45. Surat Yang Mengguncang Klan Bayu

Romance Series 154

SURAT TIBA DI KLAN BAYU
Menara Klan Bayu berdiri di atas bukit yang selalu tertutup kabut abu-abu yang tak pernah hilang, seakan waktu sendiri berhenti mengalir di sini. Dindingnya dari batu hitam yang menyerap cahaya, menelan sinar matahari sehingga siang pun tampak senja. Tidak ada lambang mencolok di gerbangnya. Tidak ada papan nama. Tidak ada penjaga yang berdiri memegang senjata. Orang tidak menemukan Klan Bayu — Klan Bayu yang menemukan mereka.
Pagi itu, kabut lebih tebal dari biasanya. Seorang utusan Pradana berdiri di depan gerbang, meletakkan amplop tebal berwarna krem disegel lilin merah bermeterai lambang Pradana di atas batu datar, lalu mundur dan pergi. Langkahnya belum menjauh jauh — amplop itu lenyap. Tidak ada tangan yang mengambilnya. Tidak ada suara. Seperti surat itu diserap oleh udara sendiri.
 
ARGA BAYU MEMBUKA SURAT
Di ruang kerja paling dalam menara — ruangan tanpa jendela, hanya diterangi tiga lilin yang apinya bergoyang lembut — Arga Bayu duduk di meja dari batu hitam utuh. Dia tidak menulis. Tidak membaca. Dia hanya duduk, punggung tegak, mata sedikit terpejam, mendengar segala bisikan yang dunia coba sembunyikan. Dia adalah telinga dunia. Dia adalah bayangan yang tidak pernah tidur.
Sesuatu jatuh pelan di atas mejanya. Amplop merah bermeterai Pradana.
Arga membuka mata. Matanya gelap, tajam, tanpa kilau berlebihan — mata yang melihat terlalu banyak hal yang seharusnya tidak dilihat. Dia memecahkan meterai perlahan, mengeluarkan kertas tebal berbau cendana, dan mulai membaca.
Matanya yang biasanya tenang seperti danau tanpa ombak — tiba-tiba berhenti bergerak. Pupilnya mengecil. Napasnya terhenti.
Permintaan Penyelidikan — Sariya.
Jari-jemarinya mencengkeram kertas itu lebih kuat. Sariya. Nama itu. Nama yang tidak diucapkan. Nama yang tidak ditulis. Dan sekarang — Kepala Klan Pradana sendiri memintanya.
Pikirannya langsung melayang — dan kali ini bukan hanya ke foto lama di gudang leluhur. Dia melihat wajah itu dengan matanya sendiri.
Arga Bayu tersenyum tipis, senyum yang hampir tidak terlihat — karena dia sudah tahu jawabannya. Dia hadir di pesta pernikahan Pradana. Tidak di barisan tamu penting. Tidak di meja utama. Dia berdiri di kolom bayang paling belakang, di sudut yang tidak disinari lampu gantung, tempat di mana orang lewat tanpa benar-benar melihat. Dia datang bukan untuk merayakan persatuan dua klan. Dia datang untuk memastikan — apakah gadis yang namanya tertulis di foto lama itu benar-benar berjalan di antara mereka hari ini.

Dan ketika dia melangkah masuk ke aula... batin Arga bergemuruh. Dunia berhenti sejenak. Bukan karena gaunnya. Bukan karena tatapan tamu. Tapi karena sesuatu yang keluar dari dirinya — panas. Cahaya. Sesuatu yang tertelan oleh bayangan selama bertahun-tahun, dan kini bernapas lagi.
Dia tidak berbicara dengan siapa pun. Tidak memperkenalkan diri. Tidak satu orang pun tahu dia ada di sana. Dia hanya berdiri diam di kegelapan, menatap gadis itu berjalan menyusuri lorong, dan setiap langkahnya membuat napasnya semakin tertahan. Itu dia. Wajah yang sama. Garis rahang yang sama. Mata yang menyembunyikan samudra. Dan dia tidak salah.
Sekarang surat ini datang. Permintaan resmi. Menyelidiki ibunya. Seakan takdir sendiri mengonfirmasi apa yang matanya sudah lihat.
Jadi kau benar-benar ada, Sariya. Dan putrimu... dia milik api.
Dia berdiri tiba-tiba. Kursi batu bergeser berbunyi keras. Dia tidak bisa memutuskan ini sendirian. Tidak dengan nama ini.
 
MENEMUI SESEPUH BAYU AGUNG
Arga melangkah cepat menyusuri lorong-lorong menara yang semakin sempit semakin ke bawah. Langkahnya tetap tidak bersuara — kebiasaan seumur hidup. Tapi hari ini hatinya berdebar.
Dia tiba di pintu kayu tua di lantai paling bawah — pintu dari batang pohon besi berusia ratusan tahun. Dia mengetuk tiga kali — irama kuno.
"Masuk," suara terdengar serak, seperti akar pohon berbicara dari bawah tanah.
Arga mendorong pintu. Ruangan itu kecil, bulat, tidak ada jendela. Di tengahnya duduk seorang lelaki tua. Rambutnya putih seperti kabut yang menutupi bukit Klan Bayu. Matanya tertutup — sudah puluhan tahun tidak melihat cahaya. Namanya Bayu Agung. Sesepuh Klan Bayu. Yang tidak melihat dengan mata, melainkan dengan napas dunia sendiri.
"Kau tergesa-gesa, Arga. Hal yang membuat Arga Bayu tergesa-gesa... pasti hal yang tidak seharusnya terjadi. Atau lebih buruk — hal yang seharusnya sudah lama selesai."
Arga meletakkan surat di meja batu kecil di samping kursi lelaki tua itu.
"Surat dari Kepala Klan Pradana. Permintaan penyelidikan resmi."
Bayu Agung mengulurkan tangan. Jari-jemarinya keriput, meraba kertas, merasakan meterai, lalu menyusuri tulisan baris demi baris. Matanya tetap tertutup, tapi bibirnya bergerak perlahan.
Detik berikutnya — tangannya berhenti. Napasnya tertahan. Bahunya yang membungkuk tegak perlahan.
"Sariya?"
Suaranya bergetar — bukan karena usia, tapi karena nama itu keluar dari mulutnya setelah dia berusaha melupakannya selama puluhan tahun.
"Mereka meminta kami menyelidiki Sariya," ujar Arga pelan. "Haris Pradana menulisnya sendiri. Dan... Sesepuh... aku sudah melihatnya sendiri."
Bayu Agung mencondongkan tubuh sedikit.
"Melihatnya?"
"Aku pergi ke pesta pernikahan Pradana. Diam-diam. Tanpa memberi tahu siapa pun. Aku hanya ingin memastikan — apakah gadis di foto itu benar-benar ada. Dan dia ada. Dia berjalan di hadapan tamu, dan... dia bukan sekadar mirip. Dia adalah garis darah itu. Aku merasakannya di udara."
Keheningan meliputi ruangan. Bayu Agung mengangguk perlahan, sedih namun tegas.
"Jadi bukan sekadar dugaan. Bukan sekadar foto lama. Dia hidup. Dia bernapas. Dan dia membawa nama itu kembali."
"Ya. Dan sekarang mereka meminta kami mencari tahu siapa ibunya sebenarnya."
Bayu Agung diam lama. Surat itu di tangannya seakan berat seperti batu nisan.
"Ini bukan penyelidikan biasa, Arga. Ini adalah memanggil hal yang telah lama dikubur. Dan hal yang dikubur... tidak selalu tenang di bawah tanah. Kadang mereka menunggu. Dan tumbuh. Dan menjadi lebih kuat dari saat mereka hidup."
Dia menatap ke arah Arga, tekad mulai mengeras di wajahnya yang keriput.
"Tapi jika Sariya benar-benar kembali... melalui darahnya... melalui keturunannya... maka kita tidak punya pilihan. Kita tidak bisa berpaling. Terima tugas ini, Arga. Tapi berhati-hatilah. Karena setiap langkah menuju kebenaran tentang Sariya... adalah langkah menuju perang. Bukan semua orang ingin dia ditemukan. Bukan semua orang ingin dia bangkit."
Arga mengangguk, cahaya tekad menyala di matanya yang biasanya dingin.
"Aku sudah melihatnya. Aku sudah memastikannya. Sekarang aku akan mencari setiap jejak. Dan aku akan melindunginya. Tidak peduli apa yang datang."
Dia berbalik keluar. Pintu kayu tua tertutup pelan di belakangnya. Dan di ruang kecil itu, Bayu Agung memegang surat di dekat nyala lilin yang hampir padam, bisiknya samar dan penuh getaran:
"Bangkitlah, api kuno. Dunia belum siap. Tapi kau sudah datang. Dan kami... kami hanya bisa berdiri di sampingmu."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience