40. Rumah Yang Menjadi Miliknya

Romance Series 154

JURNAL YANG TIDAK MENJAWAB
Setelah nampan kosong dibawa pergi, Kirana duduk kembali di tepi tempat tidur. Tangannya menyentuh dadanya, di mana terselip buku kecil bersampul kulit cokelat tua — satu-satunya benda yang dia bawa keluar dari Ardika. Satu-satunya miliknya yang benar-benar miliknya.
Tidak ada pakaian yang berharga. Tidak ada perhiasan. Tidak ada foto. Hanya jurnal ini — peninggalan ibunya, yang ditemukannya tersembunyi di laci terkunci di ruang kerja Dimas bertahun-tahun lalu. Dimas tidak pernah tahu itu ada. Serena tidak pernah tahu. Hanya dia.
Dia membukanya perlahan, halaman-halamannya sudah mulai menguning, tinta mulai memudar, namun tulisan tangan itu tetap rapi, lembut, seakan ibunya menulis setiap kata dengan penuh hati-hati — seakan tahu suatu hari nanti mata putrinya yang akan membacanya.
Hari ini hujan. Langit kelabu seperti hatiku. Tapi aku tahu, di dalam diriku, ada api yang tidak akan padam meski badai datang. Anakku... jika kau membaca ini nanti — ketahuilah bahwa kau lahir dari cahaya. Jangan biarkan siapa pun memadamkanmu.
Kirana membaca kalimat itu lagi. Lalu lagi. Dia sudah hafal sebagian besar isi jurnal ini — dibaca berulang kali di malam-malam yang panjang di kamarnya yang dingin. Setiap halaman berisi pesan tentang keberanian, tentang api, tentang kekuatan yang lahir dari kesunyian. Tapi tidak ada nama. Tidak ada tanggal lahir. Tidak ada siapa ayahnya. Tidak ada ke mana ibunya pergi. Tidak ada alasan kenapa dia pergi.
Dia menutup jurnal perlahan, menekannya ke dada. Matanya perih.
Hanya kata-kata indah. Tidak ada petunjuk. Tidak ada jejak. Siapakah aku, Ibu? Mengapa kau pergi tanpa meninggalkan jalan pulang?
Dia menghela napas panjang, menyeka mata dengan punggung tangan, lalu berdiri. Jurnal itu diselipkan kembali di tempat paling aman di dalam laci meja samping tempat tidur — seakan meletakkan harapan yang tertunda, bukan yang mati.
**************** 
‍ MENEMUI HARIS
Kirana berjalan keluar kamar, langkahnya mantap meski jantungnya berdebar. Lorong luas, lantai marmer berkilau lembut di bawah cahaya lampu dinding. Tidak ada yang berbisik. Tidak ada yang menatap merendah. Tidak ada yang menyuruhnya berjalan lebih cepat atau menunduk.
Dia tiba di pintu ruang kerja — tempat di mana kemarin takdirnya diputuskan. Dia mengetuk tiga kali, tenang, jelas.
"Masuk."
Suara Haris. Tegas, namun tidak keras.
Kirana melangkah masuk. Haris duduk di kursi besarnya, Darma berdiri di dekat jendela, menoleh saat pintu terbuka. Keduanya menatapnya — tidak terkejut, tidak menuntut.
Kirana berhenti di tengah ruangan, punggung lurus, mata menatap lurus ke arah Haris — tidak menunduk seperti yang biasa dia lakukan seumur hidupnya.
"Ayah mertua... Haris..."
Dia menarik napas, suaranya jernih dan tenang.
"Aku datang bukan untuk meminta izin duduk. Aku datang juga bukan untuk bersembunyi di kamar menunggu dipanggil. Aku Kirana. Dan aku ingin dikenali sebagai anggota keluarga ini — bukan sebagai beban yang ditanggung, bukan sebagai tamu yang ditoleransi. Aku ingin bekerja, belajar, berkontribusi. Aku tidak ingin menjadi wanita yang hanya tahu duduk menunggu."
Keheningan sejenak. Haris menatapnya dalam-dalam, tidak berkedip. Lalu perlahan — senyum menyentuh bibirnya. Bukan senyum sopan santun. Itu senyum pengakuan. Seperti seseorang yang menemukan apa yang lama dicarinya.
******************* 
TUAN RUMAH
Haris bersandar di kursinya, melipat tangan di atas meja.
"Kirana... dengarkan aku baik-baik. Di rumah ini, tidak ada yang melayani tanpa dihormati. Tidak ada yang diperintah tanpa alasan. Dan tidak ada yang lebih berkuasa daripada TUAN RUMAH — dan tuan rumah di sini... adalah KITA BERSAMA."
Dia mencondongkan tubuh sedikit, matanya menyala.
"Jika ada satu orang — siapa pun dia — yang berani memperlakukanmu seperti yang dilakukan Ardika... yang menyuruhmu, yang menindasmu, yang melupakan bahwa kau manusia yang berharga... dia tidak akan menghadapimu. Dia akan menghadapiku. Dan aku — Haris Pradana — tidak akan membiarkan siapa pun menodai kehormatan keluargaku."
Kirana menatapnya, napasnya tertahan. Selama hidupnya, tidak ada yang pernah berkata demikian. Tidak ada yang pernah berdiri di depannya dan berkata — kau adalah tuan rumah di sini.
"Kau mengerti, Nak? Kau tidak perlu membuktikan nilaimu. Kau sudah menjadi bagian dari kami sejak saat kau melangkah masuk. Dan Pradana tidak memelihara — Pradana MELINDUNGI."
Kirana mengangguk perlahan, mata berkaca-kaca namun tidak jatuh.
"Terima kasih... Haris."
"Sekarang — Darma." Haris menoleh ke putranya. "Tinggalkan urusanmu sebentar. Temani istrimu berkeliling. Tunjukkan setiap lorong, setiap pintu, setiap halaman. Supaya dia tahu — ini rumahnya. Supaya dia tidak pernah tersesat di tempat yang seharusnya menjadi miliknya."
Darma mengangguk, berjalan mendekat ke arah Kirana.
"Ayo."
****************** 
MENJELAJAHI RUMAHNYA
Mereka berjalan berdampingan. Langkah mereka selaras — tidak terburu-buru, tidak terpisah.
"Ini sayap timur," Darma menjelaskan pelan. "Kamar tamu, ruang musik, perpustakaan. Lantai dua — perpustakaan pribadi. Koleksi buku tertua di klan Pradana. Semua milikmu juga."
Mereka berjalan melewati lorong yang dindingnya dipenuhi lukisan — wajah-wajah leluhur, mata mereka tajam namun tidak menakutkan.
"Mereka semua menunggu," bisik Darma. "Mereka tahu kau datang."
Mereka melangkah keluar menuju halaman dalam. Udara segar, berbau bunga melati dan tanah basah. Matahari menyinari halaman luas — rumput hijau terawat, kolam batu di tengahnya, air mancur yang jatuh lembut, berkilau perak. Di sekelilingnya — pohon-pohon tinggi, rindang, memberikan keteduhan.
"Sayap barak — ruang rapat, kantor, ruang pelatihan. Halaman belakang — tempat latihan, kebun buah, dan menara pandang di ujung sana." Darma menunjuk ke arah bangunan kecil yang menjulang di antara pepohonan. "Dari sana kau bisa melihat seluruh tanah Pradana."
Kirana menatap ke sekeliling — luas, megah, namun tidak dingin. Setiap sudutnya terawat dengan cinta. Setiap batu ditempatkan dengan tujuan.
"Sangat besar..." bisiknya. "Aku tidak pernah membayangkan tinggal di tempat seperti ini."
"Besarnya bukan untuk menakuti," jawab Darma pelan. "Tapi untuk melindungi. Semakin luas tempat ini — semakin jauh bahaya harus melangkah untuk mencapaimu."
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di samping kolam. Ikan-ikan berwarna cerah berenang di dalamnya, membelah air jernih.
"Setiap pintu tidak dikunci kecuali gudang penyimpanan. Setiap ruangan boleh kau masuki. Setiap buku boleh kau baca. Ini rumahmu, Kirana. Jangan pernah berjalan seakan tamu."
Kirana berhenti, menatap air di kolam yang tenang, memantulkan wajahnya — wajah yang tidak lagi menunduk.
"Terima kasih, Darma. Terima kasih telah memperlakukanku... sebagai manusia."
Darma berhenti di sampingnya. Bayangan pohon jatuh di wajahnya.
"Kau manusia yang paling berharga yang pernah kukenal. Dan rumah ini... baru saja mulai mengetahui keberuntungan yang dimilikinya."
Mereka berdiri berdampingan, tidak berbicara lagi. Hanya suara air mancur, angin di antara daun-daun, dan detak jantung yang perlahan berdetak selaras. Di tanah yang luas itu, di bawah langit yang cerah, Kirana menyadari satu hal — dia tidak lagi mencari tempat untuk bersembunyi. Dia mulai menemukan tempat untuk BERTAHAN.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience