104. Persembahan Dan Penyesalan

Romance Series 154

Bagas Surya berdiri di balik meja kerja yang terbuat dari kayu jati tua yang berkilau halus. Di usianya yang tak lagi muda, sosoknya tetap tegap dan penuh wibawa. Wajahnya terukir garis-garis ketegasan yang tak pernah hilang, matanya tajam menatap tumpukan laporan di hadapannya — mata yang terbiasa menilai keuntungan dan kerugian dalam sekejap. Ia adalah pria yang membangun kerajaan bisnisnya bukan hanya dengan kerja keras, melainkan dengan ketajaman naluri yang hampir tak pernah keliru. Selama puluhan tahun, ia tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur. Dan kini, ia tahu betul kapan arah angin berubah.
Di sebelahnya berdiri Susanti, putrinya. Wajahnya lebih lembut dibanding ayahnya, namun matanya menyimpan ketajaman yang sama. Ia cerdas, berhati-hati, dan tidak pernah membiarkan kebencian atau kesombongan mengaburkan pandangannya. Selama ini ia mengikuti langkah ayahnya, namun belakangan ini hatinya sering terasa berat setiap kali nama Kirana disebut. Sesuatu yang melebihi kebiasaan dan aturan lama mulai menggerakkan hatinya — sebuah kesadaran bahwa mereka mungkin telah salah menilai seseorang yang jauh lebih berharga daripada yang mereka kira.
"Tuan," suara sekretaris Fattah terdengar hormat sambil meletakkan dokumen terakhir di atas meja. "Semua saham dan aset Ardika telah berpindah tangan ke tangan kita. Secara resmi, Surya Busana kini menguasai seluruh jalur perdagangan dan pabrik yang dulunya milik Dimas Ardika. Tidak ada yang tersisa atas nama Ardika."
Bagas tersenyum tipis, namun senyum itu tidak terasa penuh kemenangan seperti biasanya. Ia menyentuh tinta basah pada tanda tangan terakhir, lalu menatap ke luar jendela luas yang menampakkan gedung-gedung dan gudang-gudang yang kini menjadi miliknya.
"Dimas Ardika..." gumamnya pelan. "Terlalu ambisius, namun terlalu lemah untuk menanggung beban ambisinya sendiri. Semua kemewahan yang ia pamerkan ternyata hanyalah bayangan yang mudah runtuh."
Susanti melangkah maju selangkah.
"Ayah, kita telah mengambil alih semuanya. Namun aku berharap langkah ini tidak keliru. Dimas mungkin tidak layak memiliki semua itu, namun aku tidak ingin langkah kita keliru dalam hal lain."
Bagas menoleh ke arah putrinya, lalu mengangguk pelan.
"Karena itulah kita akan pergi ke Pradana Mansion hari ini. Bukan untuk bersaing. Bukan pula untuk memamerkan apa yang baru saja kita peroleh. Kita pergi untuk menawarkan apa yang seharusnya sudah kita tawarkan sejak lama."
Ia berdiri dan merapikan pakaiannya perlahan.
"Siapkan hadiah terbaik. Dan pastikan... niat kita tulus. Setidaknya sebisanya."
 
Perjalanan menuju Pradana Mansion berlangsung dalam keheningan. Kereta mewah mereka melaju tenang hingga tiba di gerbang megah yang dijaga ketat. Begitu mereka melangkah masuk, suasana di dalamnya langsung terasa berbeda — tidak mewah secara berlebihan, namun penuh kehormatan dan ketenangan yang mendalam. Setiap sudut bangunan itu memancarkan kekuatan yang tidak perlu dipamerkan.
Mereka dipersilakan masuk ke ruang tamu utama. Tak lama kemudian, Haris Pradana muncul diiringi Darma. Di samping mereka melangkah seorang gadis yang berpakaian sederhana namun anggun — Kirana. Matanya jernih dan tenang, tidak ada bayang-bayang kerendahan hati atau pun kesombongan yang berlebihan. Saat tatapan mereka bertemu, Susanti merasakan sesuatu yang hangat namun teguh memancar dari diri gadis itu.
"Selamat datang, Tuan Bagas, Nona Susanti." Haris menyambut mereka dengan tenang, lalu memberi isyarat agar mereka duduk. "Kedatangan kalian sungguh menyenangkan. Ada hal penting yang ingin dibicarakan?"
Bagas duduk dengan sopan, lalu menatap Haris dan Darma secara bergantian sebelum akhirnya berbicara dengan suara yang tegas namun penuh hormat.
"Saya datang membawa dua hal. Pertama, saya ingin mengajukan kerja sama antara Surya Busana dan Pradana. Selama ini jalur perdagangan dan bahan baku yang kita miliki saling melengkapi. Jika kedua belah pihak bersatu, keuntungan dan kestabilan yang dihasilkan akan jauh lebih besar daripada jika kita berjalan sendiri. Saya telah membawa rancangan pembagian keuntungan — Surya Busana akan mengambil tiga puluh persen, dan Pradana mengambil tujuh puluh persen. Saya sadar posisi saya tidak sebanding dengan kekuatan dan kedudukan Pradana saat ini."
Darma menatap Bagas dengan pandangan yang tenang namun tajam.
"Tawaran yang menarik. Namun ketahuilah, Tuan Bagas, Pradana tidak pernah mengambil keuntungan yang tidak seharusnya menjadi miliknya. Jika kerja sama terjalin, pembagian keuntungan akan dilakukan secara adil dan setara. Sama rata, sama berat."
Bagas tertegun sejenak, lalu mengangguk penuh rasa hormat.
"Saya mengerti. Dan saya menghargai keadilan yang Pradana junjung tinggi. Jika demikian, saya setuju atas pembagian yang setara."
Haris tersenyum tipis.
"Baik. Kerja sama ini akan kita bahas lebih lanjut secara mendalam. Pradana menyambut baik niat baik Surya."
Suasana sejenak hening. Lalu Bagas memberi isyarat kepada Susanti untuk membawa kotak hadiah yang dibawanya. Susanti maju selangkah, menyerahkan kotak yang terbuat dari kayu indah berukir halus ke arah Kirana.
"Ini..." Bagas menatap Kirana lekat-lekat, suaranya perlahan namun penuh ketulusan yang sulit diucapkan. "Ini adalah hadiah dari keluarga Surya untuk Nona Kirana. Bukan sebagai penghormatan semata, melainkan sebagai tanda permohonan maaf."
Kirana yang sedari tadi hanya berdiri mendengarkan dengan tenang sedikit memiringkan kepalanya.
"Permohonan maaf?" ulangnya pelan.
"Selama ini..." Bagas menarik napas panjang, seakan menelan sesuatu yang berat sebelum melanjutkan. "Selama ini, banyak kata-kata yang terucap dari mulut kami, banyak pandangan yang kami lemparkan kepadamu — kata-kata yang merendahkan, pandangan yang tidak pantas. Kami mengikut arus pendapat orang lain tanpa memeriksa kebenarannya sendiri. Kami membiarkan dirinya terbutakan oleh keadaan dan lupa melihat siapa yang sebenarnya ada di hadapan kami."
Susanti menatap Kirana dengan mata tulus.
"Kami tidak tahu kapan tepatnya kami telah berbuat salah kepadamu. Namun kami tahu... sikap kami selama ini tidak pantas. Kami memohon agar Nona Kirana berkenan menerima permohonan maaf ini. Bukan karena kekuatan atau kedudukanmu saat ini, melainkan karena kami sadar... kami telah berbuat keliru kepada seseorang yang seharusnya tidak pernah kami perlakukan demikian."
Kirana terdiam sejenak. Matanya menatap ayunan jendela yang lembut, seakan menelusuri ingatan-ingatan masa lalu yang kelam. Ia mencoba mengingat — kapan tepatnya keluarga Surya pernah ikut merendahkannya? Apakah mereka pernah melukainya secara langsung? Atau mereka hanya berdiri di pinggir, ikut tertawa dan membiarkannya dihina oleh orang lain tanpa berusaha menegur?
Setelah beberapa saat hening, Kirana kembali menatap mereka. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, tidak pula kebanggaan yang berlebihan. Hanya ketenangan yang mendalam.
"Aku tidak ingat pernah menerima luka secara langsung dari keluarga Surya." ucapnya pelan namun jelas. "Namun aku juga tidak lupa... bahwa saat aku berdiri di tempat yang rendah dan dihina oleh banyak orang, keluarga Surya tidak pernah menegur, tidak pernah membela, dan ikut membiarkan kata-kata buruk itu mengalir tanpa penghalang. Diam saat ketidakadilan terjadi... adalah bentuk persetujuan."
Bagas menunduk perlahan.
"Kau benar sekali. Dan kami tidak menyangkal hal itu."
Kirana menarik napas lembut, lalu melanjutkan dengan suara yang tetap tenang.
"Namun... aku juga menyadari bahwa banyak orang yang keliru karena tidak mengetahui kebenaran. Kalian datang ke sini bukan karena takut akan kekuatanku, melainkan karena hati kalian menyadari kesalahan itu sendiri. Dan karena itu..."
Ia menatap Susanti yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca penuh harap, lalu menatap Bagas. Kirana perlahan mengulurkan tangan dan menerima kotak hadiah itu.
"Aku menerima permohonan maaf keluarga Surya. Dan aku berharap... ke depannya, tidak ada lagi mata yang tertutup, dan tidak ada lagi lidah yang melukai orang lain hanya karena keadaan."
Wajah Bagas dan Susanti seketika tampak lega dan bersyukur. Beban berat yang tergantung di hati mereka seketika luruh.
"Terima kasih, Nona Kirana." ucap Bagas tulus. "Terima kasih telah memberi kami kesempatan untuk memperbaiki langkah kami."
Haris tersenyum lembut melihat kejadian itu. Darma yang berdiri di samping Kirana menatap gadis itu sekilas — matanya memancarkan kebanggaan yang tak tersembunyikan. Di hadapan permohonan maaf yang datang terlambat sekalipun, Kirana tidak membalas dengan kebencian maupun kesombongan. Ia memaafkan dengan kebesaran jiwa yang jauh melampaui usianya.
Pertemuan itu berlanjut dengan pembicaraan yang lebih tenang dan menyenangkan. Namun di dalam hati masing-masing, satu hal menjadi jelas: keluarga Surya memilih untuk berdiri di jalan yang terang, memohon maaf atas kelalaian masa lalu, dan berharap langkah ke depan tidak lagi keliru. Dan Kirana... ia menerima permohonan maaf itu dengan hati yang lapang, bukan karena lemah, melainkan karena hatinya jauh lebih besar daripada dendam yang pernah dialaminya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience