22. Cahaya Bulan Dan Anting Elf

Romance Series 154

TIDAK ADA PINTU YANG BISA MENAHAN CAHAYA
Jam menunjukkan tengah malam. Satu jendela kamar Kirana terbuka sedikit — angin malam menyelinap masuk, membawa udara sejuk yang jarang tercium di rumah ini.
Kirana duduk di tepi tempat tidur, punggung lurus. Perutnya kosong, tapi rasa lapar tidak lagi mengganggunya. Rasa dingin yang menjalar dari lantai batu lebih terasa — tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat, berdenyut perlahan, seirama detak jantungnya sendiri.
Dia menatap bulan purnama yang menggantung di langit. Cahaya perak mengalir masuk, menyebar di lantai, membentuk kolam cahaya di tengah ruangan.
Dan di tengah cahaya itu — udara bergetar.
Bukan langkah kaki. Bukan suara pintu terbuka. Suara terdengar duluan — lembut, dalam, bergetar seperti dawai yang dipetik perlahan, sebelum sosoknya terlihat.
"Dikunci, ditinggalkan, dibiarkan kelaparan... dan kau masih duduk tegak seperti ratu yang menunggu tahtanya."
Kirana bangkit berdiri, punggung menegang. Matanya menyapu ruangan — tidak ada siapa pun di ambang pintu. Tidak ada bayangan di dinding. Tapi suara itu jelas, berada di ruangan yang sama dengannya.
"Siapa kau?" suaranya tenang, tidak gemetar.
Cahaya bulan di tengah ruangan berputar perlahan, seperti kabut yang berputar ditiup angin halus. Dan dari dalamnya — sosoknya terbentuk perlahan.
Pertama rambut hitam panjang yang jatuh ke bahu, berkilau perak. Lalu wajah — halus, sempurna, tanpa kerutan, tanpa tanda usia, namun matanya... matanya kuno. Cokelat keemasan yang bercahaya redup dalam gelap, seperti dua bintang yang jatuh ke bumi. Tubuhnya tinggi, jubah berwarna biru malam yang menyatu dengan bayangan, tidak meninggalkan jejak di lantai. Dia berdiri di atas cahaya, bukan di atas batu.
Aran Aruna.
Dia tidak melangkah mendekat. Dia hanya — ada. Di hadapannya, seolah dia sudah berdiri di sana sejak ratusan tahun lalu.
"Siapa aku?" Aran mengulangi pelan, sudut bibirnya terangkat sedikit — senyum tipis, penuh rasa tahu. "Aku adalah yang datang sebelum kau memanggil. Yang melihat sebelum kau membuka mata. Aku adalah Aran Aruna — Penjaga Nubuat. Dan ras-ku... orang manusia menyebut kami Elf."


 *******************
PERTANYAAN DI BAWAH BULAN
Kirana menatapnya lurus. Tidak mundur. Tidak terkejut. Seperti bagian dari dirinya sudah mengenali sosok ini sejak lama.
"Elf..." bisiknya pelan. "Makanya kau tidak berjalan di lantai."
Aran tertawa kecil — suara seperti lonceng halus yang jauh. "Kami berjalan di antara cahaya, Nona Kirana. Bukan di atas debu."
"Kenapa kau datang?" tanya Kirana. "Apakah kau juga datang menuntut sesuatu? Seperti mereka."
Aran menggeleng pelan. Matanya yang keemasan menatapnya begitu dalam, seakan menembus kulit, daging, tulang — melihat langsung ke api yang tidur di dalamnya.
"Aku datang bukan untuk menuntut. Aku datang untuk memberi."
"Memberi?" Kirana menyilang lengan di dada. Waspada. "Aku tidak punya apa-apa untuk dibalas. Bahkan makananku pun tidak ada hari ini."
Aran melangkah selangkah — dan seketika berdiri dua langkah darinya, tanpa terlihat bergerak.
"Kau salah paham, Kirana Ardika. Kau adalah harta yang paling berharga di antara kita semua. Bukan karena mereka mengatakannya. Tapi karena nubuat kuno tertulis namamu sebelum kau lahir."
"Nubuat?" Kirana mengerutkan dahi. "Aku hanya gadis yang dijual orang tuanya. Tidak ada yang istimewa tentang aku."
Aran menatapnya lama. Lalu menggeleng perlahan, penuh kesabaran.
"Mereka melihat kain. Aku melihat api. Mereka melihat pengantin. Aku melihat dewi yang terbang dari abu. Kau tidak tahu apa yang ada di dalam dirimu — belum. Tapi aku tahu. Bintang tahu. Dan tanah di bawah kaki kita pun tahu."

 **************
ANTING DARI RAS ELF
Aran mengangkat tangan kanannya. Cahaya perak lembut mengalir di telapak tangannya. Saat ia membuka jari — sepasang anting tergeletak di sana. Tidak berkilau berlebihan. Terbuat dari perak yang tampak hidup, berlekuk seperti nyala api yang terkunci. Tidak ada permata — tapi benda itu sendiri memancarkan cahaya lembut yang berdenyut pelan, seolah bernapas.
"Ini pemberian dari Klan Aruna. Dari ras-ku." Aran mengulurkan tangannya. "Anting Elf."
Kirana menatapnya ragu. "Untuk apa?"
"Pertama — tidak ada mata manusia dari Klan Ardika yang bisa melihatnya. Bagi mereka, telingamu tetap kosong. Tidak ada yang tahu kau memakainya." Aran menatapnya tajam namun lembut. "Kedua — anting ini menyimpan ruang sendiri, medan sendiri. Saat kau memusatkan pikiran, kau bisa masuk ke ruang itu — tempat di mana waktunya berjalan lebih lambat, tempat di mana kau aman, tempat di mana kau bisa melatih apa yang ada di dalam dirimu tanpa takut ketahuan siapa pun."
Kirana mundur selangkah. Menunduk.
"Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak punya kekuatan. Tidak punya sihir. Aku hanya aku — gadis biasa yang menunggu hari pernikahan."
Aran tidak menarik tangannya. Ia melangkah mendekat, suaranya rendah dan tegas.
"Kau menolak karena kau tidak percaya pada dirimu. Itu wajar. Tapi jangan menolak hadiah dari takdir. Kau tidak perlu percaya pada kekuatanmu sekarang — cukup percaya bahwa itu ada."
Sebelum Kirana sempat menjawab, Aran mengucapkan mantra — kalimat dalam bahasa kuno yang tidak dipahaminya, namun setiap suku kata terasa bergema di udara, bergetar di tulang belakangnya. Cahaya perak melayang dari telapak tangan Aran — melayang perlahan, ringan seperti bulu, dan menempel sendiri di kedua telinga Kirana.
Tidak terasa dingin. Tidak terasa berat. Terasa seperti bagian dari dirinya sendiri yang baru saja teringat tempatnya.


*************** 
API YANG TIDAK TAHU DIRINYA API
Kirana menyentuh anting itu — jari menyentuh logam yang hangat.
"Kenapa..." suaranya bergetar pelan. "Kenapa kau melakukan ini?"
Aran menatapnya, matanya keemasan lembut namun serius.
"Dengarkan aku baik-baik, Kirana. Apa yang ada di dalam dirimu — bukan sihir yang dipelajari. Itu darah. Itu esensi. Itu adalah api kuno yang tertidur sejak ratusan tahun lalu — dan bangkit kembali bersamamu."
Ia menunjuk dadanya sendiri — tepat di tempat jantung berada.
"Setiap kali kau marah, setiap kali kau sakit hati, setiap kali kau merasa terbakar dari dalam — itu bukan amarah biasa. Itu membangun. Kau tidak perlu memaksanya. Kau tidak perlu memanggilnya. Kau hanya perlu belajar mengenalinya. Merasakannya. Membiarkannya mengalir tanpa ditahan."
Aran mendekat sedikit lagi, suaranya menjadi bisikan yang penuh kekuatan.
"Kekuatanmu tidak akan datang tiba-tiba dalam ledakan besar. Ia tumbuh perlahan — sama seperti api tumbuh dari satu percikan menjadi kobaran. Mulailah dari hal kecil: tarik napas, rasakan panas di dadamu, biarkan ia menyebar ke tangan, ke jari... jangan takut. Itu milikmu. Itu adalah kau."
Kirana menatapnya, mata berkaca — bukan karena sedih, tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang tidak memintanya menjadi sesuatu yang lain. Seseorang memberinya izin untuk menjadi dirinya sendiri.
"Aku... akan mencoba," bisiknya.
Aran tersenyum — senyum yang kali ini menyentuh matanya, membuatnya tampak lebih muda, lebih hangat.
"Kau tidak akan sendirian. Aku selalu mendengar. Aku selalu melihat."
Ia mundur selangkah. Cahaya di sekelilingnya mulai memudar, kabut perak menipis.
"Sampai jumpa lagi, Kirana. Sampai saat api menyala terang."
Perlahan, sosoknya melebur ke dalam cahaya bulan. Tidak ada pintu yang ditutup. Tidak ada langkah kaki yang menjauh. Dia hanya — menghilang. Seperti kabut yang tertiup angin.


*********************
BUKAN MIMPI
Keheningan kembali menyelimuti kamar. Hanya suara napasnya sendiri yang terdengar.
Kirana berdiri sendirian di tengah cahaya bulan. Tangan masih terangkat, menyentuh udara di tempat Aran berdiri sesaat lalu.
"Mimpi..." bisiknya pelan, tertawa getir. "Hanya mimpi karena kelaparan dan kesepian."
Ia berbalik, hendak duduk kembali — lalu tangannya berhenti di telinga.
Jari-jarinya menyentuh dua benda halus, hangat, berdenyut lembut di kulitnya.
Anting itu masih ada.
Kirana menatap bayangannya di cermin lemari — di sana, di bawah cahaya bulan, sepasang anting berkilau samar di telinganya. Dan di ruangan lain, jika ada orang yang melihat ke sini — mereka tidak akan melihat apa-apa.
Ia menyentuhnya lagi. Panas, hidup, miliknya.
Bukan mimpi.
Dan di dalam dadanya, api kecil berdenyut sekali — hangat, mantap, hidup.
Empat hari lagi. Dan dia tidak lagi sendirian.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience