91. Cahaya Di Ujung Gelap

Romance Series 154

Setelah sosok Durga lenyap menjadi asap hitam, ruangan itu perlahan kembali hening. Hanya suara napas berat dan deru napas yang masih terengah-engah terdengar bergema di antara dinding batu.
Aran menatap ke arah tempat Durga menghilang, alisnya terkulai rapat.
"Dia belum binasa sepenuhnya." ucapnya pelan namun serius. "Kekuatan utamanya mungkin hancur, namun jiwanya masih terselamatkan dan bersembunyi di tempat yang jauh. Peringatannya bukan sekadar ancaman kosong."
Bima mengangguk setuju sambil menatap retakan-retakan di dinding batu.
"Kita harus waspada. Namun untuk saat ini, yang terpenting adalah membawa mereka keluar dari sini secepat mungkin."
Kesuma berdiri di dekat pintu, matanya meneliti setiap tanda kuno yang terukir di dinding lorong. Wajahnya tegang namun tenang.
"Bangunan ini dibangun di atas tanah yang sudah lama dikutuk." ucapnya pelan. "Jika dibiarkan, sisa-sisa kekuatan gelap ini bisa kembali tumbuh. Kita harus memastikan tempat ini benar-benar tidak bisa digunakan lagi."
Sariya bersandar lemah pada bahu Kirana, wajahnya masih pucat namun matanya bersinar lembut menatap ke arah semua orang yang ada di sana.
"Terima kasih..." suaranya pelan namun tulus. "Terima kasih telah menjaga putriku..."
Arga tersenyum tipis meski tubuhnya masih terasa nyeri.
"Kami hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Dan Kirana... dia yang menyelamatkan kita semua."
Di sudut ruangan yang agak jauh, Dimas masih berlutut dengan kepala tertunduk. Serena dan Larasati berdiri di belakangnya, gemetar hebat. Wajah Serena penuh rasa bersalah dan takut, sementara Larasati menatap lantai dengan mata berkaca-kaca, tidak berani menatap siapa pun.
Kirana menoleh ke arah mereka perlahan.
"Kalian boleh ikut bersama kami keluar." ucapnya tenang. "Namun ingatlah hari ini. Jangan pernah lagi membiarkan keinginan buta membawa kalian ke jalan yang salah."
Dimas mengangkat wajahnya, air mata mengalir di pipinya.
"Kami... kami tidak akan pernah melupakannya."
 
Mereka berjalan beriringan keluar dari ruangan yang gelap itu. Saat melangkah melewati lorong batu yang panjang, terlihat jelas perubahan yang terjadi di sepanjang jalan yang mereka lewati tadi.
Dinding yang tadinya berlumuran lendir hitam dan penuh aura mengerikan kini mulai retak dan mengelupas. Asap pekat yang menyelimuti langit-langit perlahan menghilang, seakan tempat itu sendiri sedang runtuh karena kehilangan tuannya. Udara yang tadinya berat dan berbau busuk kini perlahan terasa lebih segar, seolah tanah itu sedang bernapas kembali.
Kesuma berjalan di paling depan, tangannya sesekali menyentuh dinding batu yang dingin.
"Tanda-tanda sihir kuno di sini sudah mulai melemah." ucapnya pelan. "Namun sisa kutukannya masih ada. Kita harus berhati-hati melangkah."
Saat mereka akhirnya melangkah keluar dari pintu batu besar, matahari pagi menyambut mereka dengan cahaya yang hangat dan lembut.
Kirana berhenti sejenak di ambang pintu, menatap ke sekeliling lembah yang gelap itu. Kabut hitam yang berputar tanpa henti kini perlahan menyebar dan lenyap, memperlihatkan langit biru yang cerah di atasnya. Tanah tandus di bawah kaki mereka mulai terlihat sedikit berwarna, seakan kehidupan perlahan kembali merambat ke sana.
Namun Kirana tahu, tempat ini masih menyimpan sisa-sisa kejahatan yang terlalu dalam untuk hilang begitu saja.
Ia melepaskan pelukan sejenak dari ibunya, lalu melangkah beberapa langkah ke depan. Ia mengangkat kedua tangannya perlahan, dan cahaya keemasan mulai memancar dari telapak tangannya, menyebar ke seluruh bangunan batu hitam di hadapannya.
"Tempat ini telah terlalu lama menjadi sarang kejahatan." ucapnya lantang. "Kini saatnya kau kembali menjadi tanah yang tenang."
Cahaya itu perlahan menyelimuti seluruh bangunan. Dinding batu hitam yang kokoh perlahan bergetar, lalu hancur menjadi butiran-butiran pasir halus yang terbawa angin. Lorong-lorong gelap, ruangan penyiksaan, altar hitam — semuanya hancur perlahan tanpa meninggalkan jejak yang mengerikan.
Kesuma berdiri di sampingnya, menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak penuh kekaguman.
"Kekuatan ini..." bisiknya pelan. "Benar-benar kekuatan yang menjaga dunia..."
Saat bangunan itu sepenuhnya lenyap, Kirana kembali ke sisi ibunya.
"Sudah selesai." ucapnya lembut. "Tidak ada lagi tempat yang bisa menyakiti Ibu."
Sariya tersenyum dan mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Kau telah tumbuh menjadi wanita yang sangat hebat, Kirana."
 
Perjalanan pulang terasa jauh lebih ringan dibandingkan perjalanan menuju ke sana. Langit cerah, udara segar, dan cahaya matahari menyinari jalan setapak yang mereka lalui.
Namun perasaan di dalam hati setiap orang berbeda-beda.
Kirana berjalan di samping ibunya, sesekali menopang tubuh Sariya yang masih lemah. Di dadanya terasa penuh — rasa lega karena akhirnya bisa menyelamatkan ibunya, rasa bangga karena mampu menggunakan kekuatannya untuk kebaikan, dan juga rasa waspada yang masih tersisa di dasar hati. Ia tahu, peringatan Durga bukan sekadar kata-kata kosong.
Darma berjalan di sisi lain Kirana, sesekali menatapnya dengan pandangan yang penuh kekaguman dan perlindungan. Ia melihat bagaimana gadis yang dulu lemah kini berdiri tegak, menjadi harapan bagi banyak orang.
Arga berjalan di belakang mereka, tubuhnya masih terasa sakit namun hatinya tenang. Sesekali ia menatap punggung Sariya di depan, lalu tersenyum tipis. Tugasnya belum selesai sepenuhnya, namun setidaknya yang terpenting sudah aman.
Kesuma berjalan di samping Arga, matanya terus mengawasi jalan di sekitar mereka.
"Tanah di sekitar sini perlahan pulih." ucapnya pelan. "Namun kita tidak boleh berhenti waspada. Jika ada sisa kekuatan gelap yang tersisa, mereka akan mencari jalan untuk kembali."
Bima dan Aran berjalan di barisan paling belakang, mengawasi sekeliling dengan mata tajam.
"Kekuatan Phoenix di dalam dirinya semakin kuat." ucap Bima pelan kepada Aran. "Dan seiring dengan itu, bahaya yang mengincarnya juga akan semakin besar."
Aran mengangguk perlahan.
"Benar. Namun kali ini, dia tidak lagi berjuang sendirian."
Di belakang kelompok itu, berjalan Dimas, Serena, dan Larasati. Jarak mereka sedikit jauh dari yang lain. Wajah mereka tidak lagi sombong atau penuh kebencian seperti dulu. Yang tersisa hanyalah rasa malu yang mendalam dan keheningan yang berat.
Larasati sesekali melirik ke arah Kirana yang berjalan di depan. Ia melihat betapa mulianya sosok gadis itu, betapa berbedanya dengan dirinya yang penuh iri hati dan kebencian. Rasa bersalah perlahan menyusup ke dalam hatinya, membuatnya menunduk semakin dalam.
Dimas berjalan diam tanpa bicara. Ia menyadari betapa besar kesalahannya. Ia telah menjual jiwanya kepada kejahatan demi ambisi yang buta, dan hampir saja menghancurkan kehidupan orang yang sebenarnya berhak atas segalanya. Namun di saat yang sama, ia juga menyadari satu hal penting: Kirana telah memaafkannya. Dan pengampunan itu terasa jauh lebih berat daripada hukuman apa pun.
Matahari semakin tinggi saat mereka akhirnya turun dari pegunungan terlarang. Di kejauhan, jalan yang menuju kembali ke peradaban mulai terlihat jelas.
Kirana berhenti sejenak dan menatap ke arah cakrawala yang luas. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa perjalanan ini bukanlah akhir. Masih ada hal-hal yang harus dihadapi, masih ada ancaman yang bersembunyi di kegelapan. Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak merasa takut.
Karena kini ia tidak lagi berjuang sendirian.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience