99. Kepanikan Dan Kebingungan

Romance Series 154

Di dunia nyata, pagi itu dimulai dengan suasana yang tenang namun perlahan berubah menjadi gelisah.
Darma berjalan menuju kamar Kirana dengan niat membawakan sarapan pagi yang telah disiapkan khusus. Ia mengetuk pintu pelan beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Dengan perasaan sedikit bingung, ia membuka pintu itu perlahan.
Kamar itu rapi dan tenang. Tempat tidur terlihat belum digunakan sejak kemarin. Tidak ada siapa-siapa.
Darma segera meletakkan nampan di meja, wajahnya berubah tegang. Ia memeriksa kamar mandi, balkon, dan setiap sudut ruangan — namun kosong. Ia segera berlari keluar dan memanggil pengawal yang berjaga di lorong.
"Apakah kalian melihat Kirana atau Ibu Sariya keluar dari kamar ini?" tanyanya tegas.
"Belum, Tuan." jawab pengawal itu dengan hormat. "Kami tidak melihat siapa pun keluar."
Kabar itu segera menyebar ke seluruh mansion. Tak lama kemudian, Haris, Arga, Bima, Aran, dan Kesuma berkumpul di ruang tengah dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Mereka tidak mungkin pergi tanpa memberi tahu siapa pun." ucap Haris dengan nada cemas, melangkah mondar-mandir pelan. "Apakah ada yang masuk ke sini tanpa terdeteksi? Apakah pengamanan kita bocor?"
"Tidak mungkin." Bima menggeleng mantap, tangannya menunjuk ke arah luar jendela. "Tanah di sekeliling mansion sudah kuperkuat dengan sihir bumi. Setiap inci tanah di sini terhubung dengan kesadaranku. Jika ada orang asing yang melangkah masuk, aku pasti akan merasakannya seketika. Tidak ada yang bisa masuk atau keluar tanpa sepengetahuanku."
"Dan aku juga telah memasang jaring cahaya kuno di sekeliling seluruh bangunan." tambah Aran sambil menatap langit-langit. "Tidak ada satu pun makhluk gelap yang bisa menembusnya. Tidak ada sihir yang bisa mengaburkan jejak di sini. Mereka aman di dalam sini."
"Kalau begitu... ke mana mereka pergi?" tanya Arga dengan nada cemas, matanya menyapu seluruh ruangan seakan bisa menemukan jejak mereka di udara. "Sariya masih lemah dan butuh istirahat. Dan Kirana... tidak akan pergi tanpa alasan yang jelas."
Semua orang terdiam, saling berpandangan dengan wajah penuh kekhawatiran. Hingga tiba-tiba, suara rendah dan tenang terdengar dari sisi ruangan.
"Apakah kalian lupa satu hal?"
Semua orang menoleh ke arah Kesuma yang berdiri tenang di dekat jendela, menatap mereka satu per satu.
"Maksudmu?" tanya Darma cepat.
"Kirana memiliki ruang dimensi miliknya sendiri." ucap Kesuma pelan namun jelas. "Dan di dalam sana... waktu berjalan dengan cara yang berbeda dari dunia kita. Dia juga baru saja mendapatkan kembali ibunya. Sangat wajar jika dia ingin menghabiskan waktu bersama Ibu Sariya di tempat yang aman dan tenang itu."
Aran langsung tertawa lebar sambil menepuk keningnya sendiri.
"Benar sekali! Aku hampir saja lupa hal itu! Kalian semua terlalu panik sampai tidak memikirkan hal yang paling jelas!"
Keheningan menyelimuti ruangan sejenak, sebelum akhirnya wajah semua orang berubah dari cemas menjadi malu dan lega.
"Jadi..." Darma tersenyum malu, napas panjang keluar dari mulutnya. "Mereka sedang di sana... belajar dan beristirahat bersama?"
"Pasti begitu." Kesuma mengangguk lembut. "Kirana sepanjang hidupnya tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Sekarang setelah mereka berkumpul kembali... wajar jika dia tidak ingin berpisah sedetik pun. Dan di dimensi itu, mereka bisa bersama tanpa gangguan dari dunia luar."
Bima tersenyum lega sambil menggelengkan kepala.
"Kita hampir saja mengerahkan seluruh pasukan untuk mencari mereka ke seluruh penjuru kerajaan hanya karena panik sendiri."
"Biarkan mereka." ucap Haris dengan senyum lembut namun penuh kelegaan. "Biarkan mereka menikmati waktu bersama. Itu adalah hal yang paling berharga bagi Kirana saat ini. Kita akan menunggu sampai mereka kembali dengan sendirinya."
Arga tersenyum tipis, rasa cemas di wajahnya perlahan hilang.
"Kau benar, Kesuma. Terima kasih telah mengingatkan kami."
"Kita semua sama-sama khawatir." Kesuma tersenyum tulus. "Itu wajar. Tapi percayalah... Kirana tidak akan pergi tanpa pamit. Dia hanya sedang menikmati kebahagiaannya."
Semua orang akhirnya tersenyum lega, rasa gelisah yang tadi menyelimuti hati perlahan hilang berganti dengan rasa pengertian. Mereka menyadari betapa berartinya momen kebersamaan itu bagi gadis yang sepanjang hidupnya tak pernah dicintai.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience