Series
154
Pintu mobil tertutup pelan, namun bunyinya terdengar seperti gerbang yang mengunci masa lalu.
Mobil melaju mulus meninggalkan gerbang Ardika. Jendela-jendela gelap, memisahkan mereka dari dunia luar. Di dalam — keheningan.
Kirana duduk tegak di kursi kulit yang empuk, namun punggungnya tidak menyandar. Tangannya terlipat di pangkuan. Matanya menatap ke luar jendela — pohon, gedung, langit — melintas kabur, namun dia tidak benar-benar melihatnya. Dadanya tenang di permukaan, namun di dalam — ada gelombang yang tidak diketahui namanya. Apakah ini ketakutan? Kebebasan? Atau sekadar... kepasrahan yang sudah lama mati?
Dia tidak tahu bagaimana perasaannya. Hanya tahu — dia tidak pulang ke rumah Ardika lagi. Dan itu saja yang membuat napasnya sedikit lebih ringan.
Di kursi sebelahnya, Darma duduk. Dia tidak menatapnya. Matanya lurus ke depan, namun pandangannya tidak fokus pada jalanan. Dia sadar setiap gerakan kecil Kirana — napasnya yang teratur, tangannya yang tidak bergetar, ketenangannya yang tidak wajar untuk seorang pengantin yang baru saja meninggalkan rumah tempatnya dibesarkan.
Dia ingin berkata sesuatu. Apa saja. Maaf. Jangan takut. Kau aman sekarang. Tapi setiap kata terasa terlalu kecil, terlalu ringan untuk diucapkan setelah melihat apa yang dia lihat. Bagaimana meminta maaf atas nama dunia yang memperlakukannya seperti sampah?
Menit berlalu. Hanya suara mesin mobil dan aspal di bawah ban.
Darma akhirnya berbicara — suaranya rendah, lembut, namun penuh penyesalan yang dalam.
"Aku meminta pengemudi berbelok."
Kirana berbalik menatapnya pelan. Matanya jernih, tidak bertanya tajam. "Ke mana?"
"Bukan pintu utama. Aku membawamu ke pintu samping — pintu masuk khusus pengantin." Darma menatapnya lurus, matanya tulus. "Aku tidak ingin mereka melihatmu dari pintu samping rumah Ardika. Hari ini... kau tidak boleh masuk melalui pintu yang sama dengan tamu biasa. Kau akan masuk melalui pintu yang disiapkan khusus untuk Nyonya Pradana. Agar yang pertama kali mereka lihat — bukan gadis yang dikirim Ardika. Tapi wanita yang akan bersinar di sampingku."
Kirana terdiam. Kata-katanya sederhana. Tapi maknanya — dia sedang mengangkatnya dari tanah. Dia sedang berkata: Mereka boleh memberimu kain sisa. Tapi aku akan memberimu tempat yang layak.
Dia tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya mengangguk pelan, lalu kembali menatap ke depan. Namun napasnya sedikit bergetar.
***************
Mobil melambat, lalu berhenti halus.
Pintu terbuka. Dan di sana — sekelompok orang berdiri menunggu. Penata rias, penata busana, asisten — semua berpakaian rapi, tersenyum hormat, tidak ada yang menatapnya dengan pandangan rendah.
Darma turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan. Kirana meletakkan tangannya di telapak tangan itu — dan kali ini, genggamannya terasa sedikit berbeda. Lebih hangat. Lebih mantap.
"Ini pintu masukmu," kata Darma pelan. "Mereka akan menyiapkanmu. Jangan terburu-buru. Ambil waktumu."
Dia berhenti sejenak, menatap matanya — tatapan yang penuh janji.
"Aku akan menunggumu di aula utama. Di sana, di depan semua orang... kau akan menjadi istriku."
Kirana mengangguk. "Baik."
Darma melepaskan tangannya perlahan, seakan tidak ingin melepaskan. Dia melangkah mundur, lalu berbalik menuju pintu utama.
Kirana berdiri di sana sejenak, melihat punggungnya menjauh. Lalu berbalik pada tim penata rias yang menunduk hormat. Tidak ada penghinaan. Tidak ada cemoohan. Hanya rasa hormat yang belum pernah ia rasakan di rumah mana pun.
Dia melangkah masuk. Pintu tertutup di belakangnya.
**************
Darma berjalan menyusuri lorong menuju aula utama. Setiap langkahnya tegas, namun pikirannya masih tertinggal di gadis itu. Gaun kain sisa itu terus terbayang di matanya — dan amarahnya belum sepenuhnya mereda. Dia akan bicara pada Haris. Dia akan memastikan — tidak ada lagi yang berani memperlakukan Phoenix seperti itu.
Saat dia melangkah masuk ke aula utama, suara percakapan perlahan mereda. Mata semua tamu tertuju padanya. Darma Pradana — calon kepala klan, pria yang akan menikah hari ini. Tegap, tenang, berwibawa.
Haris berdiri di dekat panggung utama. Saat putranya mendekat, dia melihat sesuatu di mata Darma yang membuatnya berhenti.
"Ada apa?" tanyanya pelan.
Darma tidak menjawab seketika. Dia menatap pintu masuk utama — pintu yang akan dilewati tamu Ardika.
"Mereka memberinya kain sisa, Ayah. Kain yang tidak layak untuk pelayan Pradana."
Haris mengernyit, matanya melebar karena marah. Tapi sebelum dia sempat menjawab — pintu aula utama terbuka lebar.
Dimas, Serena, dan Larasati melangkah masuk. Pakaian mereka paling bagus yang tersisa — namun terlihat usang dibanding kemegahan di sekelilingnya. Wajah Dimas tegang, mata menyapu ruangan mencari Haris. Serena tersenyum kaku, berusaha tampil bangga. Larasati menatap sekeliling dengan mata berbinar iri — istana ini, kemewahan ini, seharusnya miliknya. Seharusnya dia yang berdiri di sana.
Mereka berjalan di lorong itu, di bawah ratusan pasang mata. Dan di setiap langkah — mereka sadar. Mereka bukan keluarga pengantin yang dihormati. Mereka adalah keluarga yang diampuni. Dan belas kasihan itu — lebih menyakitkan daripada penghinaan.
Darma berdiri di samping ayahnya, menatap mereka mendekat. Tidak ada senyum. Tidak ada hormat. Hanya tatapan yang berkata: kalian sudah terlambat menyadari nilainya.
Dan di ruang penyiapan — Kirana duduk di kursi cermin. Penata rias menyisir rambutnya pelan. Di cermin, dia menatap bayangannya. Tidak lagi dalam gaun kain sisa. Tidak lagi di kamar kecil. Hari ini — dia akan melangkah keluar, dan dunia akan melihatnya. Bukan sebagai putri Ardika. Tapi sebagai Phoenix yang kembali.
Share this novel