Series
154
Pintu ruang direktur utama terbuka dibanting. Dimas Ardika melangkah masuk, napas memburu, wajahnya merah padam, keringat dingin sudah membasahi kerah kemejanya meski pagi belum terlalu panas.
Ardika Tekstil — perusahaan yang ia banggakan, warisan yang ia bangun di atas nama Pradana — hari ini terasa seperti peti mati.
Empat hari. Hanya empat hari sejak Pradana menarik seluruh investasi dan membatalkan semua kontrak kerja sama tanpa penjelasan lebih lanjut. Empat hari sejak Haris Pradana menolak menemuinya, menolak meneleponnya, bahkan menolak menerima surat permohonannya.
Dan dalam empat hari itu — semuanya runtuh.
Dimas berjalan ke meja kerjanya, tangan gemetar meraih tumpukan laporan. Angka-angka itu menatapnya merah, tajam, membakar matanya. Penjualan anjlok lebih dari tujuh puluh persen. Mitra bisnis mundur satu per satu. Kreditur menelepon berturut-turut hingga telepon meja berasap. Perusahaan yang berdiri puluhan tahun berguncang seperti daun tertiup angin — dan angin itu bernama Pradana.
Ketukan pelan di pintu. Arwana — sekretarisnya yang telah bekerja bersamanya selama sepuluh tahun — masuk dengan wajah pucat, berkas-berkas di tangannya terlihat berat seakan batu.
"Tuan Ardika..." suaranya rendah, bergetar.
Dimas membanting laporan ke meja hingga kertas berterbangan.
"Apa lagi?! Beritahu mereka aku sedang bicara dengan Pradana! Beritahu mereka tunggu!"
"Tuan..." Arwana menelan ludah, matanya tidak berani menatapnya lama. "Mereka tidak mau menunggu. Tiga pemasok bahan kain membatalkan pengiriman pagi ini. Dua bank menelepon menagih cicilan. Dan... berita di internet semakin parah."
Dimas melangkah mendekat, matanya menyipit tajam.
"Berita apa lagi? Bukankah sudah cukup?"
Arwana meletakkan ponsel di meja. Layar menyala — berita utama, ribuan komentar membanjir. Wajah Dimas ada di sana. Tidak dalam artikel bisnis yang memujinya. Tapi di forum gosip, berita keuangan, media sosial. Dan tidak ada satu pun yang baik.
*****************
Dimas membaca baris demi baris, wajahnya semakin pucat dengan setiap kata.
"Ardika Tekstil jatuh seketika — Pradana cabut investasi tanpa alasan."
"Dimas Ardika mungkin menyinggung orang kuat — bisnisnya hancur dalam hitungan hari."
"Sumber dekat Pradana: mereka tidak mau lagi berurusan dengan Ardika. Titik."
Dan di kolom komentar — puluhan ribu suara. Tidak ada yang tahu kebenaran. Tapi semua orang punya pendapat, dan semua pendapat itu tajam.
"Pasti berbuat curang selama ini!"
"Sudah lama saya bilang Ardika menipu kualitas kainnya!"
"Mungkin dia menjual putrinya dengan harga terlalu mahal dan Pradana marah!"
"Saya dengar dia berhutang di mana-mana dan tidak bayar!"
"Boikot Ardika! Jangan beli sehelai kain pun dari mereka!"
Dimas meremas rambutnya, mundur terhuyung hingga punggungnya membentur dinding.
"Siapa... siapa yang menyebarkan ini?! Siapa yang memutarbalikkan semuanya?!"
Arwana menunduk dalam, suaranya hampir hilang.
"Belum diketahui siapa yang memulai, Tuan. Tapi... pesannya menyebar secepat api. Seolah-olah ada yang mendorongnya menyebar lebih cepat setiap jam." Dia berhenti, lalu menambahkan pelan. "Dan Surya Busana... mereka memposting perbandingan kualitas kain kemarin. Menertawakan standar Ardika. Postingannya viral. Puluhan ribu dibagikan."
Dimas mengepal tangan hingga buku jarinya memutih, urat di lehernya menonjol. Surya Busana — musuh bebuyutannya selama dua puluh tahun. Selalu di belakang. Selalu iri. Selalu berusaha meniru. Dan sekarang — mereka berdiri di atasnya, menendang saat dia jatuh.
"Itu fitnah!" Dimas berteriak, suaranya pecah. "Kain kami lebih baik! Mereka tahu itu! Mereka selalu tahu itu!"
"Orang tidak peduli, Tuan." Arwana terdengar lelah, putus asa. "Orang percaya apa yang mereka baca. Dan mereka percaya satu hal — jika Pradana menolak Ardika... maka Ardika pasti salah. Itu logika orang. Dan tidak ada yang berani membantahnya."
Dimas jatuh terduduk di kursi direkturnya. Kursi kulit yang dulu terasa seperti tahta — kini terasa seperti kursi tersangka. Dia menatap jendela besar di hadapannya — pemandangan kota yang dulu terasa miliknya. Sekarang terasa seperti sangkar tempat dia dikurung.
Menjual Kirana... pikirnya. Bukankah itu jalan menuju kekayaan? Bukankah itu perjanjian yang menguntungkan semua pihak? Lalu kenapa... kenapa seakan neraka sendiri terbuka di bawah kakinya?
"Tuan..." Arwana berbicara pelan. "Karyawan berkumpul di lantai bawah. Mereka bertanya soal gaji. Mereka khawatir."
Dimas tidak menjawab. Dia menatap layar ponsel di mejanya — berita baru bermunculan, lebih cepat dari yang bisa dibacanya. Setiap detik, nama Ardika semakin kotor. Setiap jam, bisnisnya semakin runtuh. Dan di suatu tempat... ada yang tertawa.
*******************
Pemandangan dari lantai teratas gedung Surya Busana jauh lebih cerah.
Matahari pagi menyinari kaca gedung yang berkilau, memantulkan cahaya ke seluruh kota. Di ruang direktur utama yang luas, berbau mahal dan baru, berdiri seorang pria tegap di hadapan jendela dari lantai hingga langit-langit. Bagas Surya — pemilik Surya Busana. Usianya 50 tahun, wajahnya tajam, matanya cerdik dan penuh ambisi yang tidak pernah terpuaskan.
Dia memegang ponsel di satu tangan, membaca berita terbaru tentang Ardika. Dan semakin dia membaca — semakin sudut bibirnya terangkat. Bukan senyum ramah. Itu senyum pemangsa yang melihat mangsanya jatuh ke perangkap.
Pintu terbuka. Fattah — asisten pribadinya, pria muda, cerdas, setia, dan sama tajamnya dengan tuannya — masuk berdiri menunggu.
Bagas tidak berbalik. Matanya masih terpaku pada layar ponsel, bibirnya semakin melengkung.
"Lihat ini, Fattah." Suaranya rendah, penuh kepuasan yang gemilang. "Lihat angka penurunan Ardika. Hanya empat hari. Empat hari dan kerajaan yang Dimas banggakan selama puluhan tahun... hancur seperti rumah kartu."
Dia tertawa — suara rendah, penuh kemenangan yang tidak disembunyikan.
"Dimas Ardika... selalu berjalan dengan dagu terangkat. Selalu berpikir dia di atas semua orang. Selalu berpikir nama Pradana adalah tameng yang tidak bisa ditembus. Dan sekarang... lihat dia."
Bagas berbalik perlahan, senyumnya melebar, matanya menyala. Dia meletakkan ponsel di meja, lalu menatap Fattah.
"Ini belum cukup, Fattah."
Fattah mengangguk, paham sepenuhnya.
"Apa yang Tuan inginkan?"
Bagas berjalan melingkari meja kerjanya, jari-jemari mengetuk pelan permukaan kayu mahoni yang mengkilap — setiap ketukan adalah pukulan bagi Dimas di kejauhan. Dia berhenti di hadapan Fattah, menatapnya lurus.
"Aku ingin kau memperkerjakan tim. Buat lebih banyak konten di internet. Berita, cerita, rumor, apa saja. Bahkan yang terdengar tidak masuk akal — biarkan menyebar. Buat semakin banyak. Buat semakin cepat. Buat sampai tidak ada satu orang pun di kota ini yang tidak tahu nama Ardika dan tidak mencemoohnya."
Fattah menulis catatan di buku kecilnya.
"Jenis konten apa yang harus kami utamakan?"
Bagas tersenyum lebih lebar, matanya menyipit tajam.
"Segala hal yang membuatnya terlihat buruk. Hutang yang tidak ada. Skandal yang tidak terjadi. Tuduhan kualitas yang sudah kita siapkan. Cerita tentang bagaimana dia menjual putrinya demi uang Pradana — oh, itu akan menyebar seperti api kering. Orang suka cerita seperti itu."
Dia berjalan mendekat ke jendela lagi, menatap ke arah gedung Ardika yang terlihat kecil di kejauhan.
"Aku ingin dia tahu — setiap kali dia membuka mata, setiap kali dia melihat ponsel, setiap kali dia bertemu orang... dunia sedang menunjuknya dan tertawa. Aku ingin dia membayangkan wajahnya sendiri saat membaca hinaan itu. Dan aku ingin dia tahu... aku yang menikmati setiap detiknya."
Fattah mengangguk tenang.
"Akan dilaksanakan hari ini, Tuan. Bahkan dalam satu jam ke depan."
Bagas menoleh, tersenyum puas — senyum yang tidak sampai ke mata, tapi dingin dan mematikan.
"Bagus. Karena tidak ada yang lebih manis daripada melihat orang yang selalu berpikir dia di atas... jatuh dan menyadari — tempatnya sebenarnya di bawah kaki kita."
Fattah membungkuk sedikit lalu berjalan keluar untuk melaksanakan perintah. Pintu tertutup.
Bagas berdiri sendirian di ruang luas itu. Dia mengangkat gelas anggur yang belum disentuhnya, mengarahkan cahaya matahari menembus cairan merah.
"Selamat menikmati empat hari terburuk dalam hidupmu, Dimas. Karena hari-hari ini... baru permulaan."
Dia menyesap anggurnya pelan, memejamkan mata seakan menikmati rasa kemenangan yang manis. Dan di kejauhan, telepon Dimas Ardika terus berdering — tanpa henti — memecah keheningan gedung yang runtuh.
Share this novel