BAB IX

Horror & Thriller Completed 15841

Bau apa ini? Dimanakah diriku sekarang? Apa yang terjadi? Ada apa dengan tubuhku? Tubuhku membusuk. Apa-apaan ini? Aku seperti mayat. Bau busuk menikam penciumanku. Aku merasa lemah, tapi tubuhku tak terluka. Siapa yang membusuk? Siapa yang telah mati? Baunya begitu mengganggu. Kenapa bisa seperti ini?

Baunya.. bau sekali. Mardian menggeliat di atas tempat tidurnya. Jemarinya meraba-raba udara sebelum sampai ke hidungnya dalam kondisi setengah sadar. Nafasnya berantakan karena bau ini, terjebak antara kebutuhan dan ketaknyamanan di dalam hidungnya.

Ah, setan baunya.

Mardian menggerakkan kepalanya dengan tubuh yang terbenam di kasur. Ia masih tersangkut dalam sisa lelap sebelumnya. Tubuhnya terasa berat dan ringan bak di awang-awang dalam waktu yang bersamaan. Meski demikian, Mardian mulai bisa merasakan asin dari iler di sudut bibirnya dan matanya perlahan membuka untuk menggapai alam nyata.

“Bau apa ini?”

Mardian seketika duduk di atas kasur. Ia mengusap iler yang belum mengering. Baginya, kondisi ini sudah cukup untuk meyakinkan diri bahwa bau yang ia tangkap bukan racun mimpi belaka. Mardian menutup hidungnya. Aroma ini begitu jahat dan tak termaafkan.

Pfft! Ini bukan bangkai tikus! Ini bangkai dari hewan yang sangat besar! Mardian turun dari tempat tidur dan duduk di kasur. Sambil memulihkan kesadarannya, Mardian melongok ke kolong tempat tidurnya. Gelap. Mardian mengambil senter di meja. Setelah itu, Ia menyisir sekeliling ruang kamar termasuk ke kolong. Hasilnya, ia tak menemukan bangkai apapun.

Sampai pada satu tempat yang belum ia periksa. Bayu.

Mardian memakai sandalnya dan berjalan ke arah tempat tidur anak semata wayangnya yang masih mengigau sepanjang malam. Namun, baru beberapa langkah ia ke sana, alis Mardian semakin mengernyit. Ia melangkah lebih dekat lagi. Tanpa diduga, langkah itu justru makin membuatnya tak tahan, seolah tangan yang ia miliki tak cukup untuk menjaga penciumannya. Semakin dekat dirinya ke tempat tidur Bayu, semakin tajam dan kasar bau itu menerjangnya. Mual. Mardian merasa, bau itu tidak lagi hanya menyerang hidungnya, tapi juga masuk ke mulut dan seluruh tubuhnya, seperti menenggelamkannya ke dalam pusaran penuh bangkai manusia.

Akhirnya, terbukalah tabir misteri ini. Mardian yang telah sampai ke tempat tidur Bayu seketika mundur. Hawa dingin yang berasal dari ketakutannya menggigit seluruh kulit. Ia hampir-hampir tidak percaya bahwa ia sudah cukup bangun.

Di dalam tempat tidur dengan panjang satu meter itu, sosok yang tengah terbaring seperti bukan Bayu. Dada Mardian bergerak kembang kempis, cepat dan jelas sekali. Tidak hanya sekali ia mencoba untuk menampar pipinya dan menggosok matanya. Kendati begitu, apa yang ia lihat tetap sama. Sosok itu seperti bukan Bayu Putra Perdana.

Mardian berlari membuka pintu kamar. Sambil masih menggenggam senter, ia menuju ke pintu kamar Bu Lastri dan menggedornya.

“Sekar! Ibu!”

Mardian menggedor tanpa ampun. Akhirnya, ia mendengar suara Bu Lastri dari dalam. Apa yang seketika wanita itu katakan juga sama seperti Mardian tadi. Bau.

Bu Lastri membuka pintu dengan tangan yang menutup hidungnya. Namun, sebelum ia sempat bertanya, Mardian sudah menyelanya.

“Bayu! Bayu!”

Mardian hanya berdiri sambil menatap mertuanya. Sekar langsung keluar dengan posisi tangan yang sama dengan dua orang lainnya.

“Bau apa ini, mas?!”

Di saat yang lain masih terpaku, Sekar berlari masuk ke kamarnya sendiri. Ketika ia sudah di dalam, baik Mardian dan Bu Lastri segera mendengar jeritannya.

Mardian dan Bu Lastri menyusulnya. Namun, Sekar justru melangkah hendak keluar kamar.

“Urus anak setanmu itu, mas!”

Sekar berlari menuju kamar mandi. Tampak kerlipan butir-butir air mata yang menggenang. Mardian mengajak mertuanya untuk masuk. Namun, Bu Lastri tak melangkahkan kakinya. Ia menggeleng menatap Mardian. Tak ada pilihan lain, Mardian berjalan sendiri menuju tempat tidur anaknya. Ia menatapnya sebentar sosok yang terbaring lalu mengangkatnya. Dari pintu, Bu Lastri tak bisa melihat apa yang terjadi. Tubuh Mardian menutupi Bayu dalam gendongannya.

“Apa apa, Mardian!?”

Mardian membalikkan tubuhnya. Sekarang ia menghadap Bu Lastri, memandang wanita tua itu dengan pipi yang sudah basah. Tubuh kurus pria itu berguncang menahan semburan tangis yang menyesak dada.

“Aku tidak bisa melihatnya dari sini!”

Mardian melangkah mendekat. Langkahnya gontai dan penuh perih. Makin lama, sosok yang digendong Mardian mulai terlihat olehnya.

“Bu, apa yang.. apa yang terjadi.. pada.. pada anak kita?” Tangis Mardian meledak. Suaranya gemetar dan terbata-bata. “Apa yang terjadi ini...?!”

Bu Lastri hampir roboh di tanah. Ia segera menggunakan tangannya untuk menopang diri. Namun, dirundung rasa tidak percaya dan prihatin, wanita itu akhirnya ambruk. Air mata yang tak tertahan telah jatuh ke tanah. Senter di tangannya terguling, seolah sudah habis kekuatan jiwanya menghadapi kegelapan yang begitu membekukan.

“Bayu...”

Saat ini baru pukul tiga pagi, saat-saat dimana manusia bisa melanjutkan mimpi dalam bantal-bantal mereka atau bangun untuk mulai mempersiapkan hari dengan takbir tahajjud. Namun di dalam rumah itu, di dalam kamar itu, segala sesuatunya terjadi dengan tak wajar. Bu Lastri kehilangan kesadarannya. Sekar menghilang ke kamar mandi dan mungkin tengah mengutuk-ngutuk Bayu serta Mardian. Sementara Mardian sendiri, dirinya hanya bisa berdiri dihujam tangis. Dalam pelukannya, Bayu masih terlelap. Mardian menahan nafas agar tangan kirinya bisa ia lepaskan dari mulut dan hidungnya. Pelan, pria itu membelai kulit wajah anaknya. Apa yang ia rasakan bukan lagi kulit halus dan lembut penuh kehangatan khas seorang bayi, melainkan lapisan-lapisan kulit mati yang siap mengelupas dan menggantinya dengan kulit baru. Bukan hanya wajah. Seluruh tubuh Bayu juga mulai mengelupas. Kulit-kulit mati yang berwarna putih itu bagai pecahan-pecahan beling yang berserakan, bersudut, keras, dan tebal di sekujur tubuh.

“Ya Allah... Ya Allah...”

Mardian sesenggukan mendekap Bayu. Nama Tuhan yang terucap dari bibirnya begitu berat dan memenuhi jiwanya, seakan Tuhan sedang berdiri di depannya, menatap pria itu dengan tatapan ilahiah yang sangat gelap, yang siap menghancurkan apapun yang Dia kehendaki, yang siap menghancurkan hidup Mardian lebih dari yang dia kira.

***
 
Bu Lastri membuka matanya ketika ia merasakan kehangatan yang lembut menyentuh kulitnya dan mencium bau yang menghembus ke hidungnya. Ia menutup hidungnya dengan tenaga yang lamat-lamat. Saat kelopak matanya membuka, ia melihat dunia berputar. Ia menutup lagi matanya untuk menenangkan diri sambil mencoba bernafas pelan melalui hidung yang tertutup. Seketika bayangan cucunya muncul dari kegelapan pikirannya. Bayangan sosok Bayu yang sama sekali tak pernah ia bayangkan. Bu Lastri membangkitkan dirinya, duduk, dan berjuang memahami dimana ia saat ini.

Ia duduk di atas kasurnya. Ini adalah kamarnya sendiri dan kehangatan yang menyentuh kulitnya adalah cahaya matahari melalui jendela itu. Dunia masih berputar pelan, kadang berputar ke kiri lalu tanpa aba-aba putaran beralih arah ke kanan. Ia melihat jam di dinding. Hampir pukul delapan pagi.

“Mardian!” Teriaknya. Namun, suaranya tak sepenuhnya bertenaga. Ia berdeham dan mencoba lagi.

“Mardian! Sekar!”

Lalu, seorang pria dengan kain yang diikat menutup mulut dan hidungnya terlihat di pintu seperti tergopoh-gopoh dari sesuatu. Ia lantas melangkah masuk.

“Ibu sudah siuman?”

“Mardian?”

“Iya, ini Mardian. Baunya masih belum hilang. Ibu bagaimana kondisinya?”

Mardian memijat bahu dan membelai punggung Bu Lastri.

“Bawa aku ke belakang saja, Mardian. Aku tidak bisa di sini.”

Mardian membantu Bu Lastri untuk berdiri. Mereka lalu berjalan ke pintu.

“Sekar mana?”

“Dia...dia sudah berangkat. Tadi pagi setelah ia merasakan semuanya, dia langsung bersiap dan pergi sendiri. Sudahlah bu, jangan terlalu dipikirkan.”

“Bayu bagaimana?”

Mardian memapah Bu Lastri ke halaman belakang rumah.

“Dia sekarang di kamarnya. Sepertinya, Bayu sudah tidak panas seperti kemarin-kemarin lagi. Hanya saja, saya tidak tahu apa yang telah terjadi padanya.”

Mereka sampai di halaman belakang, sebuah tanah yang tak begitu lapang, beberapa meter sebelum memasuki kebun. Mardian lalu berlari masuk kembali ke dalam rumah. Tak lama, ia keluar lagi sambil membawa secangkir teh dengan dua kursi plastik dari ruang tengah.

“Bagaimana? Di sini tidak begitu bau, bukan?”

Mardian menyerahkan secangkir teh ke Bu Lastri. Setelah menerimanya, wanita itu segera duduk menghadap ke kebun. Mardian ikut duduk di sampingnya.

“Apa yang terjadi sebenarnya?”

“Saya terbangun saat penciuman saya tiba-tiba terganggu. Bau itu begitu busuknya sampai-sampai tenggorokan saya merasa pahit, asin, dan...aneh saja. Setelah saya cari, ternyata bau itu berasal dari tubuh Bayu. Kulitnya retak-retak seperti akan mengelupas. Tadi saya memandikan Bayu, berharap agar baunya bisa hilang. Ternyata tidak. Saya tidak bisa menghilangkan bau itu.”

Bu Lastri diam. Namun, Permukaan air teh di cangkir yang dipegangnya bergelombang kecil. Mardian meliriknya sebentar dan menatap kebun lagi.

“Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Mardian.

“Kita hanya bisa minta bantuan Ning Ayu.” Suara Bu Lastri bergetar seperti permukaan air itu. Ia lalu memandang Mardian.

“Temuilah Ning Ayu. Mintalah dia untuk datang. Sebelum segalanya menjadi neraka, kita minta dia untuk menjelaskan semua yang dia ketahui tentang Onum. Hari ini dia harus menjelaskan semuanya tentang Onum!”

Beberapa menit kemudian, Mardian sudah menjalankan sepedanya keluar dari halaman depan rumah menuju jalan utama desa. Segera ia bertemu dengan salah satu warga desa yang mengendarai motor pelan-pelan. Mardian meliriknya. Saat orang itu melewati rumah Mardian, kepalanya seketika menengok ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu. Setelah itu, ia mengibas-ngibaskan tangan kirinya di depan hidung dan menaikkan kecepatan motornya. Melihat hal itu, Mardian memperkuat kayuhannya seolah ia tak ingin segala sesuatunya tertunda.

Di rumah sang dukun, Mardian ternyata tidak mendapatkan waktu yang bagus. Ada seorang pasien di sana dan Mardian harus menunggu. Akhirnya, ia tak punya pilihan lain. Mardian menjatuhkan pantatnya ke kursi ruang tamu, menunggu pasrah tanpa bisa mempercepat apapun yang ia butuhkan.

Setelah hampir setengah jam ia menunggu, pasien yang baru ditangani keluar dari kamar. Mereka menganggukkan kepala kepada Mardian. Mardian hanya merespons senyuman kecil dan berdiri sambil melongok-longok ke dalam.

“Mbak Ning!”

Mardian berlari menghampiri Ning Ayu segera setelah ia melihatnya di dalam sana. Mardian menerobos ruang tengah dan berdiri di depan sang dukun. Mardian menceritakan semuanya dan memaksa wanita itu untuk datang ke rumahnya sekarang juga.

“Tolonglah, Mbak Ning. Cuma Mbak Ning yang bisa menolong kami.” Rengek Mardian dengan muka memelas, tertunduk tak berdaya.

Tanpa perlu berdandan, Ning Ayu akhirnya meninggalkan rumahnya untuk menuju rumah Mardian. Namun sebelum itu, Mardian sudah memperingatkannya untuk menggunakan masker.

Begitu sampai di rumah, Ning Ayu menutup hidungnya, seolah masker motor yang ia kenakan tidak ada gunanya sama sekali. Ning Ayu berlari kecil ke arah pintu dan mengetuknya.

“Mbak Ning! Masuklah, mbak!” Bu Lastri muncul dengan mulut dan hidungnya tertutup kain kotak-kotak yang biasanya ia gunakan sebagai kain pembersih meja makan. Ning Ayu langsung masuk ke kamar Mardian.

Pertama kali ia melihat wujud Bayu sekarang ini, matanya terbelalak. Ia mendekat ke arah tempat tidur dengan perlahan. Di atas kasur, Bayu mempertemukan tatapannya dengan milik Ning Ayu.

“Bayu sudah seperti ini sejak sebelum subuh tadi. Kami tidak tahu apa yang terjadi padanya.”

Ning Ayu menyentuh kelopak mata Bayu dan membukanya lebar. Ia mengamati mata itu.

“Bu Lastri!” Serunya.

“Ya?”

“Sejak kapan matanya berubah jadi cokelat seperti itu?”

Bu Lastri mendekat dan ikut berdiri di samping tempat tidur.

“Cokelat? Kami tidak tahu. Mungkin sejak ia mengeluarkan bau ini. Sejak tadi pagi. Sebenarnya, saya sendiri tidak menyadarinya. Memang apa yang terjadi pada Bayu?”

“Mata Bayu lebih cokelat dari ketika terakhir kali saya melihatnya. Seharusnya kalian lebih bisa jeli dibanding saya.”

“Maafkan kami, Mbak Ning. Mau bagaimana lagi. Hanya saya dengan mata yang sudah tua ini yang sering mengurus Bayu. Mardian dan Sekar bekerja. Mereka juga tidak punya banyak waktu untuk Bayu.”

Ning Ayu memandang Bu Lastri. Lama. Lalu, mengalihkannya kembali ke Bayu.

“Seharusnya mereka yang meluangkan waktu lebih banyak untuk anak mereka sendiri, kecuali mereka ingin memutus hubungan batin dengan Bayu.”

“Maafkan keluarga saya, Mbak Ning. Maafkan kami...”

Suara Bu Lastri yang lemah mencairkan emosi Ning Ayu. Wanita itu menatap ke luar jendela. Lalu, ia mengeluarkan telepon genggamnya.

“Saya mau telepon teman saya sebentar.”

Ning Ayu berjalan ke teras rumah. Di luar, ia melihat seorang warga berjalan melintas sambil menutup hidungnya.

“Bau apa ini, mbak?!”

Ning Ayu terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari orang asing itu. Ia hanya menggelengkan kepala. Untungnya, orang itu segera melanjutkan langkahnya.

“Halo, Sus!”

Ning Ayu telah tersambung dengan temannya, Suseno.

“Iya, ada apa, Yu?”

“Ini berhubungan dengan Onum. Aku mau tanya, apakah dalam mitos itu dikatakan bahwa Onum bisa mengalami perubahan? Uh, berubah wujud, maksudku.”

“Berubah bagaimana?”

“Hari ini, Onum mengeluarkan bau busuk dari tubuhnya. Kulitnya retak di sekujur tubuhnya dan seperti akan mengelupas. Lalu, matanya sekarang berwarna cokelat. Kau tahu apa sebenarnya yang telah terjadi?”

“Tunggu, tunggu...mengelupas bagaimana? Seperti ular, begitu?”

“Ya...ya...seperti itulah...”

Suseno diam. Dari kejauhan, Mardian terlihat memasuki halaman rumah.

“Mitos itu mengatakan bahwa Onum akan menjadi iblis sepenuhnya. Mungkin apa yang kau katakan tadi adalah proses Onum menjadi iblis sepenuhnya itu.”

Ning Ayu tersentak. Mardian yang berjalan mendekat ikut melotot melihat ekspresi Ning Ayu tanpa tahu apa yang sedang dibicarakan.

“Apa yang harus aku lakukan, Sus? Aku merasa kematian kami begitu dekat.” Ning Ayu menelan lidahnya.

“Jangan panik! Kita bisa pikirkan jalan keluarnya bersama-sama. Hm...begini saja. Setelah ini aku akan mencoba menghubungi ki Daud. Semoga dia bisa membantu kita.”

“Baiklah. Kalau bisa, kau buat janji dengannya. Kita bertiga harus segera bertemu secepatnya. Secepatnya, Sus...”

Dua kata terakhir Ning Ayu terucap dengan nada lirih dan lemah. Sekarang ini, ia hanya bisa berharap pada Suseno dan yang paling utama, ki Daud.

Setelah percakapan berakhir, Ning Ayu kembali ke kamar. Mardian dan Bu Lastri sudah menunggunya di sana. Mereka berdua menatap Ning Ayu. Namun, Bu Lastri berdiri dari duduknya di tepi tempat tidur dan mendekati Ning Ayu.

“Mbak Ning, kita ke belakang rumah.”

Bu Lastri menekan punggung Ning Ayu dan membawanya keluar kamar. Ia melirik ke arah Mardian dan memberi isyarat dengan anggukan. Mardian mengikuti mereka ke belakang. Sampai di ruang tengah, ia membawa sebuah kursi bersamanya.

Di halaman belakang rumah, dua kursi plastik pagi tadi masih ada di sana. Mardian meletakkan satu kursi yang dibawanya di dekat dua kursi yang lain dalam posisi saling berhadapan. Bu Lastri menyilakan Ning Ayu untuk duduk. Ia pun duduk di sampingnya dan membuka kain penutup hidungnya.

“Di sini tidak begitu bau, mbak. Silakan dilepas.”

Ning Ayu melepas miliknya juga.

“Mbak Sekar dimana?”

“Dia kerja di keluarga Cina yang sudah lama mengenal Mardian. Dia mulai kerja hari ini.” Jawab Bu Lastri. Lalu, ia melirik Mardian yang baru duduk di sisinya.

“Oh...”

Angin berhembus pelan, seperti sedang mengatur suasana.

“Mbak Ning,” Bu Lastri menatap sang dukun. “Keadaan sudah seperti ini. Hidup kami semakin lama semakin hancur. Bayu adalah keluarga kami. Kami berhak tahu apa yang terjadi padanya. Kami berhak tahu siapa atau apa Bayu itu sebenarnya. Ketika proses kelahiran Bayu sudah selesai waktu itu, Mbak Ning sempat mengatakan kata Onum. Sekarang, dalam kondisi yang sudah seperti ini, kami sungguh ingin tahu apa itu Onum. Kami mohon, jelaskanlah pada kami.”

“Bu, sebenarnya dari awal saya sudah ingin mengatakannya. Akan tetapi, saya benar-benar bingung. Saya merasa tidak mungkin mengatakannya dalam kondisi yang seperti ini. Saya takut ibu sekeluarga tidak bisa menerima kenyataan jika saya mengatakannya. Maka dari itu, saya menyimpannya sendiri sampai saya tahu benar apa yang harus saya lakukan. Tapi ternyata, sampai saat ini saya belum mampu menemukan jalan keluarnya.”

Ning Ayu terdiam sejenak, mengatur nafas dan pikirannya.

“Bu Lastri, Mas Mardian,” lanjutnya, “bayi yang kalian miliki adalah...manusia setengah iblis.”

Entah kenapa Bu Lastri dan Mardian tak begitu tersentak. Namun, wajah dua manusia itu saling pandang. Bu Lastri menggenggam jemari Mardian.

“Onum, yang mana pernah saya katakan waktu itu, adalah bisikan tiba-tiba dalam kepala saya. Bisikan itu berasal dari kekuatan jahat yang berdatangan saat kelahiran Onum dan menyuruh saya sebagai orang yang mampu mengindera mereka, untuk memberi nama bayi kalian dengan nama Onum. Para setan itu berbondong-bondong datang ke rumah ini ketika Onum lahir waktu itu. Mereka datang karena ingin menyaksikan peristiwa langka tersebut. Namun sampai saat ini, saya masih belum tahu apa arti Onum itu sendiri. Apakah itu hanya sebuah sebutan dari golongan setan seperti pocong, tuyul, genderuwo, atau memang memiliki makna sendiri. Saya masih tidak tahu.”

Mardian dan Bu Lastri masih terbisu.

“Sebenarnya, dulu ada sebuah mitos di kalangan para dukun. Mitos itu disebarkan turun temurun. Namun, saya dan kawan-kawan paranormal seangkatan mendengar mitos itu dari guru saya, yang bernama ki Daud. Mitos itu mengatakan bahwa pada suatu masa, akan terlahir sesosok makhluk dari dunia manusia yang memiliki kekuatan sejahat iblis. Makhluk itu berwujud seperti janin yang masih belum sempurna bentuknya di dalam kandungan. Dia akan membunuh orang-orang yang berada dalam satu ruangan ketika ia terlahir.”

Ning Ayu berhenti sejenak, menatap Mardian dan Bu Lastri bergantian, lalu melanjutkan. “Kalian masih ingat, siapa saja yang ada di dalam ruangan ketika Bayu lahir waktu itu?”

Mardian dan Bu Lastri berpandangan lagi. Namun, kali ini mata mereka sudah sama-sama sembab.

“Ya, kami,” sahut Mardian menahan tangis dan sedikit mengingat, “eh, iya, saya, ibu, Sekar, dan Mbak Ning.”

Ning Ayu mengangguk. Senyum kecil menghiasi bibirnya.

“Orang-orang yang baru saja mas sebut itulah yang akan dibunuh oleh Bayu.”

Kali ini, Mardian dan Bu Lastri terperanjat. Punggung mereka menegak dan Bu Lastri mulai terisak. Bibirnya gemetar. Ia mengelus dadanya berulang kali.

“Tapi kenapa?!” Tanya Mardian dengan air mata yang mulai deras mengucur di pipi.

“Sebelum saya melanjutkan, maafkan saya, tapi ijinkan saya bertanya pada Bu Lastri.”

Punggung Bu Lastri masih menempel pasrah di sandaran kursi plastiknya.

“Bu, tolong jawab jujur. Dulu ibu terlahir setelah orang tua ibu menikah atau sebelumnya?”

Alis Bu Lastri mengernyit. Ning Ayu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Bu Lastri tegas.

“Saya ulangi. Dulu, Bu Lastri terlahir sebelum atau sesudah orang tua Bu Lastri menikah? Tolong jawab saya!”

“Saya... saya...”

“Sebelum atau sesudah? Pilih salah satu saja!”

“Se.. sebelum. Sebelum.”

Bu Lastri hampir tak mampu bicara. Bibirnya bergetar hebat.

“Yakin? Ibu yakin sudah terlahir dari hubungan di luar nikah?”

Bu Lastri menutup mulutnya. Dari balik kepedihan yang begitu mencambukinya, ia mengangguk kecil.

Ning Ayu tersenyum.

“Saya tanya lagi pada ibu. Dulu ibu melahirkan Sekar sebelum atau sesudah menikah? Sebelum atau sesudah? Singkat saja.”

Bu Lastri makin hancur. Tubuhnya roboh ke arah Mardian. Mardian menangkap, memeluk, dan membelai-belainya. Ning Ayu masih menatapnya. Namun, Bu Lastri seperti tidak bisa lagi menjawabnya. Tubuhnya melemas dalam pelukan.

“Sekar terlahir dari hubungan haram. Ibu tidak bisa menyembunyikannya.”

Ning Ayu mengalihkan tatapannya ke Mardian.

“Mas!” Ia tertawa geli. Mardian melirik dengan ragu-ragu dan diliputi rasa enggan juga.

“Perlukah saya tanya? Perlukah saya katakan bahwa mas juga terlahir dari hubungan haram? Perlukah saya ungkapkan juga bahwa mas dan Sekar telah melakukan hubungan badan di luar nikah yang menyebabkan Sekar hamil dan melahirkan Bayu? Ha? Saya tahu semua!!!”

Ning Ayu tak kuasa menahan gelak tawa. Ia bersandar kursinya, menatap langit, dan melepaskan tawa seperti seorang budak baru lepas dari segala jerat. Setitik air mata pecah dan mengalir di pipi kanannya. Satu hembusan nafas panjang melega dari mulutnya. Begitu lembutnya nafas itu, begitu senangnya.

Ning Ayu kembali ke kursinya dengan senyum yang masih ada, walau lebih bijaksana kali ini.

“Onum adalah monster yang terlahir dari hubungan haram selama sembilan generasi berturut-turut. Jadi, generasi pertama terlahir dari hubungan di luar nikah. Generasi pertama melahirkan generasi kedua juga di luar nikah. Hubungan haram itu terus berlanjut sampai pada akhirnya generasi kesembilan. Kalian tahu, setiap kali hubungan terlarang itu terjadi, setan selalu mencampurinya. Itu terjadi pada siapapun dan dimanapun jika dua orang melahirkan anak haram. Jadi, ketika dua manusia memiliki anak haram, setan akan ikut menyetubuhi si wanita. Pada akhirnya, anak yang terlahir akan memiliki unsur setan. Lalu, bagaimana jadinya bila generasi kedua yang sudah punya unsur setan itu melakukan hubungan terlarang? Setan akan mencampuri bibit dari anak mereka. Sehingga, anak yang terlahir akan memiliki unsur setan dengan jumlah yang lebih banyak lagi. Sekarang bayangkan bila hal itu terjadi selama sembilan generasi berturut-turut! Akhirnya, pada generasi kesepuluh, unsur setan yang ia bawa dalam tubuhnya membentuk dirinya menjadi monster. Unsur setan yang terlalu padat, katakan saja begitu, akan mengikis sifat-sifat manusianya, baik fisik maupun jiwa, dan menggantinya dengan sifat-sifat iblis. Itulah kenapa Bayu memiliki wujud seperti itu. Itulah kenapa para penghuni kegelapan menginginkan ia untuk diberi nama Onum. Karena, mereka menganggap Bayu adalah keluarga mereka. Mereka ingin Bayu memiliki nama dari dunia mereka. Karena, Bayu adalah Onum, dan Onum adalah generasi kesepuluh itu.”

“Lalu, kami harus bagaimana, mbak?”

“Saya sendiri masih belum tahu. Saya akan mencoba menemui guru saya. Namun, saya tidak menjamin bahwa dia bisa memberikan jalan keluar. Satu yang pasti, Onum tidak bisa dibunuh. Dia juga tidak bisa dilukai dengan apapun.”

“Bagaimana kalau kami buang saja dia?”

“Kalian mungkin bisa membuang Onum, tapi dia sudah menandai kita sebagai calon korban. Walau kalian membuang Onum ke balik bumi sekalipun, dia akan tetap membunuh kita dengan cara yang tidak pernah kita ketahui.”

“Kapan dia akan melakukannya? Kapan dia akan membunuh kita?”

Ning Ayu mengangkat bahunya. “Tidak ada yang tahu.”

“Tapi, kenapa dia hanya membunuh orang-orang yang berada dalam satu ruang dengan dia saat kelahirannya? Kenapa dia tidak membunuh semua manusia saja?”

“Karena, Onum sebenarnya tidak menginginkan terlahir di dunia manusia. Dia adalah iblis dan dia seharusnya terlahir di dunia kegelapan. Jadi, dia ingin membalas dendam kepada siapapun yang membuatnya lahir dalam dunia manusia, dalam hal ini, orang-orang yang dilihatnya sewaktu ia lahir, yaitu kalian, dan saya, orang yang membantu kelahirannya.”

“Tapi, bukankah tadi mbak berkata kalau Onum terlahir karena unsur setan? Bukankah itu artinya setan memang menginginkan dia untuk lahir di dunia manusia?”

“Setan memang menginginkannya, tapi Onum tidak. Jadi, Onum bisa diibaratkan seperti hasil percobaan dari setan. Onum tidak nyaman lahir di dunia ini. Oleh karena itu, ia ingin membunuh siapapun yang dilihatnya ketika ia lahir. Sayangnya, para setan menempatkan diri mereka sebagai keluarga bagi Onum dengan aura yang lebih dikenalnya. Sehingga, Onum merasa lebih mengenal mereka dibanding kita. Nanti, ketika Onum sudah membunuh semua sasarannya, para setan akan mendatanginya dan mengajaknya ke dunia mereka untuk menjadi keluarga mereka. Jadi bisa disimpulkan, Onum sebenarnya juga korban dari percobaan setan itu dan ia seperti orang asing yang tersesat di dunia kita.”

Mardian terdiam lagi, merenung, tapi nafasnya masih belum tenang.

“Tapi, sikap Bayu selama ini seperti anak normal.”

“Mungkin karena dia belum sepenuhnya menjadi iblis.”

“Lalu kapan dia akan menjadi iblis?”

“Kita melihat sendiri, Bayu mengalami demam tanpa sebab. Sekarang, kulitnya mengelupas. Dua peristiwa itu adalah proses dirinya menjadi iblis. Kita lihat saja setelah pelepasan kulit itu selesai. Dia sudah bukan Bayu yang kalian kenal lagi.”

Tidak ada yang berkata lagi antara Mardian maupun Bu Lastri.

“Saya yang mempelajari dunia supranatural di perguruan Tirta Kemuning selama lima tahun, menghadapi problematika gaib selama ini, saya tidak pernah merasa takut sehebat sekarang. Berkali-kali saya menghadapi berbagai setan dengan wujud apapun, menghadapi gangguan setan dengan jenis apapun, saya tidak pernah merasa setakut ini. Saya cuma berharap, kalian bisa mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk bila ternyata guru saya tidak bisa membantu.”

Sudah kering air mata di pipi Mardian dan Bu Lastri. Kini hanya kesunyianlah yang mulai mekar dalam pilunya hati dan asa.

***
 
Mardian melepas kaosnya sore ini. Kemudian, ia mengambil sebuah taplak meja yang sudah disiapkannya dan memakainya seperti masker. Ia melangkah ke dapur dan mengambil sapu lidi. Bu Lastri telah menunggu di halaman belakang dengan tumpukan kayu kecil yang sudah disiapkannya.

Bu Lastri membakar kayu-kayu tersebut sampai apinya benar-benar besar. Lalu, ia menghampiri sebuah kandang ayam yang sudah berbulan-bulan lamanya kosong. Kandang itu tidak begitu besar dan hanya satu tingkat dengan satu sekat yang membagi ruangan menjadi dua. Dindingnya terbuat dari papan-papan yang ditata tak saling berimpitan. Sehingga, ada celah di antara papan yang memudahkan udara bersirkulasi.

Di sana, ia memasukkan api itu ke dalam kandang dimana banyak jaring laba-laba yang sudah terlalu tua mendekam di setiap sudutnya. Ia mengayunkan api ke segala arah di dalam kandang dengan cepat agar kandang itu tak terbakar. Setelah selesai, ia beralih ke bagian luar kandang. Ia mengusapkan api di bawah kandang. Lalu, ke dinding-dinding. Terakhir, ke atap seng yang kusam.

Setelah Bu Lastri selesai melakukan tugasnya, Mardian memasukkan sapu lidinya ke dalam kandang. Ia perlahan mengorek dan menghancurkan semua kotoran yang mengerak. Debu-debu yang terkumpul selama berbulan-bulan segera menghambur ke udara seperti sekelompok burung yang akan bermigrasi.

Sepuluh menit lebih Mardian membersihkan kandang itu. Setelah bagian itu selesai, Mardian bergerak untuk membersihkan kolong kandangnya. Kotoran-kotoran yang sudah kering memudahkan Mardian untuk membersihkannya. Ia hanya menyapunya ke luar kolong dan selesai sudah. Meski demikian, debu yang beterbangan lebih pekat dan kotor dibanding debu di dalam kandang itu sendiri. Bu Lastri mundur menjauh dan melihat dari pintu dapur.

Mardian dan Bu Lastri mengakhiri pekerjaan mereka sore ini, menunggu sampai semua debu itu hilang, sampai kandang itu menjadi tempat yang lebih baik.

Ketika malam sudah turun, Bu Lastri memberi isyarat pada Mardian untuk melakukannya.

Mardian masuk ke kamarnya. Ia menghampiri tempat tidur Bayu dan berdiri di dekatnya, memperhatikan kondisi anaknya itu. Kulit-kulit Bayu masih sama, pecah-pecah, retak, dan hendak mengelupas.

Mardian menggendong Bayu bersamanya. Di pelukannya, pria itu merasakan kulit keras dan kasar sang buah hati, seperti cakar-cakar binatang liar. Ia menggendongnya pergi dari kamar.

“Ibu yakin kita benar-benar akan melakukan ini?” Tanya Mardian ketika melihat mertuanya. Bu Lastri berdiri dengan beberapa kain di tangannya.

“Kita tidak punya pilihan. Kita juga harus memikirkan diri kita.”

Mardian menunduk, menatap Bayu yang tengah mengamati kulitnya sendiri. Anak itu membalik-balik telapak tangannya dan memperhatikannya dengan matanya yang bulat tanpa berkedip. Mardian meniup nafas panjangnya dan merasakan panas ketika nafas itu tertahan oleh masker.

Mardian menoleh kepada Bu Lastri sekali lagi. Pandangannya hanya menangkap satu gerakan dari wanita itu, anggukan dengan sinar mata yang kusam oleh tekanan jiwa. Mereka bertolak ke tanah kosong belakang rumah. Satu tempat yang akan mereka tuju, satu tempat yang akan melenyapkan sekeping situasi gelisah dalam rumah. Mereka berdua mendekat ke kandang ayam.

Bu Lastri membuka pintunya. Bau sisa debu masih enggan pergi walau sudah memudar. Ia memasukkan selembar kardus untuk menutup lantai kandang. Setelah itu, ia memasukkan kain-kain dan menatanya, menumpuknya agar lebih empuk. Ia memandang Mardian. Mardian menatap Bayu sebentar dan mencium keningnya. Lalu, dengan segenap perasaan dan keterpaksaan, malam itu, Mardian memasukkan Bayu ke dalam kandang. Di antara papan-papan yang tak mampu menahan dingin, ia membaringkan anaknya di atas tumpukan kain. Jari-jari kecil Bayu mulai meraba-raba papan. Pandangannya ke kanan dan kiri, ke atas dan bawah dalam keterasingan. Mardian menutup pintu dan menguncinya, meninggalkan Bayu dalam kegelapan dan pengasingan seorang diri.

***

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience