3. Di Balik Kegelapan

Romance Series 38

SENJA DI ANTARA DUA DUNIA

Bab 3 — Di Balik Kegelapan

Suara pertempuran terdengar dari dalam hutan Kerajaan Vorath.

Dentangan pedang terdengar berkali-kali.

Clang!

Clang!

Clang!

Di antara para penjaga yang bertempur, lambang bulan sabit berwarna perak terlihat terukir pada zirah dan perisai mereka. Cahaya sihir yang menyambar di antara pepohonan sesekali memantulkan kilau dingin pada lambang tersebut—simbol Kerajaan Vorath yang tetap berdiri teguh di tengah kegelapan.

Suara logam beradu bercampur dengan ledakan sihir yang sesekali menerangi pepohonan di sekitarnya. Cahaya berwarna biru dan ungu menyambar di antara batang-batang pohon, menerangi tanah yang telah rusak akibat pertempuran.

Beberapa pohon patah.

Tanah dipenuhi bekas tebasan dan kawah kecil akibat benturan sihir.

Di antara kekacauan itu, para penjaga Vorath masih berusaha menahan serangan makhluk-makhluk iblis yang muncul dari balik pepohonan.

"Di sebelah kiri!"

"Jangan biarkan makhluk itu mendekat!"

"Gunakan sihir pengikat!"

"Seorang penyembuh kemari!"

Di tengah pertempuran, Klause mengayunkan pedangnya untuk menangkis cakar seekor makhluk iblis.

Rambut pendek berwarna hitamnya sedikit berantakan akibat pertempuran, sementara sepasang mata merah crimson menatap tajam ke arah lawannya. Aura kuat yang terpancar darinya menegaskan kedudukannya sebagai Pangeran Vorath, meskipun saat ini ia lebih sibuk menghadapi makhluk-makhluk iblis yang terus berdatangan.

Benturan itu menghasilkan suara nyaring yang menggema di antara pepohonan.

Klause segera memutar pergelangan tangannya, menggeser senjata lawannya, lalu melancarkan tebasan balasan.

Makhluk tersebut terhuyung.

Sebelum ia sempat menyerang kembali, Klause mengangkat tangan kirinya.

Lingkaran sihir terbentuk di udara.

Dalam sekejap, beberapa bilah energi melesat ke arah lawan dan menghantam tubuhnya hingga makhluk itu terlempar ke tanah.

Klause tidak berhenti untuk mengamati hasil serangannya.

Ia segera berbalik ketika merasakan energi lain mendekat dari belakang.

Pedangnya bergerak tepat waktu untuk menahan serangan berikutnya.

Sebagai seorang swordsman sekaligus mage tingkat Grandmaster, Klause mampu menggabungkan kedua kemampuan tersebut dalam pertempuran. Ia tidak perlu memilih antara pedang atau sihir ketika keduanya dapat digunakan untuk menghadapi ancaman yang berbeda.

Namun, medan pertempuran kali ini tidak memberinya banyak kesempatan untuk bersantai.

Jumlah makhluk iblis yang muncul terlalu banyak.

Bahkan setelah beberapa berhasil ditumbangkan, yang lain masih terus menyerang dari arah berbeda.

"Klause! Dua lagi datang dari kanan!"

Suara Kaguya terdengar dari kejauhan.

Klause melirik ke arah yang ditunjuk sahabatnya.

Dua makhluk iblis melompat melewati semak-semak, mengarah langsung kepada sekelompok penjaga yang sedang bertahan.

Klause mengangkat tangannya.

Sihir terbentuk di hadapannya, kemudian menghantam tanah di jalur kedua makhluk tersebut. Gelombang energi memaksa mereka mengubah arah serangan, memberi para penjaga waktu untuk menghindar.

Pada saat yang sama, Kaguya bergerak dari sisi lain.

Pedangnya berkilat ketika ia menangkis serangan salah satu makhluk iblis. Dengan gerakan terlatih, ia memanfaatkan celah yang terbuka untuk melancarkan tebasan balasan.

Makhluk itu jatuh.

Kaguya kemudian mengangkat tangan kirinya dan melepaskan sihir untuk menahan lawan yang tersisa.

"Kalau kau terus membiarkan mereka lewat, aku akan mulai menagih bayaran tambahan!" serunya.

Klause menoleh sekilas.

"Kalau kau masih sempat mengeluh, berarti kau belum cukup sibuk!"

"Benar juga!"

Kaguya menyeringai sebelum kembali menghadapi lawannya.

Meskipun sering bertukar ejekan, keduanya telah bertempur bersama cukup lama untuk memahami gerakan masing-masing.

Klause tidak perlu menjelaskan setiap langkah yang hendak diambilnya. Begitu ia mengalihkan perhatian musuh, Kaguya dapat memanfaatkan celah tersebut. Sebaliknya, ketika Kaguya menahan pergerakan lawan dengan sihir, Klause dapat menyelesaikannya dengan pedang.

Mereka tidak selalu menyerang dengan cara yang sama.

Terkadang pedang menjadi pilihan terbaik.

Di lain waktu, sihir jauh lebih efektif.

Bagi keduanya, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan merupakan bagian penting dari pertarungan.

Namun, bahkan dua Grandmaster tidak dapat mengabaikan kelelahan.

Setelah pertarungan berlangsung cukup lama, napas para penjaga mulai terdengar berat. Beberapa mengalami luka, sementara para healer berusaha memberikan pertolongan di sela-sela pertempuran.

Klause menyeka keringat di pelipisnya.

Tatapannya menyapu medan pertempuran.

Makhluk-makhluk iblis itu tidak hanya menyerang dari satu arah. Mereka muncul dari bagian hutan yang berbeda, seolah-olah ada sesuatu yang mendorong mereka menuju wilayah tersebut.

Pikiran itu hanya berlangsung sesaat.

Satu makhluk iblis kembali menerjangnya.

Klause segera mengangkat pedang.

Clang!

Ia menahan serangan tersebut, memutar tubuhnya, lalu menggunakan sihir untuk menghantam lawan dari jarak dekat.

Makhluk itu jatuh.

Di sisi lain, Kaguya berhasil menundukkan lawan terakhir yang menghalangi jalannya.

Beberapa penjaga kemudian menyelesaikan pertempuran mereka, dibantu oleh rekan-rekan yang masih mampu bertarung.

Perlahan-lahan, suara dentangan pedang mulai menghilang.

Beberapa saat kemudian...

Hutan kembali sunyi.

Makhluk-makhluk iblis yang menyerang akhirnya berhasil ditundukkan.

Hanya suara napas berat para prajurit yang tersisa, disertai bunyi api kecil dari sisa-sisa sihir yang masih menyala di beberapa tempat.

Klause menurunkan pedangnya.

Ia memeriksa sekeliling sebelum memastikan tidak ada ancaman lain yang langsung terlihat.

"Periksa keadaan semua orang," perintahnya. "Yang terluka harus mendapatkan perawatan sebelum kita kembali."

"Baik, Yang Mulia!"

Para penjaga segera bergerak.

Tidak jauh dari sana, Kaguya menjatuhkan dirinya ke tanah.

"Finally..... it's done..."

Ia menatap langit Vorath yang kelam, membiarkan dadanya naik turun ketika berusaha mengatur napas.

Rambut pendek berwarna abu-abu keperakan menempel sedikit di dahinya akibat keringat. Sepasang mata biru gelapnya terlihat lelah.

Kaguya berusia dua puluh empat tahun. Ia merupakan putra kepada Penasihat Agung Kerajaan Vorath sekaligus bagian dari keluarga bangsawan Vogue.

Sebagai seorang swordsman dan mage tingkat Grandmaster, ia mampu menghadapi lawan dengan kedua kemampuan tersebut. Namun, kemampuan tinggi tidak membuatnya kebal terhadap kelelahan setelah pertempuran panjang.

Untuk saat ini, ia hanya ingin berbaring tanpa harus mengangkat pedang lagi.

Klause menghampirinya setelah memastikan keadaan para penjaga.

"Sudah selesai beristirahat?"

Kaguya menoleh dengan tatapan tidak percaya.

"Kau baru saja melihatku menjatuhkan diri ke tanah. Menurutmu?"

"Menurutku, kau masih punya cukup tenaga untuk mengeluh."

"Kalau begitu, kau bisa mengambil alih tugasku dan memeriksa semua penjaga."

Klause menghela napas kecil, tetapi sudut bibirnya bergerak tipis.

"Bangun. Kita harus memastikan semua orang mendapatkan perawatan sebelum kembali."

Kaguya mengangkat satu tangan, seolah meminta waktu tambahan.

"Berikan aku lima menit."

"Kau mengatakan hal yang sama setelah pertempuran sebelumnya."

"Dan aku benar-benar hanya membutuhkan lima menit."

"Sayangnya, kita tidak sedang berlibur."

Kaguya akhirnya tertawa kecil sebelum bangkit dengan bantuan tangannya sendiri.

Namun, begitu berdiri, ekspresinya kembali serius.

"Ini tidak wajar."

Klause menoleh kepadanya.

Kaguya menyeka keringat di dahinya.

"Makhluk iblis seperti ini... terus kembali terlalu sering."

Klause tidak langsung menjawab.

Ia juga menyadari hal yang sama.

Serangan seperti ini bukan sesuatu yang dapat mereka anggap biasa. Jika kemunculannya terus berulang, para penjaga akan semakin kelelahan, dan wilayah perbatasan dapat menjadi semakin sulit dikendalikan.

"Kau melihat sesuatu yang berbeda dari biasanya?" tanya Klause.

Kaguya menggeleng pelan.

"Tidak ada yang cukup jelas untuk dijadikan kesimpulan. Tapi jumlah mereka semakin mengganggu. Kita juga tidak bisa terus mengandalkan kekuatan untuk menyelesaikan masalah yang sama."

Klause memandang ke arah hutan yang lebih dalam.

Ia tidak menyukai keadaan yang tidak dapat dijelaskan, terlebih ketika ancaman tersebut mulai memengaruhi keamanan kerajaannya.

"True..."

Ia menarik napas perlahan.

"Kita harus melaporkannya kepada Ayahanda. Aku ingin para penjaga mencatat jumlah makhluk yang muncul, lokasi serangan, dan kondisi mereka sebelum pertempuran."

Kaguya mengangguk.

"Itu lebih baik daripada terus menebak-nebak."

"Dan kau akan diperiksa oleh healer sebelum ikut campur dalam penyelidikan berikutnya."

Kaguya langsung menoleh.

"Tunggu. Kenapa aku yang diperiksa?"

"Karena kau baru saja menghabiskan sebagian besar tenagamu."

"Kau juga bertarung!"

"Dan aku masih berdiri tanpa berbaring di tanah."

Kaguya terdiam selama beberapa detik.

Kemudian ia mendecakkan lidah.

"Benar-benar menyebalkan."

Klause tidak menjawab. Ia hanya berbalik untuk membantu mengatur kepulangan rombongan.

Setelah semua penjaga yang terluka mendapatkan pertolongan awal dari para healer, mereka mulai meninggalkan hutan. Luka-luka yang lebih serius tetap memerlukan perawatan lanjutan, tetapi setidaknya keadaan mereka cukup stabil untuk dibawa kembali ke istana.

Sepanjang perjalanan, Klause beberapa kali memeriksa keadaan rombongan.

Pikirannya masih tertuju pada serangan yang baru saja mereka hadapi.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Dan ia berniat mencari tahu penyebabnya.

---

Beberapa waktu kemudian...

Istana Kerajaan Vorath berdiri dalam suasana yang jauh berbeda dari hutan tempat mereka bertempur.

Di sepanjang jalan menuju istana, panji-panji hitam dengan lambang bulan sabit perak berkibar tertiup angin malam. Simbol yang sama menghiasi dinding dan pilar istana, menegaskan identitas Kerajaan Vorath di bawah langit yang senantiasa gelap.

Tidak ada cahaya matahari yang menerobos kegelapan. Hanya cahaya dari kristal-kristal sihir yang menerangi jalan menuju istana.

Begitu rombongan tiba, para penjaga yang terluka diarahkan menuju ruang penyembuhan untuk menerima perawatan lanjutan. Mereka yang masih bertugas membantu mengantar rekan-rekan mereka sebelum akhirnya melaporkan keadaan masing-masing.

Kaguya juga diminta menuju ruang penyembuhan.

Ia sempat hendak membantah, tetapi tatapan Klause membuatnya mengurungkan niat.

"Jangan terlalu khawatir. Aku belum mati," gumamnya.

Klause menatapnya datar.

"Itu justru yang membuatku khawatir."

Kaguya terkekeh kecil.

"Kalau begitu, berhentilah mengkhawatirkanku dan urus laporanmu."

"Untuk sekali ini, kita sepakat."

Kaguya mengangkat tangan sebagai tanda menyerah, lalu mengikuti petugas menuju ruang penyembuhan.

Klause sendiri berbalik menuju aula utama.

Ia tidak ingin menunda laporan kepada ayahnya.

Pintu aula utama terbuka di hadapannya.

Klause melangkah masuk dan mendapati Raja Vorath telah menunggunya.

Sang raja berdiri dengan sikap tenang, tetapi tatapannya segera tertuju kepada putranya.

Klause berjalan mendekat lalu menundukkan kepala dengan hormat.

"Ayahanda."

"Klause." Raja Vorath mengamati putranya sejenak. "Aku menerima kabar bahwa terjadi serangan lagi di hutan perbatasan. Bagaimana keadaan para penjaga?"

"Sebagian mengalami luka, tetapi mereka telah mendapatkan pertolongan awal dari para healer. Rombongan sudah kembali ke istana, dan para penjaga yang membutuhkan perawatan lanjutan sedang ditangani."

Klause berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Namun, ada hal yang perlu Ayahanda ketahui. Kemunculan makhluk iblis semakin sering. Pertempuran kali ini juga menguras tenaga para penjaga lebih banyak daripada yang seharusnya."

Ekspresi Raja Vorath berubah serius.

"Apakah kau mengetahui penyebabnya?"

"Belum, Ayahanda. Kami belum menemukan bukti yang cukup untuk memastikan penyebabnya. Karena itu, saya ingin mengumpulkan catatan serangan sebelumnya dan membandingkannya dengan kejadian hari ini."

Raja Vorath terdiam, mempertimbangkan laporan putranya.

Klause berdiri tegak di hadapannya.

Ia telah menghadapi banyak makhluk iblis sebelumnya. Ia juga memahami bahwa tidak semua serangan dapat dijelaskan dengan mudah.

Namun, membiarkan kejadian ini terus berulang tanpa penyelidikan bukanlah pilihan yang dapat diterimanya.

"Aku akan memerintahkan agar laporan dari wilayah perbatasan dikumpulkan," ujar sang raja akhirnya. "Pastikan para penjaga mendapatkan waktu untuk memulihkan diri. Kita tidak boleh membiarkan mereka kehabisan tenaga."

"Baik, Ayahanda."

Klause menundukkan kepala.

Ia datang untuk melaporkan sebuah pertempuran.

Namun, semakin sering serangan itu terjadi, semakin jelas bahwa masalah mereka mungkin jauh lebih besar daripada sekadar makhluk iblis yang berkeliaran di hutan.

Dan Klause belum mengetahui bahwa selain laporan mengenai serangan tersebut...

Ada sebuah kejutan yang sedang menunggunya.

Kejutan yang akan membuat hari yang awalnya hanya dipenuhi pertempuran menjadi jauh lebih menarik.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience