebih terang, lebih stabil, dan terasa jauh lebih ringan di tangannya.
"Terima kasih," ucapnya pelan pada api itu sendiri.
 
TEBASAN ANGIN API
Bayangan semakin banyak, mengepungnya dari segala arah. Menggunakan pedang saja tidak cukup.
Kirana mengangkat kedua tangannya ke samping. Ia merasakan bagaimana api itu bisa bergerak cepat, menyebar luas, dan membelah udara bagai angin yang tajam.
Jangan hanya membakar. Tapi juga potong. Menembus. Menyapu bersih.
Ia mengayunkan kedua tangannya ke depan secara bersamaan.
"Tebasan Angin Api!"
Gelombang api keemasan melesat cepat dari kedua telapak tangannya, membelah udara dan menyapu puluhan bayangan yang ada di depannya sekaligus. Mereka lenyap seketika.
Namun saat ia mencoba lagi, gelombang itu hanya melesat lemah dan terpecah sebelum mengenai sasaran.
"Kau terlalu terburu-buru," kata Arga. "Angin itu tak terlihat, tapi ia punya arah dan kekuatan yang pasti. Tentukan tujuannya dulu, baru lepaskan."
Kirana menatap bayangan yang bergerak cepat di kejauhan. Ia menatapnya lekat-lekat, membiarkan perasaan mengarah ke sana. Baru setelah yakin... ia melambaikan tangan.
Kali ini gelombang api melesat lurus, tajam, dan membelah tiga barisan bayangan sekaligus hingga lenyap seketika.
 
BOLA API YANG MENGHANCURKAN
Di kejauhan, bayangan raksasa mulai muncul, memegang palu besar yang memancarkan cahaya gelap. Ia terlalu jauh untuk dipedang atau ditebas dengan angin.
Kirana menarik napas dalam-dalam. Ia memusatkan semua kekuatan apinya di satu titik di depan dadanya. Api itu berkumpul, memadat, menjadi bola yang semakin besar dan semakin terang hingga menyilaukan mata. Panasnya terasa membakar kulitnya sendiri.
"Bola Api Phoenix!"
Ia melemparkannya ke arah bayangan raksasa itu. Namun bola itu melesat lambat, melebar di tengah jalan, dan hanya meledak lembut di udara jauh sebelum mengenai sasaran.
Kirana terengah-engah, keringat membasahi wajahnya.
"Kau membiarkan apinya menyebar sebelum waktunya," kata Aran pelan. "Simpan kekuatannya. Padatkan. Biarkan ia terkunci rapat sampai saat ia menyentuh sasaran."
Kirana mencoba lagi. Kali ini ia tidak membiarkan api menyebar. Ia memadatkannya sekuat tenaga, menahannya di telapak tangan hingga udara di sekelilingnya terasa panas sekali. Saat bola itu sekeras batu dan sepadat bintang... baru ia melemparkannya.
Bola api melesat bagai komet keemasan. Saat menyentuh tubuh bayangan raksasa itu... ia meledak dengan dahsyat. Cahaya keemasan menyelimuti seluruh area, dan saat cahaya meredup... bayangan raksasa itu telah lenyap sepenuhnya.
 
NAGA DARI API PHOENIX
Pertempuran semakin hebat. Bayangan terus datang tanpa henti. Kirana berdiri di tengah medan perang, napasnya memburu, tubuhnya lelah namun semangatnya tak padam.
Saat ia melihat ribuan bayangan bergerak serentak mendekat... satu pikiran melintas di benaknya.
Ayah... Ibu... kekuatan yang kalian berikan padaku... pasti ada yang lebih besar dari ini.
Kirana menengadahkan wajah ke langit. Ia membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Ia tidak lagi menarik api dari dalam dirinya saja — ia memanggil dari seluruh kekuatan yang ada di Alam Ruang. Cahaya keemasan mulai turun dari langit, berkumpul di sekelilingnya, berputar cepat bagai angin puyuh.
Bangkitlah... penjelmaan api terbesarku...
"Naga Api Phoenix!"
Cahaya itu melesat ke atas, membentuk tubuh besar yang memanjang, bersayap lebar, bermata menyala terang. Naga api itu meraung keras, suaranya mengguncang seluruh dataran. Namun saat ia bergerak ke depan... bentuknya tiba-tiba goyah, menjadi kabur, dan seketika lenyap kembali menjadi percikan api.
Kirana terjatuh berlutut, napasnya terengah-engah hebat, kepalanya terasa pening.
"Itu terlalu berat untukmu sekarang," kata Bima pelan. "Kau memanggil kekuatan yang bahkan belum sepenuhnya kau pahami. Jangan memaksanya."
Kirana menggeleng pelan. Ia tidak menyerah. Ia menatap ke langit lagi, matanya penuh tekad.
"Aku tidak butuh naga sebesar gunung. Aku hanya butuh naga yang cukup kuat untuk membawa aku ke Ibu."
Ia kembali mengangkat tangan. Kali ini ia tidak meminta kekuatan yang tak terukur. Ia hanya meminta api itu membentuk satu makhluk yang setia padanya.
Cahaya kembali berkumpul. Perlahan... bentuk kepala muncul, lalu leher, sayap, dan tubuh. Kali ini tidak terlalu besar — seukuran kuda dengan sayap yang lebar dan indah. Naga api itu menunduk ke arah Kirana, matanya menyala lembut seakan menyapanya.
Kirana tersenyum bangga. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh kepala naga itu. Api itu terasa hangat dan nyaman di kulitnya.
"Terima kasih," bisiknya.
Naga itu meraung pelan, lalu terbang rendah mengelilinginya.
 
KEMENANGAN DAN KESIAPAN
Sisa bayangan yang ada di medan perang seketika lenyap saat melihat naga api itu muncul. Langit kembali menjadi ungu lembut, udara menjadi tenang dan segar kembali.
Kirana berdiri di tengah dataran, napasnya masih teratur, wajahnya penuh keringat namun matanya bersinar terang. Ia menatap ketiga pelatihnya yang kini berdiri di hadapannya.
"Kau telah belajar hal terpenting," kata Aran tersenyum. "Bukan seberapa hebat senjatamu. Tapi seberapa teguh hatimu saat senjatamu gagal."
"Dan kau tidak menyerah," tambah Bima. "Itu adalah sifat sejati Phoenix."
"Sekarang..." Arga menatapnya lekat-lekat. "Kau sudah siap untuk menghadapi dunia luar."
Kirana menatap ke arah langit yang mulai cerah kembali. Di dalam hatinya, ia tidak lagi merasa takut atau ragu. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tahu senjata apa yang ia miliki. Dan ia tahu... ia akan segera menjemput ibunya.
"Ibu... tunggulah sebentar lagi. Aku akan datang. Dan kali ini... aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kita lagi."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience