34. Gaun Yang Mengubah Segalanya

Romance Series 154

DI DEPAN CERMIN
Pintu tertutup di belakang Darma. Kirana duduk sendirian di kursi rias, cermin besar di depannya memantulkan bayangan yang masih terasa asing. Dua wanita — penata rias dan penata rambut — bergerak di sekelilingnya dengan gerakan lincah, tangan mereka terampil menyentuh wajah, rambut, bahu. Tidak terburu-buru. Tidak kasar. Sentuhan yang penuh hormat — hal yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Penata rias menyapukan kuas lembut di pipinya, lalu tersenyum kagum di cermin.
"Kulit Nona Kirana sangat halus. Hampir tidak perlu disentuh. Kami hanya menonjolkan apa yang sudah ada."
Kirana tersenyum tipis, pelan, matanya tidak beralih dari pantulan di cermin.
"Terima kasih. Kalian... sangat teliti."
"Ini kehormatan kami, Nona. Tuan Muda Darma memberi perintah khusus — tidak boleh ada satu pun yang kurang sempurna."
Jantung Kirana berdenyut sedikit lebih cepat. Dia menunduk perlahan, lalu kembali menatap pantulannya. Darma. Perintahnya.
Pikirannya melayang kembali — ke kehidupan yang sudah berakhir di genangan darah. Di sana... di hari itu... dia berdiri di samping Larasati. Matanya pada Larasati. Tangannya menggenggam tangan Larasati. Aku hanya bayangan di pinggir pesta. Tidak dilihat. Tidak diinginkan. Tidak diselamatkan.
Dia mengerjap, membuang bayangan itu.
Tapi sekarang... semuanya berbeda. Pernikahan ini terjadi tiga tahun lebih awal dari dulu. Dan Darma... dia tidak memandang Larasati. Dia tidak berdiri diam. Dia berjalan menuruni lorong itu. Dia mengulurkan tangannya padaku.
Apakah dia berubah? Atau... apakah aku yang melihatnya berbeda sekarang? Apakah aku membuat keputusan yang benar? Atau aku hanya melompat dari satu tempat yang asing ke tempat lain yang belum aku pahami?
Dia tidak tahu jawabannya. Dia hanya tahu — pintu ke Ardika sudah tertutup rapat. Dan di depannya... ada jalan yang terbuka.
 **************
GAUN YANG TIDAK TERBAYANGKAN
Penata busana masuk membawa gantungan kain yang tertutup kain sutra putih. Saat kain penutup diturunkan, napas Kirana tertahan.
"Ini karya perancang busana ternama dari seberang benua, Nona. Edisi terbatas — hanya tiga gaun seperti ini di dunia. Tuan Pradana memesannya khusus untuk Anda."
Gaun itu berwarna putih bersih, bukan putih pucat — putih yang memancarkan cahaya lembut seolah kain itu sendiri bersumber dari cahaya. Lapisan-lapisan kain jatuh ringan, seakan melayang di udara sebelum menyentuh tubuh. Sulaman benang perak membentuk pola yang menyerupai sayap burung yang terbentang lebar di punggung dan bahu — halus, tidak mencolok, namun semakin terlihat jelas setiap kali bergerak.
Saat gaun itu melingkari tubuhnya — Kirana terkejut. Tidak kaku. Tidak berat. Pas seakan ditenun khusus untuknya, seakan kain itu mengenali tubuhnya sebelum dia memakainya. Bahu tertutup lembut, lengan panjang kain tipis yang berkilau setiap kali bergerak. Pinggangnya terdefinisi tanpa ditarik kesakitan. Panjang gaun menyentuh lantai, menyembunyikan kakinya, membuatnya tampak seakan melayang setiap kali melangkah.
Dia menatap dirinya di cermin lagi — kali ini matanya melebar. Ini aku?
Wajahnya sama. Tapi cahayanya berbeda. Dia tidak terlihat seperti gadis yang makan sisa makanan di dapur. Dia tidak terlihat seperti gadis yang dikunci di kamar kecil. Dia terlihat... seperti dia milik tempat ini. Seperti dia seharusnya berdiri di sini sejak awal.
 *************
LORONG YANG MENUNGGU
Ketukan pintu halus terdengar.
"Nona Kirana? Waktunya."
Kirana menarik napas panjang, berdiri perlahan. Langkahnya terasa berbeda — lebih tegap, lebih tenang. Dia berjalan menuju pintu, diikuti pandangan kagum ketiga penata itu.
Pintu terbuka. Dia berjalan sendirian menyusuri lorong panjang menuju aula utama. Langkahnya teratur, tapi di dalam kepalanya sunyi — jernih, tenang, satu pikiran menetap di sana tanpa bergetar.
Hal-hal sudah begini. Melangkah saja ke mana jalannya membawa. Lagipula... aku masih harus mencari tahu ke mana ibuku pergi. Apakah dia pergi dengan kemauannya sendiri... atau apakah dia dibunuh.
Tidak ada amarah yang meledak. Tidak ada ketakutan yang mencekik. Hanya tekad yang tenang, dalam, seperti api yang membakar perlahan di kedalaman tanah.
Dia berdiri di depan pintu utama aula. Di balik pintu itu — ratusan orang. Dua klan. Empat Penjaga. Dan Ardika. Dia tidak tahu siapa yang menunggunya. Tapi dia tahu — di seberang pintu ini, hidupnya yang lama sudah berakhir.
 ****************
PINTU TERBUKA, DUNIA BERHENTI
Pintu utama terbuka perlahan. Cahaya membanjir masuk.
Langkah pertamanya keluar.
Aula hening.
Bukan hening biasa. Hening di mana ratusan orang menahan napas bersamaan.
Beberapa orang menatap wajahnya — mata membelalak, mulut sedikit terbuka, terpaku pada kecantikan yang bukan sekadar fisik, tapi memancar dari dalam.
Beberapa orang menatap gaunnya — mengenali sulaman sayap, kain yang tidak bisa dibeli dengan uang biasa, karya yang namanya terdengar di seluruh benua. Bisikan mulai berdesir pelan — Gaun itu... edisi terbatas Pradana... mereka memberinya yang terbaik...
Dan di baris paling belakang — wajah Dimas, Serena, dan Larasati memerah padam. Bukan karena bangga. Tapi karena malu yang membakar wajah mereka. Mereka memberinya kain sisa kemarin. Dan hari ini — dia mengenakan gaun yang harganya lebih mahal dari seluruh stok gudang pabrik Ardika.
Di tengah aula, di depan altar — Darma berdiri tegak. Matanya terpaku padanya. Tidak berkedip. Tidak bergerak. Sejak pintu terbuka, dia tidak melihat apa pun selain dia. Matanya memancarkan kagum yang tidak disembunyikan — kagum, hormat, dan sesuatu yang lebih dalam.
Kirana melangkah masuk. Matanya menyapu aula — dan dia melihat Darma berjalan cepat menuruni lorong lagi. Matanya menyiratkan tanya — Apakah kau menungguku? Apakah kau mengizinkanku?
Saat dia berhenti di hadapannya, Darma mengulurkan tangan lagi.
"Izinkan aku menemanimu."
Kirana menatap tangan itu — lebih lama dari sebelumnya. Lalu perlahan, dia mengangguk. Kepala sedikit saja. Tapi itu persetujuan yang sadar. Yang dipilihnya sendiri.
Tangannya menyentuh telapak tangannya. Dia menggenggamnya. Dan kali ini — genggaman mereka tidak terpisahkan saat berjalan menuju altar.
 ************
DUA PENJAGA MENONTON
Di sudut aula, Arga Bayu dan Bima Sena berdiri di tempat yang berbeda — namun pandangan mereka sama.
Arga menyipitkan mata. Dia berjalan berbeda hari ini. Lebih tegap. Lebih... milik dirinya sendiri. Kapan waktu yang tepat untuk mendekat? Saat upacara selesai? Saat pesta? Atau menunggu malam tiba?
Bima Sena mengangguk pelan sendiri. Dia tidak terlihat rapuh hari ini. Gaun itu bukan sekadar kain — itu baju zirah yang diberikan Pradana. Dia terlihat kuat. Dan jika dia kuat... mungkin dia tidak butuh kami segera. Mungkin kami bisa menonton sebentar lebih lama. Biarkan dia menikmati hari ini tanpa beban legenda.
Mereka saling melirik sekilas. Satu anggukan kecil. Nanti. Waktunya akan tiba. Tapi hari ini... biarkan dia menikmati pesta-nya.
 *****************
RACUN DI BARIS BELAKANG
Larasati mencengkeram tepi kursi hingga kukunya memutih. Matanya menatap gaun itu — mengenali nama perancang itu dari majalah yang pernah dia baca diam-diam. Harganya tak terbayangkan. Edisi terbatas. Dan itu dikenakan oleh Kirana. Gadis yang mereka perlakukan seperti sampah kemarin pagi.
Amarah dan kecemburuan berperang di dadanya — panas, pahit, menyakitkan. Dan yang lebih menyakitkan — tangan mereka tidak terpisahkan. Sampai di depan Haris, mereka masih menggenggam erat. Seakan tidak bisa dipisahkan.

Dia mencondongkan tubuh ke arah ibunya, suara berbisik tajam namun rendah, matanya tidak beralih dari mereka.
"Ibu... lihat dia. Berpakaian bagus, digandeng pria yang seharusnya milikku. Dia pikir dia menang. Tapi ini belum selesai."
Serena menatapnya, bibirnya merapat menjadi garis tipis.
"Aku tahu. Setelah upacara... setelah semua orang pulang... kita cari cara. Dia masih manusia. Dia masih punya kelemahan. Dan kita tahu di mana dia lemah."
Dimas mendengarnya. Dia tidak menoleh. Matanya masih terpaku pada gaun putih yang bersinar di tengah lorong.
"Ya. Kita akan bicara dengannya. Dia masih darah kita. Dia tidak bisa melupakan itu begitu saja."
Larasati tersenyum tipis — senyum yang tidak menyentuh matanya.
"Tunggu saja. Besok... mungkin dia tidak akan seberani hari ini."
Mereka tidak tahu — di pilar bayangan tak jauh dari mereka, Arga Bayu berdiri diam. Matanya dingin. Telinganya menangkap setiap kata. Setiap rencana. Setiap racun.
Dia tidak bergerak. Tidak marah. Hanya mencatat. Satu per satu.
Kalian berencana melukainya... pikirnya pelan. Maka kalian tidak tahu — dia bukan lagi gadis yang kalian sakiti. Dan kalian juga tidak tahu — kalian sedang berbicara di depan bayangan yang tidak pernah melepaskan apa yang didengarnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience