17. Dugaan Dan Cibiran

Romance Series 17

DI DALAM MOBIL PRADANA
Mobil meluncur mulus di jalan raya. Haris duduk di kursi belakang, punggung tegak, kedua tangan mencengkeram lutut hingga buku jarinya memutih. Matanya menatap lurus ke depan, napasnya dangkal dan cepat. Sesekali ia menggerakkan jari kanannya, seakan kulitnya masih terasa terbakar.
Darma menyetir. Rahangnya tegang. Matanya melirik ayahnya dari sudut mata setiap beberapa detik. Tidak ada suara selain mesin halus dan klakson jauh.
Hingga Haris bergerak perlahan. Ia membuka kerah kemejanya, mengeluarkan liontin Phoenix yang tergantung di rantai emas. Batu merahnya — yang biasanya kusam kelabu — kini memancarkan cahaya merah redup, berdenyut lambat, teratur. Haris mendekatkannya ke wajah. Cahaya itu memantul di matanya yang melebar.
"Enam puluh tahun..." suaranya rendah, parau, bergetar. "Selama enam puluh tahun aku memegang batu ini. Tidak pernah berubah. Tidak sekali pun."
Ia memutar liontin di jari, menatapnya seakan benda itu telah berkhianat.
"Tadi saat gadis itu berdiri di hadapan kita... ia membakar dadaku. Panas sekali sampai aku hampir berteriak. Dan saat ia berlalu... perlahan meredup. Seperti api yang ditarik kembali."
Darma menekan setir lebih erat. "Mungkin kerusakan pada batu itu. Atau cuaca."
Haris menoleh tajam. Matanya menyipit. "Cuaca tidak tahu siapa yang berdiri di hadapannya. Batu ini tidak bereaksi pada matahari. Tidak pada api unggun. Tidak pada ratusan orang yang pernah berdiri di aula kita. Tapi hari ini... pada Kirana..."
Ia berhenti, menelan ludah. Tatapannya jatuh ke lututnya. Bingung. Takut.
"Dia anak angkat Ardika. Tidak ada gelar. Tidak ada keturunan yang terdengar istimewa. Hidupnya diatur orang lain sejak kecil. Tidak pernah ke mana-mana tanpa dikawal. Tidak pernah menonjol." Haris menggeleng pelan. "Lalu mengapa?"
Lampu lalu lintas berubah merah. Darma mengerem. Ia menatap ke depan.
"Mungkin kakek benar saat memilih perjodohan ini," ucapnya rendah. "Mungkin bukan sekadar kesepakatan bisnis."
Haris mendongak. Matanya menyala tegas. Ia menyelipkan kembali liontin ke dalam kemeja, menekannya erat di dada.
"Itulah sebabnya kita harus tahu. Segalanya." Ia menatap putranya lurus. "Perintahkan Klan Bayu menyelidiki setiap hal tentangnya. Siapa ibunya. Di mana ia lahir. Apa yang ia lakukan setiap hari sejak kecil. Siapa yang ia temui. Bahkan makanan apa yang dimakannya. Jangan ada satu hal pun yang terlewat."
Darma mengangguk. "Akan kukirim laporan setiap hari."
Haris menutup mata sebentar. "Temukan siapa dia, Darma. Sebelum dia menyadari siapa dirinya."
Mobil melaju lagi. Tidak ada kata tambahan. Hanya deru mesin. Dan di dada Haris, batu itu masih hangat.
 ****************
BAGIAN II — KEDIAMAN ARDIKA: PULANG KE NERAKA
Langit berubah ungu gelap saat Kirana melangkah masuk. Sepatu hitamnya menyentuh lantai marmer. Belum sempat ia melepaskan tas bahu, suara Serena memecah keheningan.
"Jadi kau pulang!"
Serena berdiri di pintu ruang tamu, tangan di pinggang, wajah merah padam. Larasati berdiri di sampingnya, menyandar kusen pintu, menyilangkan tangan di dada, sudut bibirnya melengkung jijik.
"Berani sekali kau pergi tanpa pengawal!" Serena melangkah mendekat, suaranya meninggi. "Tanpa mobil! Tanpa pemberitahuan! Kau pikir siapa dirimu? Putri yang bisa berjalan di jalanan seperti rakyat biasa?"
"Aku hanya berkeliling," jawab Kirana. Suaranya datar, tenang. "Aku kembali sebelum makan malam."
"Jangan berani membantah!" Serena melangkah selangkah lebih dekat, wajahnya nyaris menyentuhnya. "Kau milik rumah ini! Kau milik kesepakatan! Kau tidak boleh ke mana pun tanpa izin! Apa kau pikir keluarga Pradana akan senang mengetahui calon menantu mereka berkeliaran di trotoar?"
Larasati melangkah maju. Matanya menyapu Kirana dari atas ke bawah.
"Mungkin dia ingin orang-orang melihatnya," ucap Larasati, nada manis namun beracun. "Mungkin dia lupa posisinya. Berjalan sendirian... siapa yang akan menyapanya? Tidak ada yang tahu siapa dia. Tidak ada yang peduli. Kau tidak terlihat seperti tunangan Pradana, Kirana. Kau terlihat seperti pelayan yang pulang terlambat."
Kirana diam. Menatap lurus ke depan. Tidak berkedip. Tidak bergerak.
Keheningan itu membuat Serena semakin marah. Napasnya memburu. Ia mengangkat tangan. Kirana tidak menunduk. Tatapannya tetap lurus. Tangan Serena berhenti di udara, gemetar, lalu jatuh kembali ke samping.
"Pergilah ke mana saja!" seru Serena. "Tapi ingat — kau ada karena kami. Rumah ini, makanan ini, gaun ini — semua milik kami. Dan begitu pernikahan selesai... jangan harap kau bisa kembali melangkah di sini."
Langkah kaki berat terdengar dari lorong. Dimas Ardika muncul. Wajahnya gelap. Alisnya berkerut dalam. Langkahnya cepat, tegas.
"Kirana."
Suaranya rendah, tapi seluruh ruangan menjadi lebih dingin. Kirana menoleh.
"Ayah."
"Siapa yang mengizinkanmu keluar tanpa mobil dan pengawal?" Dimas berhenti di hadapannya, menatap tajam. "Kau tahu aturan rumah ini sejak kecil. Tidak pernah pergi tanpa dikawal."
"Aku hanya ingin berjalan sendiri," jawab Kirana. "Aku aman."
"Kau tidak mengerti!" Dimas melambaikan tangan kasar. "Kau adalah tunangan Pradana! Nama Ardika melekat padamu! Jika sesuatu terjadi padamu di jalan... kesepakatan bisa batal! Kerja sama bertahun-tahun hancur karena keputusan bodohmu!"
Ia mendekat, menunduk sedikit. Matanya menembusnya.
"Kau bukan bebas, Kirana. Kau tidak pernah bebas. Kau adalah aset. Dan aset tidak berjalan sendirian di jalanan."
Kirana menunduk sedikit. Pandangannya jatuh ke lantai marmer. Tidak ada suara.
Dimas menunjuk tangannya ke arah tangga. "Malam ini kau tidak keluar dari kamarmu. Tidak makan malam. Tidak ada alasan. Besok — jika kau perlu pergi — dua pengawal. Mobil tertutup. Jika kau menolak... kau tidak akan keluar lagi sampai hari pernikahan."
"Baik, Ayah." Suaranya lembut, patuh.
Dimas berbalik. "Pergilah."
Kirana berjalan melewati mereka. Langkahnya pelan, teratur. Di belakangnya, Serena berbisik pelan — cukup untuk didengar — "Terima kasih sudah mengingatkannya. Dia mulai lupa tempatnya." Larasati tertawa. Renyah. Penuh kemenangan.
Kirana menaiki tangga. Satu per satu. Tidak menoleh.
Pintu kamarnya tertutup. Kunci diputar pelan.
Ia bersandar pada pintu, menutup mata sebentar. Lalu berjalan ke jendela, menarik gorden sedikit. Di kejauhan, lampu kota berkelap-kelip. Ia berdiri di sana dalam diam. Tidak bergerak. Tidak bersuara.
Di kediaman Pradana, mereka sedang menyelidikinya. Di sini, mereka sedang meremehkannya. Tidak ada yang tahu — semakin mereka mendekat mencari kebenaran, semakin mereka mendekat ke api. Dan semakin mereka menginjaknya, semakin cepat api itu tumbuh.
Kirana melepaskan gorden. Ruangan menjadi gelap. Ia berbalik dari jendela.
Malam masih panjang. Dan ia tidak butuh lampu untuk melihat dalam gelap.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience