Series
154
MEMPERTAHANKAN KEBohONGAN
Dimas tertegun sejenak, lalu tertawa sinis yang terdengar kaku dan tidak tenang.
"Orang itu? Siapa? Tidak ada siapa pun yang berhak atas tempatku! Ayah, kau pasti salah paham! Aku adalah anakmu! Aku adalah pewaris Ardika! Mengapa kau tiba-tiba ingin mencabut hakku?!"
Ia menatap Juragas dengan pandangan bingung namun marah. Di dalam kepalanya, ingatan tentang masa lalu terasa begitu nyata — tumbuh bersama Juragas, diperlakukan seperti anak sendiri, dan tidak ada orang lain yang berhak atas gelar itu.
Namun Juragas tidak tersentuh sedikit pun. Ia menatap Dimas dengan pandangan sedih namun tajam, seakan menatap seseorang yang sudah tidak ia kenal lagi.
"Dimas... aku bukan ayah kandungmu. Dan kau... bukan darah daging Klan Ardika."
Kalimat itu jatuh bagai petir di siang bolong.
Serena menutup mulutnya dengan tangan. Larasati mundur terhuyung. Dimas berdiri kaku, seakan tidak percaya pada telinganya sendiri. Wajahnya memerah padam karena marah.
"Apa... apa yang kau katakan?!" suaranya pecah. "Bukan anakmu? Lalu siapa aku?! Mengapa aku hidup di sini selama ini?! Kau memperlakukanku seperti anakmu sendiri!"
"Karena dulu..." Juragas menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca namun suaranya tegas. "Kau datang dari keluarga jauh. Aku mengangkatmu sebagai anak karena aku kasihan. Aku membesarkanmu, memberimu nama, memberimu kedudukan... aku tidak pernah berbuat salah padamu. Aku tidak pernah berhutang apa pun padamu."
Ia melangkah selangkah lebih dekat, menatap lurus ke mata Dimas.
"Tapi... mengapa kau ingin membunuh anak kandungku, Kesuma? Mengapa kau ingin menyingkirkan orang yang seharusnya menjadi pewaris sejak awal?"
Dimas terdiam seketika. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Ia mundur selangkah, lalu menggeleng kuat-kuat.
"Tidak! Itu tidak benar! Aku tidak pernah melakukan hal itu! Aku tidak pernah mencoba membunuh siapa pun!" teriaknya dengan suara bergetar. "Kau menuduhku tanpa bukti! Di mana buktinya?! Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di hutan itu! Tidak ada saksi! Tidak ada jejak! Kalian hanya ingin menyingkirkanku dengan alasan yang dibuat-buat!"
Ia menatap ke sekeliling aula, berusaha mencari dukungan.
"Lihatlah! Mereka hanya menuduhku begitu saja! Tidak ada bukti! Tidak ada yang bisa membuktikan aku pernah melakukan hal itu!"
Di dalam hatinya, Dimas merasa tenang. Ya, tidak ada yang tahu. Tidak ada yang melihat. Dan... bahkan aku sendiri pun tidak ingat pernah melakukannya. Pasti ini semua fitnah. batinnya dengan penuh keyakinan.
Â
KUNCI YANG DIBUAT OLEH JURAGAS
"Kau tidak ingat..." suara berat dan sedih terdengar dari mulut Juragas sendiri. "Karena akulah yang menguncinya."
Semua orang terdiam. Dimas menatapnya dengan mata terbelalak.
"Apa... maksudmu?"
"Setelah kejadian hari itu..." Juragas menunduk, suaranya bergetar menahan tangis. "Aku menemukanmu di kaki tebing, gemetar hebat, wajahmu penuh ketakutan. Saat itu aku sudah tahu apa yang terjadi. Tapi... aku tidak tega menghukummu. Aku sudah menganggapmu seperti anak sendiri."
Ia menelan ludah dengan susah payah.
"Maka aku menggunakan sihir kuno yang gelap. Aku mengubah ingatanmu. Aku menghapus rasa bersalahmu. Aku menanamkan keyakinan bahwa kau adalah anak kandungku, dan Kesuma tidak pernah ada. Aku melakukannya agar kau bisa hidup tenang, tanpa dihantui dosa yang kau perbuat."
Keheningan mencekam menyelimuti aula.
"Tapi..." lanjut Juragas dengan suara yang kembali tegas. "Aku tidak pernah menyangka kau akan melangkah terlalu jauh. Aku tidak pernah menyangka kau akan mengambil alih segalanya. Dan sekarang... aku harus membukanya kembali."
Juragas mengangkat tangan perlahan. Cahaya kelabu gelap mulai memancar dari telapak tangannya, melayang perlahan menuju kepala Dimas.
"Tidak! Ayah! Jangan!" Dimas berusaha menutup matanya, mundur terhuyung. "Kau berjanji tidak akan pernah membukanya! Kau berjanji!"
"Maafkan aku, Dimas." suara Juragas pecah. "Kebenaran harus kembali."
Cahaya itu menyentuh kening Dimas.
Seketika, Dimas berteriak kesakitan. Ia memegang kepalanya erat, tubuhnya terguncang hebat. Kunci yang ditanam bertahun-tahun itu terbuka paksa. Gambar-gambar yang dikubur dalam-dalam mulai menerobos keluar bagai banjir yang menghancurkan bendungan.
Suara teriakan yang meminta tolong.
Pemandangan tebing yang curam dan berawan.
Tangan yang gemetar namun tetap mendorong dengan sekuat tenaga.
Wajah pemuda itu — Kesuma — menatapnya dengan mata terbelalak tak percaya sebelum tubuhnya hilang tertelan kabut.
"AAAAAA!!! BERHENTI!!! AKU INGAT!!! AKU INGAT SEMUANYA!!!" teriak Dimas melengking, jatuh berlutut di lantai. "Aku... aku yang mendorongnya... aku takut... aku takut kehilangan semuanya..."
Air mata bercampur keringat menetes di wajahnya. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Semua orang yang hadir terdiam menyaksikan, ngeri melihat perubahan ekspresi di wajah Dimas.
Serena menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya pucat pasi. Larasati mundur perlahan, seakan tidak mengenal pria yang ada di hadapannya itu.
Â
KEBENARAN YANG DATANG
Dimas terengah-engah di lantai, merasa hancur lebur. Meski begitu, secercah harapan masih tersisa di hatinya.
Tidak ada yang bisa membuktikan apa yang kulakukan. pikirnya. Kesuma sudah mati. Dia sudah mati di dasar jurang. Tidak ada yang bisa kembali dari sana.
Ia mengangkat wajah perlahan, mencoba tersenyum sinis meski air mata masih membasahi pipinya.
"Baiklah... aku mengaku... aku pernah mendorongnya. Tapi apa gunanya sekarang? Dia sudah mati! Sudah lama mati! Tidak ada yang bisa membuktikan apa pun padaku sekarang!"
Namun di saat itu juga... suara berat dan tenang terdengar dari arah tangga. Suara yang membuat darah Dimas membeku seketika.
"Sudah lama tidak bertemu, Dimas."
Semua orang menoleh.
Dari balik bayangan tangga, muncul sosok pria yang sudah berusia paruh baya namun tetap tegap. Wajahnya penuh garis waktu, namun matanya masih sama — tajam, tenang, dan penuh kebenaran yang tak bisa dibantah.
Dimas mendongak perlahan. Matanya membelalak lebar, napasnya tertahan seketika. Mulutnya terbuka namun tidak ada suara yang keluar.
"Kesuma..." bisiknya pelan, hampir tak terdengar. "Kau... kau masih hidup?"
Kesuma melangkah turun perlahan, setiap langkahnya berat dan penuh arti. Ia berhenti tidak jauh dari Dimas yang masih berlutut di lantai.
"Kau berharap aku mati sejak hari itu, bukan?" tanya Kesuma tenang, namun ada kepedihan yang mendalam di suaranya. "Kau mendorongku ke jurang. Dan Juragas... Ayah kita... menguncinya agar kau tidak ingat. Tapi takdir berkata lain. Aku kembali."
Dimas mundur merangkak menjauh, wajahnya pucat pasi. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan kini melanda seluruh tubuhnya.
"Aku... aku tidak bermaksud..." suaranya tak bersuara. "Aku hanya... aku takut..."
"Kau hanya serakah." potong Kesuma tegas. "Dan sekarang... semua orang tahu siapa yang sebenarnya."
Dimas menatap ke sekeliling. Semua mata menatapnya dengan pandangan kecewa, marah, dan jijik. Tidak ada satu pun yang membelanya.
Ia menunduk dalam, merasa tanah seakan terbelah dan ingin menelannya hidup-hidup.
"Aku... aku salah..." bisiknya pelan, air mata jatuh membasahi lantai. "Aku benar-benar salah..."
Share this novel