BAB XXIV

Horror & Thriller Completed 15841

Mardian dan Suseno mulai bertarung dengan sengitnya. Meski demikian, jiwa iblis yang sudah menguasai Mardian mampu membuatnya unggul dari Suseno. Setelah mampu merobohkan lawannya ke tanah, Mardian menaiki tubuh Suseno dan mulai menghajar wajah pemuda itu habis-habisan. Namun, di sela-sela hantaman yang tak henti menghancurkan kepalanya, Suseno merapal sebuah mantra.

“Sukmoku ireng...tanganku abang marang...awakmu!!!”

Suseno menghantam dada Mardian dengan telapak tangannya. Mardian seketika terpental ke belakang, keluar dari ruang tengah dan terus berguling sampai mencapai pintu depan. Dengan menahan nyeri yang mengeroyok wajahnya, Suseno berdiri. Ia mencoba membuka pintu kamar.

“Ayu!!!”

Suseno melihatnya! Suseno berhasil menemukan Ning Ayu di sana!

“Jangan melawanku, anjing!”

Jejakan keras diterima Suseno tepat di pinggangnya. Pria itu kembali goyah. Mardian, dengan mata yang memerah dan pukulah sekeras batu menerjang Suseno. Kali ini, Suseno bisa melihat celah. Ia mengelak dari pukulan Mardian dan balas meninju dagunya.

“Heee, setan alas!”

Mardian mengangkat kursi ruang tengah dan melemparkan ke Suseno. Kursi menghantam tubuh Suseno telak. Tanpa membuang waktu, Mardian menghajar Suseno yang terpojok di dinding. Mardian menjejak tubuh Suseno dengan ganas. Lagi! Jejakan itu terasa perih. Lagi! Jejakan lagi! Lagi! Lebih keras!!!

Di kamar, Bayu masih duduk di atas kasur. Matanya yang kuning menatap bayangan yang bergerak-gerak liar di ruang tengah. Telinganya sesekali bergerak ketika mendengar rintihan dan umpatan dari mereka yang tengah memerah.

Satu kesempatan Suseno berhasil menendang Mardian menjauh. Suseno bangkit dan merangkul lawannya. Dalam himpitan itu, Mardian melancarkan pukulan ke arah perut Suseno. Namun...

“Sukmoku ireng! Tanganku abang marang awakmu, Mardian!!!”

Mardian terpental kembali. Kali ini ke dapur. Celakanya, kepalanya membentur tanah. Ia meringis. Suseno menyeruak ke dapur dan menaiki tubuh Mardian.

“Mardian! Jangan melawanku! Sukmoku kelewat ireng! Tanganku abang nerakaning bumi marang awakmu!”

“Oh sial, mantra itu lagi...”

Suseno menghantamkan telapak tangannya ke dada Mardian. Darah seketika memuncrat dari mulut pria itu. Mardian terbatuk-batuk dan terkulai tanpa tenaga. Suseno meninggalkan Mardian dengan tertatih-tatih.

Di dalam kamar, ia sempat melirik Bayu.

“Onum, aku akan menyelamatkan Ning Ayu apapun yang terjadi!”

Suseno menghampiri Ning Ayu. Ia membuka ikatan kawat yang melilitnya. Setelah terlepas, Suseno mengangkutnya keluar rumah. Ia meletakkan Ning Ayu di lantai teras.

“Yu! Bangun!”

Suseno mengguncangkan tubuh Ning Ayu yang basah oleh minyak, menampar-namparnya, dan terus memanggilnya.

“Ayu! Sadarlah!!!”

Lalu, gerakan lemah itu terlihat. Kepala Ning Ayu bergerak dan terdengar suara rintihan dari bibir wanita itu.

“Yu! Bangun! Kita harus pulang sekarang!”

Ning Ayu membuka kelopak matanya.

“Sus...”

“Iya, ini aku. Kau harus menguatkan dirimu, Yu! Kita harus pulang!”

Ning Ayu masih belum mencoba untuk, setidaknya, duduk. Matanya beberapa kali terpejam lagi. Lalu, keningnya berkerut dan tangannya berusaha meraih Suseno.

“Tas...”

“Apa?”

“Tas itu...dimana...? Ramuan itu...ada di tas...”

“Ramuan apa?!”

Suseno mengamati wanita itu. Tak ada tas yang ia bawa. Suseno berlari kembali ke dalam kamar. Namun tanpa diduga, Mardian sudah ada di sana. Ia  berdiri dengan dagu yang memerah karena ternodai oleh darah. Di tangannya tergenggam sebuah sentir yang menyala.

Suseno maju.

“Mana tas milik Ning Ayu, Mardian?”

Mardian mengacungkan sentirnya ke arah Suseno.

“Kau ingin mati bersama denganku? Heh, sekali aku melemparkan sentir ini, api akan membakar semuanya termasuk kau dan aku. Apakah kau punya mantra penangkalnya? Heh! Lain kali, kau seharusnya belajar lebih banyak mantra!”

Suseno berhenti. Tatapannya masih tajam.

“Berikan tas Ning Ayu kepadaku dan kami akan pergi.”

“Pergi?” Mardian tertawa. “Tidak ada jalan untuk pergi! Kita semua akan mati di sini! Memang! Hanya aku yang tahu dimana tas itu berada.”

Suseno berlari dan menerjang Mardian yang tertawa lagi. Namun, Mardian tak kalah sigap. Ia melemparkan sentir ke dinding jauh. Api besar akhirnya mengaum dari penantian panjangnya. Dinding itu segera memerah. Api pemusnah merambat pelan. Namun, Suseno sudah terlanjur di dalam. Ia harus mendapatkan tas itu. Maka, ia tetap bergulat dengan Mardian di tengah neraka yang kian menyebar. Ketika sudut-sudut telah terjamah oleh api, rumah itu benar-benar membara. Di luar, Ning Ayu merayap mundur. Air matanya mengalir menyaksikan kobaran raksasa di depannya.

“Sus...”

Tenaganya tak keluar.

“Sus...!”

Ning Ayu berjuang untuk berdiri. Ia menyeimbangkan dirinya beberapa detik untuk bisa berdiri dengan dua kakinya.

“Ya Allah,” batinnya. “Ijinkan aku menggunakan ilmuku untuk menyelamatkan Suseno. Dia sedang berjuang demi aku. Berikan aku kekuatanmu, Ya Allah. Selamatkanlah dia. Hanya Kau yang Maha Perkasa. Bismillah...”

Ning Ayu memejamkan matanya. Ia mengangkat kedua tangannya perlahan.

“Srengenge takluk, ajur, mumur, ambles, anyep marang napase Dewi Rembulan. Geni iki matiyo! Tutup kabeh dalan prakoso!”

Tangan Ning Ayu perlahan bergerak maju dengan gerakan mendorong. Seketika, api berkobar-kobar seperti tertiup angin. Cahayanya meredup dan lidah-lidah mereka yang kuning terang seakan ketakutan dan kembali ke mulut sang dewa neraka. Namun, masih ada banyak lidah yang tak gentar. Mereka menyusut dan membumbung lagi untuk menjilati malam.

“Ya Allah, aku terlalu lemah...berikan aku kekuatanMu...”

Di tengah usaha yang dilakukannya, satu bayangan terlihat di antara api melalui pintu depan yang terbuka. Ning Ayu tiba-tiba merasa gemetar. Kulitnya terasa dingin di depan api yang belum menyerah. Dari posisi itu, Ning Ayu melihat sang iblis.

Di antara api yang penuh amarah, iblis itu merangkak keluar kamar. Lalu, ia menghadap ke arah pintu, lebih tepatnya, ke arah Ning Ayu di luar.

Ning Ayu tertegun. Iblis itu diliputi api. Kulit manusianya mengelupas satu demi satu di depan matanya sampai tak ada lagi yang tersisa. Sinar matanya semakin kuning di antara kulit yang hitam dan dua daging yang tumbuh di kepalanya, saat ini bukan lagi seperti daging, melainkan tanduk yang melengkung.

Lalu, Onum mulai merangkak.

Ning Ayu harus memadamkan api sebelum semuanya terlambat. Namun, ia juga tidak mungkin lari dengan ramuan yang ia butuhkan masih ada di dalam.

Onum merangkak tak terhentikan.

“Yu!”

Seorang pria berlari mendekat dari arah samping rumah. Tubuhnya penuh asap dan jaketnya sudah hancur.

“Sus!!!”

“Aku menembus dinding yang sudah rapuh terbakar. Ini, aku mendapatkan tasmu. Isinya masih utuh. Ayo kita pergi.

“Sus...”

Ning Ayu memperhatikan sosok Suseno. Beberapa bagian wajahnya telah melepuh. Pakaiannya gosong disana-sini dan compang-camping. Suseno terengah-engah, lalu muntah darah.

“Sus!”

“Ayo kita pergi! Biar aku yang bawa motornya!”

“Tapi...”

“Cepatlah!”

Suseno menyalakan motornya. Ning Ayu melompat ke jok. Mereka meninggalkan rumah itu dengan ancaman yang masih menyala. Onum mengawasi mereka pergi. Matanya begitu bulat seperti terisi dengan dendam kesumat yang paling gelap. Di dalam kamar, Mardian telah kalah oleh api. Tubuhnya terduduk di tanah. Kepalanya menunduk seperti terbebani dengan penderitaan sekaligus penyesalan. Mimpi terakhirnya untuk mengakhiri hidup saat tepat dini hari tak tercapai.

Sekitar lima belas menit Suseno dan Ning Ayu bertahan dalam perjalanan menuju rumah sampai akhirnya mereka tiba. Ning Ayu memapah Suseno ke dalam.

“Bertahanlah, Sus! Aku akan membuatkan obat untuk lukamu.”

“Tidak! Lebih baik kau segera melindungi diri. Onum akan mengejarmu.”

Ning Ayu membawanya sampai ke kamar. Namun, belum sampai di tempat tidur, Suseno tak dapat lagi bertahan. Tubuhnya menggelincir dari rangkulan Ning Ayu.

“Sus!”

Suseno tak sadarkan diri. Ning Ayu melepas jaket dan baju yang Suseno kenakan. Kulit itu telah meratap dalam sentuhan api, meninggalkan luka-luka yang menganga bak lubang neraka. Ning Ayu menutup mulutnya menahan tangis yang mendera tiba-tiba.

Ning Ayu menggapai tasnya. Dompet dan telepon pintarnya masih utuh beserta botol Remedy of Rebirth. Ning Ayu memandang botol itu dengan tangan yang lemah dan gemetar.

Suara keras memecah di jendela kamar.

Jantung Ning Ayu seakan berhenti sesaat. Sebuah tangan kecil berwarna hitam mengkilat telah menerobos daun jendela kayu dari luar. Lalu, jari-jari tangan itu mencengkeram bagian kecil dari daun jendela dan mematahkannya, lalu menjatuhkan kepingan itu ke lantai. Lalu, muncul sepasang mata berwarna kuning mengintip dari luar lubang itu.

Ning Ayu sesak nafas. Tangannya berusaha keras memutar tutup botol itu.

Jari-jari sang iblis mematahkan lagi sekeping kecil daun jendela. Lalu, ia mengulanginya lagi sampai ia berhasil membuat lubang yang besar. Dengan satu gerakan pelan, sang iblis memasukkan kepalanya. Namun, kepalanya terhadang jeruji jendela. Ia menggunakan tangannya lagi untuk memegang jeruji itu dan mematahkannya menjadi dua. Kemudian, ia menarik masing-masing bagian yang patah dan membuangnya.

Dalam keguncangan jiwa, Ning Ayu berhasil membuka tutup botol itu. Aroma rempah-rempah menyapa hidungnya.

Ya Allah, lindungi aku dari iblis itu...

Akhirnya, Ning Ayu meneguk Remedy of Rebirth. Satu botol untuk dua kali teguk. Rasa pahit menggigit di lidahnya. Hawa panas memenuhi lambungnya.

Lindungi aku, Ya Allah...lindungi aku...lindungi aku...

Tiba-tiba kepala Ning Ayu terasa berputar. Pandangan mulai tak stabil, seolah cahaya yang masuk ke matanya berubah-ubah. Lalu, ia meringis sembari tangannya menekan dadanya. Namun, Ning Ayu masih belum hilang. Matanya masih mampu menangkap sosok Onum yang merangkak di dinding.

Iblis itu merangkak turun. Ning Ayu juga merangkak dengan sisa tenaganya untuk menjauh.

Onum sudah mencapai lantai kamar. Ia menatap sasarannya sebentar dari balik matanya yang berkilat. Lalu, merangkak mengejar Ning Ayu.

Lindungi aku...lindungi aku...lindungi aku...

Onum makin dekat sementara Ning Ayu makin tak bertenaga.

Akhirnya, Ning Ayu membalik tubuhnya menghadap sang iblis. Ia sudah mengerahkan seluruh daya dan upaya untuk pergi, tapi sepertinya tak mungkin lagi. Sedangkan Onum masih terus merangkak.

Onum terus merangkak...

Semakin mendekat...

Dan iblis itu berhasil menyentuh Ning Ayu. Onum merenggut naik ke atas tubuh sang dukun yang terkapar tak berdaya. Onum merangkak di atas kakinya, lalu merangkak sampai ke perut.

Onum sudah sampai ke atas dada Ning Ayu...

Kemudian, seperti memasuki alam yang berbeda, Ning Ayu merasa dirinya seperti tertarik ke belakang dengan kecepatan yang tak pernah ia rasakan. Tarikan itu begitu cepatnya sampai ia tak mampu melihat sekelilingnya. Namun, justru bayangan-bayangan masa lalu dari kehidupannya mulai bermunculan. Bayangan saat ia masih bersekolah, bayangan saat orang tuanya memarahinya, bayangan saat ia bersama teman-temannya, bayangan saat ia menolak cinta Suseno, dan bayangan saat ia pertama kali membuka klinik paranormal di desa Agung Sari ini. Semua kenangan itu seperti memeluk Ning Ayu dan membuatnya seakan merasakan kembali apa yang telah dilaluinya. Tanpa terasa, Ning Ayu tersenyum. Kelopak matanya menutup perlahan.

Onum tiba-tiba menegakkan badannya. Ia melirik ke kanan dan kiri, dan menoleh ke segala arah. Nafasnya memburu. Lalu, dengan seluruh kekuatan yang ia miliki, Onum berteriak. Sesaat, desa Agung Sari bergemuruh. Bukan hanya oleh suaranya, melainkan juga suara hewan-hewan liar di desa itu. Para burung bercuit sambil terbang meninggalkan sarangnya. Anjing-anjing liar menyalak dan kalang kabut berlarian ke jalanan. Semua ayam piaraan terbangun dan menubruk dinding-dinding kandang ingin melarikan diri. Di sisi lain, tak ada seorang warga pun yang terbangun. Mereka berhamburan ke luar rumah. Sebagian dari mereka mengumandangkan takbir, sebagian yang lain mengucap istighfar berkali-kali. Para bocah menangis di belakang orang tuanya. Tak ada satupun dari mereka yang bisa menjelaskan apa yang mereka dengar. Malam ini, sebuah fenomena langka telah terjadi dan Ning Ayu yang terpejam, masih memiliki sisa senyum di bibirnya.

***

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience