Series
154
PERTEMUAN YANG MENGUBAH SEGALANYA
Larasati berusia sembilan tahun saat itu. Ulang tahunnya dirayakan sederhana namun penuh kemewahan yang masih mampu dipertahankan keluarga Ardika. Di tengah pesta, tamu kehormatan tiba — Haris Pradana bersama putranya, Darma Pradana yang berusia tiga belas tahun.
Saat Darma melangkah masuk, seluruh ruangan seakan berhenti berputar bagi Larasati. Anak laki-laki itu berdiri tegak, wajahnya tenang dan tampan, matanya bersinar cerdas dan berwibawa. Setiap langkahnya teratur, setiap senyumnya sopan namun tulus. Jantung Larasati berdegup kencang seakan hendak melompat keluar dari dadanya.
Dia... dia seperti pangeran yang turun dari dongeng. Dia sempurna. Dan semua orang bilang... dia akan menjadi milikku.
Haris tersenyum ramah pada Dimas dan Serena.
"Kami datang untuk memperkuat ikatan antara kedua klan." ucapnya tegas. "Perjanjian sama tetap berlaku. Kelak, Darma akan bersanding dengan putri Ardika."
Wajah Larasati memerah padam. Ia menunduk malu namun sudut bibirnya terangkat tinggi. Ia melirik Darma, dan anak laki-laki itu menatapnya sebentar lalu tersenyum tipis — senyum yang menurut Larasati adalah tanda persetujuan.
Dia tersenyum padaku! Dia tahu aku yang akan menjadi istrinya!
Darma sendiri berpikir: Gadis kecil ini sopan dan menyenangkan. Jika takdirku adalah menjaga putri Ardika... aku akan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Namun ia tidak menyebut nama siapa pun saat itu.
Sejak hari itu, Larasati berubah. Ia belajar segala hal — tata krama, berbicara lembut, berjalan anggun, menari, membaca buku kuno — agar kelak pantas berdiri di samping Darma. Ia tumbuh menjadi gadis cantik yang disegani semua orang. Semua orang di sekitar mereka tahu: Larasati Ardika adalah calon istri Darma Pradana.
Sementara itu, Kirana dikunci di ruangan kecil di bawah tangga. Tidak diizinkan hadir di pesta, tidak diberi makanan layak, tidak diperbolehkan menampakkan diri di hadapan tamu. Ia hanya duduk diam di sudut gelap, memeluk lutut, perlahan memahami satu hal: di rumah ini, ia tidak punya tempat.
Â
KEPUTUSAN DI BALIK PINTU PRADANA
Bertahun-tahun berlalu. Ikatan persahabatan antara kedua klan semakin erat. Namun di kediaman Pradana, di ruang kerja Haris yang luas dan tenang, sebuah keputusan sedang diambil yang akan mengubah segalanya.
Darma berdiri di hadapan ayahnya, wajahnya tenang namun matanya teguh.
"Ayah," ucapnya perlahan namun jelas. "Aku ingin menikah dengan Kirana Ardika. Bukan Larasati."
Haris mengangkat alis, namun tidak langsung membantah.
"Apa alasannya? Selama ini semua orang mengira Larasati yang menjadi pasanganmu."
"Aku melihat mereka tumbuh bersama," jawab Darma. "Larasati penuh kebencian pada saudaranya sendiri. Sementara Kirana... meski diperlakukan buruk, ia tidak pernah menyakiti siapa pun. Ia memiliki hati yang kuat dan murni. Dan... ada sesuatu pada dirinya yang membuatku merasa seolah aku telah mengenalnya sejak lama."
Haris menatap putranya lama, lalu perlahan mengangguk.
"Keputusanmu sudah bulat?"
"Sudah, Ayah."
"Baiklah." Haris mengambil selembar kertas surat resmi. "Aku akan mengirim surat pengumuman ini kepada seluruh klan di kerajaan. Perjanjian lama telah diperbarui. Putraku, Darma Pradana, akan menikah dengan Kirana Ardika."
Surat itu ditandatangani dengan tinta emas. Hari itu, keputusan telah ditetapkan.
Â
SURAT YANG MENGUNCANG SELURUH KERAJAAN
Beberapa hari kemudian, surat resmi dari Pradana tiba di setiap kediaman klan besar di seluruh negeri.
Isinya singkat namun mengguncang semua orang:
Dengan ini diumumkan kepada seluruh klan dan rakyat kerajaan: Putra tunggal Klan Pradana, Darma Pradana, akan melangsungkan pernikahan dengan Kirana Ardika, putri Klan Ardika. Semoga ikatan ini membawa berkah bagi kedua klan.
Tidak ada nama Larasati. Tidak ada penyebutan lain. Hanya Kirana Ardika.
Berita itu menyebar bagai api menyambar jerami kering. Mulut-mulut orang berbisik ke mana-mana.
"Bukankah selama ini Larasati yang menjadi calon istri Darma?"
"Siapa Kirana Ardika? Tidak pernah terdengar nama itu!"
"Dibuang begitu saja... kasihan sekali Larasati."
"Bukan kasihan, tapi lucu! Selama ini ia berlagak seperti nyonya masa depan, ternyata hanya mimpi!"
Larasati mendengar semua bisikan itu. Di mana pun ia pergi, tatapan orang-orang seakan mengejeknya. Ia menjadi bahan tertawaan di setiap pesta, di setiap pertemuan klan. Wajahnya panas terbakar rasa malu dan marah yang tak tertahankan. Setiap hari ia menunggu di rumah, berharap ada penjelasan, berharap itu semua hanya kesalahan. Namun tidak ada yang datang.
Â
LEDAKAN DI RUANG MAKAN
Pagi itu, empat orang — Dimas, Serena, Larasati, dan Kirana — duduk bersama di meja makan untuk pertama kalinya sejak surat itu tiba. Suasana hening dan tegang. Hanya suara sendok dan piring yang berbunyi pelan.
Dimas meletakkan sendoknya dengan bunyi keras.
"Sudah cukup lama kita diam begini." ucapnya dengan suara berat. "Haris sudah mengirim surat. Pernikahan itu dengan Kirana."
Kalimat itu menjadi pemicu.
Larasati meletakkan peralatan makannya dengan kasar hingga berbunyi nyaring. Matanya memerah, air mata menumpah tanpa bisa ditahan. Ia berdiri dengan tubuh gemetar hebat.
"Kenapa?!" teriaknya, suaranya melengking penuh kepedihan dan amarah. "Kenapa harus dia?! Selama ini semua orang tahu aku yang akan menikah dengan Darma! Aku yang belajar tata krama! Aku yang dibawa ke pesta! Kenapa tiba-tiba dia muncul dan mengambil semuanya?!"
Serena langsung berdiri memeluk putrinya, namun Larasati melepaskan pelukan ibunya dan menunjuk tajam ke arah Kirana yang duduk diam menunduk di ujung meja.
"Kau pencuri! Kau tidak pantas! Kau tidak berhak atas apa pun yang seharusnya menjadi milikku! Kenapa kau tidak mati saja?! Kenapa kau harus muncul dan merampas kebahagiaanku?!"
Kirana perlahan mengangkat wajahnya. Matanya basah namun tatapannya tenang.
"Aku tidak meminta ini..." ucapnya pelan.
"Diamlah!" bentak Larasati. "Kau selalu bersikap seolah paling menderita! Padahal kau yang licik! Kau yang merayu mereka di belakang! Aku benci kau! Aku akan selalu membencimu!"
Dimas memukul meja keras.
"Cukup!" bentaknya. "Keputusan sudah diambil. Tidak ada yang bisa diubah lagi."
Namun bagi Larasati, kata-kata itu bukan akhir. Itu adalah awal dari api kebencian yang tak akan pernah padam. Ia menatap Kirana dengan pandangan yang seakan ingin membakarnya hidup-hidup.
Kau mengambil segalanya dariku. Kehormatanku, masa depanku, cintaku. Aku bersumpah... aku akan membuatmu membayar dengan harga yang paling mahal.
Â
MAKANAN BAGI KEGELAPAN
Jauh di tempat yang gelap dan dingin... Durga berdiri di tengah ruangan yang diterangi cahaya merah redup. Matanya menyala terang seakan bisa menembus dinding dan melihat ke dalam hati setiap orang.
Ia merasakannya — gelombang kebencian yang begitu murni, begitu dalam, begitu membara. Kebencian yang diperkuat oleh rasa malu di hadapan seluruh negeri, rasa kehilangan yang tak tergantikan, dan dendam yang bersumpah akan membalas.
Durga tersenyum lebar, senyum yang penuh kepuasan.
"Luar biasa... Kebencian yang begitu kuat. Dan rasa malu yang membakar jiwanya. Ini adalah bahan bakar terbaik yang bisa kuharapkan."
Ia teringat kembali perjanjian yang baru saja terjalin dengan keluarga Ardika.
"Pilihan yang sangat tepat. Aku tidak menyangka akan mendapatkan keuntungan sebesar ini. Terutama jejak sihir kuno yang tersembunyi di dalam darah Dimas Ardika... Itu jauh lebih menarik dari yang kubayangkan."
Matanya menyala semakin terang.
"Teruslah membencinya, Larasati. Teruslah menyimpan dendammu. Biarkan rasa sakit itu tumbuh semakin besar. Saat tiba waktunya... kalian semua akan menjadi alatku yang sempurna."
Durga tertawa pelan, suaranya bergema di ruangan yang kosong dan gelap.
Share this novel