Series
154
Setelah berjalan mendaki berjam-jam melewati jalur yang nyaris tak terlihat, kelompok itu akhirnya berhenti di tepi tebing curam. Di hadapan mereka terbentang sebuah lembah tersembunyi yang tidak tertulis di peta mana pun.
Di tengah lembah itu berdiri bangunan yang tidak menyerupai tempat tinggal manusia. Ia terbuat dari batu hitam pekat yang tampak menyatu dengan gunung itu sendiri. Dindingnya kasar dan tidak beraturan, seakan tumbuh dari dalam bumi secara alami. Tidak ada jendela, tidak ada menara, tidak ada hiasan apa pun. Hanya pintu besar yang terbuat dari batu hitam legam, berdiri diam di tengah dinding seakan mulut raksasa yang siap menelan apa pun yang mendekat.
Di sekeliling bangunan itu, kabut tebal berwarna abu-abu gelap berputar tanpa henti. Udara di sini terasa jauh lebih berat daripada di lembah batu hitam. Setiap tarikan napas terasa dingin dan menyengat, seakan ada sesuatu yang menyedot panas dan kehidupan dari udara itu sendiri. Cahaya matahari nyaris tidak bisa menembus kabut tebal, membuat seluruh lembah itu tampak senantiasa berada dalam kegelapan senja.
"Ini..." bisik Kesuma pelan, matanya menatap bangunan itu dengan tatapan ngeri. "Ini bukan sekadar bangunan. Ini adalah sarang yang dibangun di atas tanah yang sudah lama dikutuk."
Kirana berdiri diam, tangannya meremas dadanya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa sakit yang menusuk dari dalam. Dari balik dinding batu tebal itu, ia bisa merasakan keberadaan ibunya. Ia bisa merasakan rasa sakit, rasa lelah, namun juga keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
"Ibu ada di dalam sana." ucapnya pelan, suaranya bergetar namun tegas. "Dan Arga juga."
Darma berdiri di sampingnya, pandangannya tajam meneliti setiap sudut bangunan dan kabut yang berputar.
"Aura di sini sangat kuat. Kekuatan gelap ini menyelimuti seluruh tempat, menyembunyikan apa yang ada di dalam dan menyulitkan kita untuk menggunakan kekuatan kita sendiri."
Bima melangkah maju selangkah, tangannya menyentuh tanah di tepi lembah. Wajahnya menjadi serius seketika.
"Tanah di sini sudah tercemar. Kekuatan kuno yang menjaga tanah ini telah lama diusir dan digantikan oleh kekuatan yang memakan kehidupan. Semakin dekat kita masuk, semakin lemah kekuatan kita, dan semakin kuat kekuatan yang menunggu di dalam."
Aran berdiri diam, matanya tertutup sejenak seakan mendengarkan suara yang tak bisa didengar orang lain. Saat ia membuka mata, tatapannya berat dan penuh kekhawatiran.
"Kekuatan yang ada di dalam sana bukan sekadar sihir gelap biasa. Ini adalah sihir kuno yang sudah dilarang sejak ribuan tahun lalu. Sihir yang memakan jiwa dan darah untuk terus hidup. Dan di dalam sana... ia sedang menunggu kita."
Di belakang mereka, Dimas, Serena, dan Larasati berdiri terpaku. Wajah mereka pucat pasi, keringat dingin membasahi dahi meski udara sedingin es. Serena merangkul tubuhnya sendiri erat-erat, gemetar hebat. Larasati menatap bangunan itu dengan mata terbelalak, seakan melihat neraka yang terbuka di hadapannya.
"Ini..." gumam Dimas pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Ini tempat yang aku datangi saat aku menandatangani perjanjian itu... tapi saat itu aku tidak melihatnya sejelas ini."
"Kau tidak bisa melihatnya saat itu." ucap Kesuma dingin. "Karena saat itu kau masih membawa harapan dan keinginanmu yang buta. Sekarang matamu perlahan terbuka, dan kau akhirnya melihat dengan apa kau bersekutu."
Dimas menunduk dalam, rasa malu dan takut menyelimuti hatinya.
"Aku tidak menyangka... aku tidak menyangka tempat ini begitu mengerikan..."
"Kau tidak menyangka karena kau hanya melihat apa yang ingin kau lihat." ucap Kirana pelan tanpa menoleh ke belakang. "Kau melihat kekayaan dan nama besar yang dijanjikan. Kau tidak pernah melihat hantu yang berdiri di belakang janji itu."
Suara Kirana tenang namun menusuk hingga ke tulang. Dimas tidak berani menjawab apa pun, hanya menunduk semakin dalam.
Sementara itu, Aran kembali bersuara, suaranya penuh peringatan.
"Kita tidak bisa menunggu lebih lama. Kekuatan ini semakin kuat seiring berjalannya waktu. Jika kita menunda, pintu itu mungkin akan tertutup rapat dan tidak ada yang bisa membukanya lagi."
Darma mengangguk setuju, lalu menatap Kirana.
"Apakah kau siap?"
Kirana menarik napas panjang, menatap pintu batu besar di kejauhan. Di dalam sana ada ibunya, ada Arga, dan ada kejahatan yang telah merenggut kebahagiaannya selama bertahun-tahun.
"Aku siap." ucapnya tegas. "Aku tidak akan membiarkan siapapun lagi menderita karena keserakahan orang lain."
Mereka berjalan perlahan menuruni lereng menuju bangunan itu. Semakin dekat mereka mendekat, semakin terasa berat tekanan di dada. Kabut semakin tebal, menyulitkan pandangan hingga hanya bisa melihat beberapa langkah ke depan. Suara angin berdesis di antara batu-batu karang, terdengar seperti bisikan-bisikan halus yang mencoba merayu atau menakut-nakuti.
Saat mereka tiba di depan pintu batu besar itu, terlihat jelas tulisan kuno yang terukir di permukaannya. Tulisan itu berwarna merah gelap, seakan terbentuk dari darah yang sudah lama kering.
Kesuma menatap tulisan itu dengan wajah pucat.
"Ini adalah tulisan kuno yang melarang siapapun masuk. Tulisan ini berbunyi: 'Masuklah jika kau mencari kematian. Karena di sini tidak ada belas kasihan, hanya keinginan yang tak pernah terpuaskan.'"
Kirana menatap tulisan itu tanpa rasa takut. Ia mengangkat tangan perlahan, dan cahaya keemasan lembut mulai memancar dari telapak tangannya. Cahaya itu menyebar ke sekelilingnya, mengusir kabut tebal yang berusaha menyentuh mereka.
"Keinginan yang tak terpuaskan memang akan membawa pada kematian." ucapnya lantang. "Namun keinginan untuk menyelamatkan orang yang dicintai... tidak akan pernah kalah."
Seketika itu juga, pintu batu besar itu terbuka perlahan tanpa disentuh siapapun. Dari dalamnya menyembur keluar hawa dingin yang jauh lebih tajam, membawa bau darah lama dan sesuatu yang membusuk.
Di dalam kegelapan yang terbuka itu, terdengar suara berat yang bergema dari kejauhan.
"Selamat datang... pewaris terakhir Phoenix. Aku sudah menantikan kedatanganmu."
Suara itu adalah suara Durga. Dan kali ini, suaranya tidak lagi penuh kemarahan, melainkan penuh keserakahan yang tak tersembunyi.
Kirana melangkah masuk terlebih dahulu, diikuti oleh Darma, Bima, Aran, dan Kesuma. Di belakang mereka, Dimas menarik napas panjang, lalu mengangkat kepalanya. Dengan tangan mengepal erat, ia juga melangkah masuk diikuti oleh Serena dan Larasati yang masih gemetar.
Mereka telah masuk ke dalam sarang kegelapan. Dan di dalam sana, pertempuran yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.
Share this novel