Series
14789
Surabaya,,,
Tok Tok Tok
Revan yang saat itu tengah terfokus pada laptopnya langsung mengalihkan perhatiannya ke arah pintu ruangan kerjanya.
"masuk?" seru Revan.
Tidak berselang lama pintu pun terbuka, dengan langkah tegas tristan sang asisten berjalan menuju meja kerja bos nya.
"maaf pak.di lobby ada seseorang yang ingin bertemu dengan bapak?" ucap Tristan.
"siapa??" tanya Revan.
"tidak tau pak.beliau hanya bilang kalau dia teman dari nona Vania?" jawabnya.
"perempuan?" tanya Revan lagi.
"laki-laki pak?" jawab cepat Tristan.
Revan terdiam sejenak memikirkan orang tersebut.ada sedikit keheranan di dalam hatinya,karena setau dirinya teman dari Vania itu perempuan semua tidak ada yang laki-laki.
"suruh dia masuk?" titahnya.
Tristan pun mengangguk paham kemudian segera pergi ke luar ruangan Revan untuk memanggil orang tersebut.
Selang sepuluh menit kemudian pintu ruangan Revan kembali di ketuk.dengan sigap laki-laki itu pun segera membukakan pintu ruangannya.
"selamat siang pak Revan?" sapa orang itu sambil tersenyum ramah.
"selamat siang juga pak?" balas Revan dengan raut wajah kebingungan.
"boleh saya masuk?" ucap orang itu.
"ah iya,boleh.silahkan masuk?" Revan segera mempersilahkan orang asing itu masuk ke dalam ruang kerjanya.
"silahkan duduk?" titah Revan.
Sambil sesekali melihat sekeliling ruang kerja Revan,orang itu pun segera menduduki kursi kosong yang ditunjuk oleh revan.saat bersamaan itu juga Revan menduduki kursi kekuasaannya.
"maaf sebelumnya, kalau boleh tau siapa nama anda??dan dari mana anda mengenal tunangan saya??karena setau saya Vania sama sekali tidak punya teman laki-laki??" tanya Revan kepada laki-laki bersetelan jas berwarna coklat itu.
Laki-laki itu kembali tersenyum ramah kemudian mengulurkan tangan kanannya kehadapan Revan.
"perkenalkan nama saya dion.saya teman Vania sewaktu kuliah dulu?" ucapnya.
Revan Terdiam sejenak menatap uluran tangan dion.tidak lama dirinya menjabat uluran tangan tersebut.
"revan?" balasnya.
"baiklah kalau begitu saya langsung ke pokok intinya aja.kedatagan saya kesini untuk memberitahukan informasi penting kepada anda?" ucap Dion penuh keseriusan.
"informasi penting?" ulangi revan.dion langsung mengangguk cepat.
"informasi mengenai Vania,tunangan anda?" ucapnya.
"informasi apa yang ingin anda sampaikan?" tanya Revan sambil menatap serius laki-laki dihadapannya.
"batalkan pernikahan kalian.vania bukan wanita baik-baik.dia udah berselingkuh di belakang anda?" jelas Dion.
Bukannya merasa tersinggung ataupun marah,Revan justru tampak santai menanggapi omongan tersebut.bahkan dia terlihat tertawa kecil sambil menatap Dion.
"kalau kedatangan anda kesini hanya untuk menghancurkan hubungan saya dengan Vania maaf,usaha anda gagal.saya sangat mengenal sekali Vania.dan tunangan saya itu,bukanlah wanita yang seperti Anda katakan tadi?" ucap Revan.
Melihat respon yang ditunjukkan oleh Revan membuat Dion langsung tersenyum sinis.
"saya sudah duga pasti respon anda akan seperti ini.but...sayangnya saya punya banyak bukti akan hal itu?" dion mengambil sebuah amplop coklat dari dalam saku jasnya kemudian melemparkannya ke atas meja kerja Revan.
Revan segera melirikan matanya ke arah amplop yang diberikan oleh Dion.
"saya lihat anda itu orang baik.sangat disayangkan jika harus di khianati seperti ini.apalagi....anda sangat mengenal sekali sosok laki-laki yang menjadi selingkuhan tunangan anda itu?" Revan menatap dion dengan sedikit kesal.sementara laki-laki itu tampak sangat santai melihat ekspresi Revan.
"terserah anda mau percaya atau tidak.tapi yang jelas saya sudah berikan buktinya kepada anda.so,liat aja sendiri?" Dion menatap Revan selama beberapa detik sambil menunjukkan smirk nya.
"calm down van.ini pasti cuma akal-akalan orang itu aja.Nia bukan wanita seperti itu?!" gumam Revan dalam hatinya.
"kenapa diam saja bapak Revan yang terhormat.anda tidak penasaran kah dengan isi didalam amplop itu?" pancing Dion ketika melihat Revan hanya terdiam menatapnya.
Pandangan Revan kembali tertuju pada amplop coklat di atas meja kerjanya.dengan sedikit ragu Revan mengambil amplop tersebut dan menatapnya lamat-lamat.
"kayaknya gak ada salahnya kalau aku liat.untuk memastikan juga omongan orang itu?" batinnya.terlihat Revan menghela nafas panjang sebelum membuka amplop coklat tersebut.
Sambil berdo'a hal yang baik-baik Revan pun membuka amplop dengan perlahan kemudian mengambil barang yang ada didalam amplop itu.
"apa-apaan ini?!" Seketika itu juga sepasang mata Revan membola sempurna.jantungnya berdebar kencang.dia sangat amat terkejut saat melihat beberapa lembar foto Vania bersama dengan seorang laki-laki.
"Gak mungkin..ini...Gilang!!!" tanpa berkedip sedikitpun Revan terus mengamati beberapa momen pertemuan tunangannya itu dengan gilang.mulai dari cafe,taman,pantai,hotel,kantor dan yang terbaru saat Vania berada dirumah sakit.
"yupz,,, tepat sekali.dia adalah Gilang.selingkuhan tunangan anda itu.mungkin terdengar gak masuk akal.karena Gilang sudah punya istri dan anak.tapi apakah anda tau kalau dulunya Vania dan Gilang adalah sepasang kekasih?" mendengar penuturan tersebut sontak membuat Revan semakin di buat terkejut.
Apa-apaan ini...kenapa dia baru tau kalau Gilang dan Vania pernah menjadi sepasang kekasih.bukan kah mereka...
Melihat ekspresi Revan lagi bisa Dion tebak kalau laki-laki itu belum mengetahui kabar ini.dan itu sangat menguntungkan bagi Dion untuk semakin mengompori Revan.
"sepertinya Vania belum menceritakan semua hal kehidupan pribadi nya kepada anda,bapak Revan.tapi tidak apa-apa.biar saya yang menjelaskan semuanya?" dion pun memulai ceritanya.
"dulu itu Gilang Aditya Pratama adalah dosen pengganti dikampus kami.dan karena suatu kejadian akhirnya Vania dan Gilang menjalin hubungan.tapi...sayangnya hubungan mereka tidak mendapatkan restu dari ayahnya Gilang.sampai suatu hari mereka berdua putus dan gilang di paksa menikah dengan Raisa?" dion menjeda ceritanya dan melihat ekspresi Revan yang terlihat keheranan serta terkejut.
"selama lima tahun mereka tidak pernah bertemu lagi.sampai akhirnya dengan takdir Tuhan mereka dipertemukan kembali melalui anaknya Gilang,yaitu nadia.dan...seperti bukti yang anda liat barusan.mereka berdua diam-diam sering bertemu di belakang anda.bahkan perusahaan Gilang kini menjadi investor di perusahaan orang tuanya Vania di Surabaya?"
Rahang Revan langsung mengetat sementara satu tangannya terkepal kuat.dirinya benar-benar dibuat syok dan tidak menyangka dengan cerita yang baru saja dia dengar.didalam hatinya Revan bertanya-tanya kenapa Vania tega melakukan hal tersebut dibelakangnya.apa salah dirinya??? padahal dirinya sangat tulus mencintai Vania.
"sekali lagi.saya bicara semua ini bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi saya.hanya saja tindakan mereka berdua sudah benar-benar keterlaluan.terlebih lagi kalian akan segera menikah,bukan?" ucap Dion.
Merasa rencananya dalam menghasut Revan sudah berhasil,Dion pun memutuskan untuk pergi dari sana.
"sepertinya anda butuh waktu untuk mencerna semua ini.kalau begitu saya pamit undur diri?" dion segera beranjak dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Revan yang masih setia terdiam penuh kemarahan.
=============
Jakarta,,
Dua hari setelah Vania sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.gadis itu pun langsung menjalankan aktivitasnya di perusahaan papa nya.
"nia? " panggil pak Teddy setelah meeting berakhir.
Vania yang baru saja selesai membereskan berkas-berkas meeting nya langsung berjalan menghampiri sang papa.
"iya,pah.kenapa?" tanya nya.
"gimana kabarnya Revan,nak?kamu bilang dia di Surabaya gak lama.tapi kok sampai sekarang dia juga belum balik ke jakarta?" tanya pak Teddy.
Vania sedikit terkejut ketika mendengar ucapan sang papa.astaga,kenapa dirinya sampai terlupa akan Revan.
"nia?!" tegur pak Teddy.
"ah i-iya pah?" ucap Vania sedikit terbata-bata.
"hubungan kalian berdua baik-baik aja kan?" tanya pak Teddy lagi sambil menatap penuh selidik sang anak.
"baik kok pah.hubungan kita gak ada masalah.mungkin aja Revan lagi banyak kerjaan makanya belum bisa ke jakarta?" sejujurnya sejak beberapa hari lalu Vania dan Revan belum ada komunikasi lagi.bahkan Vania sendiri lupa akan Revan setelah pertemuan terakhir nya dengan Gilang di rumah sakit kemarin.namun tidak mungkin dia berkata demikian kepada papa nya.nanti yang ada papanya akan marah-marah kepada dirinya.
"ya sudah kalau begitu.papa cuma mau memastikan lagi keadaan revan.ingat sayang,sebentar lagi pernikahan kalian berdua.papa sama mama gak mau terjadi sesuatu yang buruk dengan hubungan kalian?" Vania mengangguk paham.
"iya pah.nia ngerti.nanti Nia bakal hubungi Revan?" ucapnya.
Pak Teddy mengangguk kecil kemudian segera keluar dari ruangan rapat.sementara Vania langsung mengambil hpnya dan mulai menelpon Revan.
tuutt...tuutt...
Karena panggilan telponnya tidak diangkat,Vania pun mencoba untuk menelpon Revan sekali lagi.
Tuutt...tuutt..
Sama seperti sebelumnya panggilan Vania tidak direspon oleh kekasihnya itu.
"ish!!.. Revan kemana sih?!..kok panggilan gue dari tadi gak direspon?" Karena tidak membuahkan hasil juga Vania pun memutuskan untuk menelponnya setelah pulang kerja.
=============
Keesokan harinya,,,
Revan menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah.setelah tiga jam perjalanan akhirnya Revan sampai juga di rumah milik nya yang ada di jakarta.
Laki-laki dewasa itu terlihat menghela nafas pelan.sudah lama sekali dirinya tidak menjenguk rumah hasil jeripayahnya itu.
Beberapa bulan lalu rumah itu memang sedang di renovasi.tapi sekarang rumah tersebut sudah selesai dan siap huni.karena seperti janjinya dulu rumah itu akan dia tempati bersama dengan Vania setelah mereka menikah.
Dengan langkah gontai Revan turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu utama rumah tersebut.
Ceklek
Revan membuka pintu utama rumah itu.terlihat kondisi didalam rumahnya sangat rapih dan bersih.karena sebelum rencananya pulang ke Jakarta Revan meminta ibu panti mencarikan seseorang untuk membersihkan rumahnya.
Ngomong-ngomong sampai detik ini Vania belum mengetahui kepulangan kekasihnya itu.karena memang Revan sengaja untuk tidak memberitahukannya.
Dia masih sangat syok dan sedih saat kejadian dimana dion membeberkan fakta tentang Vania dan Gilang.jujur dirinya masih tidak menyangka kalau gadis yang dicintainya itu sudah mengkhianati cinta dan kepercayaannya.
Sambil menyeret kopernya bawaannya,revan berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
=============
Dirumah kediaman pak Gunawan,terlihat Gilang tengah sibuk menelpon jason.dalam sambungan teleponnya Gilang sangat serius membahas perusahaannya yang saat itu sedang ada sedikit masalah.
"cepat selidiki karyawan itu.cari semua bukti yang membenarkan kalau dia terlibat dalam tindak korupsi di perusahaan kita?" ucap gilang tegas.
"baik pak.saya akan segera selidiki semuanya?" jawab Jason.
"besok siang saya akan pulang ke surabaya untuk memantau masalah ini?" ucap Gilang lagi setelah itu dirinya langsung memutuskan panggilan telepon tersebut.
"sial!!... kenapa bisa kecolongan kayak gini!!" dengan gusar Gilang mengusap wajahnya.
Tidak lama kemudian datanglah Raisa berjalan menghampiri sang suami yang duduk di bangku taman halaman belakang rumah pak Gunawan.
"telponan sama siapa mas?" tanya Raisa yang sempat melihat sang suami menelpon seseorang sebelum dirinya ke halaman belakang.
Gilang melirik kilas sosok Raisa yang tengah berdiri di depannya,namun setelah itu pandangannya terfokus pada laporan keuangan perusahaannya yang dikirim Jason ke email di laptopnya.
"Jason?"
Raisa mengangguk pelan setelah itu dirinya duduk di samping sang suami.
"mas,coba deh elus per..-" saat Raisa ingin meraih tangan kanan Gilang,tiba-tiba saja laki-laki itu menghindarinya dan segera beranjak dari tempat duduknya.
"maaf sa,saya lelah.mau istirahat?" tanpa menatap Raisa lagi Gilang lansung berjalan meninggalkan taman.
Mendapat perlakuan dingin tersebut Raisa tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya.
"kenapa susah banget sih mas buat dapetin perhatian dari kamu?!..apa semua ini karena perempuan itu?!..." ucap kesal Raisa.
Sedetik kemudian pandangan Raisa tertuju kearah perutnya.
"kamu tenang aja nak.mama akan berusaha untuk mengambil hak kita atas papa kamu.mama gak akan ngebiarin wanita itu merebut papa dari kita?" ucapnya sambil mengelus-elus perutnya yang sedikit membuncit.
"aku gak akan ngebiarin wanita itu ngerebut kamu mas.sampai kapan pun kamu milik aku!!" batinnya.
Share this novel