BAB XIV

Horror & Thriller Completed 15841

Suara ketukan terdengar di pintu depan.

“Sekar, ada tamu!”

Cik Lin baru mandi dengan tubuh yang beraroma sabun. Ia duduk di depan cermin dengan handuk yang membungkus rambutnya dan mulai sibuk membaluri kakinya dengan lotion.

Sekar menyalakan mesin cuci yang sudah penuh dengan pakaian dan meninggalkannya. Ia berjalan ke pintu depan dan melongok ke luar. Sesosok pria berdiri membelakanginya. Sebelum Sekar sempat menyapa, wanita itu menahan suaranya dan melangkah mendekat ketika ia melihat sosok pria itu sedikit lebih lama.

“Mas..?”

Sosok itu membalik tubuhnya. Melihat Sekar membuatnya tersenyum seketika.

“Mas Mardian kenapa kemari?” Lanjut Sekar.

“Aku ingin bicara padamu.” Jawab Mardian. Nada bicaranya tenang dan lembut sekali.

“Siapa, Sekar!?” Suara cik Lin menggema dari dalam kamarnya di lantai atas.

Sekar menoleh ke dalam dan menatap Mardian dengan bola mata yang tak tenang.

“Mardian!” Seru Mardian lantang.

Suara langkah kaki terdengar di lantai dua. Lalu, sosok cik Lin muncul dari atas tangga dengan senyuman khasnya.

“Mardian, tumben sekali kau kemari. Sekar, kenapa tak kau ijinkan suamimu masuk? Sini! Masuklah, Mardian!”

“Tidak perlu, cik! Saya hanya sebentar. Saya ingin bicara secara pribadi dengan Sekar. Di sini sambil berdiri sudah cukup.”

“Oh, begitu? Baiklah. Jangan pernah sungkan dengan kami.”

Senyuman gembul cik Lin masih melebar ketika ia berbalik badan dan naik tangga untuk masuk ke dalam kamarnya. Mardian menatap Sekar.

“Mas sepertinya bahagia sekali.”

“Sekar, aku punya kabar gembira untukmu. Untuk kita.”

Sekar menyisir rambutnya di atas kening dengan jarinya. “Apa?”

“Kau sudah tidak perlu mengkhawatirkan Bayu. Mereka sudah mengatasinya.”

“Mereka siapa?”

“Ning Ayu dan temannya yang juga paranormal. Kemarin mereka datang ke rumah dan melakukan ritual terhadap Bayu. Intinya, mereka sudah menanganinya.”

“Menangani bagaimana? Aku tidak paham, mas. Kenapa juga harus ada ritual? Sebenarnya apa yang terjadi?”

“Maka dari itu, Sekar. Aku tidak bisa menceritakannya di sini. Aku ingin nanti malam kau pulang ke rumah dan aku akan menjelaskan semuanya.”

Sekar melipat tangannya dan hanya memberi tatapan kaku ke Mardian. Namun, wajahnya yang menegang tak mengubah dorongan Mardian.

“Ayolah, Sekar! Aku mohon kepadamu. Pulanglah dan kembalilah bersama kami. Nanti aku akan menjemputmu saat jam kerjamu sudah habis. Kita pulang bersama-sama. Setelah kamu ada di rumah, aku dan ibumu akan menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.”

“Ini bukan akal-akalan mas agar aku pulang, kan?”

Jemari Mardian mencengkeram kedua lengan Sekar.

“Aku bersumpah bahwa semua yang aku katakan ini benar. Aku ingin kau tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Nanti, aku akan buatkan nasi goreng. Masih ada sisa beras, jadi aku bisa memasaknya untuk makan malam kita.”

“Kalian sudah tidak punya uang?”

Mardian menggeleng. Namun, ia tetap tersenyum. Sekar tak berkata apa-apa dan hanya menjawab salam dari Mardian ketika pria itu meninggalkan teras rumah koh Andi.

***
 
Menjelang maghrib, Mardian dan Sekar berboncengan sepanjang jalan.

“Mas, nanti ke Cak Dono sebentar. Beli mie ayam.”

“Bukankah aku sudah berjanji akan menggoreng nasi di rumah?”

“Tidak usah. Kita bertiga makan mie ayam saja. Dibungkus. Aku yang bayar. Kita serumah suka mie ayam dari dulu, kan? Kamu tidak perlu repot-repot memasak.”

Mardian terhening sejenak.

“Kau serius, Sekar?”

“Iya.”

Mendengar niat istrinya itu, justru tidak tampak sumringah di wajah Mardian. Sebaliknya, ia menunduk agar air matanya langsung jatuh ke jalanan dan tak membasahi pipinya.

“Kenapa?” Tanya Sekar sambil menatap tubuh suaminya yang tak tenang. Mardian menggeleng tanpa berujar. Namun tiba-tiba, ia mengerahkan tenaganya dan mengayuh pedal sepeda lebih cepat. Sekar hampir terjengkang. Beruntung ia sigap menarik kain kaus suaminya.

“Mas!!!”

Di alun-alun kota, para pedagang memarkir gerobaknya di sepanjang trotoar. Di antara sekian belas gerobak yang diparkir dengan tampilan spanduk yang mencolok, sebuah gerobak dengan tulisan besar “Cak Dono Ahlinya Mie” menggerakkan sepeda Mardian untuk berbelok ke arahnya. Setelah berhenti dan segera turun dan memesan, meskipun ia harus sedikit menunggu Cak Dono untuk menyelesaikan persiapannya menata mangkuk dan membuka tikar untuk lesehan para pengunjung.

Setelah semua selesai, Cak Dono mulai melayani Sekar. Ia membungkus mie ayam sebanyak tiga buah. Mardian berdiri di sampingnya.

“Cak, sekalian ayam gorengnya yang dada, tiga.”

Mendengar Sekar meminta itu, Mardian langsung melongo. Sekar hanya tersenyum pada suaminya. Mardian melihat Cak Dono mengambil tiga dada ayam dan memasukkannya ke dalam plastik hitam. Seperti orang linglung, Mardian terus menatap Sekar yang sedikit kesulitan membawa semua makanan itu.

“Mas, kenapa melamun? Ayo pulang.”

“A...aku saja yang membawanya.”

“Mas bisa repot kalau bersepeda sambil membawa ini. Biar aku saja. Mas kenapa jadi aneh begini, sih? Mas senang, ya?”

Mardian menunduk sambil menggaruk kepalanya. Namun ia tahu, rona merah yang mulai merambat ke seluruh wajahnya tak bisa ia sembunyikan. Mereka pun pulang setelah maghrib usai beberapa saat yang lalu. Ketika sampai di halaman rumah, mereka mendengar suara seorang wanita tengah membaca Alquran. Mardian merebut semua plastik yang dibawa Sekar dan berlari masuk.

“Bu! Sekar pulang! Sekar pulang bawa makanan!”

Mardian ke kamar Bu Lastri dan melihat mertuanya duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Bu Lastri menatap Mardian dan menutup kitabnya.

“Bu! Lihat!” Mardian menaikkan tangannya, memamerkan plastik besar berisi tiga bungkus mie ayam dan dada goreng sambil berkaca-kaca. “Sekar yang membelikannya untuk kita! Itu! Dia ada di sana! Ayo kita makan! Ayo!”

Air mata wanita itu tak terbendung. “Sekar..! Sekar!!! Masya Allah..!”

Malam itu, mereka makan dengan lahapnya. Mardian dan Bu Lastri makan sambil menahan tangis. Kuah mie ayam menjadi lebih asin karena air mata mereka. Saat itu, Sekar menceritakan kemana ia pergi selama beberapa hari ini. Sekar juga menceritakan betapa baiknya koh Andi dan cik Lin kepadanya.

Setelah acara makan malam itu selesai, Mardian dan Bu Lastri mengantar Sekar ke belakang rumah tempat dimana Bayu dikubur dan menceritakan semua yang pernah dijelaskan Ning Ayu.

“Ini semua salah kita dan salah orang tua kita,” ucap Bu Lastri. “Ini seperti neraka yang kita buat sendiri. Namun, semua sudah selesai sekarang. Mereka bilang kalau Bayu tidak akan mungkin melepaskan diri selama tidak ada seorangpun yang menggalinya dan mengambilnya dari dalam sana.”

“Kau tahu, Sekar?” Sambung Mardian. “Sebenarnya sudah beberapa waktu ini aku mencoba untuk shalat lagi. Ternyata, apa yang ibu katakan benar. Kalau kita dekat dengan Tuhan, Dia akan menolong kita. Aku selalu minta tolong padaNya. Hasilnya, mereka membebaskan kita dari Bayu dan Tuhan mengembalikan kamu pada kami.”

“Tapi aku belum siap kalau harus tinggal di sini lagi.”

“Maksudmu?”

“Aku masih trauma, mas. Aku masih merasa ketakutan, seolah Bayu masih ada di antara kita. Mungkin untuk sementara waktu, aku akan tetap tinggal di kos sampai batas akhir bulan ini. Setelah itu, aku akan kembali lagi ke sini. Sayang kalau aku harus meninggalkan kos sementara aku telah membayarnya.”

Mardian dan Bu Lastri bertatapan.

“Ya sudah tidak apa-apa. Akan tetapi, ibu ingin kamu janji untuk kembali lagi ke dalam keluarga kita.”

Sekar mengangguk. “Sekar janji.”

Malam mulai larut. Mardian mengantarkan Sekar ke kosnya yang berlokasi di dekat rumah koh Andi. Kos itu lebih bisa dikatakan panjang, bukan besar. Ada lima buah kamar yang semuanya menghadap ke jalan. Di sisi paling kiri, terdapat sebuah rumah dua lantai yang seolah menjadi penjaga sekaligus pengawas kamar-kamar kos. Tak terlihat siapapun di sana. Semua pintu tertutup dan hanya lampu-lampu penerang teras yang menyala dalam kesunyian.

“Kamarmu dimana?” Tanya Mardian sambil turun dari sepeda.

“Tengah. Kebetulan waktu itu sedang kosong dimana yang lain masih penuh.”

Mardian mengikuti wanita itu menuju kamar kos nomor tiga.

“Sepi sekali.”

“Iya. Sebenarnya tidak boleh menerima tamu atau membawa teman di atas jam sembilan, kecuali keluarga sendiri. Lagipula, banyak yang pulang sampai larut malam. Jadi, kos di sini cenderung sepi.”

Sekar memutar kunci dan membuka pintunya. Ketika ia menyalakan lampuny, Mardian segera masuk dan menatap seluruh sudut kamar. Sekar meletakkan tasnya di atas lemari yang sudah penuh dengan alat-alat make-up.

“Lumayan juga. Tiga kali tiga, bukan?”

“Iya. Sudah ada kasur, bantal, dan lemari. Enak, kan?”

Tiba-tiba sesuatu bergetar di balik tas Sekar. Sekar memungutnya. Sebuah benda persegi panjang yang ramping dengan layar terang di seluruh sisi depannya.

“Apa itu? Kau punya handphone?!” Mardian mendekat. Matanya tak berkedip menatap layar yang besar itu.

Sekar tersenyum. Namun, ia segera memasukkan kembali benda itu ke dalam tas.

“Sekar, sebenarnya mereka membayarmu harian atau apa?”

“Ehm...aku meminta koh Andi untuk membayar di muka. Dia juga, ehm, beberapa kali memberiku bonus. Katanya masakanku enak.”

“Apakah...”

“Mas...”

Sekar mendadak berjalan ke samping lemari dan mengambil sebuah gayung kecil dengan sikat gigi, sabun, dan sampo di dalamnya.

“Aku mandi dulu. Mas kalau mau tiduran silakan.”

Sekar keluar dan mengambil handuk di jemuran depan kamar dan berjalan ke arah sisi kanan kos. Mardian merebahkan tubuhnya di kasur kapuk yang cukup untuk dua orang. Ia melipat tangan di belakang kepalanya dan menatap langit-langit.

Beberapa menit kemudian, Sekar masuk ke dalam kamar. Sebuah handuk melilit di tubuhnya yang basah. Hawa harum bunga semerbak dari tubuh yang basah, mengintip sampai ke penciuman sang suami. Sekar menutup pintu sementara Mardian memperhatikannya.

“Kenapa, mas?”

Mardian hanya tersenyum. Sekar meletakkan gayungnya dan duduk di samping Mardian sambil mengusap-usap rambut bergelombangnya.

“Sekar, bolehkah aku di sini malam ini? Besok aku akan mengantarmu ke rumah koh Andi sekaligus pulang.”

Sekar membelai pipi suaminya.

“Lampunya nyala atau mati?”

“Nyala saja. Aku ingin melihatmu.”

Sekar tersenyum nakal dan mencubit kecil pipi Mardian lalu beringsut naik ke tengah kasur. Ia telentang, merapatkan kaki dan menekuk sedikit lututnya, kedua tangannya ia pasrahkan di sisi kiri dan kanan kepalanya dan menatap pria di sisi kasur sambil tersenyum menjilat bibirnya sendiri. Jantung Mardian segera berdebum tak terkendali, menggugah semangat khas seorang lelaki yang terperangkap kerinduan. Mardian menerjang istrinya dan biarkan dunia berputar apa adanya.

***

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience