Series
154
Langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong batu yang panjang dan gelap. Dinding di kiri dan kanan terasa lembap dan dingin, seakan menyusut perlahan mendekat ke arah mereka. Cahaya hanya berasal dari api ungu yang menyala di dinding, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang bergerak seolah memiliki nyawa sendiri.
Semakin jauh mereka melangkah, semakin kuat aroma darah tua dan bau belerang yang menyengat. Udara terasa berat menekan dada, membuat setiap tarikan napas menjadi perih. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berhenti.
Lorong itu berakhir di sebuah ruangan yang sangat luas. Di tengah ruangan berdiri sebuah altar batu hitam yang tinggi. Di dinding belakang altar, terpasang rantai-rantai tebal yang menjuntai ke bawah. Dan di ujung rantai itu, tergantung dua orang yang wajahnya pucat dan penuh luka.
Sariya menunduk lemah, darah menetes perlahan dari luka di keningnya. Di sebelahnya, Arga terikat erat, tubuhnya penuh bekas luka memar dan goresan. Keduanya masih sadar, namun nyaris tidak memiliki tenaga untuk mengangkat kepala.
Di depan altar, berdiri sosok tinggi besar yang menunggu dengan tenang. Durga tersenyum lebar saat melihat mereka masuk, matanya menyala merah terang seakan menyambut tamu yang sudah lama dinantikan.
"Akhirnya..." suaranya bergema di seluruh ruangan, membuat lantai batu bergetar pelan. "Kalian semua datang. Bahkan mereka yang paling takut sekalipun."
Matanya beralih ke Dimas, Serena, dan Larasati yang berdiri di bagian belakang kelompok itu.
"Kalian kembali ke tempat ini. Apakah kalian sudah siap menerima apa yang menjadi hak kalian?"
Dimas menelan ludah susah payah, namun ia melangkah maju selangkah dan berdiri tegak.
"Kami tidak datang untuk mengambil apa pun." ucapnya dengan suara bergetar namun tegas. "Kami datang untuk mengakhiri semuanya."
Durga tertawa keras, suaranya penuh penghinaan.
"Kau? Yang menjual dirinya demi nama dan kekayaan? Kau pikir kau bisa berdiri di hadapanku dan berbicara seperti itu?"
"Aku memang salah." jawab Dimas menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya kembali dengan mata yang jernih. "Tapi aku tidak akan membiarkan kesalahanku membawa kehancuran bagi orang lain. Aku tidak akan membiarkan kau terus menyakiti mereka yang tidak berdosa."
Durga tersenyum miring, lalu mengalihkan pandangannya kepada Kirana yang berdiri di barisan paling depan. Matanya menyapu dari ujung kaki hingga ke kepala, seakan sedang menilai benda berharga.
"Dan kau... pewaris Phoenix. Kau datang tepat pada waktunya. Darahmu hampir siap untuk menjadi bahan bakar ritual terbesar yang pernah ada."
Kirana tidak menjawab. Pandangannya tertuju lurus kepada ibunya yang tergantung di altar. Jantungnya terasa sakit seakan diremas kuat. Ia bisa melihat betapa lemahnya ibunya, betapa banyak luka yang menutupi tubuh itu. Air mata perlahan mengalir di pipinya, namun ia segera mengusapnya dengan punggung tangan.
"Ibu..." suaranya pelan namun terdengar jelas di tengah keheningan ruangan.
Sariya perlahan mengangkat kepalanya. Saat melihat Kirana, matanya yang sayu perlahan berubah menjadi jernih dan penuh kelembutan.
"Kirana..." bisiknya lemah, senyum tipis terukir di wajahnya yang pucat. "Kau datang..."
"Aku datang untuk menjemputmu." jawab Kirana, langkah kakinya perlahan maju ke depan. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Ibu lagi."
"Jangan mendekat!" bentak Durga. "Selama kau belum menyelesaikan persyaratanku, mereka tidak akan kau sentuh!"
Darma melangkah sejajar dengan Kirana, tangannya mencengkeram gagang pedang erat.
"Kau tidak memiliki hak atas mereka. Dan kau tidak memiliki hak atas Kirana."
"Siapa yang berani menentukan hakku?" tanya Durga dengan nada dingin. "Aku telah menunggu ribuan tahun untuk momen ini. Tidak ada seorang pun, tidak ada satu klan pun, yang bisa menghentikanku."
Arga yang sedari tadi diam tiba-tiba bersuara, suaranya serak namun penuh peringatan.
"Kirana... jangan percaya kata-katanya. Dia tidak hanya menginginkan darahmu. Dia ingin menyerap kekuatan Phoenix sepenuhnya agar dia bisa hidup selamanya dan menguasai seluruh dunia."
Durga menoleh tajam ke arah Arga.
"Kau banyak bicara untuk seseorang yang nyaris tidak bernyawa lagi."
Ia kembali menatap Kirana.
"Kau mendengarnya? Semua orang ingin melindungimu. Namun pada akhirnya, hanya satu hal yang bisa menyelamatkan mereka."
Durga mengangkat tangan kanannya perlahan. Rantai yang mengikat Sariya bergetar hebat, dan Sariya mengerang pelan menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul.
"Datanglah ke sini." ucap Durga pelan namun penuh ancaman. "Serahkan dirimu padaku secara sukarela, dan aku akan melepaskan ibumu. Jika tidak... kau akan melihatnya binasa di hadapan matamu sendiri."
Kirana menatap ibunya yang menahan rasa sakit dengan gigih. Matanya kembali berkaca-kaca, namun kali ini bukan karena lemah. Itu adalah air mata yang bercampur dengan amarah yang membara.
Ia melangkah maju selangkah lagi, dan cahaya keemasan mulai memancar lembut dari tubuhnya.
"Kau mengancamku dengan nyawa Ibu..." ucapnya perlahan, suaranya semakin keras dan berwibawa. "Kau mengira aku akan menyerah begitu saja?"
Ia menatap Durga dengan mata yang mulai bersinar terang.
"Kau salah. Ancamanmu justru membuatku semakin yakin. Aku tidak akan menyerahkan diriku padamu. Sebaliknya... aku akan membebaskan Ibu dan Arga. Dan aku akan mengakhiri kejahatanmu di sini hari ini."
Sariya menggeleng pelan, matanya memohon agar Kirana tidak melakukannya.
"Kirana... jangan lakukan ini... dia terlalu kuat..."
"Aku tahu Ibu." jawab Kirana lembut namun tegas. "Tapi aku tidak bisa membiarkan Ibu menderita sendirian di sini. Aku sudah memiliki kekuatan yang Ibu dan Ayah berikan padaku. Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya."
Darma, Bima, Aran, dan Kesuma melangkah maju bersamaan, berdiri membentuk barisan di belakang Kirana. Wajah mereka penuh tekad yang tak tergoyahkan.
"Kau tidak akan menyentuh sehelai rambut pun darinya." ucap Darma lantang. "Selama kami masih berdiri di sini, kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan."
Durga menatap mereka satu per satu, lalu tersenyum lebar.
"Baiklah. Jika kalian memilih jalan perang... maka peranglah yang akan kalian dapatkan."
Ia melambaikan tangan ke belakang. Dari bayangan di sekeliling ruangan, muncul puluhan bayangan hitam yang berwajah menyeramkan, siap menyerang kapan saja.
"Lihatlah seberapa jauh kalian bisa melangkah." ucap Durga dingin. "Dan lihatlah seberapa kuat Phoenix yang kau banggakan itu saat menghadapi kematian yang sesungguhnya."
Kirana menarik napas panjang, lalu mengangkat kedua tangannya ke depan. Cahaya keemasan semakin terang, menerangi seluruh ruangan gelap itu hingga tak ada lagi tempat untuk bersembunyi.
"Kau mungkin kuat." ucapnya tegas. "Tapi kau tidak mengerti satu hal."
Ia menatap lurus ke mata Durga.
"Kekuatan Phoenix bukan berasal dari keinginan untuk berkuasa. Ia berasal dari cinta, dari pengorbanan, dan dari tekad untuk melindungi orang-orang yang dicintai. Dan dengan kekuatan itu... aku tidak akan pernah kalah."
Share this novel