Series
14685
"Dasar bocil sialan!!.." dengan rasa kesal Vania menendang batu dijalanan hingga terpental lumayan jauh dari tempatnya berdiri.
"kenapa sih,dia selalu aja ganggu hubungan gue sama Revan!!...lupa apa dia kalau Revan itu CALON SUAMI GUE!!"
"CK!!!..Revan juga samanya.gak pernah sadar kalau tuh bocil sialan suka sama dia.Aarrghh!!..."
Sesaat gadis cantik itu melihat ke arah panti asuhan yang sudah jauh beberapa meter dibelakangnya.terlihat disana tidak tampak sama sekali sosok Revan yang mencari dirinya.apakah Revan tidak merasa bersalah atas kejadian tadi,pikir Vania.
"benar-benar kamu van.kenapa kamu gak ngejar aku!!" batinnya .tanpa pikir panjang lagi gadis itu melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat tersebut.
Masa bodoh dengan mobilnya yang masih terparkir di halaman panti asuhan.dia benar-benar kesal dengan kejadian tadi.mungkin nanti dia akan minta seseorang untuk mengambil mobilnya disana.
==============
"KAK REVAN!!..TUNGGU KAK!!"
Khalila berlari mengejar revan.sampai akhirnya gadis kecil itu berhasil menggapai tangan Revan dan menghentikan langkah laki-laki tersebut.
"apa lagi sih lila.aku harus ngejar nia.pasti dia benar-benar salah paham dengan kejadian tadi?" ucap tegas Revan.
"kak.sadar.kak Nia itu kekanakan.dia gak pantas buat kak Revan!!" ucap Khalila menjelekkan Vania yang berhasil membuat Revan marah.
"jaga ucapan kamu lila!!"
"kenapa kak!!..yang aku bilang tadi itu kenyataan kok!!..kak Nia itu KEKANAKAN DAN MANJA.Dia-"
"STOP JELEK-JELEKIN NIA,KHALILA!!..KAMU GAK KENAL DENGAN DIA!!" Revan semakin marah dengan semua perkataan Khalila soal kekasihnya itu.
"KAKAK YANG HARUSNYA STOP!!!STOP BUAT MEMUJA DIA...STOP UNTUK MENCINTAI WANITA ITU..."
"apa selama ini kak Revan gak pernah sadar dengan semua perhatian yang aku berikan kepada kakak?" lirihnya.Tidak kuasa menahan gejolak di dalam hatinya,Khalila pun mulai meneteskan air matanya.
"aku cinta sama kakak hiks...a-aku sayang sama kakak hiks..tapi kenapa???kenapa wanita itu yang kakak pilih hiks..."
DUARR...bagai disambar petir.revan benar-benar terkejut dengan apa yang diungkapkan oleh Khalila.
"jangan bercanda khalila.ini sama sekali gak lucu?!" ucap Revan sambil menatap tidak percaya ke arah gadis yang tengah berdiri tepat di hadapannya itu.
Khalila menggeleng cepat."apa yang aku ucapkan itu bukan candaan kak ..aku benar-benar serius.AKU CIINTA SAMA KAKAK!!' Tekan Khalila pada akhir kalimatnya.
Revan yang masih dalam keadaan kaget.perlahan meremas rambut belakangnya dengan tangan kanannya.sungguh,dirinya tidak menyangka kalau selama ini Khalila menaruh perasaan kepada dirinya.
"kak..aku benar-benar tulus cinta sama kakak...aku juga tulus sayang sama kakak..bahkan....dari aku masih kecil pun,aku udah anggap kamu orang yang spesial di hati aku?"
"kalau kakak masih ragu,aku bisa kok buktiin perasaan aku ini?" dengan perlahan Khalila mendekat ke arah revan.kedua matanya langsung terpejam sementara kakinya berjinjit dan...
Cup
=============
Gilang dan Nadia yang baru saja selesai ziarah ke makam almarhumah Giska memutuskan untuk pulang ke rumah.
"papa?"
"ya , sayang?" Gilang yang tengah fokus mengendarai mobil sekilas melihat ke arah sang putri.
"Nana mau ice cream,pah?" ucapnya.
"Kamu mau ice cream?" ulangi laki-laki itu.nadia pun dengan cepat menganggukkan kepalanya.
"ya sudah.tunggu sebentar ya.kita makan dirumah.kayaknya semalam nenek beli banyak ice cream untuk kamu?" ucap Gilang.
"no!!" Nadia menggeleng cepat.
"gak mau pah.nana maunya makan ice cream yang ada di cafe.boleh ya pah kita mampir dulu makan ice cream?" pinta anak itu.Gilang terdiam sejenak lalu menghela nafas panjang.
"baiklah.kalau gitu kita cari cafe yang jual ice cream?" mendengar hal tersebut Nadia sontak langsung berteriak kegirangan.
"ASYIIIK...KITA MAKAN ICE CREAM!!" Seru Nadia.
Gilang tersenyum manis melihat tingkah sang anak.kemudian segera membelokkan mobilnya ke arah kiri.namun di saat bersamaan ternyata ada seorang wanita yang hendak menyeberang jalan.dan sialnya Gilang telat menyadari hal tersebut.
"PAPA AWAS ADA ORANG!!" Seru nadia.
BBRRAAKK
Mobil hitam yang dikendarai oleh Gilang kini berhenti bersamaan dengan seseorang yang jatuh di depan mobilnya.
Gilang yang masih kaget atas kejadian tersebut terlihat diam sejenak.
"Kamu gak apa-apa nak?" tanya Gilang memastikan keadaan Nadia yang tubuhnya sempat terhuyung ke depan akibat dirinya mengerem mendadak.
"aku gak apa-apa pah,tapi..." Nadia menatap ke arah depan.tepatnya ke arah wanita yang baru saja di tabrak oleh papanya.
"Kamu tunggu disini dulu ya.papa mau cek orang itu?" Nadia mengangguk paham kemudian dengan cepat Gilang turun dari mobilnya.
Gilang segera mendekati wanita tersebut untuk memastikan keadaannya.namun saat dirinya melihat dengan jelas wajah korban yang dia tabrak tadi,Gilang langsung terkejut bukan main.
"ASTAGA!!..VANIA!!...."
=============
Panti asuhan,,
Revan segera mendorong tubuh khalila.sehingga ciuman sepihak itu pun terlepas.
"APA YANG KAMU LAKUKAN LILA!!" Revan buru-buru menghapus jejak bibir Khalila dengan punggung tangannya.
"KENAPA KAK!!...APA SALAH AKU MENUNJUKKAN PERASAAN AKU SAMA KAKAK!!" seru Khalila tidak mau kalah.
"TENTU SALAH LILA.AKU INI TUNANGAN NIA.GAK SEPANTASNYA KAMU MELAKUKAN HAL TADI KE AKU!!" kali ini Revan benar-benar dibuat emosi.dia pun hendak melangkah pergi namun lagi-lagi Khalila menahan tangannya.
"CUKUP LILA!!" dengan sekali hentakan Revan melepaskan genggaman Khalila.
"MULAI DETIK INI KAMU JAUHI KAKAK.DAN JANGAN PERNAH LAGI GANGGU HUBUNGAN KAKAK SAMA NIA.PAHAM!!" Dengan penuh kemarahan Revan pergi meninggalkan Khalila.
Tanpa sengaja kejadian tersebut dilihat oleh ibu panti.sama hal nya dengan Revan,wanita paruh baya itu pun juga dibuat syok dengan semua yang diungkapkan serta yang dilakukan oleh Khalila.
"Lila!!" seru ibu panti memanggil gadis tersebut.
Khallila segera menghapus buliran air matanya lalu menolehkan wajahnya ke arah ibu panti.tatapan mereka bertemu.namun bukannya menghampiri wanita paruh baya itu,Khalila justru pergi begitu saja.
==============
RUMAH SAKIT,,
Sesampainya di rumah sakit Vania langsung diperiksa oleh dokter.sementara Gilang dan Nadia menunggu di luar ruangan.
"pah..Tante cantik gak akan kenapa-kenapa kan ya?" tanya Nadia dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Gilang yang sama-sama merasa khawatir segera melihat ke arah nadia.dia tampak tersenyum tipis lalu mengelus lembut kepala sang anak.
"kita berdo'a ya.semoga keadaan Tante cantik baik-baik aja?" balasnya.
Tidak lama hal yang ditunggu pun datang.seorang dokter laki-laki yang menangani Vania tampak keluar dari ruangan pemeriksaan.
"gimana keadaan Vania,dok?" tanya Gilang dengan tidak sabaran.
"sepertinya ada cidera pada bagian kakinya.namun saya belum bisa memastikannya lagi karena kondisi korban saat ini masih belum siuman.mungkin karena syok akibat tabrakan?" jelas sang dokter.
Deg!
"a-apa kami boleh melihatnya dok?" tanya Gilang lagi.
"boleh saja, tapi...-" belum selesai sang dokter bicara,Nadia langsung berlari memasuki ruangan tempat Vania berada.
=============
Nadia memasuki ruangan,diikuti oleh Gilang dan seorang dokter dibelakangnya.tampak didalam sana Vania tengah terbaring lemah tidak sadarkan diri di atas ranjang.melihat hal itu,hati Nadia jadi bertambah sedih.dia pun buru-buru mendekati gadis tersebut.
"Tante cantik,,," panggil Nadia dengan suara lirih.disisi lain Secara bersamaan Gilang dan sang dokter berjalan mendekati ranjang.
"om dokter.tante cantik beneran gak apa-apa kan?" tanya nadia sambil menatap laki-laki berjas putih tersebut.
Sang dokter tersenyum tipis.dia merasa paham sekali dengan apa yang dikhawatirkan oleh nadia saat ini.
"Tante cantiknya gak apa-apa kok.untuk lebih jelasnya kita tunggu tantenya sadar dulu yah?" jelasnya.
Pandangan Nadia kembali kepada Vania.tangan kecilnya kini terulur ke depan mengelus lembut pipi dari wanita yang sudah lama tidak di jumpai nya itu.
"Eeghh"
Vania yang merasa terusik dengan sentuhan Nadia perlahan membuka kedua kelopak matanya.
"dimana ini?" gumam vania dengan nada lemah.
Melihat vania sudah sadarkan diri,Nadia langsung tersenyum senang.
"Tante cantik udah sadar?" ucap Nadia.
Merasa tidak asing dengan suara tersebut,Vania pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah Nadia dan juga Gilang.
"nadia???Gilang???" betapa terkejutnya gadis itu saat melihat kedua orang tersebut.
=============
Setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh sang dokter.rupanya cidera yang dialami oleh Vania cukup parah.akhasil dokter tersebut meminta Vania untuk dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.
"apa gak sebaiknya saya pulang aja dok?" ucap Vania.
"cidera yang dialami kaki kamu cukup parah.ada baiknya kamu dirawat di sini supaya saya bisa memantau cidera pada kaki kamu itu?" jelas sang dokter.
"tapi dok...-" Vania tampak mencuri pandang ke arah Gilang.namun beberapa detik kemudian pandangannya kembali teralih ke arah sang dokter.
"yang dibilang dokter itu benar vania.sebaiknya kamu dirawat di sini sampai kaki kamu pulih?" potong Gilang.
Vania terdiam sesaat begitupun dengan yang lainnya.
"baiklah.kalau begitu saya kembali ke ruangan dulu.jika butuh sesuatu panggil saya?" ucap sang dokter yang kemudian segera pergi dari sana.
Sepeninggal dokter tersebut Vania terlihat celingak-celinguk,seperti mencari sesuatu disekitarnya.seakan mengetahui apa yang sedang dicari oleh Vania,Gilang pun segera merogoh saku celananya.
"Kamu cari ini?" ucap gilang sambil menunjukan sebuah ponsel ditangannya.
Melihat ponselnya dipegang oleh Gilang,Vania pun buru-buru mengambil benda tersebut.
"makasih?" cicit gadis itu.Gilang mengangguk pelan kemudian tersenyum tipis,bahkan sangat tipis.
Nadia menatap keduanya secara bergantian.gadis kecil itu bisa merasakan dengan jelas kecanggungan di antara keduanya.
"aku minta maaf?" ucap Gilang memecah keheningan.
"kalau aja aku bisa hati-hati lagi ngendarain mobilnya.kejadian ini pasti gak akan terjadi?" lanjutnya.
Vania menghela nafas dengan lembut kemudian menatap Gilang yang berdiri di sampingnya.
"jangan merasa bersalah seperti itu lang.disini aku juga salah.aku gak fokus sama sekitar jalan?" ucap Vania.
"ini semua musibah?" lanjut gadis itu.gilang mengangguk pelan.keduanya kini saling bertatapan.
"iya,ini semua musibah.musibah yang diatur oleh tuhan.hhuufft....entah apa lagi yang engkau rencanakan tuhan...hingga engkau mempertemukan kami lagi?" batin Vania.
"disatu sisi aku sangat khawatir dengan kondisi kamu vania.tapi disisi lain aku sangat bahagia karena bisa bertemu lagi dengan kamu.aku sangat merindukan kamu nia.aku sangat bersyukur karena Tuhan mempertemukan kita lagi?" monolog Gilang dalam hatinya.
Disaat kedua orang dewasa itu tengah sibuk dengan isi hati dan pikiran mereka.nadia justru dibuat keheranan lagi dengan tingkah diam Vania dan juga Gilang.
Tidak lama terdengar suara dering telepon.dan hal itu berhasil membuat Vania dan Gilang langsung tersadar dari lamunan mereka.
Vania berdehem kecil lalu segera melihat ke arah ponselnya.ternyata itu adalah panggilan telpon dari revan.vania yang masih merasa kesal dengan kejadian dipanti tadi langsung menekan tombol merah untuk memutuskan panggilan tersebut
"kenapa gak diangkat?" tanya Gilang sambil menatap heran ke arah Vania.
"gak apa-apa?" jawab Vania sekenanya.
Gilang menaikan satu alisnya.dirinya semakin dibuat keheranan dengan sikap vania yang enggan mengangkat panggilan dari tunangannya itu.atau jangan-jangan...
"kalian lagi bertengkar?" ceplos Gilang.
DEG!!
===========
"SIAL!!!...GAK DIANGKAT LAGI!!" Revan semakin dibuat kelimpungan saat mendapati panggilan telponnya tidak direspon oleh Vania.
"sayang...kamu dimana???kenapa gak jawab telpon dari aku?" tidak,Revan tidak bisa diam seperti ini.dia harus bergerak mencari vania.apalagi setelah tau kalau Vania pergi meninggalkan panti asuhan tanpa membawa mobilnya.
"aku harus cari dia?" Baru saja Revan membuka pintu mobilnya tiba-tiba saja dia mendengar ibu panti memanggil namanya.
"Van?" terlihat ibu panti berjalan menghampirinya.revan pun segera menoleh kearahnya.
"Kamu mau kemana?" tanya sang ibu panti.
"aku mau cari Nia,Bu?" jawab Revan.
"Kamu mau cari Nia kemana nak?" tanya ibu panti lagi.revan menghela nafas panjang lalu menggeleng lemah.
"aku juga gak tau bu.apa lagi sekarang Nia gak bawa mobilnya.dari tadi aku juga udah coba telpon dia tapi dia sama sekali gak angkat.aku jadi khawatir banget sekarang Bu?" jelas Revan.
"apa ini karena Khalila ya?" ucap ibu panti yang berhasil membuat Revan termenung.
"ibu udah liat kejadian tadi.jujur ibu juga kaget dengan apa yang dilakukan sama Lila.nanti biar ibu yang nasihati dia lagi ya ?" lanjutnya.
"makasih ya bu.untuk kali ini aku berharap banget bantuan dari ibu.seperti yang ibu tau.dari dulu aku anggap Lila sebagai adik.sama kayak yang lainnya?" ucap laki-laki itu.
"iya,ibu paham.nanti ibu akan bicarakan semuanya pelan-pelan sama Lila?" balas ibu panti.
Share this novel