69. Janji Dan Hadiah

Romance Series 154

RENCANA KEJAHATAN YANG BARU
Cahaya merah perlahan meredup, dan sosok Durga lenyap sepenuhnya dari ruang tamu Ardika. Udara yang dingin perlahan kembali menjadi hangat, namun ketegangan masih menyelimuti ketiga orang itu.
Larasati meremas tangannya erat, matanya menyala penuh kebencian yang kini bercampur harapan.
"Dia benar-benar nyata..." bisiknya pelan, lalu menoleh pada orang tuanya. "Dan dia akan membantu kita. Sekarang... kita harus memikirkan caranya."
Serena duduk di tepi sofa, wajahnya masih pucat namun perlahan berubah menjadi penuh perhitungan.
"Kau benar. Kirana bukan lagi gadis lemah yang dulu kita kenal. Dia berubah. Matanya... tatapannya... semuanya berbeda. Kita tidak bisa lagi mengandalkan cara lama."
Larasati tersenyum miring, senyum yang penuh kejam.
"Kalau dia tidak mau menurut... maka dia tidak perlu ada di dunia ini lagi." suaranya rendah dan dingin. "Kita buat dia hilang. Hilang selamanya. Seolah tak pernah ada. Lalu aku akan menggantikan posisinya. Aku yang akan berdiri di samping Darma. Aku yang akan menikmati segala kemewahan itu."
Serena mengangguk pelan, tidak terkejut sedikit pun.
"Kita harus hati-hati. Pradana melindunginya dengan sangat ketat. Kita butuh rencana yang sempurna. Dan... sepertinya Tuan Durga akan membantu kita mewujudkannya."
Dimas berdiri diam di sudut ruangan. Mendengar kata-kata istri dan anaknya, hatinya terasa berat. Namun di dalam dada, ada sesuatu yang gelap perlahan menguasai keraguannya. Ia hanya diam, membiarkan mereka merencanakan hal-hal buruk tanpa menyela.
 
KEJUTAN DI DALAM REKENING
Pagi berikutnya, saat matahari baru saja terbit... telepon di ruang kerja Dimas berdering berturut-turut. Suara manajer keuangan terdengar gemetar dan penuh kegembiraan.
"Tuan Dimas! Ini luar biasa! Ada... ada dana yang masuk! Jumlahnya sangat besar! Melebihi seluruh hutang perusahaan kita berkali-kali lipat!"
Dimas tertegun, tangannya gemetar memegang telepon.
"Apa kau katakan? Jumlah berapa?"
"Hampir seratus miliar! Tuan! Rekening perusahaan sudah penuh kembali! Kita bisa melunasi semua hutang, membayar gaji karyawan, dan bahkan memperluas usaha lagi!"
Telepon terjatuh dari genggaman Dimas. Ia mundur selangkah, wajahnya pucat campur merah.
"Apa yang terjadi..." bisiknya tak percaya.
Pintu terbuka cepat. Serena masuk dengan wajah bingung, diikuti Larasati yang masih mengenakan pakaian tidur.
"Kenapa kau berteriak tadi? Apa yang terjadi?" tanya Serena cepat, matanya langsung menatap layar komputer yang menampilkan angka yang berputar.
Saat mereka melihat angka yang tertera di layar... keduanya terbelalak, mulut terbuka lebar tak percaya. Larasati menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya gemetar hebat.
"Itu... itu uang kita..." bisik Larasati, matanya berkaca-kaca penuh kegembiraan. "Dia benar-benar melakukannya! Dia tidak berbohong!"
Serena tertawa bahagia, menepuk tangan berkali-kali.
"Kaya kembali! Kita kaya kembali! Semua kemewahan itu kembali menjadi milik kita!"
Mereka berpelukan penuh sukacita, melupakan semua kesusahan yang baru saja mereka alami. Namun Dimas berdiri diam, menatap layar itu dengan perasaan yang tidak nyaman.
Sesuatu terasa salah. Terlalu mudah. Terlalu cepat. Dan sumbernya... dari sosok yang penuh kegelapan itu.
"Dia tidak menipu kita..." gumam Dimas pelan, namun hatinya terasa dingin. "Tapi... apa sebenarnya yang ia inginkan sebagai gantinya?"
Namun pertanyaan itu tertahan di tenggorokan. Melihat istri dan anaknya yang begitu bahagia... ia memilih untuk diam saja.
 
KEKUATAN DI TANGAN DARMA
Di dalam Alam Ruang... waktu terus berjalan berbeda.
Darma berdiri di sudut dataran keemasan, menatap Kirana yang sedang berlatih dari kejauhan. Hatinya penuh kekaguman sekaligus rasa tidak berdaya. Gadis yang kini menjadi istrinya tumbuh begitu kuat, begitu bersinar... sementara dia masih sama seperti dulu.
Ia merogoh saku baju, mengeluarkan sebuah kalung kuno yang terbuat dari emas tua dengan batu merah menyala di tengahnya — kalung yang diberikan Haris padanya sebelum mereka masuk ke sini.
"Ini adalah pusaka leluhur Pradana. Kalau kau merasa tak cukup kuat untuk berdiri di sisinya... peganglah ini. Mungkin ia bisa memberimu kekuatan."
Darma menggenggam kalung itu erat di telapak tangan.
"Aku tidak ingin menjadi beban bagimu, Kirana..." bisiknya pelan. "Aku ingin menjadi tempat kau bersandar saat lelah. Aku ingin berdiri tegak di sampingmu, bukan di belakangmu."
Ia tidak menyadari... di balik genggamannya, batu merah di kalung itu perlahan bersinar redup. Cahaya samar menyebar ke seluruh telapak tangannya, menghangatkan kulitnya, dan perlahan menyatu dengan aliran darahnya sendiri.
 
HADIAH CAHAYA DARI ARAN
Saat latihan selesai dan mereka bersiap untuk kembali... Aran Aruna melangkah mendekati Kirana dengan senyum lembut. Tangannya terulur, menyodorkan sebuah gelang yang terbuat dari cahaya putih keperakan yang lembut.
"Sebelum kau kembali ke dunia luar..." ucap Aran pelan. "Terimalah ini."
Kirana menerima gelang itu dengan kedua tangan. Gelang itu terasa ringan bagai udara, namun hangat dan nyaman di kulit.
"Ini adalah Gelang Cahaya Purba." jelas Aran. "Ia akan menyembunyikan jejak kekuatan Phoenix yang baru saja bangkit di dalam dirimu. Dari siapa pun yang ingin mencarinya dengan sihir gelap... termasuk Durga. Selama kau memakainya... ia tidak akan bisa merasakan kekuatan aslimu."
Mata Kirana melembut. Ia segera memakai gelang itu di pergelangan tangan kanannya. Cahaya itu perlahan menyatu dengan kulitnya, menjadi samar namun tetap terasa hangat.
"Terima kasih, Aran." ucapnya tulus, matanya berkaca-kaca. "Hadiah ini sangat berharga bagiku. Terima kasih telah melindungiku."
Aran tersenyum lebar.
"Itu adalah tugasku. Dan... kau sudah membuktikan bahwa kau layak mendapatkannya."
 
⏳ HANYA DUA HARI SAJA
"Sudah waktunya kita pulang." kata Aran pelan.
Ia melambaikan tangan, dan cahaya putih kembali menyelimuti mereka semua — termasuk Haris yang ikut serta bersama mereka. Saat pandangan kembali jernih... mereka sudah berdiri kembali di ruang utama kediaman Pradana.
Haris yang berdiri paling dekat dengan lorong utama, langsung melangkah cepat ke arah jam dinding besar dan kalender digital yang terpasang di dinding aula utama. Matanya membelalak tak percaya saat melihat angka yang tertera.
"Tidak mungkin..." bisiknya, lalu menoleh cepat ke arah mereka semua dengan wajah penuh keheranan. "Kalian lihat ini?!"
Mereka semua mendekat. Di kalender digital itu tertera tanggal yang sama persis dengan hari keberangkatan mereka — hanya dua hari yang berlalu.
"Dua hari..." gumam Bima tak percaya. "Di dalam sana rasanya sudah berbulan-bulan."
Arga menggeleng pelan, matanya masih tak lepas dari angka di kalender.
"Dua hari di dunia nyata... setara dengan berbulan-bulan di dalam sana. Itu sihir yang luar biasa."
Aran tertawa kecil mendengarnya, menutup mulutnya dengan tangan, terlihat sangat bangga.
"Aku sudah bilang kan? Waktu di dalam sana... tidak sama dengan di luar." ucapnya dengan nada ceria. "Dua hari di sini = berbulan-bulan di sana. Bukankah itu hadiah yang sangat indah?"
Kirana menatap gelang di tangannya, lalu menatap mereka semua dengan mata yang bersinar teguh.
"Ya. Hadiah yang sangat berharga. Dan sekarang... aku siap menghadapi apa pun yang menantiku."
Haris tersenyum bangga menatap mereka semua.
"Kalian kembali lebih kuat dari sebelumnya. Dan itu... adalah hal yang paling penting."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience