BAB XVIII

Horror & Thriller Completed 15841

Jam dinding mengisyaratkan waktu dhuhur. Ning Ayu merebahkan kepalanya di meja. Sekali lagi, di depan sebuah buku yang terbuka, di samping buku-buku mantra yang menggunung. Suara adzan mulai bersahutan memanggil Yang Maha Menentukan.

Dalam heningnya, Ning Ayu memperhatikan kalimat-kalimat adzan tersebut. Entah kenapa ia menjadi teringat akan segala sesuatunya. Entah kenapa ia menjadi teringat akan semua kegagalannya, termasuk kali ini. Ia merasa sangat kecil. Ia merasa begitu lemah dan tak berdaya. Ia sendiri tak tahu kenapa dirinya merasakan perasaan seperti ini sekarang. Ia jadi memikirkan para tetangganya yang begitu bergairah menyebut nama Allah dalam rumah yang begitu suci dan cantik. Sementara dirinya selalu mengurung diri, sibuk diri akan sesuatu yang mungkin tak semuanya mendapat rahmat dari Tuhan, atau tidak sama sekali. Ning Ayu merasakan sesuatu yang lain siang ini. Ia seperti melihat yang belum pernah ia lihat. Adzan itu begitu merdu dan menyentuh. Hatinya terasa rapuh. Lagi-lagi, ia tak tahu apa yang terjadi. Kenapa dirinya seperti ini hanya karena suara orang-orang itu memanggil nama Allah? Tubuhnya terasa lunglai. Ia ingin tidur untuk memanjakan tubuhnya yang lemah, tapi ada rasa di sudut hatinya yang berkata bahwa tidur bukan jalan terbaik. Ia ingin mendengarkan musik yang ceria untuk menyembuhkan hati yang mendadak begini, tapi hati berkata bahwa itu bukan jalan terbaik.

Ning Ayu pun heran. Kenapa ia ingin menangis. Apa sebenarnya yang telah dilakukannya? Apa sebenarnya yang telah terjadi? Kenapa ia merasa dirinya begitu tak pantas tuk menolak getaran di hatinya?

Ning Ayu pun bangkit dari kursinya, menarik nafas panjang. Ia membiarkan hatinya menunjukkan jalan kemana dirinya harus melangkah.

Nurani membawanya ke kamar mandi dan membimbing kedua matanya tuk memandang keran di dinding bak.  Ning Ayu memutar keran, memberi jalan bagi air tuk kembali ke bumi. Setelah mengamati butiran air yang begitu jernih, Ning Ayu menadah air itu dengan kedua telapak tangannya. Air ini seperti melambai-lambai padanya untuk segera membasuh tubuh. Semua ini begitu aneh, tapi terasa kuat tak terbendung, bahkan oleh dukun sehebat dirinya. Akhirnya, Ning Ayu mengucap niat wudhu. Ia mulai membasuh wajahnya. Di permukaan kulit, butir-butir air seperti tengah berjingkrak begitu riangnya. Mereka adalah para bocah yang telah menemukan taman bermain yang sangat indah.

***
 
Ia mulai merasakan dirinya walau dunia masih terlalu berat baginya. Ini terasa sangat aneh, membuka mata dalam kondisi yang sangat tidak pernah ia alami. Kelopak-kelopak matanya terasa sangat manja dan tak mau mendengarkan perintah otaknya. Namun, kondisi ini sungguh tidak lazim. Sehingga, ia harus membuka matanya. Ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Sekar sepertinya pernah melihat ruangan ini. Sebuah ruangan kecil dengan rak tua, tumpukan kardus, kain, dan kotak-kotak perkakas tersebar seolah dilemparkan begitu saja di dalam ruangan. Beberapa ban, tali tambang, dan rafia tergulung digantung pada gantungan yang menggandul di sebuah pipa besi yang melintang di bawah langit-langit untuk tempat menggantung barang-barang. Tak ada jendela di sini. Hanya lampu neon kecil sebagai penerang di tengah langit-langit. Selain itu, Sekar seolah dipaksa untuk menghirup udara lebih banyak dan kuat di ruangan ini.

Sekar merasa aneh dengan dirinya. Namun, ia harus menyadarkan diri untuk bisa memahami semua ini. Lalu, lambat laun segala sesuatunya mulai ia rasakan.

Ia berada dalam posisi berdiri. Perlahan, ia merasakan kedua tangannya. Ia tak mampu menggerakkannya karena tangannya terikat satu sama lain dengan tali yang membentang ke salah satu pipa besi di atasnya. Kedua kakinya juga tak bisa ia gerakkan karena saling terikat kuat. Tak hanya itu. Ia juga tak mengenakan pakaian sedikitpun. Telapak-telapak kakinya yang telanjang terasa kasar oleh debu. Sekar menjerit. Namun, suaranya tertahan. Sesuatu yang dingin membungkam mulutnya tanpa celah.

Nafasnya mulai berkejaran dengan detak jantung yang terdengar nyaring melalui pembuluh darah di tengah sunyinya ruangan itu. Pandangannya memeriksa seluruh ruangan sampai tatapannya terhenti di sesosok tubuh di samping kanannya.

Sekar mencoba menjerit lagi, tapi suaranya tak mampu menembus padatnya sesuatu yang mengunci mulutnya. Sosok di samping kanannya adalah seorang pria. Kedua tangan dan kakinya berada dalam posisi yang sama dengan dirinya. Kepalanya menunduk lemas dengan sebuah lakban melekat di mulut.

Sekar mengerahkan tenaga yang ia miliki. Ia menarik-narik tangannya. Namun, semakin ia tarik, semakin kuat ikatan yang membelenggu. Sekar makin memberontak. Titik-titik air keringat mulai menyembul dari balik pori-pori. Seolah tak ada jalan keluar, semakin Sekar melepaskan diri, semakin terasa pegal pergelangan tangan di balik rengkuhan tali yang menjerat.

Tiba-tiba, telinganya menangkap sebuah suara. Usaha wanita itu terhenti. Suara musik. Samar. Musik yang lembut dan berbahasa asing.

Lalu, pintu terbuka.

Suara musik seketika menjadi nyaring. Sekar menatap tak berkedip ke arah pintu. Sosok yang berdiri di sana bak gunung yang lebar. Di tangan kanannya, sosok itu memegang sesuatu. Namun, Sekar tak dapat melihatnya dengan jelas.

Si sosok mendekat. Sandal selop yang dikenakannya menghantam debu lantai sepanjang jalan. Sosok itu akhirnya berdiri di depan Sekar. Ia tersenyum. Namun, senyum lebarnya yang khas selama ini sedikit lain.

“Hai, jalang,” sapanya, “Kudengar kau sudah bangun, makanya aku segera menyetel musik dengan keras agar tak ada yang mendengar suaramu. Kau masih ingat aku, kan? Majikanmu yang sudah baik hati menerimamu di sini.”

Jelas ada yang berbeda dari senyuman cik Lin itu. Sekar melirik apa yang dibawanya. Sebuah penyemprot.

“Kau tahu kenapa aku melakukan ini padamu? Karena aku tahu semuanya. Aku tahu yang telah kau lakukan di belakangku. Apa maksudmu, Sekar? Apakah aku telah menyalahimu?”

Sekar tak bersuara. Ia bahkan tak bergerak.

“Lihat tubuhmu. Inikah tubuh yang telah memberi kebahagiaan untuk suamiku?”

Cik Lin mengangkat telunjuknya dan membelai payudara Sekar dengan jari itu.

“Inikah...inikah milikmu yang mampu meluluhkan hati suamiku? Benda inikah yang telah kau berikan pada suamiku? Berapa kali suamiku menghisapnya, Sekar..? Berapa kali..?”

Cik Lin tak meninggikan suaranya, melainkan seperti seorang ibu yang masih sabar walau hatinya hancur oleh anaknya sendiri. Isak tangis Sekar mulai berbisik.

“Buah dadamu...pinggulmu...dulu aku lebih cantik darimu, Sekar. Dulu aku pernah menjadi mayoret, karena aku memang cantik. Namun sekarang, lihatlah aku, Sekar.”

Cik Lin meletakkan penyemprot di lantai. Perlahan, dengan terus memandang Sekar, ia menurunkan tali dasternya. Darah Sekar seketika mendesir deras. Di depannya, cik Lin seperti orang hilang akal. Gerakannya pelan, tapi ia lakukan dengan segenap kepasrahan.

“Ini, lihatlah aku.”

Ketika daster telah jatuh, cik Lin membuka ikatan bra-nya. Dadanya seperti tanpa isi dan menggantung menumpuk dengan lipatan di bagian perutnya. Lalu, cik Lin menurunkan celana dalamnya. Ia berdiri lemas. Matanya yang kecil menatap Sekar tanpa adanya emosi, seolah membiarkan Sekar untuk melihatnya dengan baik.

“Inilah aku. Lihatlah dan bandingkan dengan dirimu. Kau pasti akan beranggapan bahwa tubuhmu lebih indah dibanding tubuhku, bukan?”

Sekar kesulitan bernafas. Dadanya sesak oleh kenyataan yang menimpanya. Air matanya membeludak.

“Aku tahu, selamanya seorang lelaki akan tergiur dengan tubuh yang lebih muda. Namun, hal ini tak akan terjadi bila kau tak mengijinkannya, Sekar. Kau telah membuat suamiku jatuh cinta padamu. Kau telah mengkhianati Mardian, suamimu sendiri yang telah setia kepadamu. Apakah ia tahu tentang hal ini?”

Sekar mulai meratap mendengar nama Mardian. Di sisi lain, air mata kepedihan cik Lin akhirnya berlinangan.

“Kenapa kau tega melakukan ini kepadaku, Sekar!? Bagaimana perasaanmu bila kau yang menjadi aku!? Bagaimana perasaanmu bila kau mengetahui bahwa Mardian telah bercumbu dengan wanita lain yang lebih cantik darimu!? Bagaimana perasaanmu bila wanita itu adalah seseorang yang telah kau kenal dan percaya!? Bagaimana perasaanmu bila kau mendengar sendiri suara desahan mereka ketika bercinta di kamarmu!? Di kamarmu sendiri, Sekar!!!”

Teriakan cik Lin membangunkan koh Andi yang terikat di samping Sekar. Namun semua tahu, kepanikan yang ia alami beberapa detik kemudian tak akan mengubah kenyataan.

“Kenapa, sayang? Kau tak suka melihatku seperti ini? Tentu saja kau lebih memilih Sekar dibanding aku.”

Koh Andi mencoba berteriak dan sia-sia.

“Sayang, aku ingin bertanya padamu. Apakah kau mencintai Sekar?”

Koh Andi menggeleng.

“Lalu kenapa kau tidur dengannya? Kenapa kau mengkhianatiku? Dulu kau yang mengejarku saat kita masih kuliah. Kau yang selalu muncul di hadapanku saat aku sedang tak memikirkanmu. Kau yang membuatku tak pernah berhenti merindukanmu dan selalu berharap padamu. Kau yang membuatku jatuh cinta padamu. Kau yang membuatku memberikan segala yang kumiliki padamu. Kenapa akhirnya harus seperti ini? Kenapa pada akhirnya kau meninggalkanku di saat maghligai rumah tangga kita sudah terbangun selama berpuluh-puluh tahun?”

Cik Lin mengambil penyemprot di lantai.

“Sayangku, aku sangat sakit di dada ini. Bahkan, sakitnya melebihi semua rasa sakit yang pernah aku alami selama ini. Kaulah yang membuatku ingin melakukan ini dan aku ingin kau melihatnya.”

Cik Lin mengarahkan penyemprot itu ke tubuh Sekar. Namun, ia menahannya. Cik Lin seperti menemukan suatu gagasan yang tiba-tiba menyeruak. Ia menurunkan posisinya penyemprot itu. Sekarang, benda itu tepat di depan kemaluan Sekar.

“Kau harus merasakan akibatnya, Sekar. Aku melakukan ini karena kau yang telah menghancurkan hidupku.”

Cik Lin menyemprot bagian selangkangan Sekar. Segera aroma bensin menguap ke udara yang sesak. Sekar meronta. Koh Andi berteriak dan berusaha melepaskan diri. Lalu, dari dalam saku, cik Lin mengambil sebuah kotak. Kotak korek api kayu.

Sekar berusaha menggelengkan kepala dan berteriak. Namun, cik Lin terlanjur tak terhentikan. Ia menggesek korek itu. Api segera menyala dan aroma bensin di selangkangan Sekar merangsang.

“Tenang saja. Rasa sakit yang akan kau rasakan tak sesakit rasa di hatiku.”

Cik Lin melempar korek yang menyala itu. Tak akan ada jalan lain. Tak akan ada cerita lain. Tak sampai satu detik api sudah melahap bagian vital Sekar. Sekar menengadah seperti mencari Tuhan dalam penderitaan yang belum pernah ia rasakan. Tubuhnya menggelinjang hebat. Kedua kakinya bergerak liar, bergetar, seperti binatang yang sekarat. Koh Andi hanya menangis dan meraung dari balik lakban. Cik Lin berdiri menatap Sekar yang tersiksa. Ketika api mulai mengecil, cik Lin menyemprotkan bensin itu lagi dan api membesar kembali melumat paha, perut, dan mulai merambat ke dada Sekar.

Bahkan cik Lin pun menangis. Ia telah memaksa satu nyawa untuk meregang dalam kobaran api. Ketika api sudah melahap kepalanya, tubuh itu tak lagi bergerak, dan tinggal tersisa raut menganga dari wajah yang melihat neraka.

Cik Lin melangkah ke hadapan suaminya yang lemas.

“Sayang, aku ingin melakukan ini padamu. Sebenarnya, aku selalu ingin melakukannya setiap kali kau bersikap menyebalkan terhadapku.”

Koh Andi melirik dari balik matanya yang basah. Cik Lin merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah gunting. Cik Lin tersenyum lebar sambil menunjukkan gunting itu ke depan mata suaminya. Koh Andi tiba-tiba meraung dari balik lakban. Ia tahu apa yang akan dilakukan sang istri padanya dan hal itu akan lebih jahat dibanding apapun di dunia ini. Jika bisa memilih, ia ingin istrinya langsung membakar dirinya saja seperti Sekar.

***

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience