Series
17
Pintu ruang makan belum tertutup sepenuhnya di belakangku, namun kata-kata Larasati sudah meledak memecah keheningan — tidak lagi berbisik, tidak lagi menyembunyikan di balik sopan santun. Kaca jendela yang mereka jaga dua puluh tahun akhirnya pecah. Pecah berkeping-keping, dan tidak ada yang bisa menyapu bersih lagi.
"Bukan keluargaku!" teriaknya, suaranya melengking hingga mengguncang dinding lorong tempatku berdiri. "Dia BUKAN KELUARGA KITA! Tidak pernah! Selama dua puluh tahun dia duduk di meja ini, makan makanan kita, memakai pakaian kita — dan dia BUKAN APA-APA!"
Aku berhenti melangkah. Tidak berbalik. Hanya berdiri di ambang pintu, tangan masih memegang gagang pintu, mendengarkan. Dan kali ini aku tidak pergi. Aku mendengarkan. Karena kata-kata itu bukan lagi rahasia yang dibisikkan di belakang punggungku. Itu kebenaran yang mereka ucapkan di wajah mereka sendiri.
"Larasati, cukup!" suara Dimas — keras, namun gemetar di ujungnya.
"Cukup? Kenapa harus cukup?!" Larasati tidak berhenti. Amarahnya meluap, sungai yang dibendung terlalu lama akhirnya jebol. "Kau sendiri yang tahu, Ayah! Semua orang tahu! Dia datang ke rumah ini saat bayi, dibawa oleh seseorang yang tidak pernah kembali! Tidak ada akta kelahiran! Tidak ada kerabat! Tidak ada foto ibunya! Hanya Dimas Ardika yang menandatangani surat adopsi seolah-olah dia anakmu! Dan sekarang — sekarang — dia mau membawa nama Ardika ke pernikahan dengan Pradana?! Itu memalukan!"
Serena menyambar api itu, membakarnya lebih besar.
"Dia benar, Dimas! Selama ini kita diam, kita pura-pura, kita menyebutnya putri Ardika... tapi hari ini mereka menuntutnya! Orang-orang akan bertanya! Mereka akan menggali! Mereka akan mencari siapa ibunya! Siapa ayahnya! Dan ketika mereka menemukan bahwa tidak ada siapa-siapa — bahwa dia muncul dari udara tipis — nama Ardika akan hancur! Dan semua itu karena kau tidak pernah berani mengakui kebenaran!"
"Kau pikir aku tidak tahu?!" Dimas membentak balik, suaranya pecah, penuh amarah yang tertahan dua puluh tahun. "Kau pikir aku tidak tahu risikonya?! Tapi aku berjanji! Aku berjanji pada wanita yang melahirkannya — aku akan melindunginya! Aku akan memberinya nama! Aku akan memberinya rumah!"
"Nama apa?!" Serena tertawa sinis, tajam dan menyakitkan. "Nama yang bukan miliknya! Rumah yang bukan miliknya! Dan sekarang dia mengambil masa depan putri kandungmu sendiri! Larasati lah yang berhak! Larasati lah darahmu! Larasati lah yang lahir dari rahasiaku! Bukan dia — anak misterius yang entah dari mana!"
"Dan kau pikir aku tidak menyesal?!" Dimas berteriak, dan suaranya jatuh menjadi bisikan yang menyakitkan. "Setiap hari aku melihatnya — matanya yang sama. Tatapan yang sama. Dan aku takut. Setiap hari aku takut seseorang akan mengenali mata itu. Seseorang yang tidak seharusnya melihatnya."
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Bahkan Larasati terdiam.
"Mata itu..." gumam Serena, nadanya berubah — bukan lagi amarah, melainkan ketakutan yang samar. "Mata itu milik wanita yang kau cintai, bukan?"
Dimas tidak menjawab. Tidak perlu. Keheningannya adalah pengakuan.
Aku berdiri di sana, jari-jemariku mencengkeram gagang pintu hingga buku jariku memutih. Tidak ada yang tahu aku mendengar semuanya. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kata yang mereka ucapkan seperti paku yang menancap — namun kali ini bukan di dadaku. Di hati mereka sendiri.
Aku melangkah pergi. Perlahan. Tanpa suara. Meninggalkan mereka dengan kebencian, ketakutan, dan kebohongan yang akhirnya telanjang di meja makan.
Malam turun perlahan, menelan kediaman Ardika dalam bayang-bayang yang semakin dalam. Jam dinding di lorong berdentang dua belas kali. Tengah malam. Rumah ini tertidur — atau pura-pura tertidur, sementara di dalamnya, rahasia-rahasia terjaga.
Aku duduk di tepi tempat tidurku. Di pangkuanku — jurnal kulit tua yang kubawa keluar dari ruang kerja Sariya malam itu, sejak C4. Sejak hari pertama aku kembali. Sejak hari pertama aku tahu kematianku bukanlah akhir. Dua hari berlalu, namun aku belum berani membukanya sepenuhnya. Seakan membukanya berarti menutup pintu pada gadis lemah yang mereka kenal. Seakan setiap halaman yang kubaca membawaku semakin jauh dari siapa yang mereka kira aku — dan semakin dekat pada siapa aku sebenarnya.
Cahaya bulan purnama menyelinap lewat celah tirai, membiaskan cahaya perak di atas kulit jurnal yang telah memudar warnanya. Di tanganku yang lain, sehelai kain sutra merah bermotif burung api — peninggalan lain yang kutemukan bersamanya. Kain itu terasa hangat di kulit, seakan menyadari bahwa saat akhirnya tiba.
Aku menarik napas panjang, lalu membuka halaman pertama.
Tulisan tangan yang halus namun tegas menyambut mataku. Tinta hitam yang tidak pudar, seakan ditulis kemarin.
"Untuk putriku, Kirana — jika kau membaca ini, berarti aku telah pergi, dan mereka telah berbohong kepadamu. Berarti kau sudah cukup dewasa untuk mencari kebenaran, dan cukup kuat untuk menanggungnya."
Jantungku berdegup kencang. Air mata jatuh ke halaman, namun aku segera menyekanya. Aku tidak punya waktu untuk menangis. Aku harus membaca. Aku harus tahu.
Halaman demi halaman kubaca, menyusun potongan teka-teki yang selama ini mereka sembunyikan dengan kebohongan bertumpuk-tumpuk. Namanya bukan sekadar wanita biasa. Namanya Sariya. Dan ia bukan orang Ardika — ia berasal dari garis keturunan kuno, keluarga yang menjaga rahasia tertua di negeri ini, rahasia yang diwariskan dari generasi ke generasi: darah Phoenix.
Jantungku berhenti berdetak sesaat.
"Darah ini bukanlah kutukan, meski mereka akan mengatakannya sebagai kutukan. Ini adalah warisan — kekuatan yang membara dalam darah, yang menyala saat nyawa terancam, yang bangkit kembali dari abu kematian. Inilah alasan mereka takut padamu, Kirana. Bukan karena kau lemah — tapi karena kau abadi. Dan tidak ada yang lebih berbahaya bagi penguasa yang rakus daripada seseorang yang tidak bisa mereka bunuh selamanya."
Tangan gemetar. Itu... itu sebabnya aku kembali. Bukan kebetulan. Bukan keajaiban. Tapi darahku. Darah ibuku. Darah Phoenix.
"Dimas Ardika bukan ayahmu. Ia tahu sejak awal. Ia menikahiku bukan karena cinta, tapi karena ia menginginkan apa yang ada di dalam diriku — apa yang ada di dalam dirimu. Ia berharap kekuatan itu jatuh ke tangannya, dapat dikendalikan, diperalat untuk menaklukkan semua klan. Namun ia tidak tahu — kekuatan ini tidak bisa dicuri. Hanya bisa diwarisi. Dan hanya bisa dibangkitkan oleh penderitaan, oleh api, oleh kematian itu sendiri."
Aku ternganga. Semua kepingan jatuh ke tempatnya. Semua tatapan takut Dimas, semua kebencian Serena, semua rasa tidak aman mereka — mereka takut pada sesuatu yang bahkan aku sendiri belum sadari milikku. Mereka berusaha memadamkan apinya sebelum mekar sepenuhnya. Dan mereka gagal.
Mereka tidak tahu seberapa dalam luka yang mereka tanam hari itu di pesta pertunanganku. Tidak tahu seberapa tajam setiap kata yang mereka ucapkan sambil menatapku mati. Tidak tahu bahwa peluru yang menembus dadaku justru menyalakan sumbu yang tak akan pernah padam. Mereka berpikir aku akan hilang dalam kegelapan. Mereka tidak tahu — aku adalah kegelapan yang kembali membawa api.
Mataku jatuh ke baris berikutnya — nama ayah kandungku tertulis di sana, namun digoreskan dengan tinta hitam hingga hampir tak terbaca. Seakan ibuku sendiri takut nama itu terbaca siapa pun yang bukan diriku. Hanya tersisa satu huruf awal, samar. Namun di bawahnya, tertulis:
"Siapa ayahmu tidaklah penting saat ini. Yang penting — darahmu lebih tua, lebih murni, dan jauh lebih berkuasa daripada darah Ardika maupun Pradana. Mereka adalah bayangan di permukaan air. Kau adalah api yang membakar bayangan itu."
Aku menutup jurnal itu perlahan, memeluknya ke dada. Segalanya masuk ke tempatnya.
Dan di halaman terakhir, satu baris yang kutemukan paling bawah, tertulis tinta emas yang bersinar samar dalam cahaya bulan:
"Ada tiga kekuatan yang akan menjawab panggilanmu. Ingatlah — musuhmu bukan hanya mereka yang berdiri di depanmu. Musuhmu juga yang tersembunyi di dalam bayang-bayang, yang menunggu api bangkit untuk kemudian menelan apinya."
Tiba-tiba — ketukan pintu.
Tok. Tok. Tok.
Pelan. Namun tegas. Tiga kali.
Jantungku melompat, namun tubuhku tetap diam. Tidak ada yang tahu aku membaca ini. Tidak ada yang tahu aku memegang kebenaran. Aku menyelipkan jurnal di bawah bantalan kasur, menekannya erat, lalu kain sutra merah di sampingnya. Hanya saat itu aku berkata — tenang, tidak bergetar.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan. Cahaya lampu lorong menyelinap masuk, membelah kegelapan kamarku. Di sana berdiri Dimas Ardika. Ia tidak memegang nampan teh. Tidak membawa selimut. Tangannya kosong. Matanya menatapku — bukan marah, bukan kecewa. Penuh kehati-hatian, seakan aku adalah sesuatu yang bisa meledak jika disentuh salah.
Ia melangkah masuk beberapa langkah, lalu berhenti. Tidak mendekat.
"Kau mendengar semuanya," ucapnya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Aku duduk tegak di tepi tempat tidur, gaun krem yang sama, wajah tenang, tidak ada jejak air mata.
"Aku mendengarnya."
Ia menghela napas panjang, bahunya merosot. Ia menatap lantai sejenak, lalu kembali menatapku.
"Kau tidak bertanya. Tidak menangis. Tidak menuntut penjelasan."
"Untuk apa?" suaraku datar. "Kalian sudah menjelaskan semuanya sendiri."
Ia terdiam. Ada sesuatu yang berubah di udara di antara kami. Sejak hari ia menemukanku di ruang kerja Sariya, sejak hari aku membawa jurnal ini keluar — ia tahu. Ia tidak tahu persis apa yang kutemukan. Tapi ia tahu ada sesuatu yang berubah di dalam diriku. Sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan lagi.
"Kirana..." suaranya melunak, mencoba nada yang belum pernah ia gunakan padaku sebelumnya — bukan ayah, bukan wali. Pria yang meminta maaf tanpa berani mengatakannya. "Aku tidak bermaksud menyembunyikan kebenaran untuk menyakitimu. Aku melakukannya karena... aku takut. Takut pada apa yang kau bawa di dalam dirimu."
"Kau takut padaku," koreksiku pelan. "Bukan untukku."
Ia tersentak. Mulutnya terbuka hendak membantah — lalu tertutup kembali. Kejujuran itu terlalu tajam untuk ditolak.
"Siapa ibuku?" tanyaku. Bukan karena aku tidak tahu — tapi karena aku ingin melihat apakah ia berani mengatakannya.
Ia menunduk.
"Sariya. Namanya Sariya. Wanita yang paling cerdas, paling berani... dan paling berbahaya yang pernah kutemui." Ia mendongak, matanya menatap lurus ke mataku, dan untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan murni di sana. "Dan kau... kau memiliki matanya. Tatapan yang seakan melihat langsung ke dalam jiwamu. Itulah yang paling aku takuti. Karena setiap kali kau menatapku, aku merasa ia berdiri di hadapanku lagi."
Aku berdiri perlahan. Ia mundur selangkah secara refleks. Bahkan ia sendiri tidak menyadari melakukannya.
"Kau tidak perlu takut," ucapku dingin. "Bukan saat ini."
Aku melangkah melewatinya, berdiri di dekat jendela, punggungku menghadapnya.
"Kau boleh pergi. Dan mulai sekarang... jangan pernah berpikir kau bisa mengatur hidupku sesukamu. Karena kau tidak lagi memegang kendali."
Ia berdiri di sana lama sekali. Napasnya berat. Lalu langkahnya menjauh. Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Aku menatap bulan di langit malam. Tangan menyentuh tempat di bawah kasur — di mana jurnal dan kain merah itu tersembunyi.
Tiga kekuatan. Musuh di depan. Musuh di bayang-bayang.
Mereka tidak tahu apa yang mereka hadapi. Mereka berpikir ini tentang warisan, tentang kekuasaan, tentang pernikahan. Mereka tidak tahu ini tentang api yang tidak bisa dipadamkan. Api yang sudah membakar sekali. Dan kali ini... ia tidak akan berhenti sampai semuanya menjadi abu.
Share this novel