Series
14789
Revan membuka kedua matanya dengan perlahan saat mendengar suara ketukan pintu.sesaat laki-laki itu mengambil hp nya yang ada disamping bantalnya dan melihat jam yang tertera dilayar.
Rupanya jam sudah menunjukkan pukul 07.45 wib.dia pun segera beranjak dari tempat tidurnya lalu membukakan pintu kamarnya.
ceklek
"ibu?" gumam revan.sementara itu ibu Halimah tampak tersenyum manis menatap anak asuhnya.
"kamu baru bangun nak?maaf ya,ibu jadi ganggu tidur kamu.ibu cuma mau antarkan sarapan untuk kamu?" ucap wanita paruh baya itu.
"gak kok bu.harusnya aku yang minta maaf karena udah buat ibu repot?" balas nya.
Ibu Halimah kembali tersenyum lalu menatap dengan teliti wajah Revan.
"kamu baik-baik aja nak.kok wajah mu pucat?" tanya ibu Halimah yang baru menyadari wajah pucat Revan.
"aku gak apa-apa kok bu.hanya sedikit pusing?" jawab asal Revan.
Terlihat ibu Halimah menghela nafas panjang kemudian segera memasuki kamar Revan,lalu menaruh nampan yang berisi makanan dan minuman di atas nakas.
"gak apa-apa gimana sih nak.wajah kamu itu pucat banget loh?" ibu Halimah kembali menatap revam kemudian menempelkan punggung tangannya di kening sang anak asuh.
"astaga van.badan kamu panas nak.kita ke dokter aja yuk?" ucapnya khawatir.
"gak perlu bu.aku baik-baik aja.percaya deh?" balas Revan.
"ya udah kalau kamu gak mau ke dokter.ibu telfon Nia aja yah?" saat ibu Halimah ingin menelpon Vania,dengan cepat Revan menahannya.
"jangan Bu?" titahnya.ibu Halimah menatap kebingungan Revan.
"jangan beritahu apapun ke nia.aku gak mau Nia tau tentang keberadaan aku dijakarta?" pintanya.
"tapi kenapa van.nia itu kan calon istri kamu??" Revan terdiam sejenak.
"kalian berdua bertengkar lagi?" Revan masih setia terdiam,tidak lama dirinya duduk di tepi ranjang dengan lesu.
"kali ini ada masalah apa lagi,nak?" ibu Halimah kini ikut mendudukkan dirinya di tepi ranjang tepat disamping kirinya Revan.
Laki-laki itu terlihat menghela nafas panjang lalu memijat pelipisnya.
"nia selingkuh,Bu?" ucapnya.
Mendengar hal tersebut sontak membuat ibu Halimah terkejut bukan main.
"astaga,nak.jangan ngarang kamu.walaupun ibu belum lama-lama banget kenal sama Nia.tapi ibu yakin Nia bukan orang yang kayak gitu?" ucap ibu Halimah tidak percaya.
"aku gak ngarang bu.aku punya buktinya kok?" dengan segera Revan membuka laci nakas.kemudian mengambil sebuah amplop coklat dari dalam sana.
"ini buktinya?" Revan menyerahkan amplop itu kepada ibu Halimah.
Setelah menerima amplop tersebut ibu Halimah langsung membukanya.berbeda dengan respon Revan saat melihat foto tersebut,ibu Halimah justru tampak sangat santai melihatnya.
"Kamu dapat ini dari mana,nak?" tanyanya penasaran.
"kemarin sebelum aku berangkat ke Jakarta ada laki-laki yang datang ke kantor.dan dia kasih ini semua ke aku.dan ibu mau tau gak siapa laki-laki yang ada di foto itu??"
"memangnya dia siapa,van?" ucap ibu Halimah kembali bertanya.
"dia adalah mantan pacarnya Vania,Bu?mereka berdua ketemuan tanpa sepengetahuan aku?" jelas Revan.
Ibu Halimah kembali menatap beberapa lembar foto yang ada di tangannya.
"apa Nia udah tau tentang foto ini?" tanya wanita paruh baya itu lagi.
"belum?" revan menggeleng pelan.
ibu Halimah menghela nafas panjang kemudian menyerahkan kembali Fito tersebut kepada Revan.
"menurut ibu.foto itu sama sekali gak membuktikan kalau Vania berselingkuh di belakang kamu nak.mungkin aja ada penjelasan atas pertemuan mereka.dan kamu harusnya konfirmasikan hal ini ke Vania.nak,biar gak salah paham kayak gini.Van,Nia itu gadis yang sangat baik.ibu yakin dia gak mungkin ngelakuin hal ini.apa lagi kalian berdua mau menikah?" ucap ibu Halimah menasehati anak asuhnya itu.
"pakai logika kamu nak.bukan emosi.ibu cuma gak mau kamu menyesal karena udah menuduh Vania seperti ini?" lanjutnya.
Seketika Revan terdiam.dirinya merasa tertampar dengan ucapan ibu panti.
================
Cafe,,
DDOOOORRR!!!
"*NJIR!!"
Vania terkejut bukan main saat bela dan Rika berteriak dengan kencang dibelakangnya.berbeda dengan Vania yang kaget,kedua sahabatnya itu justru tertawa terbahak-bahak melihat respon yang ditujukan oleh Vania.
"sumpah Nia.muka loe lucu banget kalau lagi kaget?" celetuk bela yang kemudian segera menduduki kursi kosong disebelah vania.
"sialan loe!!" dumel Vania.
"lagian loe ngelamun aja dari tadi.sampai gak sadar kita dateng.mikirin apa sih?" tanya Rika yang juga ikut duduk di kursi kosong di sebelah bela.
Sambil menatap kedua sahabatnya Vania terlihat menghela nafas panjang.
"Revan?" jawab singkat Vania.seketika itu juga bela dan Rika saling berpandangan.
"kenapa sama Revan?" tanya bela.
"udah beberapa hari ini dia gak ada kabar.gue udah coba hubungi dia tapi gak ada respon?" jawabnya.untuk kesekian kalinya bela dan Rika melempar pandang.
"kok bisa??kalian lagi marahan?" tanya bela lagi.vania terdiam menatap kedua orang tersebut kemudian kembali menggelengkan kepalanya.
"waktu sebelum dia balik ke Surabaya,kita emang ribut kecil soal khalila.tapi itu udah clear kok.cuma gak tau kenapa setelah gue keluar dari rumah sakit dia jadi susah dihubungi?" jelasnya.
"atau jangan-jangan.." Rika menggantungkan ucapannya.
"jangan-jangan apa?!' tanya Vania.
"jangan-jangan dia lagi kecantol sama cewek lain?" lanjut Rika.
Perkataan tersebut sontak membuat Vania melotot tajam dan langsung menjewer telinga Rika.
"aakh...sakit...sakit...?" ringis Rika.
"loe udah coba hubungi asistennya belum.mungkin aja Revan lagi ngejar deadline kerjaannya.kalian kan mau nikah?" ucap bela.
Vania menghentikan aksinya yang sedang menjewer Rika,setelah itu dirinya menggeleng cepat.
"belum sih?" jawabnya.
"bener juga tuh yang dibilang bela.coba loe hubungi dia?" tambah Rika sambil mengusap-usap telinganya yang dijewer sang sahabat.
Vania pun segera mengambil ponselnya yang ada di atas meja.lalu menelpon Tristan.tidak lupa dirinya men load speaker panggilan tersebut agar para sahabatnya bisa mendengarkan percakapan mereka berdua.
Tristan : "selamat pagi mba?"
Vania : "pagi?"
Tristan : " ada yang bisa saya bantu?"
Vania : " Tristan,saya mau tanya.apa pak Revan ada dikantor?"
Tristan : " maaf mba, kebetulan hari ini pak Revan tidak ada dikantor.pak Revan sudah kembali cuti,mba?"
Vania : " cuti??"
Tristan : " iya,mba.pak Revan sudah kembali cuti.dan kebetulan juga kemarin beliau sudah otw ke jakarta.memangnya pak Revan belum memberitahukan hal ini ke mba?"
Vania : "Mm..belum sih??ya sudah kalau begitu terimakasih atas informasinya?"
Tristan : " iya,mba.sama-sama?"
tut
Panggilan berakhir,ketiga wanita itu kini saling berpandangan.
"kok Revan gak bilang sama gue ya kalau dia mau ke jakarta?" gumam Vania.
"dah gak usah negatif thinking dulu.mungkin aja Revan lupa .atau dia mau buat suprise ke loe?" ucap bela menenangkan sahabatnya itu.
============
Gilang menoleh saat mendengar pintu kamarnya dibuka oleh seseorang dari luar.dan ternyata itu adalah raisa.dengan langkah santai wanita itu berjalan menghampiri sang suami.
"Kamu mau kemana mas?" tanya Raisa saat melihat sang suami sibuk memasukkan laptop dan beberapa berkas kedalam sebuah tas.tidak hanya itu saja.penampilan sang suami pagi ini juga sangat rapih seperti ingin berpergian.
"saya mau balik ke Surabaya?" jawabnya.
"loh,mas kok gak bilang-bilang sama aku kalau mau balik ke Surabaya?" raisa sangat kaget ketika mengetahui sang suami ingin kembali ke Surabaya.
Setelah semuanya sudah masuk Gilang lansung menenteng tas tersebut lalu menatap sang istri.
"saya cuma sebentar aja,sa.ada sedikit masalah di kantor?" jelasnya.
Setelah itu Gilang pun langsung berjalan pergi ke luar kamar.dengan tergesa-gesa Raisa mengikuti sang suami.
Diruang keluarga terlihat pak Gunawan dan ibu Hanna tengah duduk santai sambil menikmati secangkir teh hangat.sementara Nadia tengah sibuk menggambar di atas meja.
Gilang yang baru saja sampai diruang keluarga segera menghampiri ke tiga orang tersebut dengan diikuti oleh Raisa dibelakangnya.
"papa?!" sapa Nadia saat menyadari papanya berjalan ke arahnya.
"lagi apa sayang?" tanya Gilang kepada sang anak.
"aku lagi gambar nih pah?" jawabnya sambil menunjukkan sketsa gambar pegunungan buatannya.
"bagus gambarnya.lanjutkan ya?" ucap gilang.nadia pun mengngguk cepat.
"loh,papa mau kemana?" tanya Nadia saat menyadari penampilan papanya yang sangat rapih.mendengar hal tersebut sontak saja ibu Hanna dan pak Gunawan langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah Gilang.
"Kamu mau kemana lang?" tanya ibu Hanna.
"aku mau balik ke Surabaya dulu,Bun.ada sedikit masalah di kantor?" jawabnya.
"masalah apa?" tanya pak Gunawan.
"ada dugaan karyawan yang korupsi?" jawabnya.
"astaga.kok bisa Lang??terus perusahaan gimana??" ucap ibu Hanna lagi.
"Gilang juga gak tau Bun.makanya sekarang Gilang mau ke Surabaya?" jelasnya.
"pah,nana ikut boleh gak?" celetuk Nadia.
Gilang tersenyum tipis kemudian mengelus lembut kepala Nadia.
"jangan ya.nana sama mama disini aja.papa cuma sebentar doang kok.papa janji setelah urusan kantor selesai papa langsung balik ke sini?" ucap Gilang memberi pengertian.
"ya udah deh.tapi papa jangan lupa bawain Nana coklat ya?" pintanya.gilang kembali tersenyum lalu mengangguk anggukkan kepalanya.
"iya?"
=============
Setelah berpamitan dengan keluarganya Gilang pun segera pergi menuju bandara.kebetulan kali ini Gilang pergi dengan menggunakan taksi.
Selama diperjalanan Gilang sibuk menelpon jason.tentu saja membahas masalah perusahannya.
"saya lagi on the way ke bandara.kita lanjutkan bahas ini setelah saya sampai di kantor?" setelah berkata demikian Gilang langsung memutuskan panggilan tersebut kemudian kembali menatap jalanan yang dilewatinya.
Namun disaat dirinya sedang menikmati perjalanan tiba-tiba saja sepasang matanya menangkap sosok wanita di tepi jalan.
"itu kan...Vania??" gumamnya sambil terus menatap sosok tersebut.
Mengenali sosok itu Gilang pun langsung meminta sang sopir untuk berhenti sejenak tepat ditempat Vania berdiri.
Setelah mobil taksi itu berhenti Gilang pun segera turun dari mobil dan menghampiri Vania.
"Vania?" seru Gilang.
Vania yang saat itu sedang menatap fokus mesin mobilnya langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Gilang?" vania tampak terkejut saat melihat keberadaan Gilang tepat dihadapannya.
"mobil kamu kenapa??" tanya Gilang.
"ah-i-ini.gak tau kenapa.tiba-tiba aja mogok?" jawab Vania sedikit gelagapan.
Sekilas Gilang melihat ke arah mesin mobil.
"boleh aku cek?" tawarnya.
Vania terdiam sejenak,namun setelah itu dirinya langsung berpindah posisi.seakan mempersilahkan Gilang untuk mengecek mobilnya.
Melihat Vania mengizinkannya,laki-laki itu pun segera mengecek kondisi mesin dengan serius.
"nia.kayaknya mobil kamu harus di bawa ke bengkel?" ucap Gilang kepada Vania setelah selesai memeriksa kondisi mesinnya.
"bengkel??" gilang mengangguk cepat.Tidak lama Gilang terlihat menelpon seseorang.
"bisa kirimkan montir ke jalan xxx?"
"............"
"baik.terimakasih?"
Selesai menelpon Gilang kembali menatap Vania.
"aku udah telpon montir untuk ngurusin mobil kamu.paling lima belas menit lagi mereka sampai?" ucapnya.
"makasih ya Lang.maaf jadi ngerepotin kamu?" balas Vania.
"Kamu mau ke kantor atau mau-"
"aku mau nemuin seseorang, Lang?" potongnya.
Gilang mengangguk pelan.detik berikutnya laki-laki itu tampak melihat ke arah jam tangannya.sepertinya waktunya masih cukup,pikirnya.
"aku antar yuk?" tawar Gilang.
Vania kembali terdiam.menimbang-nimbang tawaran dari Gilang.
"boleh.kalau gak ngerepotin?" Vania terpaksa menerima tawaran tersebut.karena dia ingin cepat - cepat bertemu dengan seseorang.
"aku sama sekali gak merasa direpotkan kok?" ucapnya.
Dengan segera Vania mengambil tas dan beberapa barang pentingnya di dalam mobil kemudian mengikuti Gilang masuk ke dalam taksi.
Tanpa disadari keduanya ternyata dari kejauhan ada seorang yang sedang memantau mereka.dan mengambil gambar dengan menggunakan hp.
"bos.saya udah kirim fotonya.sekarang target hendak pergi lagi?" ucap seseorang itu pada sambungan telepon.
"cepat ikuti mereka.jangan sampai kehilangan jejaknya.?" titah seseorang pada sambungan telepon.
"baik?!" Dengan cepat orang itu menaiki motornya dan mengikuti mobil taksi yang ditumpangi oleh Gilang dan Vania .
Share this novel