80. Pagi Yang Berbeda

Romance Series 154

Malam berakhir dengan perlahan. Di dalam kediaman utama Klan Ardika, suasana masih terasa berat namun perlahan berubah menjadi tenang.
Kesuma berdiri di teras lantai atas, menatap ke arah gerbang yang tadi ditutup di hadapan Dimas dan keluarganya. Di sampingnya berdiri Juragas, wajahnya terlihat lelah namun matanya menatap lurus ke depan.
"Aku tidak menyesal telah melakukannya." ucap Kesuma pelan. "Namun ada rasa berat di hati melihat mereka pergi dengan penuh dendam."
Juragas mengangguk pelan.
"Dendam yang tidak diselesaikan dengan kebenaran akan tumbuh menjadi hal yang berbahaya. Aku hanya berharap mereka tidak melangkah terlalu jauh."
Di balik tirai yang tersembunyi, Kirana, Darma, Haris, Bima, dan Aran berdiri diam. Mereka tidak turun, tidak menampakkan diri. Mereka hanya menyaksikan semuanya berakhir di sana.
Kirana menatap ke arah gerbang yang tertutup.
"Aku merasakan sesuatu yang tidak beres." ucapnya pelan. "Seolah ada kekuatan gelap yang sudah menunggu mereka di luar sana. Dan aku juga merasakan bahwa Arga tidak ada di tempat yang seharusnya."
Darma berdiri di sampingnya, pandangannya tajam dan waspada.
"Aku juga merasakannya. Sejak tadi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Kita akan segera mengirim orang untuk mencari keberadaannya."
Haris melangkah maju selangkah.
"Mulai hari ini, Kesuma adalah pemimpin sah Klan Ardika. Dimas dan keluarganya sudah tidak memiliki hak apapun di sini. Kita harus memperkuat pengawasan di seluruh wilayah, terutama di perbatasan dan jalan yang menuju ke hutan dalam. Dan kita juga harus mencari tahu ke mana Arga pergi."
Bima mengangguk setuju.
"Aku akan mengirim pengawas tambahan malam ini juga. Jika ada pergerakan mencurigakan atau petunjuk tentang keberadaan Arga, kita akan segera mengetahuinya."
Pagi harinya, suasana di kediaman Ardika berubah sepenuhnya. Para pelayan berjalan dengan lebih tenang, tidak lagi takut akan kemarahan Serena atau kelakuan Larasati. Pintu-pintu ruangan yang dulu selalu dikunci kini terbuka kembali. Barang-barang yang disembunyikan atau dipakai sembarangan oleh Dimas dan keluarganya dikembalikan ke tempat asalnya.
Kesuma resmi menerima jabatan pemimpin klan di hadapan seluruh anggota dan tetua. Upacara sederhana namun penuh makna dilaksanakan di halaman utama. Juragas menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Kesuma dengan tangan gemetar namun penuh rasa lega.
"Sekarang rumah ini kembali kepada pemiliknya yang sah." ucap Juragas lantang. "Dan semua yang dirampas selama bertahun-tahun kini telah kembali."
Dari kejauhan, Kirana menyaksikan upacara itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi ia merasa lega. Namun di sisi lain, hatinya terasa gelisah seakan ada sesuatu yang sedang bergerak menjauh dari jangkauan mereka.
Aran berdiri di sampingnya, suaranya hanya terdengar oleh mereka berdua.
"Darah di dalam dirimu mulai berdenyut lebih cepat. Seolah merasakan bahaya yang sedang mendekat. Dan aku juga merasakan keberadaan Arga... terasa sangat jauh dan terperangkap."
Kirana menatap telapak tangannya yang terbuka.
"Aku juga merasakannya. Seperti ada suara yang memanggil namaku dari tempat yang jauh dan gelap. Dan seolah ada orang lain yang memanggil namun suaranya terhalang."
Sementara itu, di tempat yang jauh dari pandangan siapapun. Arga terbaring di dalam ruangan batu yang gelap dan dingin. Tangan dan kakinya terikat rantai yang bercahaya gelap. Matanya terbuka menatap langit-langit batu yang tinggi. Dari kejauhan, di balik dinding tebal, ia bisa merasakan keberadaan seseorang yang ia cari selama ini.
Sariya duduk diam di sudut ruangan yang terpisah, menatap ke arah dinding seakan bisa melihat siapa yang ada di seberangnya.
"Kau datang..." ucapnya pelan suaranya terdengar lemah namun penuh rasa haru. "Kau datang... tapi sayangnya kau juga terjebak di sini."
Arga mengerang pelan saat mencoba bergerak.
"Aku akan... membebaskan kita berdua."
Di ruangan lain, Dimas duduk di hadapan Durga. Di atas meja batu terbentang peta wilayah yang sangat detail. Titik merah telah ditandai di beberapa lokasi, termasuk kediaman Pradana dan kediaman Ardika.
"Mereka sedang sibuk merayakan kemenangan mereka." ucap Durga tenang. "Mereka tidak menyadari bahwa permainan baru saja dimulai. Dan Arga sudah berada di tangan kita."
Dimas menatap nama Pradana yang tertulis di peta.
"Kapan kita melaksanakan rencana selanjutnya?"
"Kita tidak akan memaksa." jawab Durga. "Kita akan membiarkan dia datang sendiri. Dan kuncinya adalah kamu."
Dimas menoleh sedikit.
"Apa yang harus kulakukan?"
Durga menunjuk satu titik di peta yang terletak di antara kedua kediaman itu.
"Kamu akan mengirim pesan. Pesan yang hanya akan dipercaya oleh Kirana. Katakan bahwa kamu mengetahui sesuatu tentang ibunya, Sariya. Katakan bahwa kamu bersedia memberitahunya jika ia datang menemui kamu sendirian."
Dimas terdiam sejenak.
"Apakah ia akan percaya?"
"Dia akan percaya." ucap Durga dengan pasti. "Karena keinginannya untuk mengetahui kebenaran tentang ibunya jauh lebih besar daripada rasa takutnya padamu."
Dimas menarik napas panjang. Pikirannya kembali pada nama yang akan tercatat dalam sejarah. Ia kembali pada janji yang telah diucapkan.
"Baiklah." ucapnya tegas. "Aku akan melakukannya."
Di luar ruangan itu, angin malam bertiup kencang, membawa kabut tebal yang perlahan mulai menyelimuti jalan-jalan yang menghubungkan kedua kediaman besar itu.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience