Series
154
KAMAR PENGANTIN YANG SUNYI
Darma melangkah masuk perlahan, menutup pintu di belakangnya tanpa suara. Langkahnya lembut, seakan lantai ini terbuat dari kaca yang bisa pecah jika ia bergerak terlalu cepat.
Di atas tempat tidur yang luas — Kirana tertidur.
Cahaya lampu tidur yang redup menyinari separuh wajahnya. Rambutnya yang hitam legam terurai di atas bantal sutra, beberapa helai jatuh menutupi pipinya. Napasnya teratur, tenang, seakan beban berat yang dipikulnya siang ini telah luruh sepenuhnya saat matanya terpejam. Wajahnya tidak lagi waspada, tidak lagi tegang — lembut, muda, hampir rapuh.
Darma menarik kursi kecil dari sudut ruangan, meletakkannya di samping tempat tidur, lalu duduk. Siku bertumpu pada lutut, telapak tangan saling bertaut di depan bibir — dan dia hanya menatapnya.
Ini gadis yang dia jemput hari ini. Gadis yang berjalan sendirian di lorong panjang. Gadis yang menatap tangannya lama sebelum menerimanya. Gadis yang bersumpah berdiri di sisinya — selama dia tidak meninggalkannya.
Dan sekarang... dia tidur di sini. Di rumahnya. Di bawah namanya.
Darma menghela napas pelan, matanya tidak beralih sedetik pun.
Dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Dia tidak tahu tanda tangan di atas kertas itu. Dia tidak tahu dia bebas.
 **************
BAYANG-BAYANG YANG TIDAK DIUNDANG
Pikirannya melayang kembali — ke ruang kerja, sesaat setelah Ardika pergi. Ketika pintu tertutup, Haris tidak langsung berbicara tentang kontrak atau uang. Dia menatap ke balkon yang tersembunyi di balik tirai tebal, lalu berbicara pelan seakan berbicara pada udara sendiri.
"Ada orang lain di sini malam ini, Darma."
Darma berkerut dahi. "Siapa? Pelayan? Penjaga?"
Haris menggeleng pelan. Dia berdiri, melangkah ke arah tirai, menyentuh kain tebal itu namun tidak menariknya.
"Bukan orang kita. Kehadiran mereka... berbeda. Tidak menimbulkan bayangan, tidak menimbulkan ancaman. Mereka tidak bersembunyi untuk menyerang. Mereka bersembunyi untuk melihat."
"Mereka berdua. Berdiri berdampingan sejak Ardika masuk. Tidak bergerak. Tidak bersuara. Tidak membawa niat buruk terhadap kita. Tapi mereka mendengar setiap kata. Melihat setiap tanda tangan."
Darma berdiri tegak, tangannya mengepal sesaat. "Kenapa kau tidak memeriksa? Mengapa tidak memanggil penjaga?"
Haris berbalik, menatap putranya lurus ke mata.
"Karena mereka tidak datang untuk melawan. Jika mereka bermusuhan, mereka sudah bertindak saat Ardika masih di sini. Mereka datang untuk gadis itu. Untuk Kirana."
Darma terdiam. Dia memikirkan tatapan yang dia rasakan sepanjang malam — di pesta, di lorong, di ruang kerja. Selalu ada mata lain. Selalu ada perhatian yang bukan dari tamu. Bukan dari Ardika. Bukan dari siapa pun yang dia kenal.
"Siapa mereka, Ayah?"
Haris menggeleng. Matanya gelap, penuh keraguan namun juga pengakuan.
"Aku tidak tahu nama mereka. Aku tidak tahu wajah mereka. Tapi aku tahu satu hal — mereka bukan musuh. Dan mereka bukan orang biasa. Mereka berdiri di tempat yang seharusnya tidak bisa diduduki siapa pun tanpa diketahui. Dan mereka pergi tanpa meninggalkan jejak."
"Dua orang... yang datang hanya untuk melihat Kirana. Dan mendengar keputusan tentangnya."
Darma menatap kembali ke gadis yang tertidur. Siapa yang tertarik padanya selain karena pernikahan ini? Siapa yang peduli cukup untuk berdiri dalam bayang-bayang sepanjang malam?
Dia tidak tahu. Tapi dia tahu satu hal — Kirana Ardika bukan sekadar putri yang tidak diinginkan dari klan yang hancur. Ada sesuatu di dalam dirinya yang memanggil orang yang bahkan tidak dia kenal.
 ***********
JANJI DI SAMPING TEMPAT TIDUR
Darma mengeluarkan selembar dokumen dari saku jasnya — salinan kontrak yang ditandatangani Dimas Ardika. Kertas itu rapi, berat, tulisan tangan Dimas masih terlihat goyah dan terburu-buru di bagian bawah.
Dia meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidur — tepat di mana Kirana akan melihatnya saat membuka mata besok pagi. Lalu dia mengambil gelas air bening dari nampan di meja, meletakkannya di atas ujung kertas, menekannya agar tidak terguling jatuh.
Gelas itu menahan kertas itu di tempatnya. Sederhana. Namun bermakna. Dia tidak perlu gembok atau rantai. Satu benda biasa — dan itu cukup untuk menahan ikatan yang diputus selamanya.
Darma menatap kertas itu, lalu kembali ke wajah Kirana.
Besok saat kau bangun... kau akan tahu. Kau tidak lagi milik mereka. Tidak lagi diatur. Tidak lagi dimanfaatkan. Mulai saat ini — kau bebas.
Dia berdiri perlahan, menunduk sedikit, seakan menghormati tidurnya. Tidak menciumnya. Tidak menyentuhnya. Dia hanya mengangguk pelan — penghormatan tertinggi untuk seseorang yang baru saja memenangkan kebebasannya.
Lalu dia berbalik, melangkah keluar, dan menutup pintu perlahan — tidak menguncinya.
 ****************
AYAH DAN ANAK: MAKNA TAKDIR
Darma berjalan menyusuri lorong sunyi menuju ruang kerja Haris. Pintu sedikit terbuka — cahaya hangat menyelinap keluar. Saat dia masuk, Haris masih duduk di kursinya, menatap ke arah jendela yang gelap.
"Dia sudah tidur?" tanya Haris tanpa berbalik.
"Ya. Tidak menunggu. Tidak bertanya. Seakan dia tahu — pertempuran hari ini sudah selesai." jawab Darma pelan, duduk di hadapan ayahnya.
Haris berbalik, menatap putranya. Matanya tidak lagi berwibawa seperti saat di hadapan Ardika — lebih lembut, lebih dalam.
"Kau yakin keputusanmu, Darma? Memilihnya bukan karena perjodohan semata — tapi karena dia."
"Aku yakin." Darma menatap lurus. "Aku melihat Larasati. Aku melihat Serena. Aku melihat Dimas. Mereka melihat apa yang bisa diambil. Kirana... dia melihat apa yang bisa dihadapi. Dia diam, Ayah. Tapi dia tidak pernah mundur."
Haris mengangguk pelan, senyum tipis menyentuh bibirnya.
"Itulah yang kucari dalam dirimu. Bukan kepatuhan. Tapi penglihatan. Kau melihat nilainya sebelum nilainya terlihat oleh orang lain."
"Tapi dua orang tadi..." Darma kembali ke pertanyaan yang masih mengganjal. "Mereka siapa? Mengapa mereka tertarik padanya?"
Haris menunduk, jari-jemarinya mengetuk pelan meja kayu tua.
"Ada hal-hal yang lebih tua dari klan kita, Darma. Lebih tua dari nama Pradana. Lebih tua dari perjanjian apa pun. Kita mungkin hanya bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar."
"Mereka tidak menyakitinya. Itu yang penting. Jika mereka datang untuk melindunginya... maka kita tidak sendirian."
Darma terdiam. Dia memikirkan dua bayangan di balkon. Dia memikirkan gadis yang tidur di kamar. Dia memikirkan api yang seakan hidup di dalamnya, meski dia sendiri belum menyadarinya.
"Aku akan melindunginya, Ayah. Dengan atau tanpa mereka."
Haris tersenyum — senyum bangga yang tulus.
"Aku tahu. Itulah sebabnya kau yang terpilih. Bukan karena nama Pradana. Tapi karena hatimu."
Darma berdiri. "Selamat malam, Ayah."
"Selamat malam, Darma. Jaga dia. Dunia mulai bergerak. Dan tidak semua langkahnya lembut."
Darma mengangguk, lalu berbalik keluar. Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Share this novel