Completed
2724
Dengan ragu Adimas mulai menghampiri rumah Nada yang nampak sepi, diketuknya beberapa kali namun tak ada jawaban sama sekali. Adimas semakin resah tingkahnya semakin tak karuan, dia mencari sela-sela gorden yang terbuka. Memaksa mengintip kedalam rumah, Adimas terperangah kedua matanya melotot tajam di dalam Nada sudah tergeletak tak sadarkan diri. Beberapa kali Adimas memanggil namanya namun Nada tak kunjung sadarkan diri, dengan sigap Adimas mendobrak pintu. Lalu masuk dengan tergesa-gesa menggangkat tubuh Nada lalu pergi dengan mobilnya.
****
Di rumah Alina duduk dengan gundah, kedua matanya terus mengarah ke jam dinding di samping kanan, suaminya tak kunjung pulang meski sudah hampir tengah malam. Rasa cemburu semakin terasa berat, Alina menggelarkan sejadah kembali, selepas Shalat Istikharah Alina kembali memohon kepada sang pencipta, meminta rasa cemburu janganlah melebihi rasa sayangnya terhadap Adimas, Alina kembali bersujud menumpahkan semua isak tangis yang sudah ia bendung sejak lama.
****
Dilorong Rumah sakit Adimas duduk di kursi, merenungkan batinnya yang terasa semakin tak menentu. Kedua tangannya mengepal dengan kuat, degup jantungnya terasa semakin cepat. Adimas tak mampu menahan perasaannya untuk Nada.
Dengan lemah Adimas menatap kearah jendela, Nada masih terbaring lemas. Diucapnya setiap doa dan harapan agar perempuan dihadapannya kembali sadarkan diri. Adimas berlalu pergi ke Mushola, menenangkan diri, meminta kepada-NYA kesembuhan untuk perempuan yang akan di nikahinya kelak ketika Alina sudah benar- benar ikhlas menerima kenyataan.
****
Perempuan itu terlelap diatas sofa. Wajahnya terlihat letih, makanan ringan berserakan dilantai seperti menceritakan bahwa ia telah menunggu semalam untuk suaminya pulang. Adimas menyibakkan rambut yang setengah menutupi raut wajah Alina, Adimas memperhatikan wajah teduh istrinya. Pipinya mulai tembem , hidungnya mancung dan tanpa pensil halis atau merahnya lipstik kali ini wajah Alina benar-benar natural. Dicium dengan yakin bahwa istrinya akan menerima dengan ikhlas takdir yang sudah tergambar jelas.
**
Kali ini Adimas membiarkan Alina terlelap di ruang TV, kecemasan nya terbagi dua pikiran nya bersama Nada di rumah sakit sedangkan raga nya bersama Alina di dalam rumah.
Adimas tidur di bawah, di gelarnya busa tipis untuk meringankan rasa dingin dari lantai, kedua nya saling berhadapan Adimas mengelus lembut jari-jemari nya dengan pelan agar Alina tak terbangun. Batin nya terasa menjerit, Dia lah penyebab keretakan dalam hati istri nya. Akhirnya Adimas terlelap dalam ketidak pastian dirinya sendiri.
Menjelang pagi, Alina terbangun dari mimpi buruknya berulang kali Alina mengucap istigfar menenangkan debaran di dadanya. Tak sengaja Alina menoleh ke arah bawah, di dapati Adimas masih tertidur lelap tanpa selimut dan bantal. Raut wajahnya sangatlah letih semua beban begitu jelas tergambar dari wajahnya, mencoba bersikap biasa saja, Alina bangun dari posisi nya lalu pergi ke kamar mandi untuk cuci muka.
Suasana kali ini terasa canggung, Alina seperti mulai kehilangan alur hidupnya semua terasa kepam dan gelap. Menerima kenyataan dalam hati yang ikhlas bukanlah hal yang mudah banyak hal yang harus dipertimbangkan, banyak hal yang harus dipikirkan dengan konsekuensi yang tepat. Alina kembali mengeluh kepada Rabb-Nya meminta ketenangan jiwa dan raganya agar ia mampu mencintai kekasih halalnya tanpa berkurang sedikitpun meski luka di dalam hatinya diperoleh akibat perbuatan suaminya yang tak di duga-duga. Terus berprasangka baik meski sering di goyahkan berulang kali, Alina tetap memilih berdiri kokoh diatas duri-duri yang mulai menusuk telapak kakinya, tak ada pilihan lain Alina memilih terus terluka atau melepaskannya untuk pergi dari hadapan Alina bersama perempuan lain.
Samar-samar Adimas mulai terbangun, kedua terlinga nya mendengar bisikan yang mengejutkan. Adima bangun dengan cepat berlari tertatih masuk kedalam kamar, matanya terus menatap keseluruh ruangan dengan cemas. Entah berapa lama ia tak merasakan hal seperti ini untuk istrinya, merasa takut kehilangan. Seharusnya dia berhenti untuk tak melukai tapi hati nya akan terluka jika ia berhenti mencintai perempuan itu, perempuan yang telah meluluhkan imannya dan membuat nya harus masuk ke dalam dosa. Sehabat apapun usaha manusia untuk menyukseskan poligami jika belum takdirnya maka akan menemukan kesulitan yang banyak. Adimas sungguh manusia yang lemah dihadapan takdir Allah Swt. Merangkul kedua perempuan yang berbeda dari segi pemikiran nya itulan cobaan yang nyata untuknya saat ini.
Share this novel