BAB XIII

Horror & Thriller Completed 15841

Mardian mengambil air wudhu dan mulai membasuh dirinya. Hari benar-benar masih pagi dan masih banyak waktu baginya. Di balai-balai ruang tengah, Mardian melakukan shalat dhuha sampai delapan rakaat. Setelah selesai, ia menengadahkan tangannya.

“Ya Allah, ijinkan aku bicara padaMu dalam doaku ini.”

Mardian menghentikannya sebentar, tertunduk.

“Aku pernah mendengar orang lain berkata kalau manusia rajin berdoa dan mendekatkan diri padaMu, Kau akan memudahkan segala urusan mereka. Apakah itu benar, Ya Allah? Sebab, aku...aku...aku masih belum merasakan perubahan dalam hidupku ini. Kau memberikan padaku kehidupan yang seperti ini sejak kecil. Kau memisahkan orang tuaku. Kau membiarkanku hidup sendiri dalam kemiskinan. Kau juga memberikan Onum padaku. Aku sudah berusaha untuk shalat dari beberapa waktu lalu. Aku melakukan shalat lima waktu dan mencoba untuk lebih bersabar dalam menghadapi cobaan darimu. Namun, apa yang aku dapat dariMu? Kebaikan apa yang Kau beri untukku? Aku masih belum merasakan kebaikan itu sampai hari ini, Ya Allah. Pagi tadi Sekar meninggalkanku, padahal aku tidak pernah melupakan shalat sejak mertuaku menyuruhku pada hari itu. Kenapa Kau masih memberikanku penderitaan ketika aku mulai ingin dekat denganMu? Lihat aku, Ya Allah! Aku bahkan menolak untuk melakukan hal buruk pada Bayu! Sedangkan Sekar, dia ingin membunuhnya! Dia bersikap tidak selayaknya seorang istri kepadaku dan Kau membiarkan dia mendapat pekerjaan dan hidup enak. Kau juga melakukan hal yang sama terhadap ibuku. Kau seolah membiarkan dia meninggalkanku dan memberikan kekayaan padanya. Bahkan sampai dia menjadi sombong, Kau tetap mempertahankan kehidupan bahagianya itu. Kenapa kau membuat keburukan mendapat tempat yang indah di dunia ini dan melemparkan orang yang ingin berubah sepertiku ke dalam kesengsaraan? Hidupku gelap sekali, Ya Allah. Aku ingin hidup layak dengan istri dan mertuaku. Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin Kau menyelamatkan kami dari Onum. Aku ingin Kau melindungiku dari orang-orang yang gelap hati pada diriku. Lihatlah aku di sini, Ya Allah! Aku sudah menjalankan kewajibanku! Aku ingin mendekatkan diri padaMu, kenapa Kau masih tak mengenalku? Buatlah agar aku yakin bahwa Kau memang Maha Pemurah. Buat aku yakin bahwa Kau memang Maha Pemberi Rizki.”

Mardian menurunkan tangannya. Ia melepas pecinya dan meremasnya di dalam genggaman tangannya. Rona merah di seluruh wajah dan otot-otot kecil yang menegang di balik kulit seolah menyampaikan isi hatinya yang tak tersampaikan oleh lidah.

“Kalau Tuhan tak berkenan menyelamatkanku, Ning Ayu akan melakukannya.”

Suasana begitu sunyi di rumah itu. Mardian masih duduk dengan punggung yang membungkuk. Ia menahan dahinya dengan jemari tangan dan memijit-mijitnya.

***
 
Penantian akan dimulainya perjuangan kini berakhir sudah. Sebuah motor biru tua memasuki halaman rumah Ning Ayu. Sosok pengendara itu adalah pria bertubuh bongsor dengan tas di punggungnya. Ia melepas helmnya dan segera turun.

“Assalamualaikum!”

“Walaikum salam!”

Jawaban itu langsung terdengar dari dalam. Tak lama kemudian, Ning Ayu menampakkan diri.

“Hai, Sus. Tunggu sebentar, ya!” Sapanya pada pria itu.

“Kau pucat sekali!”

Ning Ayu tersenyum. “Begitukah?”

“Kau seperti belum terbiasa dengan puasa. Apakah selama ini kau tak pernah puasa pada bulan-bulan Ramadhan atau momen yang lain?”

Ning Ayu menggeleng dengan sedikit sipu di wajahnya. Ia kembali ke dalam dengan cepat.

“Biarpun kita dukun, kita tetap harus beribadah, Yu!”

Suseno masuk ke ruang tamu dan duduk. Selang dua puluh menit kemudian, Ning Ayu muncul dengan sudah mengenakan kaos hitam lengan panjang dan celana jeans. Suseno terus memperhatikannya saat Ning Ayu menutup dan mengunci pintu.

“Bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanyanya.

“Aku tidak apa-apa. Aku hanya berharap kita berhasil. Kita hanya menyegel bayi itu di bawah tanah dan mengurungnya dengan ajian, bukan?”

Suseno mengangguk. “Ya, aku juga berharap prediksi kita benar. Kalau usaha kali ini gagal, mungkin kita sudah tidak ada waktu lagi.”

Ning Ayu menarik nafas, matanya terpejam. Ia menahan udara itu memenuhi perutnya sekian detik dan melepasnya sambil membuka mata.

“Ayo kita berangkat, Sus.”

Sementara itu, Mardian tengah berada di kebunnya. Namun, tidak ada yang dapat ia lakukan selain diam meratapi singkong dan pepaya yang sama sekali tidak berbuah. Sudah tiga pohon singkong yang ia cabut dan ternyata tak memberikan apa-apa. Ia masuk ke kamar Bu Lastri. Wanita itu tak bergerak di atas kasur dengan selimut yang melingkupinya. Di tangan kanannya, tergantung sebuah tasbih kecil dengan sebelas manik-manik kayu berwarna hitam.

“Bagaimana?” Bisik Bu Lastri parau tanpa tenaga.

Mardian menggeleng lesu.

“Terus hari ini kita makan apa? Kita belum sarapan juga.”

Mardian duduk di samping mertuanya.

“Saya tidak tahu harus berbuat apa. Bahan-bahan untuk lemper juga kita belum beli. Kalau saya berjualan mungkin tidak laku lagi. Lagipula, kita memang semakin tidak punya uang untuk membeli semua itu.”

“Lakukan sesuatu, Mardian. Kau yakin sudah tidak punya tabungan?”

Mardian menggeleng. Ia memandang Bu Lastri yang makin hari makin kurus dan kering, seperti kayu mati.

“Oh ya, kita masih punya sesuatu untuk lauk makan.”

“Apa?”

“Kita masih punya lele di kolam dan perkutut yang sudah sakit-sakitan di sangkar depan. Kita masih punya bumbu, bukan? Kita bisa memasak mereka dengan bawang, garam, serta gula. Sedikit saja sudah bisa memberi rasa. Saya akan memasaknya untuk kita. Ibu tidak perlu bangun dari tempat tidur. Saya akan menyembelih mereka itu sekarang.”

Bu Lastri hanya bisa menyebut nama Tuhan setelah Mardian bergegas ke depan. Ia menggeser satu butir maniknya dengan istighfar yang menyertai.

Di teras rumah, Mardian menurunkan dua sangkar burung perkutut miliknya. Sama seperti hari-hari yang lalu, dua perkutut itu diam tanpa respons melihat sang majikan. Mardian menatap mereka dengan menahan rasa di dadanya. Namun, apa boleh buat. Jika takdir sudah bicara, manusia hanya bisa menjalani.

Tunggu!

Ada sebuah motor dengan dua orang yang memasuki halaman rumah Mardian. Mereka mengenakan pakaian hitam-hitam dan masker. Mardian bangkit berdiri ketika merasa familier dengan seorang wanita yang membonceng.

“Mbak Ning?!”

Dari dalam kamar, Bu Lastri terperanjat mendengar nama itu. Ia dengan susah payah bangun dan melongok melalui jendela kamar.

“Oh, Allahu Akbar..!” Serunya dengan mata yang berbinar seperti bintang kejora.

Ning Ayu dan Suseno melepas helm. Suseno mengamati rumah itu dari halaman.

“Aura yang terkutuk. Baru kali ini aku merasa takut terhadap iblis, seperti sedang melihat seekor harimau raksasa.” Bisiknya bergidik.

“Maka dari itu.” Balas Ning Ayu sambil berjalan mendekati Mardian yang terisak dengan pipi yang sudah basah oleh air mata.

“Apakah...ini...saatnya?” Tanya Mardian kesulitan mengucapkan kata, tertahan oleh senang dan kaget atas kedatangan yang tak disangka-sangka.

Ning Ayu mengangguk. “Kita pakai halaman belakang rumah. Mas punya cangkul?”

“Cangkul...“ Mardian menyedot ingusnya. “Cangkul untuk apa?”
"Untuk dibuat sup. Enak loh, mas. Mas Mardian memang belum pernah mencoba sup cangkul?" canda Ning Ayu.

Ketika sesaat kemudian mereka sudah berada di belakang rumah, Mardian mengetahui fungsi cangkul yang ia tanyakan.

“Kalian akan mengubur Onum?”

“Ya. Kami akan menyegel Onum di alam kegelapan agar dia tidak bisa bergerak ke alam manusia untuk menyakiti kita.”

“Maksud Mbak Ning, kalian mengubur Onum agar dia mati?” Tanya Bu Lastri yang sudah duduk di depan pintu belakang.

“Bukan mati, tapi disegel. Dikurung agar tidak berkeliaran. Karena, dia akan membunuh kita. Kalau kami mengurungnya, Onum kemungkinan tidak bisa melepaskan diri dan akhirnya kita terhindar dari kematian yang kita takutkan selama ini.”

“Doakan saja kami berhasil.” Sambung Suseno.

Suseno segera menggali tanah di halaman itu sementara Bu Lastri dan Ning Ayu mencari baskom dan piring, dan mempersiapkan perlengkapan ritual di dalam dua benda itu. Mardian juga bergerak mengambil dua buah tikar yang sebelumnya digunakan untuk mengalasi permukaan balai-balai ruang tengah dan ruang tamu.

Liang kubur yang digali Suseno tidak begitu besar dengan kedalaman tak lebih dari dua meter. Tikar sudah digelar di sisi kiri dan kanan liang sesuai instruksi Suseno. Kedua dukun itu segera duduk di atas masing-masing tikar. Mardian mengambil Bayu dari dalam kandang dan menyerahkannya pada Ning Ayu. Namun, wanita itu menahannya agar Mardian menggendongnya dulu.

“Telanjangi dia. Jangan sampai dia membawa satu barang duniawi pun.”

Ning Ayu menatap Suseno. Mereka berpandangan sesaat dan saling mengangguk. Tanpa aba-aba apapun, mereka mengucap mantra bersamaan.

“Bismillahirrahmanirrahim. Allahuma qulhuallah. Lungguhku imbar. Papanku imbar. Tekenku malaekat, pinayungan para widadari. Minggat kabeh lelembut kang sumedya ala marang awakku, pet cupet marang kersaning Allah.”

Ning Ayu dan Suseno terdiam. Mardian dan Bu Lastri memperhatikan tanpa bergerak. Sejenak, dunia seperti tak berpenghuni. Semua terasa mati. Lalu, Suseno memberi isyarat kepada Mardian untuk menyerahkan Bayu padanya. Ning Ayu mengambil sebuah lipatan karung yang terbuat dari kain hitam. Ia meletakkan lipatan itu di atas dua telapak tangannya dan merapal mantra.

“Japa Naga. Japa Mantra. Sing mandi japaku dewe. Sakehing demit lan manungsa padha sirep ing lemahe Gusti Allah. Laa hawlaa walaa quwwata illa billaah.”

Ia memberikannya pada Suseno dan Suseno memasukkan Bayu ke dalamnya. Setelah itu, Ning Ayu mengambil seikat tali. Ia melepas ikatannya, menggenggamnya sembari mengucap mantra yang sama seperti sebelumnya, dan menyerahkannya pada Suseno dengan cara yang sama juga. Suseno menerima tali itu dan mulai mengikat mulut karung.

Mardian dan Bu Lastri sama-sama bergidik tatkala menyaksikan Ning Ayu dan Suseno memasukkan karung hitam berisi Bayu ke dalam liang kubur. Bu Lastri sempat menutup mulutnya menahan percikan rasa takut sekaligus prihatin.

Bibir kedua dukun itu sama-sama tak pernah berhenti mengucap mantra yang kali tak begitu jelas di telinga Mardian dan Bu Lastri. Namun, mereka terlihat terus mengulang mantra itu. Setelah meletakkan Bayu di dalam liang, para dukun kembali ke tikar masing-masing. Suseno bersila seperti sebelumnya dan memejamkan mata dengan kedua tangan ia letakkan di atas pahanya. Jari-jarinya bergerak seperti menghitung angka zikir. Sementara itu, Ning Ayu mencelupkan tangan kirinya ke dalam baskom berisi air dan kembang. Ia mengutup mata, mengucap mantra, dan mengaduk air baskom dengan tangannya. Tak lama, ia mengambil air dengan tangannya dan meneteskannya di karung hitam.

“Astaghfirullah...”

Suseno seketika terperanjat melihat asap mengepul muncul dari permukaan kain karung yang terkena air kembang.

“Sus...”

Ning Ayu menyodorkan baskom itu pada Suseno. Awalnya, Suseno hanya menatapnya dengan ragu. Namun akhirnya, ia bersedia memegang bibir baskom. Bersama Ning Ayu, mereka melayangkan baskom di atas liang dan dengan aba-aba dari Ning Ayu, mereka menuangkan isi baskom ke karung hitam.

“Kepaten awakmu ing jero bumi. Luputo kutukan Onum.”

Suara berisik air yang mengenai permukaan karung terbalut oleh asap yang kian pekat. Kembang-kembang segar terhanyut dan mengeroyok karung seperti anak-anak yang kembali pada ibunya. Dari kejauhan, Bu Lastri memegang lengan Mardian erat-erat.

Selesai dengan air kembang, Ning Ayu mengeluarkan sekantung tanah. Ia membukanya, menjumput tanah di dalamnya, membaca mantra, meniup tanah itu, dan menaburkannya ke dalam liang seperti pelayat menaburkan bunga ke atas tanah kematian. Lebih dari lima menit Ning Ayu menghabiskan tanah dalam kantung. Kedua dukun itu berdiri. Suseno menatap Mardian.

“Ambilkan cangkul itu, mas!”

Mardian masih gemetar ketika ia menyampaikan cangkul miliknya kepada Suseno. Dengan membaca basmalah, Suseno mulai menggaruk gundukan tanah di bibir liang untuk menguruk kembali liang kubur Bayu dan menuntaskan urusan dengan Onum, sang iblis.

“Kepaten awakmu ing jero bumi. Luputo kutukan Onum. Kem-kem pambungkem ajine Onum kepati ing alam peteng. Onum kepati. Onum kepati. Onum kepati.”

***

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience