85. Api Yang Tidak Bisa Dipadamkan

Romance Series 154

Saat cahaya keemasan meledak dari tubuh Kirana, manik-manik yang diberikan Aran terasa panas di dadanya. Dalam sekejap, benda itu pecah menjadi butiran cahaya yang menyebar ke udara. Perlindungan yang tersimpan di dalamnya telah terpakai sepenuhnya, namun pada saat yang sama, sesuatu yang jauh lebih kuat terbangun dari dalam darahnya.
Rasa dingin dan berat yang menahan tubuhnya lenyap seketika. Aliran energi yang mengalir di pembuluh darahnya berubah menjadi api yang hangat dan kuat, mengalir cepat mengikuti jejak kekuatan yang diturunkan ayahnya. Setiap denyut jantungnya memancarkan cahaya lembut yang merambat ke seluruh permukaan kulitnya, menolak kekuatan gelap yang mengikatnya. Garis-garis merah di tanah yang tadinya menyedot tenaganya kini terbakar menjadi abu saat cahaya itu menyentuhnya.
Kirana mengangkat tangan perlahan. Dinding energi yang tak kasat mata terbelah di hadapannya seakan terbuat dari kain tipis. Ia melangkah keluar dari lingkaran itu dengan tenang, mata keemasannya menatap lurus ke arah Durga yang kini mundur selangkah karena terkejut.
"Ini..." gumam Durga, matanya menyipit tajam. "Kekuatan apa ini?"
"Kekuatan yang tidak bisa kau curi." jawab Kirana, suaranya tenang namun terdengar berat dan berwibawa. "Kau mengira darahku hanyalah bahan bakar untuk ritualmu. Kau lupa bahwa di dalam darah ini mengalir juga kekuatan yang menjaganya."
Di atas tebing, Aran tersenyum tipis meski wajahnya tetap serius.
"Manik itu hanyalah pemicu. Kekuatan sejatinya sudah ada di dalam dirinya sejak awal. Sekarang ia akhirnya tahu cara menggunakannya."
Darma dan yang lainnya tidak menunggu lagi. Mereka melompat turun dari tebing, mendarat di tanah lembah dengan hentakan yang menggetarkan tanah. Mereka berdiri membentuk barisan di belakang Kirana, menatap Durga dengan tatapan tajam.
"Permainanmu sudah berakhir." ucap Darma tegas. "Kau tidak akan menyentuh sehelai rambut pun darinya."
Durga tertawa keras, suaranya penuh amarah namun juga penuh semangat bertarung.
"Baiklah! Jika kau ingin melawan dengan kekuatan penuhmu, aku akan menerimanya! Aku ingin melihat seberapa kuat Phoenix yang terakhir!"
Ia melambaikan tangan. Dari kabut hitam di sekeliling lembah, muncul puluhan bayangan berbentuk makhluk buas yang melolong panjang. Mereka melesat menuju kelima penjaga dengan kecepatan tinggi.
Bima melangkah maju, tanah di sekitar kakinya bergetar hebat. Dinding batu yang muncul dari dalam tanah langsung menghadang serangan bayangan itu. Haris bergerak tanpa suara, menghilang di antara bayangan musuh dan muncul kembali di belakang mereka dengan serangan yang mematikan. Aran menggerakkan tangannya perlahan, menyebarkan cahaya halus yang membakar setiap bayangan yang menyentuhnya. Darma melindungi sisi Kirana, menangkis serangan yang lolos dengan ketepatan yang luar biasa.
Sementara itu, di tengah-tengah medan pertempuran, Kirana berdiri berhadapan langsung dengan Durga. Cahaya keemasan melindunginya dari setiap serangan gelap yang dilontarkan.
"Kau pikir cahaya kecil ini bisa mengalahkanku?" seru Durga sambil melemparkan gumpalan asap hitam pekat.
Kirana mengangkat tangan. Asap itu terurai menjadi uap tipis saat menyentuh cahaya yang memancar dari telapak tangannya.
"Aku tidak melawanmu dengan cahaya." jawabnya pelan. "Aku melawanmu dengan api yang membakar kebohongan dan keserakahan. Api yang tidak akan pernah padam selama harapan masih ada."
Ia melambaikan tangan. Lidah api keemasan melesat keluar, menyapu tanah di hadapannya. Setiap bayangan yang terkena api itu langsung lenyap tanpa sisa. Durga terpaksa mundur lagi, matanya tak lepas dari api yang semakin berkobar di sekitar tubuh gadis itu.
Di tepi lembah, Dimas, Serena, dan Larasati masih terikat erat oleh akar bayangan yang muncul tadi. Mereka tidak bisa bergerak sedikit pun, hanya bisa menyaksikan segala sesuatu terjadi di depan mata mereka.
Wajah Dimas pucat pasi. Matanya terbuka lebar menatap Kirana yang kini berdiri tegak dikelilingi api emas.
"Mustahil..." bisiknya tak percaya. "Gadis itu... gadis yang selalu lemah dan penurut..."
Serena menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata mengalir deras di pipinya.
"Kekuatan apa ini... dia bukan manusia biasa..."
Larasati gemetar hebat, menatap Kirana dengan perasaan campur aduk antara takut, iri, dan penyesalan yang mulai merayap di hatinya. Selama ini ia selalu merendahkan dan menyakiti gadis itu, tanpa pernah menyadari bahwa di hadapannya berdiri seseorang yang memiliki kekuatan setara dengan dewa.
"Kita... kita telah menjebak orang yang paling kuat di dunia ini..." ucapnya pelan, suaranya penuh keputusasaan. "Dan kita justru memihak pada iblis yang ingin menghancurkannya."
Dimas menatap ke arah Durga yang kini mulai terdesak. Ia menyadari betapa bodohnya dirinya. Ia mengira Durga akan memberinya kekuatan dan nama abadi. Padahal ia hanyalah pion yang akan dibuang begitu saja setelah tugasnya selesai.
"Aku salah..." gumamnya pelan, air mata penyesalan jatuh di pipinya yang kasar. "Aku telah menjual jiwaku kepada orang yang salah..."
Di tengah pertempuran, Durga semakin frustrasi. Serangan demi serangannya terus dipatahkan. Api keemasan yang dikeluarkan Kirana terasa semakin kuat seiring berjalannya waktu, seakan gadis itu semakin berani dan semakin yakin akan kekuatannya sendiri.
"Kau tidak akan menang!" teriak Durga dengan suara melengking. "Aku telah merencanakan ini selama ribuan tahun! Tidak ada seorang gadis muda yang bisa menghentikanku!"
Kirana melangkah maju selangkah, api di sekelilingnya membumbung tinggi namun tidak membakar siapa pun yang berada di pihaknya.
"Kau tidak mengerti." ucapnya tegas. "Kekuatan Phoenix tidak diukur dari seberapa besar kerusakan yang bisa kau buat. Kekuatannya diukur dari seberapa banyak orang yang bersedia kau lindungi. Dan untuk melindungi orang-orang yang kucintai... api ini akan terus membakar selamanya."
Ia mengangkat kedua tangan ke atas. Cahaya keemasan menyebar ke seluruh penjuru lembah, menerangi setiap sudut gelap dan menghancurkan setiap bayangan yang masih tersisa. Udara menjadi hangat, dan hawa dingin yang menyelimuti lembah batu hitam selama berabad-abad perlahan lenyap.
Durga mundur terhuyung, tubuhnya mulai terlihat transparan di bawah cahaya itu. Wajahnya penuh kemarahan dan ketidakpercayaan.
"Ini belum selesai..." desisnya, lalu seketika itu juga ia menghilang ke dalam kabut yang tersisa, meninggalkan suasana yang tadi riuh menjadi hening seketika.
Saat cahaya perlahan meredup, Kirana berdiri tegak di tengah lembah. Napasnya sedikit terengah, namun matanya tetap tajam dan penuh tekad.
Darma segera mendekat ke arahnya, menatapnya dengan pandangan kagum dan lega.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya pelan.
Kirana mengangguk pelan, lalu menoleh ke arah tepi lembah tempat Dimas dan keluarganya masih terikat.
"Pergilah ke sana." ucapnya pelan. "Lepaskan mereka."
Darma tertegun sejenak, namun segera berjalan menuju ke sana. Saat akar bayangan itu lenyap sepenuhnya, ketiga orang itu jatuh berlutut di tanah, lemas dan gemetar.
Dimas mengangkat wajahnya menatap Kirana. Matanya penuh rasa malu dan penyesalan yang mendalam.
"Kirana..." ucapnya pelan, suaranya pecah. "Kami... kami telah melakukan hal yang sangat salah padamu."
Kirana menatap mereka tanpa rasa benci, namun juga tanpa rasa kasihan yang berlebihan.
"Kalian bebas pergi." ucapnya tenang. "Namun ingatlah hari ini. Kekuatan yang kalian coba manfaatkan ternyata jauh lebih besar dari yang kalian bayangkan. Dan orang yang kalian remehkan... ternyata adalah satu-satunya harapan yang kalian miliki."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience