Series
17
Malam kedua sejak aku kembali, dan rumah Ardika sudah terasa berbeda. Dinding-dindingnya yang dulu tampak megah dan menakutkan kini terlihat seperti tembok penjara yang aku sendiri akan meruntuhkannya batu demi batu. Setiap langkah pelayan yang berbisik di lorong, setiap tatapan sampingan yang mereka berikan — aku merasakannya. Mereka tahu. Mereka entah bagaimana merasakan bahwa gadis penurut yang selalu menunduk dan membiarkan diri diinjak-injak itu telah lenyap. Yang tersisa hanyalah bayangannya, dan di dalam bayangan itu, ada api yang membara.
Aku menunggu hingga jam dinding di lorong berdentang dua belas kali. Tengah malam. Saat rumah ini tertidur lelap, saat para penjaga beristirahat, saat kunci-kunci disimpan dan rahasia-rahasia paling dalam dibiarkan tidak dijaga.
Aku mengenakan gaun tidur sederhana, melangkah tanpa suara di atas karpet tebal yang meredam setiap gerakanku. Di tanganku, sepotong kawat tipis yang kuambil dari gudang belakang — sesuatu yang dulu tak akan pernah kusentuh, apalagi ketahui cara menggunakannya. Namun di kehidupan sebelumnya, dalam tiga tahun yang tersisa sebelum akhir hidupku, aku belajar satu hal: ketidaktahuan adalah dosa yang dihukum dengan nyawa. Dan aku tidak lagi berdosa.
Tujuanku bukan tempat lain — sayap barat rumah, lantai atas, ruangan yang tertutup dan terkunci selama yang kuingat. Ruang kerja ibuku.
Selama ini, setiap kali aku bertanya tentang Ibu, mereka akan memberikan jawaban yang sama — "Ibumu meninggal tanpa meninggalkan apa-apa," "Tidak ada yang perlu kau ketahui," "Lupakan saja." Mereka memastikan tak ada jejak yang tersisa. Namun di detik terakhir napasku dulu, satu hal terucap — ibuku menyembunyikan rahasia besar. Dan rahasia itu pasti tersimpan di sini.
Aku berdiri di depan pintu kayu jati yang gelap dan berdebu. Di bawah pegangan kunci berkarat, debu tebal menumpuk — tanda bahwa tak ada yang melangkah masuk bertahun-tahun. Namun aku tahu. Aku tahu bahwa mereka tidak berani membuang apa pun di sini. Karena membuang berarti mengakui ketakutan mereka. Mereka lebih memilih menguncinya dan berharap rahasia itu mati bersama waktu.
Mereka salah.
Aku berlutut, menyelipkan ujung kawat ke lubang kunci. Tangan berkeringat dingin. Jantung berdegup di telinga begitu keras hingga aku takut suara itu membangunkannya. Kawat itu melengkung, hampir patah dua kali. Napasku tertahan, pelan, berusaha mendengar bunyi halus dari dalam mekanisme besi. Tiga kali aku mengatur ulang posisinya. Tiga kali aku hampir menyerah. Hingga akhirnya — klik.
Suara itu lemah, hampir tak terdengar. Namun bagiku itu terdengar seperti guntur membelah malam. Pintu terbuka.
Aku mendorongnya perlahan, engselnya berdecit pelan di keheningan malam — suara yang membuatku membeku di tempat, menahan napas hingga dadaku sakit. Tak ada suara langkah kaki. Tak ada suara panggilan. Rumah ini masih tertidur. Aku melangkah masuk, menutup pintu di belakangku, membiarkan diriku terkurung bersama bayang-bayang masa lalu yang sengaja mereka kubur.
Cahaya bulan purnama masuk lewat jendela tinggi di ujung ruangan, menumpahkan cahaya pucat ke atas meja, rak buku, dan debu yang menari di udara seakan menyambut kedatanganku. Ruangan itu berbau kertas tua, cendana, dan sesuatu yang samar — aroma bunga melati yang dulunya selalu menyelimuti ibuku. Bau yang begitu lembut, namun kini terasa begitu menyakitkan hingga mataku memanas.
Aku berjalan perlahan, menyapu pandang setiap sudut. Ruang kerja ini bukanlah seperti yang digambarkan Serena — tempat wanita biasa yang tak berarti. Di dinding tergantung lukisan minyak besar, menampilkan wajah wanita yang wajahnya kulihat setiap hari di cermin. Matanya tajam, penuh kecerdasan yang tak bisa disembunyikan, dan di sudut bibirnya ada senyum tenang yang seakan tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu. Itu Ibu. Dan untuk pertama kalinya aku menyadari — tatapan itu bukan tatapan wanita lemah. Itu tatapan seseorang yang tahu rahasia dunia.
Aku berjalan menuju meja besar di tengah ruangan. Permukaannya bersih, seakan sesaat sebelum ia pergi, ia berniat kembali. Laci-lacinya tertutup. Aku membukanya satu per satu — sebagian kosong, sebagian berisi kertas-kertas lama, surat-surat resmi, catatan keuangan. Namun tidak ada yang penting. Tidak ada yang menyebutkan siapa ayahku sebenarnya. Tidak ada yang menyebutkan mengapa mereka begitu takut padaku.
Hingga tanganku menyentuh bagian bawah laci paling dalam. Ada lekukan kecil, tersembunyi di bawah lapisan kayu yang terasa longgar. Aku menekannya. Panel kecil di sisi laci terbuka, dan di sana — terbungkus kain sutra biru yang warnanya masih segar — tergeletak sebuah jurnal kulit tua dan sebuah liontin emas.
Tangan terasa berat saat aku mengangkatnya. Seakan benda ini telah menunggu bertahun-tahun untuk jatuh ke tanganku. Aku duduk di kursi ibuku, menarik napas panjang, dan membuka jurnal itu.
Tulisan tangan yang halus namun tegas menyambut mataku.
"Untuk putriku, Kirana — jika kau membaca ini, berarti aku telah pergi, dan mereka telah berbohong kepadamu. Berarti kau sudah cukup dewasa untuk mencari kebenaran, dan cukup kuat untuk menanggungnya."
Air mata jatuh ke halaman, namun aku segera menyekanya. Aku tidak punya waktu untuk menangis. Aku harus membaca. Aku harus tahu.
Halaman demi halaman kubaca, menyusun potongan teka-teki yang selama ini mereka sembunyikan dengan kebohongan bertumpuk-tumpuk. Namanya bukan sekadar wanita biasa. Namanya Sariya. Dan ia bukan orang Ardika — ia berasal dari garis keturunan kuno, keluarga yang menjaga rahasia tertua di negeri ini, rahasia yang diwariskan dari generasi ke generasi: darah Phoenix.
Jantungku berhenti berdetak sesaat.
"Darah ini bukanlah kutukan, meski mereka akan mengatakannya sebagai kutukan. Ini adalah warisan — kekuatan yang membara dalam darah, yang menyala saat nyawa terancam, yang bangkit kembali dari abu kematian. Inilah alasan mereka takut padamu, Kirana. Bukan karena kau lemah — tapi karena kau abadi. Dan tidak ada yang lebih berbahaya bagi penguasa yang rakus daripada seseorang yang tidak bisa mereka bunuh selamanya."
Aku ternganga, napas tercekat di tenggorokan. Itu... itu sebabnya aku kembali. Bukan kebetulan. Bukan keajaiban. Tapi darahku. Darah ibuku. Darah Phoenix.
"Dimas Ardika bukan ayahmu. Ia tahu sejak awal. Ia menikahiku bukan karena cinta, tapi karena ia menginginkan apa yang ada di dalam diriku — apa yang ada di dalam dirimu. Ia berharap kekuatan itu jatuh ke tangannya, dapat dikendalikan, diperalat untuk menaklukkan semua klan. Namun ia tidak tahu — kekuatan ini tidak bisa dicuri. Hanya bisa diwarisi. Dan hanya bisa dibangkitkan oleh penderitaan, oleh api, oleh kematian itu sendiri."
Tangan gemetar saat aku membaca baris berikutnya — nama ayah kandungku tertulis di sana, namun digoreskan dengan tinta hitam hingga hampir tak terbaca. Seakan ibuku sendiri takut nama itu terbaca siapa pun yang bukan diriku. Hanya tersisa satu huruf awal, samar, tak cukup untuk memastikan. Namun di bawahnya, tertulis:
"Siapa ayahmu tidaklah penting saat ini. Yang penting — darahmu lebih tua, lebih murni, dan jauh lebih berkuasa daripada darah Ardika maupun Pradana. Mereka adalah bayangan di permukaan air. Kau adalah api yang membakar bayangan itu."
Aku menutup jurnal itu perlahan, memeluknya ke dada. Segalanya masuk ke tempatnya. Setiap kata Serena, setiap tatapan cemas Dimas, setiap kecemasan mereka mendesak menyingkirkanku — mereka takut. Mereka takut pada sesuatu yang bahkan aku sendiri belum sadari milikku. Mereka berusaha memadamkan apinya sebelum mekar sepenuhnya. Dan mereka gagal.
Mereka tidak tahu seberapa dalam luka yang mereka tanam malam itu. Tidak tahu seberapa tajam setiap kata yang mereka ucapkan sambil menatapku mati. Tidak tahu bahwa peluru yang menembus dadaku justru menyalakan sumbu yang tak akan pernah padam. Mereka berpikir aku akan hilang dalam kegelapan. Mereka tidak tahu — aku adalah kegelapan yang kembali membawa api.
Aku membuka liontin. Di dalamnya bukan foto, melainkan sehelai kertas kecil bertinta emas yang bersinar samar dalam cahaya bulan:
"Api tidak meminta izin untuk membakar. Ia hanya terbakar."
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lebar.
Cahaya lampu minyak menyilaukan mataku. Di ambang pintu, berdiri Dimas Ardika. Wajahnya pucat, matanya melotot menatap jurnal di tanganku, dan di matanya — untuk pertama kalinya dalam hidupku — kulihat bukan kekecewaan, bukan amarah, melainkan ketakutan murni.
Ia tidak memanggil penjaga. Ia tidak berteriak. Ia hanya berdiri di sana, napasnya terengah, seakan ia berlari menaiki tangga demi mencegah hal ini terjadi — namun terlambat.
"Di mana kau menemukannya?" suaranya pecah, rendah, bergetar. Ia melangkah masuk, namun berhenti di tengah ruangan, tidak berani mendekat. Seakan aku memancarkan panas yang bisa membakarnya hidup-hidup. "Siapa yang memberitahumu?"
Aku berdiri perlahan, jurnal itu masih dalam genggamanku, menekannya erat ke dada seakan melindungi bagian paling berharga dari ibuku. Aku tidak menyembunyikannya. Aku tidak mundur. Aku menatapnya lurus, dan saat itu aku merasakannya — sesuatu mengalir di pembuluh darahku, hangat, semakin panas, seakan tubuhku sendiri telah menjadi bejana api.
"Tidak ada yang memberitahuku, Tuan Ardika," jawabku, dan suaraku terdengar berbeda. Lebih dalam. Lebih berwibawa. Seakan ada gema yang mengikutinya. "Aku hanya membaca apa yang ibuku tinggalkan. Sebuah kebenaran yang kalian sembunyikan karena kalian takut."
Dimas tersentak mundur selangkah. Matanya menatapku seakan aku bukan manusia.
"Kau belum seharusnya tahu... belum saatnya..." gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Kekuatan itu... belum seharusnya terbangun..."
"Sudah terbangun," potongku tegas. "Dan kalian telah menyalakannya."
Ia melangkah maju satu langkah, tangannya terulur seakan ingin merebut jurnal itu — lalu berhenti mendadak, seakan menabrak tembok tak terlihat. Ia menarik tangannya kembali, menatapnya dengan keraguan, lalu menatapku lagi. Ia tidak berani menyentuhku. Tidak berani. Karena ia tahu — jika ia menyentuhku, ia mengakui ketakutannya sendiri. Dan ia tidak ingin aku menyadari sepenuhnya betapa lemahnya ia di hadapanku.
"Serahkan itu, Kirana," desisnya, namun ancamannya terdengar tipis. "Itu bukan milikmu."
"Ibuku menulisnya untukku. Siapa lagi yang berhak?" Aku melangkah maju, dan ia mundur. Satu langkahku, satu langkahnya mundur. "Kau takut, ya? Takut aku tahu siapa aku sebenarnya. Takut aku tahu bahwa kau hanyalah pria biasa yang mencoba menguasai kekuatan yang tak kau pahami."
Wajahnya memerah, napasnya memburu. Namun ia tidak berani berteriak. Ia tidak berani membuat keributan. Rahasia ini tidak boleh diketahui orang lain. Tidak boleh diketahui Serena. Tidak boleh diketahui klan lain. Aibnya akan hancur seketika.
"Itu... tidak benar," gumamnya, namun matanya mengkhianatinya.
"Aku akan pergi sekarang," ucapku tenang, melangkah melewatinya begitu dekat hingga bahuku hampir menyentuh lengannya. Ia membeku di tempat. "Dan jangan khawatir. Untuk saat ini... rahasia ini masih milikku. Tapi mulai sekarang... jangan pernah berpikir kau bisa mengatur hidupku sesukamu. Karena kau tidak lagi memegang kendali."
Saat aku melewatinya, aku berhenti sejenak, menatapnya dari samping.
"Terima kasih," ucapku dingin. "Karena memaksaku mencari jawaban ini sendiri. Karena memaksaku menjadi sesuatu yang bahkan kau takut sebut namanya."
Aku berjalan keluar, meninggalkannya berdiri gemetar di ruangan yang diterangi cahaya bulan, sendirian dengan ketakutannya yang akhirnya menjadi kenyataan. Ia tidak mengikutiku. Ia tidak memanggil siapa pun. Ia tahu — pertandingan telah berubah. Dan ia bukan lagi pemain terkuat di papan catur ini.
Kembali ke kamarku, aku tidak tidur. Aku duduk di tepi tempat tidur, jurnal Sariya di pangkuanku, tangan lain memegang liontin emas yang kini terasa hangat di kulit. Cahaya bulan jatuh ke halaman terakhir yang kubaca — satu baris terakhir yang belum sempat kuresapi:
"Ada tiga kekuatan yang akan menjawab panggilanmu. Ingatlah — musuhmu bukan hanya mereka yang berdiri di depanmu. Musuhmu juga yang tersembunyi di dalam bayang-bayang, yang menunggu api bangkit untuk kemudian menelan apinya."
Aku menutup mataku, merasakan denyut kuat yang berirama serasi dengan jantungku — detak kedua, lebih dalam, lebih kuno.
Mereka tidak tahu apa yang mereka hadapi. Mereka berpikir ini tentang warisan, tentang kekuasaan, tentang pernikahan. Mereka tidak tahu ini tentang api yang tidak bisa dipadamkan. Api yang sudah membakar sekali. Dan kali ini... ia tidak akan berhenti sampai semuanya menjadi abu.
Aku tahu apa yang harus kulakukan. Besok aku tidak akan diam. Aku tidak akan menunggu mereka menyusun rencana. Aku akan menjadi rencananya sendiri.
Aku akan mencari siapa yang bersembunyi di bayang-bayang. Aku akan mencari ayahku yang sebenarnya. Dan aku akan menyatukan kekuatan yang tersembunyi sebelum mereka sempat menyadari bahwa burung api telah terbang kembali — bukan sebagai burung yang lemah, melainkan sebagai neraka yang berwujud manusia.
Matahari mulai terbit, menyebarkan cahaya keemasan di ufuk timur. Namun pagi ini tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Ini adalah fajar pertama dari sisa hidupku — hidup yang kupinjam dari kematian, hidup yang kubayar dengan darahku sendiri.
Dan hari ini, pertandingan memasuki babak baru. Karena mereka tidak lagi berperang melawan seorang gadis yang tak berdaya. Mereka berperang melawan legenda yang mereka sendiri paksa untuk bangkit.
Share this novel