Completed
202
Di kedalaman hutan yang paling lebat dan sepi, di sebuah gua tersembunyi yang udaranya selalu dingin dan berbau belerang, sosok itu duduk diam dalam kegelapan. Cahaya nyala api di dinding batu memantulkan bayangan tubuhnya yang masih tampak tidak utuh. Luka bakar akibat api Phoenix yang menyala murni masih terlihat jelas — kulitnya hangus di beberapa bagian, kekuatannya masih jauh dari pulih sepenuhnya. Setiap kali ia bergerak sedikit saja, rasa nyeri yang tajam menjalar ke seluruh tubuhnya, seakan mengingatkannya akan kekuatan yang hampir membakarnya menjadi abu.
Durga menekan tangannya ke dinding batu yang kasar, napasnya terdengar berat dan tidak teratur. Rasa sakit itu nyata, namun yang jauh lebih menyakitkan adalah rasa malu dan amarah yang meluap-luap di dadanya. Ia yang telah hidup ratusan tahun, yang namanya ditakuti bahkan oleh para Penjaga Klan, hampir hancur seketika oleh gadis yang baru saja membangkitkan kekuatannya.
"Belum pulih..." gumamnya pelan, suaranya parau dan penuh kebencian. "Namun aku tidak bisa menunggu terlalu lama. Semakin lama aku diam... semakin kuat dia menjadi. Dan jika dia bersatu dengan ayahnya..."
Durga menutup matanya erat. Ia mulai menyalurkan sisa kekuatan gelap yang masih tersisa di dalam dirinya. Asap hitam perlahan keluar dari tubuhnya, melilit luka-lukanya yang terbakar, menutupinya lapis demi lapis dengan rasa perih yang luar biasa. Keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat dan bengkak. Giginya terkatup rapat menahan rasa sakit yang seakan membakar tulang hingga ke sumsum.
"Lambat laun... semuanya akan kembali utuh." bisiknya penuh tekad yang mengerikan. "Api itu membakar dagingku... tapi tidak akan pernah bisa membakar keinginanku. Aku akan pulih. Dan saat itu tiba... tidak ada yang bisa melindungimu, Kirana."
Beberapa jam berlalu baginya seperti berhari-hari. Namun perlahan, napasnya mulai teratur. Luka-luka yang terbakar itu kini menutup, meninggalkan bekas gelap yang samar. Kekuatannya masih belum sepenuhnya kembali, namun cukup untuk bergerak, cukup untuk menyusun rencana. Dan rencana pertama yang muncul di benaknya — adalah menggunakan alat yang sudah ia siapkan. Alat yang paling mudah dikendalikan, paling mudah ditipu, dan paling lemah hatinya.
Â
Di kediaman sederhana tempat Dimas dan keluarganya bersembunyi di dalam hutan, suasana terasa berat dan penuh kegelisahan. Dimas mondar-mandir di ruangan kecil itu dengan wajah pucat dan berkeringat dingin. Serena duduk di sudut ruangan sambil memeluk dirinya sendiri, wajahnya tampak semakin tua dan lelah. Larasati berdiri diam menatap lantai, matanya merah dan bengkak, tubuhnya terasa semakin lemah setiap harinya. Harta yang mereka terima memang melimpah, namun harganya terasa semakin mahal dari yang mereka bayangkan.
Tiba-tiba udara di ruangan itu berubah menjadi sangat dingin. Cahaya lampu yang remang-remang seakan meredup seketika. Dari bayangan di sudut ruangan, sosok itu perlahan muncul. Kali ini ia tidak sepenuhnya berbentuk bayangan — sebagian wajahnya terlihat, namun masih tertutup kabut gelap. Matanya yang menyala merah menatap mereka bertiga satu per satu, membuat ketiganya terpaku di tempat dengan napas tertahan.
Durga melangkah maju perlahan. Langkahnya masih sedikit tertatih, namun suaranya tetap terdengar berat dan mengerikan, bergetar di udara dingin.
"Kalian... sudah menikmati apa yang kuberikan." ucapnya pelan namun tajam. "Kekayaan kembali. Nama kalian kembali disebut. Namun... kewajiban kalian belum terlaksana."
Dimas menelan ludah dengan susah payah, memberanikan diri untuk bicara.
"Kami... sudah melakukan apa yang kau minta. Kami meninggalkan rumah kami. Kami ikut bersamamu. Tapi Kirana... dia dijaga oleh banyak orang. Kami tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk mendekatinya."
Durga tertawa rendah, suara tawanya terdengar penuh penghinaan.
"Siapa yang menyuruhmu melawannya? Aku menyuruhmu membawanya kepadaku. Dan kali ini... caranya sangat sederhana."
Ia melangkah mendekat ke arah Dimas, hingga wajahnya yang samar berada tepat di hadapan pria itu.
"Pergilah kepadanya. Katakan padanya... bahwa ibunya sakit parah dan menunggu kematiannya di tempat yang jauh. Katakan... bahwa hanya dia satu-satunya harapan untuk melihat ibunya sebelum nyawa Sariya tercabut."
Dimas terbelalak. Tubuhnya gemetar hebat.
"Itu... itu kebohongan! Sariya hidup sehat di Pradana Mansion! Kirana akan mengetahuinya!"
"Apakah kau yakin?" Durga menatapnya tajam. "Apakah kau yakin gadis itu tidak akan panik mendengar kabar itu? Apakah kau yakin kasih sayangnya kepada ibunya tidak akan membuatnya lupa akan kewaspadaannya? Pergilah sendirian. Bicaralah dengan nada yang benar-benar sedih. Dan dia akan mengikutimu sendirian. Tanpa penjaga. Tanpa pertahanan."
Durga melanjutkan dengan suara yang semakin dingin dan mengancam.
"Bawalah dia kepadaku. Ke gua tempat ini. Dan setelah itu... semua hutang kalian lunas. Kalian bebas. Kekayaan kalian tetap ada. Dan aku tidak akan pernah datang lagi kepada kalian."
Dimas mundur selangkah, menggelengkan kepalanya dengan penuh ketakutan.
"Dan jika aku menolak?"
Mata merah itu menyala lebih terang seketika.
"Maka kalian bertiga... akan membayar harganya sekarang juga. Setetes demi setetes darah kalian akan kuserap. Nyawa kalian akan kubakar perlahan sebagai pengganti janji yang tidak ditepati. Pilihlah, Dimas Ardika. Apakah kau ingin hidup kaya dan bebas... atau mati menderita di sini bersama istri dan anakmu?"
Serena menarik lengan suaminya dengan tangan gemetar, matanya memohon penuh air mata. Larasati menatap ayahnya dengan pandangan kosong dan tak berdaya.
"Pilih saja, Ayah..." bisik Larasati lemah. "Aku takut... aku tidak mau mati..."
Durga perlahan berbalik hendak pergi, namun berhenti sesaat sebelum lenyap di dalam bayangan.
"Besok pagi... aku tunggu kabar darimu. Jika dia tidak bersamamu saat matahari terbenam... maka kalian bertiga yang akan menggantikannya."
Sosok itu lenyap seketika. Hanya tersisa hawa dingin yang menusuk tulang dan keheningan yang mencekam.
Dimas jatuh berlutut di lantai, kedua tangannya mencengkeram rambutnya erat. Ia menunduk dalam, bahunya bergetar hebat. Di dadanya, dua perasaan bertarung dengan hebat. Di satu sisi... Kirana adalah anak yang selama ini ia perlakukan dengan buruk, namun ia tahu gadis itu tidak pernah berbuat salah kepadanya. Dan di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu bahwa Kirana bukan anak biasa — menyerahkannya kepada sosok itu sama saja dengan menyerahkan nyawanya kepada maut.
Namun di sisi lain... ketakutan akan kematiannya sendiri, ketakutan akan kehilangan kembali segala kemewahan yang baru saja ia nikmati, dan ketakutan akan ancaman terhadap istri serta anak kandungnya... semuanya menekan hatinya hingga ia hampir tidak bisa bernapas.
"Dimas..." suara Serena terdengar lemah dan penuh air mata. "Kita tidak punya pilihan... bukan? Jika kita tidak melakukannya... kita semua akan mati di sini."
Dimas mendongak perlahan. Wajahnya tampak hancur. Matanya merah dan basah.
"Menyerahkan Kirana..." suaranya pecah. "Itu sama saja dengan membunuhnya. Kalian tahu itu, bukan? Dia akan mati di tangan makhluk itu."
Larasati menunduk, air matanya jatuh membasahi lantai.
"Tapi... bukankah dia bukan anak kandung Ayah? Bukankah selama ini kita selalu diperingatkan bahwa dia membawa nasib buruk? Jika dengan menyerahkannya... kita semua selamat... bukankah itu pilihan yang tepat?"
Kata-kata itu menusuk hati Dimas tepat di luka yang paling dalam. Ia menatap putri kandungnya sendiri — dan menyadari bahwa di mata Larasati, Kirana memang tidak pernah dianggap sebagai saudara. Kirana hanyalah beban, pengganggu, dan pembawa sial.
Dimas berdiri perlahan. Kakinya terasa berat seolah terikat rantai. Ia menatap ke arah kegelapan di luar jendela, lalu menatap kedua wanita yang berdiri menantinya dengan pandangan penuh harap dan ketakutan.
Pilihan itu seharusnya mudah. Namun baginya... untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pilihan itu terasa begitu berat dan menyakitkan. Ia tahu apa yang benar. Namun ia terlalu lemah untuk memilih kebenaran. Terlalu lemah untuk menanggung akibatnya sendirian.
Akhirnya, Dimas menutup matanya erat. Napas panjang terhembus keluar, membawa serta sisa-sisa kejujuran dan keberanian yang masih tersisa di dadanya.
"Baik..." ucapnya pelan, suaranya terdengar hancur dan lemah. "Aku akan melakukannya."
Serena dan Larasati menghela napas lega, namun Dimas tidak melihat ke arah mereka. Ia menatap ke tanah, hatinya seakan retak berkeping-keping. Dalam hatinya yang paling dalam, ia tahu — sejak saat itu, ia bukan lagi sekadar ayah yang kejam dan tidak adil. Ia telah menjadi pengkhianat yang menyerahkan nyawa anak yang tidak bersalah demi keselamatan dirinya sendiri.
Dan di kejauhan, di dalam kegelapan gua itu, Durga tersenyum penuh kemenangan. Luka di tubuhnya masih perih, namun hatinya merasa puas. Karena ia tahu... kelemahan terbesar manusia bukanlah pada kekuatan mereka, melainkan pada kerakusan dan ketakutan yang mudah dikendalikan. Dan Dimas Ardika... telah memilih jalan yang gelap.
Share this novel