Series
14685
Gilang menempelkan bibirnya ke bibir Vania lalu mulai melumatnya perlahan.laki-laki itu mencium bibir Vania penuh kelembutan untuk menyalurkan semua perasaannya.
Disisi lain Vania yang mendapat perlakuan tersebut sontak merasakan terkejut bukan main.namun anehnya gadis itu tidak berontak sama sekali.tapi juga enggan untuk membalas ciuman Gilang.vania hanya diam terpaku dengan apa yang dilakukan oleh Gilang kepada dirinya.
Ciuman pun berlangsung cukup lama.sampai akhirnya laki-laki itu mengakhiri ciuman tersebut.sesaat,keduanya saling melempar pandang.
Lagi dan lagi tanpa persetujuan Vania laki-laki itu melakukan sesuatu hal.kali ini Gilang tiba-tiba saja memeluk erat tubuh mantan kekasihnya itu.lalu menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Vania.
"maafkan aku?" lirih Gilang.
Melihat hal tersebut Vania masih setia diam tanpa melakukan apa-apa.hingga tiba-tiba saja Vania merasakan sesuatu yang basah di lehernya.
"Lang...kamu...nangis?!" Vania yang merasa panik lantas langsung melepaskan pelukan Gilang kemudian menatap sosok laki-laki tersebut.
"k-kamu kenapa??" tanya nya.
Gadis itu sangat amat terkejut serta kebingungan saat melihat kedua mata Gilang sudah berurai air mata.
Gilang tidak menjawab.melainkan langsung memeluk tubuh Vania lagi.laki-laki itu kembali menangis sesenggukan di ceruk leher vania.meluapkan semua kegundahan yang dia rasakan saat ini.
Vania yang masih dibuat bingung ingin sekali bertanya banyak hal kepada gilang.namun sepertinya Gilang butuh waktu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan sedikit ragu-ragu Vania membalas pelukan Gilang lalu mengusap-usap lembut punggung lebar laki-laki itu untuk menenangkannya.
"tenanglah?" bisik Vania.
==============
Lorong rumah sakit,,
Adnan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat melihat beberapa paper bag di kedua tangan tunangannya itu.
"sayang, seriusan.itu semua buat Nia??" tanya Adnan.
Sambil berjalan bela tersenyum lebar melihat bawaannya saat ini.
"sebenarnya sih gak buat Nia semua.tapi juga ada yang buat aku.rencananya hari ini aku mau nemenin Nia sambil maraton Drakor?" jawabnya.
Mendengar kata Drakor Adnan langsung menghela nafas panjang.
"kamu itu ya.apa gak bosen nonton Drakor Mulu?" heran adnan.padahal baru semalam dirinya menemani bela nonton Drakor.
"No?! .gak ada kata bosan untuk liat oppa-oppa Korea itu.secara aktor disana kan ganteng-ganteng?" jawab bela.adnan memutar bola matanya dengan malas.
Melihat ekspresi Adnan,bela hanya terkekeh geli.dia sangat tau sekali kalau saat ini Adnan tengah dilanda cemburu karena dirinya selalu memuji aktor di Korea sana.
Seketika bela menghentikan langkahnya lalu dengan cepat menahan tangan Adnan.
"kenapa?" tanya Adnan dengan nada malas.
"kamu cemburu?" goda bela..Adnan tidak menjawab.laki-laki itu kini terlihat mengalihkan pandangan ke arah lain.
Mengetahui sang tunangan benar-benar dilanda cemburu bela pun segera menaruh barang bawaannya di lantai lorong rumah sakit lalu menangkup wajah Adnan.
"dengarkan aku kak?" keduanya saling bertatapan.
"walaupun mereka ganteng-ganteng.tetap kok.cinta aku seutuhnya buat kakak?" ucap bela sambil tersenyum manis ke arah Adnan.
"benarkah?" ucap Adnan dengan masih mode ngambek.
"yes?" bela mengangguk cepat.
"kamu nomor satu di hati aku,forever?" lanjutnya.mendengar ucapan tersebut,Adnan yang tadinya cemberut perlahan mulai mengumbar senyuman manisnya.
"gitu dong,kan jadi makin ganteng kalau kamu senyum gini?" puji gadis itu sambil mengelus kedua sisi wajah Adnan.
"kiss me,please?" ucap Adnan tiba-tiba yang berhasil membuat bela terkejut bukan main.
"jangan ngadi-ngadi kamu.ini rumah sakit?!" dengan tegas bela menolak permintaan aneh Adnan.
"please???" rengek laki-laki itu lagi.
"No!!" Merasa semakin aneh permintaan sang kekasih,bela pun segera mengambil bawaannya tadi dan pergi dari sana.
"sayang?" dengan cepat Adnan berlari mengejar bela.
=============
Gilang melepaskan kembali pelukannya dan menatap lekat wajah cantik alami milik vania.merasa terpikat dengan kecantikan tersebut Gilang pun kembali mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir yang terasa manis itu.
Vania yang sadar akan tindakan Gilang dengan cepat melangkah mundur dan memalingkan wajahnya.
"culup Lang!!..sebentar lagi bela datang ke sini!!...sebaiknya kamu pergi sekarang juga!!" pinta Vania yang baru sadar akan kesalahan mereka berdua.
Bukannya mengiyakan,Gilang justru menolak permintaan tersebut.dan malah melempar pertanyaan kepada Vania.
"apa kamu benar-benar mencintai Revan,Nia?!" tanya Gilang penuh keseriusan.gadis itu terlihat menghela nafas panjang.
"Kamu gak bosan melempar pertanyaan itu terus,hm?" Vania sudah merasa jengah karena Gilang selalu saja bertanya akan hal itu kepada dirinya.
"gak usah bertele-tele.jawab aja pertanyaan aku?" desak Gilang.
Tanpa keraguan dan penuh keseriusan Vania dengan lantang pun akhirnya menjawab.
"iya!!!..aku mencintainya!!!...sangat!!!.." jawab tegas gadis itu.
Mendengar jawaban vania hati Gilang langsung bergemuruh.tidak hanya itu saja,kedua tangannya pun terkepal kuat sampai-sampai buku tangannya terlihat memutih.
Seperti biasa vania tidak buta.dia sangat melihat dengan jelas kemarahan yang dipancarkan oleh gilang.namun sekali lagi,Vania tidak mau terlihat lemah di hadapan Gilang.dia tidak mau perasaan mereka ini jadi bumerang untuk semua pihak
"Kamu udah dengar kan jawabannya.sekarang,silahkan kamu pergi dari sini?!..aku gak mau terjadi keributan karena pertemuan kamu dengan bela?!" ucap tegas Vania sambil tangan kanannya menunjuk ke arah pintu.
Gilang hanya terdiam menatap kesal
setelah itu dirinya melangkah pergi dari kamar rawat Vania.
Melihat Gilang sudah pergi,Vania pun bisa bernafas lega.gadis itu langsung duduk di tepi ranjangnya dengan hati yang berkecamuk.
"maafin aku lang?" gumamnya lirih.
Tidak berselang lama pintu kamarnya kembali terbuka.dan ternyata itu adalah bela yang datang bersama dengan Adnan.
"NIA!!" Dengan penuh semangat bela menghampiri sahabatnya itu lalu memeluknya erat.
Vania tersenyum kemudian membalas pelukan hangat sang sahabat.
"sorry ya,gue agak lama ke sininya.loe tau sendiri kan jalanan Jakarta kek gimana?" ucap bela setelah melepaskan pelukannya.vania tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya.
"gue justru senang banget kalau loe telat bel.gue gak tau gimana jadinya kalau kalian berdua ketemu sama Gilang disini?" gumam Vania dalam hatinya.
================
Sebuah mobil sedan berwarna hitam Baru saja terparkir mulus di halaman rumah kediaman keluarga Gita.tidak lama terlihat seorang laki-laki turun dari mobil tersebut.dengan langkah tegas laki-laki itu bergegas berjalan menuju pintu mobil yang satunya.
"ayo turun,sayang?" ucap Efendy setelah membukakan pintu mobil untuk kekasih barunya itu.Gita tersenyum malu-malu kemudian segera turun dari mobil milik Efendy.
Setelah menutup kembali pintu mobilnya,Efendy segera bergegas menuju bagasi mobil untuk mengambil koper sang kekasih.sementara Gita menatap penuh kerinduan rumah milik orang tuanya itu.
"apa yang kamu lamunkan,hm?" tegur Efendy saat menghampiri Gita sambil membawa koper milik kekasihnya itu.
"gak apa.aku cuma kangen aja sama rumah ini?" balasnya diakhiri senyuman manis.
"kalau gitu tunggu apa lagi,kita langsung masuk ke dalam yuk.aku yakin mereka sama kangen nya kayak kamu?" ucap Efendy.
Tanpa berlama-lama lagi mereka berdua pun melangkah pergi menuju rumah tersebut.
tok-tok tok
"Assalamualaikum?"
Sambil mengucapkan salam Gita terus mengetuk pintu rumahnya berkali-kali.setelah sekian lama menunggu akhirnya pintu pun dibuka oleh seseorang dari dalam rumah.
"cari sia-" perkataan seorang wanita paruh baya itu pun terhenti seketika saat melihat siapa tamu yang datang kerumahnya itu.
"Astaga!!..Gita!!"Dengan rasa kerinduan dan haru mamanya Gita langsung memeluk sang anak.
"ya ampun nak.akhirnya kamu pulang juga.mama kangen banget sama kamu?" ucap nya lalu segera melepaskan pelukannya dan menciumi seluruh wajah sang anak.
"aku juga kangen banget sama mama.kalian sehat-sehat kan?" balas Gita.
"Alhamdulillah, sehat nak?" ucapnya.
Sadar kalau sang anak tidak pulang sendirian,wanita paruh baya itu pun langsung memfokuskan diri melihat ke arah Efendy.
"loh,Endy...kamu..."
Gita menatap bergantian sang mama dan sang kekasih.
"Mmm..mah...kita masuk dulu ya.nanti aku jelasin semuanya?" pinta gita.sang mama mengangguk paham kemudian segera mempersilahkan Gita dan Efendy masuk ke dalam rumah.
=============
Rumah sakit,,
Vania,bela dan Adnan tampak serius menonton drama Korea di kamar rawat.selayaknya bioskop,mereka bertiga menonton dengan menggunakan proyektor yang dibawa oleh bela dan mematikan seluruh penerangan dikamar tersebut.sementara mereka duduk dengan tenang di sofa yang ada di sana.
Ketika ketiganya tengah asyik menonton tiba-tiba saja ponsel milik bela berdering.vania yang menyadari hal itu langsung memberitahukan sang sahabat.
"bel,hp loe bunyi tuh?" ucap Vania.
Bela yang saat itu tengah menyuapi keripik singkong ke mulut Adnan langsung mengalihkan pandangan ke arah hp yang tergeletak di atas meja.
Seketika bela langsung menghentikan aktivitasnya dan buru-buru mengambil ponselnya tersebut.
"siapa yang telpon,sayang?" tanya Adnan penasaran.
"mama kak?" jawabnya singkat.
Karena tidak ingin mengganggu aktivitas menonton Vania dan juga Adnan.bela pun meminta izin keluar kamar.
"aku keluar bentar ya kak?" ucap bela.adnan mengangguk pelan dan mempersilahkan kekasihnya itu keluar ruangan.
Sepeninggal bela dari ruangan tersebut,Adnan sedikit melirik ke arah vania.kemudian perlahan merapatkan tubuhnya ke samping Vania.
"khem!!..Nia?" panggil adnan.kini keduanya saling bertatapan.
"kenapa kak?" tanya Vania keheranan.
"aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" Vania pun langsung mengangguk pelan.
"tanya apa,kak?" ucap gadis itu sambil menyantap keripik singkong.Adnan tampak terdiam sejenak namun setelahnya dia kembali buka suara.
"apa kamu masih berhubungan dengan Gilang?" tanya nya.
Deg
Jantung Vania langsung berdebar kencang saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Adnan barusan.
"kenapa kakak tanya tentang hal itu?" ucap Vania setenang mungkin.dia tidak mau membuat Adnan curiga dengannya.
Adnan menghela nafas panjang kemudian menatap Vania penuh keseriusan.
"tadi.. sebelum aku dan bela ke kamar rawat kamu.aku gak sengaja liat seorang laki-laki keluar dari sini.dan dari postur tubuhnya aku sangat mengenali sosok itu.dan itu adalah Gilang?" jelasnya.
Bersamaan dengan tubuh Vania yang menegang,keripik singkong yang ada ditangan gadis itu pun terjatuh seketika.
"jadi..kak Adnan udah liat Gilang disini??" batin vania.
"ka-kakak salah liat kali.m-mana mungkin juga Gilang ada di sini?" melihat Adnan menatapnya penuh selidik Vania pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"aku gak mungkin salah liat Nia?" Adnan memang tidak melihat jelas rupa laki-laki yang keluar dari kamar rawat vania.tapi Adnan yakin seratus persen kalau postur tubuhnya mirip dengan postur tubuh Gilang.
"aku sangat mengenali Gilang nia.bertahun-tahun kami bersama.dan aku hafal sekali dengan postur tubuhnya?" lanjut Adnan.
Melihat ada yang aneh dengan sikap yang ditunjukkan oleh Vania,membuat Adnan semakin yakin bahwa ada yang disembunyikan oleh gadis tersebut.
"nia.. katakan dengan jujur sama kakak.apa ada hal yang kamu sembunyikan dari kami?" tanya adnan penuh keseriusan.
Dalam keterdiamannya dan dalam pertimbangan yang matang,akhirnya Vania buka suara perihal Gilang.
"i-iya.kakak gak salah liat.laki-laki itu... benar-benar Gilang?" jawabnya.
"dia adalah orang yang gak sengaja nabrak aku di jalan.d-dan udah sedari kemarin juga dia jengukin aku dirumah sakit?" tidak hanya hal itu saja yang dia ceritakan kepada Adnan.vania juga menceritakan awal pertemuannya dengan Gilang,Raisa,dan Nadia di surabaya.bahkan perihal kontrak kerja sama dengan perusahaan milik Gilang.
Setelah mendengar semua penjelasan Vania seketika Adnan terdiam menatap gadis tersebut.sambil mengusap wajahnya dengan gusar Adnan kembali melempar pertanyaan kepada Vania.
"apa Revan tau tentang masa lalu kamu dengan Gilang?" Dengan perlahan Vania menggelengkan kepalanya.
"Revan belum tau kak.dan kalau bisa jangan sampai dia tau.aku gak mau hal ini merusak hubungan aku sama dia.aku juga tadi udah bilang ke Gilang buat gak nemuin aku lagi kok.jadi kakak tenang aja?" ucapnya.
"kamu yakin semua ini akan kelar begitu aja?" celetuk Adnan.
"m-maksud kakak???" Adnan menghela nafas panjang kemudian menatap penuh keseriusan sosok vania lagi.
"nia.kita sama-sama tau sifat Gilang.dia itu laki-laki yang nekat dan penuh ambisi.kakak yakin dia gak akan semudah itu melepaskan kamu.terlebih lagi cinta dia ke kamu itu sangat besar?" disini adnan bukan ingin menakut-nakuti vania.sekali lagi,Adnan sangat mengenal sosok Gilang.
"yang dibilang kak Adnan ada benarnya juga.gilang gak akan mungkin berhenti ganggu aku gitu aja.pasti setelah kejadian tadi dia akan kembali datangi aku lagi?" batinnya.
"nia?" tegur adnan.vania yang saat itu tengah melamun kembali berfokus kepada Adnan.
"khem!!...kakak tenang aja.untuk masalah ini biar aku urus sendiri?" ucapnya meyakinkan.
"baiklah.kakak percaya sama kamu.tapi satu hal yang harus Kamu ingat.kalau ada apa-apa bilang sama aku ya?" sambil tersenyum lembut Vania menganggukkan kepalanya.
Share this novel