BAB VI

Horror & Thriller Completed 15841

Rokok itu hanya tinggal setengah batang, tergolek kesepian di dalam laci. Mardian mengambilnya dan menyalakan api. Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang ini selain membunuh waktu dengan merokok dan memandang lalat-lalat kecil terbang di atas semua tumpukan dagangannya yang masih utuh. Ini sudah hari kesekian sejak ia mengalami kehampaan dalam berjualan untuk yang pertama kalinya. Orang-orang hanya melintas di depannyanya tanpa melirik. Mardian tak berkata apa-apa pada mereka. Tidak seperti perempuan tua di sampingnya yang selalu berisik dan merayu pengunjung dengan kata-kata cabul yang seringkali mengganggu telinga Mardian. Namun, walau tempat milik perempuan itu adalah yang paling kotor di pasar ini dengan bau bercampur yang menyengat, ada saja orang-orang yang berhenti di tendanya dan melihat-lihat. Tidak jarang juga mereka hanya bercanda pada akhirnya dengan perempuan itu tanpa membeli. Namun setidaknya, cara yang dilakukannya cukup ampuh menyalakkan rasa akrab para orang asing padanya.

“Cintaku!” Panggil perempuan itu dengan suaranya yang sudah terbiasa melengking. “Dari kemarin dikau diam saja. Dikau ini sedang jualan, bukan bertapa. Panggillah orang-orang itu agar penasaran dengan dikau. Jangan diam saja, cin! Kasihan keluargamu di rumah!”

Mardian hanya tersenyum. Ia merasa semakin lama, gairah bisnisnya semakin memudar. Diam-diam, perempuan tadi memperhatikan muka Mardian.

“Semalam dikau begadang?”

Mardian mengangguk tanpa menatap balik perempuan itu. Wajahnya yang sayu, kusam, dengan kantung mata yang kendur terjadi karena banyak hal. Namun, puncak dari semua alasan itu adalah tadi malam. Tanpa sengaja, benak Mardian mengelana lagi.

“Bagaimana kita bisa tidur kalau seperti ini, mas?”

Semalam, Sekar memang tak mampu lagi menahan semua perasaannya. Bayu terus mengigau dengan rintihan yang begitu ganjil dan mengganggu. Obat dari Ning Ayu juga sudah menyatu dalam tubuh Bayu. Sebenarnya, Sekar menyuruhnya untuk meminumkan obat itu lagi. Namun, Bu Lastri sudah mengatakan bahwa Bayu cukup meminum ramuan itu dua kali dalam sehari saja, dan Mardian tak mau melakukan sesuatu yang tidak disarankan oleh Ning Ayu, seseorang yang baginya lebih tau tentang Bayu daripada siapapun di dunia ini.

“Tolong pikirkan tentang kehidupan kita, mas! Tolong pikirkan lagi apakah dengan tetap menjaga Bayu di sini, hidup kita akan lebih baik atau sebaliknya.”

Mardian tidak berkata apa-apa. Ia menatap istrinya yang berbaring miring membelakanginya. Tidak ada kata yang dapat ia olah dalam keadaan seperti ini. Pikirannya amburadul, ruwet, dan sama sekali buram. Akhirnya, ia mendapati dirinya tak mampu tidur tenang di tengah gempuran dari suara-suara Bayu. Beberapa saat kemudian, Sekar beranjak dari kasur dan membawa bantalnya keluar kamar. Ia pindah ke kamar ibunya, berharap dapat tidur di sana. Semuanya terjadi begitu saja, tanpa kata terucap dari bibir mereka berdua. Mardian merasa bahwa dirinyalah yang harus bertanggung jawab atas semua ini, atas segala sesuatu yang terjadi dalam rumah itu dan keluarga itu.

“Cin, sudah daku bilang jangan bertapa!”

Seruan perempuan tua itu membuat lamunannya terhenti secara paksa. Ia menoleh sebentar dan mengangguk-angguk lagi, meski dalam hatinya tetap saja tak ada api gairah yang menyala. Mardian memandang jalan, seperti sebelumnya, melihat orang-orang yang melintas di depannya lagi. Hal ini terjadi sampai waktu lanjut bergulir. Pagi beralih siang dan siang terbenam dalam ruang sore. Keramaian pasar berangsur berkurang. Para pedagang satu demi satu membersihkan tempat masing-masing dan mengemasi barang-barang mereka untuk pulang dengan hasil, setidaknya, dengan hasil, itulah yang penting. Mardian pada akhirnya ikut membereskan tendanya, bahkan sebelum perempuan tua di sampingnya itu berkemas.

“Yang sabar ya, cin! Berdoa saja yang banyak di rumah! Minta istrimu juga mendoakanmu. Jangan lupa, bahagiakan dia. Sering-sering ajak dia olahraga malam. Dikau juga harus selalu minum obat, biar tahan lama. Kalau bisa lama, dia akan bahagia. Kalau istrimu bahagia, dia akan senang hati mendoakanmu, cin!”

Mendengar hal itu membuat Mardian memikirkan sesuatu yang ia amati selama ini.

Banyak orang yang berkata bahwa semakin dekat manusia dengan Tuhan, semakin mudah jalan hidupnya. Namun, kenapa banyak orang-orang di sekitarku tetap miskin walau mereka katanya sering sembahyang?

Setelah melontarkan salam singkat pada si perempuan, Mardian menaiki sepedanya meninggalkan pasar dalam waktu yang masih terlalu pagi baginya. Namun, apakah waktu menjadi penting untuk saat yang sudah seperti ini? Sekarang atau nanti akan sama hasilnya. Hampa yang menggigit.

Setelah melewati jalanan dengan jam pulang yang sibuk, bergumul dengan debu-debu yang terhambur dari putaran roda-roda yang panas, dan dicerca rasa makin pilu oleh betapa tertinggalnya dirinya di antara geliatan kehidupan yang begitu bernafsu, sepeda Mardian menyapa halaman rumahnya yang lembab. Sekar ada di situ, menyapu pelataran.

“Mas!”

Sekar memanggilnya sebelum Mardian menuntun sepedanya ke tepi. Lalu, wanita itu menghampirinya dengan raut yang sama seperti semalam.

“Tadi pagi ada petugas PLN datang kemari. Dia bilang kalau kita harus segera membayar listrik. Jika tidak, listrik kita akan dicabut oleh pihak PLN.”

Mardian membuka simpul tali yang menahan karung dagangan di atas boncengan belakang. Sekar meletakkan sapunya dan membantu Mardian membawa karung berat itu ke dalam rumah.

“Bayu sedang apa?”

“Tidur. Bagus dia tidak mengigau.”

“Dia tidak mengigau dari tadi?”

“Tidak.”

Setelah meletakkan karung itu di atas meja makan, Mardian meninggalkan Sekar yang mulai melucuti tali yang mengikat mulut karung. Selepas itu, dia mengeluarkan semua dagangan ke atas meja.

Mardian bersandar di kusen pintu kamarnya. Bu Lastri sedang melakukan sesuatu di meja kamar. Ada sebuah mangkuk kecil dan plastik berisi ramuan hitam dari Ning Ayu. Bu Lastri menjumput ramuan pemberian Ning Ayu yang berwarna hitam dengan tangan kanannya dan memasukkannya ke dalam mangkuk. Ia lantas meremas-remasnya.

Mardian masuk ke dalam dan langsung menuju tempat tidur Bayu. Mata anak itu terpejam erat dan mulutnya masih sama, sedikit terbuka. Sebuah kain kompres menempel di kening Bayu.

“Kau sudah pulang, Mardian?”

Bu Lastri menyaring air di mangkuk ke dalam gelas kecil, hingga air dalam gelas benar-benar bersih dari serpihan-serpihan ramuan. Air itu berwarna kecokelatan dan lebih kental.

“Bagaimana dengan Bayu?”

“Dia tidur. Pagi tadi sempat bangun dan makan walaupun tidak banyak. Hari ini dia juga tidak mengigau.”

“Ibu akan membangunkan Bayu?”

“Tidak. Nanti menunggu dia bangun saja. Dia pasti bangun lagi.”

Bu Lastri menyentuh pundak Mardian dengan hati-hati.

“Sekar sudah mengatakannya, kan?” Bisik Bu Lastri. “Yang tadi pagi itu.”

“Iya. Kita harus secepatnya mencari jalan. Setidaknya, untuk masalah mendesak ini. Sialnya, hari ini kondisi kita sama seperti kemarin. Sama persis.”

“Iya, ibu tahu. Ibu mengerti. Ibu akan banyak-banyak berdoa. Kamu juga Mardian, ajak Sekar sembahyang.”

Mardian menghela nafas secara halus. Lesu ia melangkah keluar kamar dan melepas kaos yang dipakai seharian.

***
 
Malam tanpa bintang, apalagi rembulan. Pucuk-pucuk gerumbul pepohonan berisik di tengah kegelapan, seperti sedang bercengkerama bersama angin. Mardian, Sekar, dan Bu Lastri berkumpul di ruang tengah, mencoba menghabiskan makanan yang tidak laku, seperti malam sebelumnya. Lemper-lemper bakar jadi lembek dan semua gorengan lunglai banjir minyak. Mereka tahu bahwa menghabiskan semua itu adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin untuk malam ini. Namun, mereka sudah berjuang, setidaknya, menikmati rejeki yang mampu menopang nyawa mereka tetap di raga.

Bayu kembali mengigau setelah Mardian selesai makan dan menikmati waktunya di teras rumah sambil membawa gelas tehnya yang masih separuh. Rintihan suara itu masih saja membuat semua orang tidak tenang. Suaranya panjang tanpa putus dan besar seperti suara  orang dewasa yang dibekap. Meski merasa terganggu, Sekar justru terlihat tenang-tenang saja. Namun, ia buru-buru membereskan meja makan dan menyibukkan diri di dapur. Sementara Bu Lastri, melihat anak perempuannya yang seketika sibuk saat mendengar igauan Bayu, mendatangi kamar Mardian dan memeriksa bayi itu. Tentu saja, kedua mata anak itu masih terpejam dan tubuhnya tak bergerak di atas tempat tidur.

Bu Lastri keluar, melongok teras dan mendapati Mardian melamun di atas salah satu kursi. Kedua tangan pria itu kosong dan tak ada korek di atas meja yang biasanya menjadi ritualnya setelah makan. Bu Lastri melangkah tenang dan penuh perasaan ke samping menantunya.

Dua manusia itu duduk menghadap halaman rumah dan menerawang ke jalan utama di luar pagar. Di seberang jalan itu hanya pepohonan dan kegelapan. Angin menggigil sering hadir menyapu desa, menggoyahkan ujung-ujung pepohonan, dan meresahkan kulit manusia-manusia di luar rumah. Lampu gantung di ujung bambu yang ditegakkan di dekat pintu pagar rumah Bu Lastri bergoyang liar. Cahayanya yang kecokelatan mengguncang bayangan semua yang di atas tanah seperti menghidupkan mereka dalam semu. Detik ini, tidak ada warga yang lewat di jalan itu. Tidak terlihat juga kucing liar yang seringkali melenggang pelan dalam kegelapan dan mengarungi desa seperti arwah penasaran. Mardian dan Bu Lastri masih sama-sama bungkam. Hanya rintihan Bayu di dalam kamar yang mengusik sanubari.

“Mardian, apa rencanamu untuk keluarga kita?”

“Saya masih memikirkannya. Kepala saya belum mendapat apa-apa sejauh ini. Semakin lama, kita semakin tidak bisa mengandalkan jualan. Saya hanya mendapat malu setiap saya pergi ke pasar akhir-akhir ini. Kita harus mencari jalan lain.”

“Menurutmu, apakah kita bisa menjual dagangan lain selain lemper dan gorengan? Kita punya beberapa pohon pepaya dan singkong. Mungkin kita bisa memanfaatkan mereka.”

“Kita tidak mungkin menjual pepaya. Pedagang di sebelah tenda saya sudah menjual pepaya dan sayuran. Untuk singkong, saya kurang yakin bisa menarik minat pembeli. Jikapun ada yang membeli, mereka tidak akan membeli setiap hari, sementara kita butuh uang setiap hari.”

Di dalam, Sekar mendengar mereka. Ia duduk di kursi ruang tamu yang pernah ia gunakan untuk melempar bu Ratih dan bu Sari.

“Kita harus siap untuk menjalani hidup tanpa listrik. Kita harus siap menyediakan minyak tanah bagi semua sentir kita. Kita harus siap makan sekali dalam sehari...”

“Mardian,” Bu Lastri meremas bahu Mardian dan menatapnya dengan alis yang mengernyit. “Jangan bicara seperti itu. Jangan memikirkan buruknya. Kita gunakan waktu kita untuk memikirkan jalan keluar, bukan berputus asa.”

“Itu yang akan terjadi pada kita, bu!” Suara Mardian lirih, tapi menekan. “Ini sudah takdir kita! Ini adalah hukuman buat kita karena kesalahan yang dulu kita lakukan! Atau jangan-jangan ibu ingin kita berutang lagi pada orang yang menyebabkan kita hampir dibakar warga seperti waktu itu!?”

“Jangan keras-keras, Mardian!”

“Mas!”

Sekar muncul dari dalam ruang tamu. Ia berjalan dan duduk di depan suaminya.

“Kita bisa utang lagi.”

“Bicara apa kamu, Sekar?” Sentak ibunya.

“Kamu bisa pergi ke rumah ibumu.”

“Apa?” Mardian terbelalak. Lalu, ia memposisikan duduknya lagi.

“Katamu, ibumu sudah jadi orang kaya. Mas bisa pergi ke rumahnya dan meminjam uang. Bagaimanapun, dia pernah menjadi ibumu. Mas pernah menjadi anaknya. Aku yakin, dia tidak akan keberatan meminjamkan uangnya untuk mas kalau mas mau jujur di depannya. Bicara saja apa adanya kalau daganganmu tidak laku akhir-akhir ini dan kita memiliki kebutuhan mendesak. Bisa juga mas katakan padanya kalau mas akan menggunakan uang itu untuk membuka usaha baru. Katakan saja semuanya. Kamu pernah jadi anaknya, mas. Mungkin, dia tidak hanya meminjamkan uangnya pada kita, tapi juga memberikannya. Dia orang kaya, mas. Dia bisa minta lagi dari suaminya.”

“Apa yang kamu katakan, Sekar?” Mardian menegakkan punggungnya. “Kamu suruh aku menemuinya?! Mau jadi apa aku di tempat itu!? Ia akan melihatku tak lebih dari seorang gembel yang meminta-minta dari rumah ke rumah! Dimana kamu taruh otak kamu sekarang ini, Sekar?”

“Mardian, sudah!”

“Itu adalah satu-satunya jalan kita, mas! Mas lupa? Mas pernah cerita bahwa dia memberikan alamat rumahnya pada mas sewaktu kalian bertemu. Itu artinya dia tidak sepenuhnya membencimu, mas! Dia mendatangimu karena dia ingin tahu keadaanmu. Kenapa dia ingin tahu keadaanmu? Karena dia punya sedikit kerinduan di hatinya. Mas tahu apa artinya itu? Artinya mas masih punya peluang untuk meluluhkan hatinya dan memberikan apa yang mas minta. Pikirkan itu, mas! Ini peluang kita!”

Mardian tak mampu membalas rentetan kata-kata istrinya itu. Ia hanya membiarkan tubuhnya terhenyak kembali ke sandaran kursi. Bu Lastri sedikitpun tak berpaling dari Sekar. Mimik mukanya layu.

“Aku tidak membahas tentang kita menjadi pengemis lagi. Tapi, kalau mas bisa meminjam uang dalam jumlah banyak, mas bisa pikirkan usaha baru dengan uang itu. Kita tidak meminta, kita hanya meminjam uang untuk membuka usaha baru agar kita bisa mengembalikan uang itu pelan-pelan.”

Bu Lastri memandang Mardian, seolah meminta ketegasan apapun dari menantunya itu. Namun, Mardian justru hanya mengangkat cangkirnya dan menyeruput teh di dalamnya. Ia berhenti sejenak, seperti berpikir, melihat air kecokelatan di dalam cangkir itu, dan meminumnya lagi sampai habis. Lalu, meninggalkan tempat duduknya dan berjalan masuk.

“Ini peluang kita, bu.” Sekar tiba-tiba melanjutkan perkataannya. “Ibu juga pasti setuju dengan Sekar, bukan? Kita harus membuka usaha baru entah apapun itu dari uang yang kita pinjam. Yang kita pikirkan adalah bagaimana kita mendapat uang untuk hidup kita. Kita tidak punya uang, kita akan mati. Uang adalah segalanya bagi kita. Mas Mardian harus menemui wanita itu secepatnya.”

“Tapi bagaimana kalau ibunya Mardian tidak bersedia?”

“Setidaknya Mas Mardian harus coba dulu.”

Jeda. Bu Lastri menimbang usulan Sekar.

“Ini semua gara-gara Bayu. Sebelum dia lahir, hidup kita tidak seperti ini,” lanjut Sekar.

Mardian sampai ke tempat tidurnya. Di kasur itu, hanya ada satu bantal miliknya. Sekar tidak tidur bersamanya lagi malam ini. Dari kamar ini, suara-suara perbincangan antara Sekar dan Bu Lastri teredam oleh suara Bayu yang mencekat. Mardian menuju cermin yang terpasang di dinding. Ia melihat wajahnya sendiri. Entah kenapa wajah di cermin itu begitu tua dan letih, seolah Mardian telah melewati ribuan tragedi dan masih terus diterjang derita, dan dalam pikirannya, bayangan wajah di cermin perlahan menjadi kusam, penuh gurat-gurat duka, dan kulit yang makin mengendur. Mardian menarik nafas panjang dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia meletakkan tangan kanannya untuk menindih kelopak matanya. Biarlah semua berlalu malam ini, biarlah segala sesuatunya terjadi. Mungkin esok hari ia akan  menemui titik terang dalam hidupnya. Mungkin juga dia menjadi pribadi yang baru dengan cara yang tak pernah disangka-sangka. Siapa tahu? Mardian sudah lelah. Terlalu lelah.

***
 
Subuh, Mardian dan Bu Lastri mempersiapkan bahan-bahan untuk lemper-lempernya.  Mereka berdua mempersiapkan rebusan air, beras ketan, santan, garam, dan abon ayam yang sudah dipersiapkan. Mardian lalu mengukus beras ketan, sementara Bu Lastri menyiapkan banyak lembaran daun pisang dan membagi-baginya menjadi bagian yang lebih kecil.

Tak lama kemudian Sekar bangun dan ikut bergumul dengan ibunya membelah daun pisang. Mardian berkali-kali melirik istrinya itu, seperti ada ombang-ambing rasa di hatinya. Ia lalu menggeser duduknya mendekati Sekar. Mardian tahu, kelopak matanya tak tenang, fokusnya juga tak lagi ke tungku di depannya. Walau ia terlihat seperti bekerja, sebenarnya jantungnya berdebum seperti genderang perang. Hanya bedanya, seruan-seruan yang mengiringi genderang itu hanya dua jenisnya, “Sekarang! Jangan sekarang! Sekarang! Jangan!!!”

“Sekar...”

Akhirnya salah satu dari dua suara yang bertengkar bersaing untuk merebut hati Mardian berhasil unggul. Suara itu begitu kerasnya, hingga suara lainnya bahkan relung jiwa Mardian sendiri pun ikut mengembang sampai memenuhi seluruh alam sadarnya. Sekar dan Bu Lastri menoleh bersamaan. Mardian makin kikuk untuk mengatakannya.

“Hari ini aku ingin mencoba...mencoba...saran dari kamu, Sekar.”

Kegugupan Mardian yang tak disangka-sangka itu dibalas dengan roman muka yang seketika cerah dari Sekar. Sementara Bu Lastri masih melongo.

“Iya mas!” Seru Sekar seraya mendekat dan menggenggam tangan suaminya yang kurus. “Aku tahu kamu pasti setuju denganku!”

“Bu!” Mardian tiba-tiba menatap mertuanya. “Hari ini saya akan menemui wanita itu. Jadi, saya ingin Sekar yang menjaga dagangan sementara saya pergi. Ibu menjaga Bayu di rumah. Bagaimana?”

“Iya, aku setuju sekali mas!” Sekar makin berbinar dan tubuhnya bergoyang naik turun dengan cepat, remasannya di jemari tangan Mardian makin bergairah dan perkasa, tapi juga lunak.

“Kau sudah memikirkan matang-matang, Mardian?” Tanya Bu Lastri.

“Iya. Seperti kata Sekar, ini adalah satu-satunya jalan keluar yang bisa kita lakukan. Cuma ini peluang kita.”

“Kamu mau pinjam berapa, mas?”

“lima sampai sepuluh juta mungkin, atau lebih. Aku sudah memikirkan untuk berjualan di sekitar alun-alun. Tinggal pesan gerobak dan perlengkapannya, lalu meminta ijin untuk berjualan di sana, dan kita lihat bagaimana hasilnya.”

“Kamu mau jualan apa, mas?”

“Kopi. Gorengan. Nasi bungkus. Pagi sampai sore aku jualan di pasar. Malamnya aku bisa mendorong gerobakku dan mulai berjualan di alun-alun. Aku yakin, aku bisa mendapat uang yang lumayan di sana.”

“Mardian,” kata Bu Lastri setengah berbisik. “Pikirkan dulu masak-masak! Apakah memang tidak ada jalan lain selain harus ke rumah itu? Bagaimana kalau kamu nanti justru bertemu dengan suami ibumu?”

“Saya akan menghadapinya. Saya datang bukan untuk mencuri. Saya datang memang karena saya butuh uang. Kalau mereka tidak memberi, saya akan terima. Karena saya tahu, wanita itu tidak lagi seperti dulu. Mungkin baginya, saya sudah bukan siapa-siapa.”

***
 
Pagi mulai naik. Mardian menggenjot sepedanya. Kali ini, karung dagangan ia ikat di palang depan sepedanya. Sementara di belakang, Sekar duduk membonceng. Begitu mulai keluar desa, wanita itu bicara tiada henti. Sesekali ia menunjuk-nunjuk tempat-tempat yang baginya sudah berubah.

“Kau tahu mas, sejak aku hamil sampai hari ini, aku tidak pernah melihat jalan. Aku selalu di dalam rumah. Membosankan. Apalagi ketika Bayu sudah lahir. Hidupku semakin menyebalkan. Sekarang, aku sudah bisa berjualan lagi. Kalau mas lelah, mas bisa mengandalkan aku!”

Mardian hanya tersenyum mendengar celoteh itu. Mereka kini melewati jalan sempit di sebuah kompleks. Beberapa orang terlihat mencuci motornya di depan rumah. Beberapa yang lain mulai berjalan dengan kemeja dan dasi menuju tempat pemberhentian bus kota.

“Oh, rumah itu sudah ditingkat sekarang. Bagus sekali rumahnya!”

“Baru sebulan yang lalu. Sepertinya mereka memang pintar menata rumah. Dari luar bisa begitu bagus, apalagi di dalamnya.”

Kemudian, mereka sudah sampai ke jalan raya. Sepeda Mardian berbelok menyusuri jalur khusus sepeda. Jalanan itu sudah bergemuruh walau belum sepenuhnya bising oleh roda-roda. Sekar tak pernah memutuskan pandangannya dari semua bangunan yang mereka lewati. Sebuah bangunan yang cenderung kecil dan bertuliskan Spa & Massage menyedot perhatian Sekar.

“Itu gedung apa, mas? Baru juga ya?”

“Yang mana?”

“Itu di sana, yang Spa dan Mass.. Massage. Spa itu yang tempat buat mandi orang-orang itu bukan sih, mas?” Tanya Sekar dengan lugunya.

“Aku kurang tahu. Sepertinya iya tempat buat mandi. Di kota ini baru ada satu tempat seperti itu kalau aku tidak salah duga. Orang kaya semua yang datang kesana. Setiap aku pulang, tempat itu penuh mobil. Sepertinya ada pijat juga di situ.”

“Oh, pijat yang enak itu ya mas?”

Mardian terbahak. “Aku tidak tahu!”

Mereka berdua bergulir sampai tiba di mulut pasar. Mardian memperlambat kayuhannya untuk menghindari selip.

“Loh? Itu si Sekar?”

Seorang pedagang yang sedang menata dagangannya melihat kedatangan mereka. Wajahnya melongo ke arah Sekar. Sekar tersenyum dan mengangguk begitu melihat orang itu. Namun, orang itu tetap melongo.

“Dia jualan lagi?” Gumamnya.

Akhirnya, Mardian mengerem sepedanya di depan tenda hitam. Sekar melompat turun dan memperhatikan sekelilingnya yang masih sepi.

“Seperti sudah lama sekali,” kata Sekar dan terus memandang tempat-tempat itu, sementara Mardian membuka tali pengikat karung sendirian.

Sekar menghampiri tenda berwarna oranye di samping tenda Mardian. Sampah-sampah dengan bau yang menusuk membuka ingatan Sekar.

“Ini tempatnya Sasya, lonte tua yang gila karena ditinggal pacarnya. Dari dulu dia memang tidak pernah berubah.”

“Sekar, tolong bantu aku menata.”

Sekar berlari ke dalam tenda. Hari ini mereka menjual lebih sedikit dibanding biasanya, agar jika tidak laku, makanan-makanan itu tidak banyak terbuang. Sekar menata satu demi satu, mulai dari lempernya. Ia menjajarkan dan menumpuk semua lemper itu dalam satu wadah. Jumlah yang sedikit cukup untuk ditata dalam satu wadah saja, sementara hari-hari sebelumnya bisa mencapai tiga wadah. Wadah itu ia tempatkan di barisan paling depan. Selanjutnya adalah tempe, tahu, dan bakwan. Masing-masing hanya sepuluh biji dalam setiap wadah.

“Aku akan pergi sekitar jam delapan nanti. Kamu di sini menunggu aku pulang. Semoga hari ini menjadi hari yang menguntungkan untuk kita.”

“Iya, mas. Semoga mas dapat uangnya.” Jawab Sekar tersenyum-senyum. Lalu ia berhenti sebentar, menatap suaminya, dan melanjutkan. “Aku sudah bisa berjualan lagi. Mulai hari ini, aku akan menemanimu di sini, mas.”

“Kau harus mengurus Bayu. Kau di rumah saja. Lagipula, aku sudah terbiasa berjualan sendiri. Bayu jauh lebih membutuhkanmu daripada aku di sini. Kau juga harus menemani ibumu. Sepertinya akhir-akhir ini, dia sering kelelahan.”

Sekar tak mencoba untuk mendebat. Ia membuka laci dan melihat radio hitam yang selalu menjadi penyemangat Mardian ketika bekerja.

“Ini masih bisa dinyalakan, mas? Kenapa antenanya sulit ditarik?”

“Iya, tapi bisa. Coba tarik lebih kuat. Mungkin karena sudah terlalu tua dan tidak pernah dibersihkan.”

Sekar mengumpulkan tenaga di jari-jari tangan kanannya untuk mencabut batang antena yang sudah seret karena berkarat itu. Setelah beberapa kali percobaan, ia berhasil.

“Kenapa antena ini bisa sampai seperti ini, mas? Mas selalu menjaga semua barang kesukaanmu, biasanya. Ada apa?”

Mardian duduk di samping istrinya.

“Tidak apa-apa.”

Sekar memandang Mardian. Ia tahu ada sesuatu yang menyebabkan suaminya itu bersikap acuh pada sesuatu yang selama ini disayanginya. Ada sesuatu yang mengubah Mardian. Gurat-gurat wajahnya sudah berubah. Air mukanya tak lagi seperti embun pagi yang muncul dikala malam telah berlalu. Sekar tak lagi melihat sisa-sisa itu. Pria yang duduk di sampingnya itu terlihat tenang dan lebih banyak diam. Jika diperhatikan lebih dalam, pundak Mardian terlihat turun. Tubuhnya sedikit lebih bungkuk dibanding sebelumnya. Tatapan matanya sering terlihat mengabur seperti sedang tak melihat apapun. Lalu di antara kedua alisnya, ada kerut-kerut kecil yang dulu tak pernah ada. Namun, saat ini kerutan itu menjadi bagian dari wajahnya yang layu. Mardian seperti bunga yang hampir mati, duduk di samping Sekar di hari yang masih sepagi ini, diam seperti segala sesuatunya telah berakhir.

“Mas...”

Sekar merebahkan kepalanya di bahu Mardian. Sangat jelas, bahu ini lebih lemah dari biasanya. Lebih dingin seolah kehangatan cinta yang selalu terpancar setiap kali Sekar bersandar, kini telah tercemar oleh sesuatu yang merongrong jiwa, mengancam dari dalam dan membunuh kehangatannya pelan-pelan. Mardian merangkul sang kekasih. Sekar meraih tangan Mardian di pundaknya dengan jemarinya yang hanya untuk sang suami. Pagi ini, jauh di tengah pasar yang belum tersadar, dua manusia itu tenggelam dalam kesenyapan, menatap langit yang kesepian tanpa awan dan udara yang sesekali bernafas melambaikan kertas-kertas dan plastik-plastik sampah yang bertebaran tak berarti.

***
 
“Bayu, makanlah walau sedikit. Kamu akan segera sembuh.”

Bu Lastri menyuapi Bayu yang terkulai. Tak peduli berapa banyak bubur yang bisa diterima Bayu. Ia hanya berharap Bayu mendapat asupan makanan agar tubuhnya kembali sehat. Ketika akhirnya Bayu memuntahkan buburnya, Bu Lastri akan menghentikan suapannya dan memberinya susu bubuk yang sebenarnya bukan untuk bayi.

Pukul delapan lebih. Bu Lastri menyempatkan diri duduk di salah satu kursi ruang tamu. Ia mengambil nafas dan menyeka keringat yang entah kenapa mengalir lebih banyak pagi ini. Kepalanya lemas di ujung sandaran kursi. Dari tempat itu, ia mendengar beberapa orang yang melintas di depan rumah. Suara-suara roda sepeda yang menggilas debu atau kaki-kaki berbalut sandal kumal yang melangkah dengan irama yang berbeda-beda. Bu Lastri masih tak bergerak di kursi. Dadanya kembang kempis dari balik daster putih bermotif tulipnya.

“Ya Allah,” pikirnya. “Jadikanlah hari ini baik menurut kehendak-Mu. Berikan rejeki pada kami dalam rupa yang Kau kehendaki dan berikan yang terbaik bagi Mardian, yang akan menemui ibunya hari ini.”

Bu Lastri memejamkan matanya. Tangannya menyentuh dadanya, merasakan jantung yang berdegub. Ia tetap seperti itu, menunggu tubuhnya kembali siap untuk melanjutkan urusan yang masih menunggunya.

Sementara itu, Mardian tengah mengelap sepedanya. Tangannya menelusuri palang demi palang, saddle, dan besi-besi boncengannya. Lalu, tangannya pindah ke velg belakang. Pada bagian ini, Mardian sedikit menekan dan menggosoknya. Ia juga menyusuri jari-jari velg sampai tak ada yang tersisa dari sentuhannya. Setelah itu, ia melakukan hal yang sama di velg depan. Terakhir, ia kembali naik, mengusap sekali lagi palang-palang sepeda.

Mardian kembali ke dalam tenda sambil merapikan bajunya. Sekar ikut membantunya dan menata rambut suaminya.

“Itu cintaku mau kemana?” Jerit Sasya dari tendanya dengan tangan teracung lurus ke pria yang dicintainya. Orang-orang segera mengalihkan perhatian mereka ke Mardian.

Mardian dan Sekar malah tersenyum lebar.

“Hati-hati kamu, Sekar! Jangan sampai dia jadi ganteng lagi! Bahaya! Repot urusan kedepannya!”

Mardian menatap Sekar tanpa senyuman. Namun, dari bibirnya juga tak keluar sepatah katapun. Justru Sekar yang memberi senyumannya dan meremas tangan Mardian.

“Semoga berhasil,” bisiknya.

Tanpa memberi isyarat kepada siapapun di tempat itu, Mardian keluar tenda. Ia menegakkan sepedanya dan segera bertolak menjauh.

Mardian mengayuh sepedanya dengan santai, tapi tidak dengan wajahnya. Ia bahkan tidak menyapa orang-orang yang dikenalnya di tempat itu seperti biasanya ketika setiap kali dirinya meninggalkan pasar. Sampai ke gerbang pasar, pandangan Mardian tak pernah ke depan, melainkan sedikit turun menyusuri jalur yang sebentar lagi akan dilindas oleh roda-roda sepedanya.

Setelah berselang lama, Mardian menekan rem dan ia berhenti sepenuhnya di depan gapura besar area Permata Kencana Residence, kompleks paling elit di kota ini. Mardian memperhatikan tempat itu. Pohon-pohon palm setinggi, mungkin 10 meter tumbuh berjejeran di depan dinding pagar area kompleks yang terbuat dari batu alam berwarna hitam.

Mardian memandang ke papan raksasa dan berpahatkan tuliskan, “PERMATA KENCANA RESIDENCE”. Lampu-lampu sorot kecil yang terselip di keempat ujung papan dan mengarah ke tengah tulisan akan selalu melakukan tugasnya ketika malam mulai turun. Papan itu sendiri berdiri angkuh di atap gapura dengan dua gerbang pintu yang melengkung. Sisi kiri adalah pintu untuk masuk dan pintu sisi kanan untuk keluar. Di samping masing-masing pintu, terdapat satu pos satpam yang menjaganya sepanjang waktu.

Mardian terdiam kaku beberapa belas kaki di depan gerbang. Ia terus mengamati apapun yang ada di depannya, apapun yang dapat ditangkap oleh matanya. Kompleks itu sangat senyap dari tempat Mardian berdiri. Kesibukan seolah hanya terjadi di jalan raya yang berhadapan langsung dengan pintu gerbang.

Mardian masih tidak bergerak. Ia melongok-longok pos satpam yang berdiri tak jauh di depannya. Namun, ia kesulitan untuk melihat apapun di dalam sana melalui kaca jendela yang berwarna hitam itu. Di tempatnya berdiri, Mardian hanya merasakan degub jantungnya yang mulai memompa keringat lewat dahi dan leher. Nafasnya terengah. Ia lalu menoleh ke jalan raya. Kendaraan-kendaraan mewah berlalu seolah tak peduli.

Tiba-tiba, sebuah sedan hitam membelok dari arah belakang dan hampir menjilat Mardian beserta sepedanya. Sedan itu membunyikan klakson begitu memapasi pos satpam tanpa mengurangi kecepatannya. Segera dari dalam pos, seseorang merespons dengan lantang. Hanya begitu saja. Lalu, suasana kembali sunyi.

Di samping sepedanya, Mardian menelan ludah. Tubuhnya gemetar di tempat. Tanpa sadar, ia telah menyeret sepedanya sampai mencium sisi trotoar, sementara dirinya sendiri berada di atas trotoar berpalm tersebut.

“Ada apa, mas!?”

Mardian menoleh. Di depan pos satpam pada jalur masuk kompleks, sesosok pria bertubuh gempal berkulit cokelat gelap berdiri menatap Mardian. Ia mengenakan pakaian putih, celana panjang biru gelap, dengan sepatu boot yang mengkilap. Di samping sabuk besarnya tergantung sebuah walkie-talkie.

Mardian menuntun sepedanya mendekati pria tersebut. Tubuhnya masih gemetar. Di pos penjagaan jalur keluar, seorang satpam lain berdiri di bibir pintu pos.

“Selamat pagi, pak satpam...” sapa Mardian.

“Pagi. Ada yang bisa dibantu?” Jawabnya tegas.

“Saya mencari rumah ibu Tri di sini. Rumahnya bernomor 19.”

“Tri? Hm...Tri...” Si satpam menggaruk rambutnya yang rapi. “Sepertinya, ada dua orang yang bernama Tri di sini. Yang pertama adalah Tri Utami dan yang kedua...”

“Iya, itu Tri Utami. Orangnya langsing dan rambutnya agak keriting di samping. Ehm, dia seperti artis. Pakai perhiasan banyak...”

“Iya, iya. Itu ibu Tri Utami. Suaminya kerja di Bank Easy Finance. Rumahnya nomor 19. Benar itu. Maaf, anda ini siapanya ibu Tri? Keluarga atau siapa?”

“Saya...saya...saudaranya. Dia ingin saya menemuinya hari ini. Ada yang perlu dibicarakan. Urusan keluarga.”

“Oh, baik. Mas dari sini lurus. Persimpangan pertama lurus saja. Baru di persimpangan kedua, mas belok kanan sedikit. Lihat sebelah kiri. Tidak jauh dari simpangan itu ada rumah dengan nomor 19. Ada angka 19 dengan ukuran besar terlihat dari jalan. Di situlah rumah ibu Tri.”

“Oh, baiklah. Persimpangan kedua ya?” Tanya Mardian sambil mengusap keringatnya.

“Ya. Persimpangan kedua belok kanan, terus lihat ke kiri.”

“Baik, terima kasih, pak.”

“Ya.”

Mardian menaiki sepedanya lagi. Namun, ketika ia mengangkat salah satu kakinya, kaki itu membentur gear sepeda. Mardian seketika mengaduh, tapi ia kembali tenang dan melenggang. Sementara itu, satpam tadi hanya diam saja mengamati perilaku Mardian yang berantakan. Keringat Mardian makin deras keluar dari wajahnya. Tanpa ia sadari, punggungnya juga basah oleh keringat dan si satpam terus memperhatikan cetakan keringat berbentuk seperti pulau Kalimantan di punggung baju Mardian.

Kompleks ini ternyata sangat sepi. Banyak rumah dengan gerbang yang ditutup dan sisanya hanya satu dua orang yang terlihat di teras dengan kesibukan masing-masing tanpa suara, tanpa saling menyapa. Mereka seperti memiliki dunia sendiri di rumah mereka dan rumah-rumah lain adalah dunia yang tak perlu mereka ketahui.

Persimpangan kedua. Mardian membelok ke kanan sambil mulai melambatkan sepedanya. Ia mengencangkan konsentrasinya ke sisi kiri. Rumah pertama bernomor 18. Mardian mengayuh lagi dan ia melihat sebuah rumah berwarna cokelat muda dengan kusen-kusennya berwarna lebih gelap. Rumah itu seperti sebuah menara yang tinggi dengan jendela-jendela vertikal yang panjang. Mardian berhenti. Sebelum ia sempat mendapatkan nomor 19, Mardian justru terperangkap oleh situasi yang tak begitu baik. Ia melihat seorang pria duduk di kursi teras, bermain dengan telepon pintarnya, sambil sesekali membuang ingus di sapu tangannya. Tak perlu waktu lama bagi Mardian malang untuk tahu siapa dia. Pria itu adalah Charles, suami ibunya, dan sekarang pria itu melihat Mardian.

Mardian mundur selangkah, tapi apa yang akan ia lakukan sudah tak ada gunanya. Charles bangkit dari kursi tanpa berkedip menyorot sosok Mardian di luar pagar. Mardian seperti terpaku di tempat. Ia bahkan tak tahu mau tersenyum dan menyapa terlebih dulu, tetap diam terselimuti rasa gelap terhadap pria itu, atau putar balik dan melupakan tujuannya datang kemari.

“Hey, kau Mardian?!”

Charles berdiri di bibir teras. Hidungnya berwarna merah. Ia tak terlihat berhasrat untuk maju lebih jauh lagi. Mardian yang masih di luar, bertarung dengan rasa aneh-aneh yang mulai bermain. Akhirnya, yang dapat ia lakukan hanya mengangguk.

“Mau apa?!” Teriak Charles lagi.

Makin buruk. Makin tertekan. Makin sakit. Makin berdarah perasaan Mardian.

“Saya hanya bersepeda di sini.” Suara Mardian melemah.

“Jangan bohong! Woy, mantan mamimu tidak di rumah. Sana pulang! Jualan yang benar, agar kau bisa sedikit kaya!”

Charles mengangkat sapu tangannya dan menutup hidungnya. Satu embusan kuat dan suara lendir hidung pria itu terdengar. Satu letupan lagi dan ia mulai sibuk dengan hidungnya.

Mardian menunduk menatap sepedanya, sesuatu yang telah membawanya kemari sekaligus sesuatu yang akan membawanya kembali. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi. Ia melirik ke Charles dan orang itu sudah tidak ada di teras. Kelopak mata Mardian mulai bergetar ketika melihat rumah nomor 19 itu. Rumah yang begitu megah seperti istana, tinggi seperti menara. Rumah itulah yang menjadi tempat berlabuh sang ibu, seseorang yang pernah begitu dekat dengannya. Mardian menuntun sepedanya ke arah sebelumnya dan melepas segala perasaan seiring roda yang mulai mendesir.

Bagaimana mungkin seorang laki-laki biasa seperti Mardian menahan diri dari ledakan-ledakan dalam dadanya? Satu demi satu ingatan muncul dari dalam kepala.

“Dian, sebenarnya apa yang paling kamu inginkan dalam kehidupan ini?”

Saat itu, ia yang baru sekolah dasar berbaring bersama ibunya di kamar.

“Hm... aku ingin jadi orang kaya. Sehingga, aku tidak bekerja seperti ini lagi.”

“Kamu tidak suka jualan di pasar seperti ini?”

Mardian menggeleng. Sang ibu menatap langit-langit.

“Kalau ibu, ibu ingin punya rumah yang bagus, yang megah seperti istana, yang tinggi seperti menara.”

Mardian tertawa sambil menoleh ke ibunya.

“Kenapa tertawa? Setiap orang boleh punya mimpi.”

Mereka berpandangan. Mardian tersenyum saat sang ibu mulai membelainya. Lalu, ia menutup mata dan perlahan terlelap tanpa pernah tahu apa yang menantinya di masa depan. Ia hanya lelah setelah berdagang lemper sehari penuh. Ia ingin tidur, melepas semua urusan, dan dipeluk oleh sang ibu.

Tiba-tiba Mardian merasa ada sesuatu yang tak sanggup ia bendung. Sesuatu yang tak seharusnya terjadi di tempat yang sangat asing ini. Ia mencoba menahan diri, tapi tidak bisa. Ia terus berusaha untuk merapatkan bibirnya, tapi mustahil. Mardian terisak menahan sakit yang menganga sampai sepertinya tangan yang ia miliki tak mampu untuk menyeka semua air matanya. Setiap kali air mata itu keluar, ia selalu menyekanya. Namun, air mata itu terus keluar dan semakin banyak. Matanya basah, wajahnya basah. Tubuhnya berguncang sepanjang jalan menuju gerbang.

“Kenapa kamu tega melakukan itu, mas?!”

Mardian juga teringat saat malam itu, malam dimana ia mengetahui semuanya.

“Kamu bangsat, mas! Kamu sudah menghamili aku ketika aku masih belum siap untuk mengarung bahtera rumah tangga! Kamu melakukannya seperti binatang, memaksaku masuk dalam duniamu yang keparat! Lalu setelah semua itu terjadi, setelah anak kita lahir, kamu keluyuran bersama perempuan lain! Mau kamu apa sih, mas?!”

“Maafkan aku, tapi aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Apa maksudmu?!”

“Wanita itu bernama Mawar. Aku ingin menikahi dia. Dia bisa membantu perekonomian kita. Ijinkan aku menikah dengan dia.”

“Bajingan kamu, mas! Kamu ingin menikah dengan perempuan lain dan alasan kamu karena dia bisa membantu kita? Kamu setan biadab yang pernah aku kenal, mas! Kamu pasti memang mencintainya dan ingin pergi dengannya, kan?”

Mardian yang mendengar dari dalam kamarnya menyadari apa yang telah terjadi.

“Tidak, mas. Aku tidak mau dimadu. Kamu laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Kamu pikir aku sudah siap dan menerima kenyataan bahwa aku harus punya anak di usia yang belum genap dua puluh tahun ini? Mas, aku punya banyak mimpi yang harus aku wujudkan, tapi kamu menghancurkan mimpiku dengan memaksa aku untuk membesarkan Mardian!”

“Kalau kamu memang tidak mau ya sudah! Sudah cukup aku denganmu! Sudah cukup!!!”

“Kamu memang bajingan, mas! Kamu bajingan!!!”

“Itu menurutmu?! Hah?! Iya! Aku memang bajingan! Aku memang sudah tidak mencintaimu lagi!!!”

Laki-laki itu mengangkat televisi di ruang tengah dan membantingnya.

“Sudah cukup semua ini!!!”

Ia mengangkat kursi dan melemparkan ke tembok.

“Semuanya sudah selesai!!!”

Dari dalam kamar, Mardian tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Huru-hara di ruang tengah begitu riuh dan sama sekali tak masuk akalnya. Mardian menghabiskan malam itu dengan terus menangis.

Seperti kali ini, Mardian tiba-tiba ingat. Tangisan malam itu sama persis dengan tangisannya sekarang ini, di sini, di Permata Kencana Residence. Mardian mengayuh sepedanya sampai kembali menjumpai pos satpam. Ketika hampir memapasi pos tersebut, Mardian menundukkan kepalanya sampai dagunya menyentuh dadanya. Satpam yang pernah menunjukkan jalan padanya itu memperhatikan gerak-gerik Mardian yang sama anehnya dengan yang pria itu lihat ketika Mardian datang ke sini.

Mardian terus mengayuh tanpa melempar tatapan ke arah satpam. Ia menunduk dan terus menuju gerbang. Ia tidak tahu apakah satpam itu melihatnya menangis. Ia tidak tahu apakah satpam itu menertawakannya ketika ia sudah menjauh. Ia hanya ingin secepatnya keluar dari sini dan pulang dengan membawa kekosongan, kekecewaan, dan perih yang menghujam hati. Mardian keluar gerbang. Ia tak sadar, kekacauan dalam hatinya telah membuatnya mengambil jalur yang salah dari tadi. Ia menggunakan jalur masuk untuk keluar dari kompleks.

***

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience