Completed
202
Durga tertawa panjang, suaranya bergema mengerikan di dinding gua yang lembap dan gelap. Lingkaran sihir merah gelap semakin menyala terang, memancarkan hawa panas yang menyengat sekaligus dingin yang menusuk tulang. Kirana berdiri di tengah-tengahnya, napasnya tenang, matanya tajam menatap sosok di hadapannya yang masih tertatih menahan luka.
"Kau pikir lingkaran kecil ini bisa menahanku?" ucap Kirana pelan namun tegas.
Durga tersenyum miring, matanya merah menyala penuh kebanggaan.
"Ini bukan sekadar lingkaran biasa, gadis kecil. Ini terbuat dari darah dan kebencian ratusan tahun. Tidak ada api yang bisa membakarnya. Tidak ada kekuatan yang bisa memecahkannya. Bahkan kekuatan Phoenix pun..."
Belum selesai kata-katanya terucap, Kirana tiba-tiba merentangkan kedua tangannya. Cahaya keemasan yang murni perlahan memancar dari tubuhnya — lembut pada awalnya, lalu semakin terang dan semakin panas hingga menyilaukan mata. Batu giok di dadanya berkilau menyala merah terang, seakan menyatu dengan kekuatan yang kini bangkit dari dalam dirinya.
"Kau salah," ucap Kirana, suaranya berubah lebih dalam dan lebih tegas. "Kau tidak tahu apa yang mengalir di dalam darahku."
Dengan satu gerakan tangan ke bawah, ia melepaskan gelombang panas yang dahsyat. Cahaya keemasan itu menghantam dinding sihir merah gelap di sekelilingnya. Bunyi dentuman keras terdengar seketika, tanah berguncang, dan retakan halus mulai muncul di permukaan lingkaran itu.
Mata Durga membelalak tak percaya.
"Tidak mungkin... kekuatanmu belum sepenuhnya bangkit..."
"Belum sepenuhnya," jawab Kirana sambil melangkah maju, api keemasan perlahan menyala di sekujur tubuhnya. "Namun sudah cukup untuk membakar kebohongan dan kegelapan sepertimu."
Dari balik tebing di kejauhan, Wira melangkah maju perlahan, diikuti Darma, Aran, Arga, Bima, dan Kesuma. Cahaya keemasan dari tubuh Kirana menyala semakin terang saat Wira mengangkat tangannya perlahan — seakan menyalurkan kekuatan tambahan dari kejauhan melalui tanda yang ia berikan. Cahaya itu berdenyut, membesar, dan menghantam dinding sihir untuk kedua kalinya.
Kali ini lingkaran itu pecah seketika. Cahaya merah gelap berantakan menjadi serpihan yang lenyap menjadi asap hitam. Kirana melangkah keluar dari tempat itu tanpa tergores sedikit pun, matanya bersinar penuh api Phoenix yang bangkit.
Durga mundur selangkah, wajahnya berubah pucat.
"Kau..." geramnya, matanya menatap tajam ke arah balik tebing. "Ada orang lain... kau tidak sendirian..."
"Tentu saja tidak," ucap suara berat dan tenang.
Wira melangkah keluar dari balik bayangan, diikuti yang lain. Cahaya keemasan samar masih menyelimuti tubuhnya, matanya menatap Durga dengan pandangan yang begitu tenang namun begitu mengerikan — pandangan seseorang yang telah hidup ratusan tahun dan tidak pernah takut pada apa pun.
"Aku sudah lama menantikan pertemuan ini," ucap Wira pelan, suaranya bergema di gua. "Kau yang mendorongku jatuh dari tebing itu. Kau yang memisahkan keluargaku selama sembilan belas tahun. Dan sekarang... kau berani menyergap putriku."
Wajah Durga berubah penuh amarah dan keheranan.
"Kau... bagaimana mungkin? Kau seharusnya terjebak di dimensi itu selamanya!"
"Kekuatan darahku membawaku pulang." Wira melangkah maju selangkah, dan tanah di bawah kaki Durga seakan ikut mencekam. "Dan sekarang... kau tidak memiliki tempat untuk lari."
Durga melirik sekilas ke arah Dimas yang masih berdiri terpaku di tempat, gemetar hebat.
"Dimas!" bentaknya. "Lakukan sesuatu! Kau bagian dari perjanjian ini!"
Dimas mendongak perlahan. Matanya bertemu dengan mata Kirana. Di mata gadis itu tidak ada kemarahan — hanya kesedihan yang mendalam. Kesedihan karena seorang ayah angkat memilih menyerahkan anaknya demi keselamatan sendiri. Kesedihan karena kebohongan yang begitu mudah diterima demi keuntungan sesaat.
"Dimas..." panggil Kirana pelan. "Pergilah. Keluar dari sini. Ini bukan pertempuranmu."
Dimas menatapnya, lalu menatap Durga yang siap meledak dalam kemarahan. Kakinya gemetar, namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya... ia tidak menurut perintah sosok itu. Ia menunduk dalam, lalu berbalik perlahan dan berjalan menjauh — meninggalkan gua, meninggalkan tempat itu, seakan membawa serta seluruh kesalahannya yang tak akan pernah bisa ditebus.
"Pengecut!" maki Durga. Matanya merah menyala penuh amarah yang meledak. "Kalau begitu... aku akan menghancurkan kalian semua sendiri!"
Ia merentangkan kedua tangannya. Asap hitam pekat melesat dari tubuhnya, berputar kencang di udara, membentuk tombak dan gelombang kegelapan yang menghantam ke arah mereka.
"Berlindung!" seru Bima Sena.
Sebuah dinding tanah yang kokoh bangkit seketika di depan mereka, menahan serangan gelap itu hingga tanah bergetar hebat. Arga Bayu melesat cepat seperti bayangan, menyerang dari sisi lain dengan pusaran angin yang tajam. Aran Aruna melambaikan tangan — cahaya terang menyebar luas, membelah kegelapan dan menyakitkan mata Durga yang terbiasa dalam gelap.
Darma berdiri di samping Kirana. Kalung peninggalan leluhur Pradana yang kini ia kenakan bersinar lembut, memancarkan perlindungan yang tak terlihat.
"Kau siap?" tanyanya pelan kepada Kirana.
Kirana menatapnya, lalu menatap ayahnya yang sedang menahan serangan hebat dari Durga sendirian di tengah gua. Api keemasan di tubuhnya menyala semakin terang.
"Aku siap."
Kirana melesat maju. Cahaya keemasan membentuk pedang api di tangannya. Dengan satu lompatan tinggi, ia menghunuskan pedang itu ke arah bahu Durga yang masih terluka dari pertempuran sebelumnya. Durga berteriak kesakitan saat api itu membakar kulitnya hingga ke tulang.
Darah hitam menetes dari lukanya. Durga mundur terhuyung-huyung, menatap mereka semua dengan mata yang penuh kebencian tak terlukiskan. Ia tahu... kali ini ia kalah. Kekuatan mereka bersatu — api Phoenix, cahaya Lembayung, kekuatan tanah Sena, kecepatan Bayu, sihir Aruna, dan perlindungan Pradana — semuanya terlalu kuat untuk dilawannya sendirian dalam keadaan terluka.
"Ini belum selesai..." geramnya parau, napasnya tersengal-sengal. "Aku akan kembali... dan saat itu tiba... aku akan membakar dunia kalian menjadi debu!"
Dengan satu gerakan tangan yang cepat, ia menghantam tanah dengan kekuatan sisa yang dimilikinya. Asap hitam pekat meledak seketika, menyelimuti seluruh mulut gua hingga tak ada yang bisa melihat apa pun di dalamnya. Saat asap itu perlahan lenyap... Durga sudah tidak ada di tempatnya. Hanya tersisa jejak luka bakar dan bau belerang yang menyengat.
Kirana berdiri terengah-engah, api di pedangnya perlahan meredup. Wira berdiri di sampingnya, menatap ke arah kegelapan tempat Durga melarikan diri dengan pandangan yang serius.
"Ia belum kalah sepenuhnya," ucap Wira pelan namun tegas. "Ia hanya mundur untuk menyembuhkan luka dan menyusun rencana yang lebih gelap. Kita harus bersiap."
Wira berbalik menatap putrinya, lalu meletakkan kedua tangannya di bahu gadis itu dengan lembut namun penuh kebanggaan yang tak terlukiskan.
"Tapi hari ini... kau luar biasa, Kirana. Kau tidak takut. Kau tidak menyerah. Kau membuktikan bahwa darah Phoenix di dalam dirimu... adalah kekuatan yang tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh kegelapan apa pun."
Kirana menatap ayahnya, napasnya masih terasa berat namun hatinya terasa begitu tenang. Ia menoleh ke arah Darma, Aran, Arga, Bima, dan Kesuma yang berdiri di sana — semua orang yang berdiri bersamanya hari ini.
"Kita tidak sendirian," ucapnya pelan, matanya bersinar di bawah cahaya matahari yang mulai menembus masuk ke dalam gua. "Selama kita berdiri bersama... tidak ada kegelapan yang cukup kuat untuk menelan kita."
Share this novel