21. Benang Yang Putus Satu Per Satu

Romance Series 17

PABRIK ARDIKA: HARI PERTAMA TIDAK ADA BENANG
Pagi itu, sebelum matahari sepenuhnya terbit, telepon di kediaman Ardika berdering berturut-turut. Dimas meraihnya, masih di tempat tidur, suara serak.
"Apa?!"
Suara manajer pabrik terdengar gemetar di seberang telepon.
"Kain mentah belum datang, Tuan. Pengiriman dari pemasok dibatalkan. Mereka bilang... sampai ada kepastian pembayaran dari Pradana, mereka tidak mau mengirim barang lagi."
Dimas bangkit dari tempat tidur, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. "Beri tahu mereka — kami bayar tunai! Hari ini juga!"
"Tuan... semua pemasok kain sutra dan benang sudah menolak. Mereka tahu Pradana mencabut kontrak. Mereka takut kami bangkrut sebelum tagihan lunas."
Tangan Dimas gemetar begitu hebat hingga telepon hampir terlepas. Ia meletakkannya perlahan, seakan benda itu terbuat dari kaca yang bisa pecah.
Jam sembilan pagi, telepon berdering lagi. Laporan dari pabrik kedua — alat tenun berhenti. Tidak ada benang, tidak ada yang bisa ditenun. Ratusan pekerja berdiri di gerbang, menuntut upah, berteriak hingga suara mereka terdengar sampai ke jalan utama.
Jam sebelas, pabrik ketiga — yang terbesar — ikut berhenti.
Dimas duduk di kursi kerjanya, kepala ditutup kedua tangan. Napasnya pendek, terasa berat di dada. Seluruh kerajaan yang ia bangun selama puluhan tahun — berderak dalam hitungan jam. Bukan karena kebakaran, bukan karena perang. Hanya karena satu pesanan ditarik.
Serena masuk ke ruang kerja, wajahnya pucat, bibirnya bergetar.
"Pekerja di pabrik utama... mereka menutup gerbang. Mereka bilang kalau hari ini tidak dibayar, mereka akan datang ke sini. Ke rumah ini."
Dimas mendongak, matanya merah. "Berikan mereka uang! Semua tabungan, taruh di meja mereka! Jangan biarkan mereka datang ke sini!"
"Uang mana, Dimas?!" Serena berteriak tertahan. "Uang dari kontrak Pradana yang belum dibayar? Yang sudah ditarik kembali?!"
Dada Dimas terasa sesak. Ia terbatuk — batuk kering, menyakitkan, hingga ia membungkuk. Wajahnya pucat pasi, keringat menetes di dahi. Ia meremas dadanya, jatuh berlutut di lantai.
Serena berlutut di sampingnya, panik. "Dimas! Dimas!"
"Panggil dokter..." bisiknya lemah. "Tapi jangan biarkan siapa pun tahu... jangan biarkan mereka tahu Ardika runtuh..."
 ***************
KEDIAMAN ARDIKA: DENDAM YANG DIBALIK PADANYA
Kirana berdiri di tengah kamarnya. Pintu terbuka paksa. Serena masuk, napas memburu, matanya liar — mata orang yang terjebak dalam api dan mencari siapa yang harus disalahkan.
"Ayahmu jatuh sakit! Pabrik berhenti! Pekerja mengamuk! Semua karena kau!" Serena menunjuknya dengan jari gemetar. "Kau pembawa sial! Sejak hari kau lahir, Ardika tidak pernah tenang! Dan sekarang — tepat sebelum pernikahan — kau merusak segalanya!"
Kirana berdiri diam. Tidak mundur selangkah pun.
"Aku tidak meminta mereka menolak pesanan Pradana."
"Tapi kau alasan mereka melakukannya!" Serena melangkah maju, wajahnya begitu dekat hingga napas panasnya menyentuh pipi Kirana. "Mereka tidak menghormati kami karena mereka tidak menghormatimu! Gadis tak berguna yang tidak punya kelebihan selain makan dan tidur!"
Kirana menatapnya tenang. "Jika mereka tidak menghormatiku... itu karena kalian tidak pernah mengajarkan mereka menghormati manusia."
Serena menamparnya lagi. Tamparan kedua hari itu. Lebih keras.
"Berani kau! Kau milik Ardika! Dan kau akan menebus semua kerugian kami!" Ia berbalik ke arah pintu, berteriak pada pelayan di luar. "Kunci pintu ini! Jangan beri makan! Jangan beri minum! Biarkan dia merenungkan dosanya sampai hari pernikahan! Mungkin kelaparan akan membuatnya tahu siapa yang memberinya tempat tinggal!"
Pintu tertutup. Kunci berputar. Bunyi logam yang berat, final.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Kirana menyentuh pipinya yang panas. Tidak ada air mata. Tidak ada tangisan. Ia berjalan perlahan ke tempat tidur, duduk di tepinya, menatap jendela yang cahayanya meredup.
Lima hari lagi.
Dan mereka sendiri yang mengurung satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan mereka.
Mereka tidak tahu — mereka baru saja mengunci api di dalam ruangan. Dan api tidak butuh makanan untuk menyala. Api menyala karena ada sesuatu yang harus dibakar.
***************
KLAN BAYU: TANGAN YANG MENAHAN DIRI
Di mobil hitam yang terparkir di seberang jalan, tidak jauh dari gerbang kediaman Ardika, Arga Bayu duduk diam.
Ia melihat pintu utama tertutup. Ia melihat pekerja berkerumun, berteriak. Ia melihat Serena masuk ke dalam rumah, lalu pintu lantai atas — pintu kamar Kirana — ditutup dan dikunci.
Arga mengepal kedua tangannya. Kuku menancap begitu dalam hingga darah merembes menetes di telapak tangannya. Rahangnya bergemeretak. Matanya menyala — bukan amarah yang meledak, melainkan amarah yang membakar dari dalam, perlahan, mematikan.
Pengemudi di depan tidak berani menoleh.
"Tuan... haruskah kita turun?"
Arga menggeleng pelan. Suaranya berat, tertahan di tenggorokan.
"Belum."
"Tapi mereka mengurungnya. Tanpa makanan."
Arga menatap jendela kamar Kirana — satu titik cahaya di lantai atas.
"Jika aku turun sekarang... aku akan membunuh mereka. Dan waktunya belum tiba." Ia membuka telapak tangannya — darah menetes di lantai mobil. "Tahan. Hanya lima hari lagi. Tahan."
Ia menunduk, menatap darah di tangannya.
"Maafkan aku... Tahanlah sedikit lagi."
*****************
KLAN SENA: DINDANG YANG MARAH DALAM DIAM
Di kediaman Klan Sena, Bima Sena berdiri di ruang peta, tangan besarnya menekan meja batu hingga kayunya berderak.
Laporan dari pengintai baru saja dibacakan.
"...pabrik berhenti, Tuan. Pekerja mogok. Dimas Ardika jatuh sakit. Nona Kirana dikunci di kamarnya, tidak diberi makanan."
Bima menarik napas panjang. Menghembuskannya perlahan — suara berat seperti angin menerjang benteng.
"Apakah mereka gila?" gumamnya rendah. "Mereka membutuhkannya untuk bertahan hidup... dan mereka menyiksanya."
Ia mengepalkan tangan kanannya — pukulan keras mendarat di dinding batu. Retakan halus menyebar di permukaannya.
"Orang bodoh tidak akan pernah mengerti apa yang mereka pegang di tangan mereka sampai mereka menjatuhkannya." Bima berbalik ke arah pengintai. "Laporkan setiap jam. Jangan lewatkan satu hal pun."
Pengintai mundur. Bima tetap berdiri sendirian. Matanya tajam, penuh ketegangan yang ditahan.
"Lima hari lagi..." bisiknya. "Lima hari lagi dan tidak ada yang boleh menyentuh sehelai rambut pun di kepalanya."
****************

KLAN ARUNA: NUBUAT YANG MULAI BERWUJUD
Di menara tertinggi, di antara ribuan gulungan naskah yang menumpuk hingga ke langit-langit, Aran Aruna menutup naskah kuno di hadapannya. Bunyi kertas yang tertutup terdengar jelas di ruangan yang sunyi.
Ia berdiri. Lilin di meja memantulkan bayangannya yang panjang.
Pintu terbuka. Asistennya masuk, berlutut di ambang pintu.
"Tuan... kabar dari Ardika. Pabrik berhenti. Dimas sakit. Nona Kirana dikunci tanpa makanan."
Aran mengangguk pelan. Tidak terkejut. Tidak marah. Hanya... tenang.
"Sudah waktunya," ucapnya lembut.
Ia melangkah ke rak naskah di dinding belakang. Mengambil satu gulungan yang terikat pita merah pudar. Tinta di sampulnya sudah memudar — ditulis ratusan tahun lalu.
"Benang putus," kata Aran saat ia melangkah menuju pintu. "Api dikurung. Angin berhembus. Perisai siap. Takdir tidak lagi ditulis di atas kertas."
Ia berhenti di tangga menara — tangga yang tidak pernah ia turuni sejak bertahun-tahun.
"Kita pergi."
Asistennya mendongak, terkejut. "Tuan... Anda turun dari menara?"
Aran menatap ke bawah — ke arah kediaman Ardika yang tak terlihat dari sini, ke arah gadis yang sendirian di ruangan terkunci. Matanya berkilau lembut namun teguh.
"Nubuat tidak bisa selamanya duduk di menara," ucapnya. "Ia harus turun ke tempat di mana api menyala."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience