Completed
202
Di ruang kerja utama Pradana Mansion, udara terasa penuh dengan kekuatan yang samar namun berat. Wira dan Sariya berdiri di hadapan Haris Pradana dan Aran Aruna, wajah mereka serius namun penuh kerendahan hati. Mereka baru saja kembali dari pertemuan antar klan, dan satu hal penting harus diselesaikan sebelum latihan dan persiapan selanjutnya dimulai.
"Haris, Aran..." Wira memulai dengan nada rendah namun tegas, kedua tangannya bertautan di depan dada. "Kami datang untuk meminta bantuan kalian — bukan atas nama pribadi, melainkan atas nama semua klan yang bersiap menghadapi pertempuran yang semakin dekat."
Haris mengangguk pelan, menatap keduanya dengan penuh perhatian.
"Katakanlah. Apa pun yang kalian butuhkan, selama berada dalam kemampuan Pradana, aku tidak akan menolaknya."
Wira menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan jujur.
"Kekuatan yang mengalir di dalam diri kami — dan terutama di dalam diri Kirana — semakin hari semakin tumbuh besar. Kekuatan ini bukanlah kekuatan biasa. Ia adalah kekuatan purba yang mampu merobek tanah, mengubah cuaca, dan menggetarkan langit. Jika kami melatihnya di sini... di dalam batas-batas mansion ini... kami takut tidak hanya bangunan ini yang akan hancur, tapi kekuatan itu juga akan bocor ke luar — menarik perhatian musuh, dan membahayakan siapa pun yang tinggal di sekitar sini."
Sariya menyambung pelan namun tegas.
"Kami membutuhkan tempat yang luas, terpisah dari dunia biasa — sebuah medan pertempuran di mana kekuatan bisa dilepaskan sepenuhnya tanpa membahayakan siapa pun. Dan untuk menciptakan tempat seperti itu... kami membutuhkan sihir tertinggi dari Klan Aruna."
Aran Aruna yang sedari tadi mendengarkan dalam diam perlahan mengangguk. Matanya yang selalu tenang bersinar penuh pengertian.
"Kalian benar," ucapnya pelan namun jelas. "Kekuatan Phoenix dan darah Wirabuana memang tidak bisa dibendung oleh tembok batu apa pun. Jika kalian berlatih di sini, dalam sehari saja kalian bisa menghancurkan seluruh wilayah ini. Dan yang lebih berbahaya — getaran kekuatan itu akan terdengar oleh siapa pun yang mencari jejak Kirana, bahkan dari tempat yang jauh sekalipun."
Aran berdiri tegak, lalu melanjutkan dengan senyum tipis.
"Permintaan kalian tidak hanya masuk akal — itu adalah langkah yang paling bijaksana. Klan Aruna memang memiliki kemampuan untuk menciptakan ruang terpisah yang tertutup rapat dari dunia luar. Aku akan menciptakan medan pertempuran khusus — sebuah dimensi kecil yang terhubung dengan tempat ini, namun sepenuhnya terisolasi. Di sana, kalian bisa melepaskan kekuatan sebesar apa pun tanpa khawatir merusak apa pun di dunia nyata."
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan sesuatu yang membuat semua orang di ruangan itu tertegun.
"Dan sebagai tambahan... aku akan menyesuaikan aliran waktu di dalamnya. Satu hari di dunia luar sama dengan tiga hari di dalam sana. Dengan begitu, kalian memiliki waktu lebih banyak untuk berlatih dan bersiap, tanpa terburu-buru oleh waktu yang berjalan di luar."
Mata Wira dan Sariya melebar tak percaya. Haris pun tampak terkejut namun tersenyum lebar.
"Aran..." ucap Wira pelan, suaranya penuh rasa syukur dan kekaguman. "Itu bukan sekadar bantuan... itu adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Dengan begitu, kita memiliki waktu yang cukup untuk memperkuat diri kita sebelum pertempuran itu benar-benar tiba."
Aran tersenyum lembut.
"Ini bukan hanya untuk kalian. Ini untuk semua klan. Aku juga berencana menciptakan ruang latihan serupa untuk setiap klan — Bayu, Sena, Aruna dan Ardika. Setiap keturunan klan pelindung berhak memiliki tempat di mana mereka bisa mengasah kemampuan tanpa membahayakan siapa pun. Semakin kuat setiap individu, semakin kuat pula pertahanan kita semua. Dan pada akhirnya... semua kekuatan itu akan bersatu untuk melindungi Phoenix."
Pengumuman itu membuat hati semua orang yang hadir terasa hangat dan penuh harapan. Bukan hanya Kirana yang akan menjadi lebih kuat — semua klan akan tumbuh bersama. Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada yang sendirian.
"Terima kasih, Aran," ucap Sariya tulus, matanya bersinar bahagia. "Kebaikan dan kebijaksanaanmu ini akan selalu kami ingat. Dan terima kasih juga kepadamu, Haris, karena telah membiarkan kami menggunakan tempat ini sebagai pintu gerbang menuju medan pertempuran itu."
Haris tertawa pelan, suaranya hangat dan penuh semangat.
"Kalian tidak perlu berterima kasih padaku. Ini rumah kita semua. Dan jika rumah ini bisa menjadi tempat di mana kekuatan kebaikan tumbuh... itu adalah kehormatan terbesar bagi Klan Pradana."
Suasana di ruangan itu berubah menjadi ringan dan penuh harapan. Beban berat yang selama ini memikul bahu mereka perlahan terangkat — mereka tidak sendirian. Mereka saling mendukung, saling melengkapi, dan bersiap bersama.
"Mari kita masuk," ajak Haris sambil berjalan menuju pintu. "Aku yakin makan malam sudah siap. Dan aku rasa ada seseorang yang sudah menunggu kalian."
Mereka berjalan bersama menuju aula utama. Begitu pintu terbuka, aroma hidangan lezat menyambut mereka, dan di meja makan yang panjang dan indah itu — berdiri Kirana, menunggu bersama Darma. Cahaya lampu gantung yang hangat menyinari wajah gadis itu, dan saat ia melihat kedua orang tuanya masuk, senyum paling tulus dan paling bahagia terukir di wajahnya.
"Ibu! Ayah!" panggilnya riang, melangkah maju menyambut mereka.
Sariya segera merangkul putrinya erat, sementara Wira tersenyum lebar — senyum yang jarang sekali terlihat di wajahnya yang biasanya serius. Darma berdiri di samping Kirana, menatapnya dengan senyum lembut yang tak pernah pudar.
"Kau sudah menunggu lama?" tanya Sariya lembut, menatap wajah putrinya yang bersinar bahagia.
"Tidak lama," jawab Kirana sambil melirik sekilas ke arah Darma, pipinya memerah samar namun matanya tetap bersinar cerah. "Dan... aku sudah menceritakan banyak hal pada Darma. Tentang latihanku... tentang semuanya."
Wira menatap mereka berdua — Kirana yang penuh semangat dan Darma yang berdiri setia di sampingnya — lalu mengangguk puas.
"Bagus. Maka malam ini tidak ada pembicaraan tentang perang, tidak ada pembicaraan tentang musuh. Malam ini... kita makan bersama sebagai satu keluarga. Dan kita bersyukur... karena kita masih memiliki waktu untuk bersiap, dan waktu untuk bersama."
Mereka pun duduk bersama — Wira dan Sariya, Kirana dan Darma, Haris, Aran, dan semua orang yang menjadi bagian dari keluarga besar itu. Tawa terdengar hangat di sepanjang meja, cerita-cerita dibagikan, dan harapan tumbuh semakin kuat di hati setiap orang. Di luar sana, kegelapan mungkin sedang bersiap... tapi di sini, di dalam cahaya kehangatan keluarga dan persaudaraan, cahaya itu menyala begitu terang hingga tak ada kegelapan yang mampu memadamkannya.
Share this novel