Series
38
SENJA DI ANTARA DUA DUNIA
Bab 7 — Amarah Sang Pangeran
Suara benturan pedang dan ledakan sihir menggema dari tempat latihan Kerajaan Vorath.
Wilayah terbuka itu dibangun jauh dari kawasan utama kerajaan, menjadi tempat para prajurit, ksatria, pengawal kerajaan, dan penyihir mengasah kemampuan mereka.
Sebuah penghalang sihir berlapis mengelilingi seluruh area, dirancang untuk menahan benturan senjata dan serangan sihir berkekuatan tinggi. Bahkan latihan para Grandmaster biasanya tidak akan mengganggu kestabilannya.
Namun, hari ini berbeda.
Sejak siang, Pangeran Klause berada di tengah lapangan, melampiaskan amarahnya melalui latihan pedang dan sihir.
Sejak menerima kabar mengenai perjanjian seribu tahun dan pernikahannya dengan Putri Lumindor, suasana hatinya terus memburuk.
BOOM!
Sebuah ledakan menghantam tanah. Gelombang energi gelap menyebar, membuat debu dan pecahan batu beterbangan.
Klause berdiri di tengah lapangan dengan pedang di tangannya. Keringat membasahi wajahnya, tetapi ia tidak menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti.
CLANG!
Target latihan berikutnya terbelah menjadi dua.
Ia bahkan tidak meliriknya.
Aura crimson berputar di sekitar tubuhnya, semakin liar setiap kali ia mengayunkan pedang.
[Kenapa harus aku?]
BOOM!
[Kenapa perjanjian itu harus berakhir sekarang?]
Tebasannya kembali menghantam tanah, menciptakan retakan panjang di permukaan lapangan.
[Dan kenapa harus berakhir dengan pernikahan?!]
Klause mengangkat pedangnya sekali lagi.
Gelombang sihir crimson melesat ke depan dan menghantam penghalang.
WUUUUM!
Seluruh penghalang bergetar hebat.
Para penjaga yang bertugas mempertahankan formasi segera memperkuat aliran sihir mereka.
"Yang Mulia, kekuatan sihirnya semakin meningkat!" seru salah seorang penjaga.
Penjaga lainnya menatap lapangan dengan wajah tegang.
"Jika beliau terus seperti ini, penghalang mungkin tidak akan bertahan sampai tengah malam."
Mereka mengetahui betapa kuatnya sang pangeran. Sebagai seorang Grandmaster dalam ilmu pedang sekaligus sihir, Klause biasanya mampu mengendalikan kedua kemampuannya dengan presisi luar biasa.
Namun, kali ini, mereka bahkan tidak berani mendekatinya.
Bukan karena takut menerima hukuman.
Mereka hanya tahu bahwa Pangeran Klause sedang berada dalam suasana hati yang sangat buruk.
Dan tidak seorang pun ingin menjadi sasaran amarahnya.
Sejak kembali dari pertempuran di hutan, Klause memang terlihat kelelahan. Namun, setelah mendengar keputusan Raja Valerius mengenai perjanjian kuno, kemarahannya mencapai puncaknya.
Ia tidak keberatan menjalankan tugasnya sebagai pangeran.
Ia juga memahami bahwa perdamaian kedua kerajaan bukan perkara sederhana.
Namun, mengapa masa depannya harus ditentukan melalui pernikahan dengan seseorang yang bahkan belum pernah ditemuinya?
Ia tidak mengenal Putri Lumindor itu.
Tidak mengetahui sifatnya, pikirannya, ataupun bagaimana perempuan tersebut memandang pernikahan mereka.
Yang ia ketahui hanyalah bahwa suatu hari nanti, seorang perempuan asing akan datang ke Vorath dan menjadi istrinya karena sebuah perjanjian yang dibuat seribu tahun lalu.
[Seolah-olah pendapatku sama sekali tidak penting.]
Rahang Klause mengeras.
Pedangnya kembali terayun.
BOOM!
Penghalang kembali bergetar.
---
Beberapa saat kemudian, seseorang muncul di pintu masuk tempat latihan.
Rambut pendek berwarna abu-abu keperakan bergerak mengikuti langkahnya. Sepasang mata biru gelap langsung mengamati keadaan di hadapannya.
Kaguya.
Setelah keluar dari ruang perawatan, ia akhirnya memutuskan untuk mencari sahabatnya.
Awalnya, ia mengira Klause hanya ingin berlatih sebentar untuk memulihkan kondisi tubuhnya setelah pertempuran di hutan.
Namun, suara ledakan yang terdengar bahkan dari kejauhan membuatnya segera menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Kaguya menghampiri penjaga di pintu masuk.
"Apa yang terjadi?"
Penjaga itu segera membungkuk.
"Yang Mulia Pangeran sudah berada di dalam sejak siang. Beliau belum berhenti berlatih."
Kaguya mengangkat alis.
"Sejak siang?"
"Benar, Yang Mulia."
BOOM!
Penghalang bergetar lagi.
Kaguya menoleh ke arah lapangan, lalu menghela napas panjang.
"Seberapa buruk keadaannya?"
Penjaga itu melirik penghalang yang mulai berpendar tidak stabil.
"Jika serangannya terus meningkat, kami tidak yakin penghalang ini mampu bertahan sampai tengah malam."
Kaguya terdiam.
Ia telah mengenal Klause sejak mereka masih kecil. Ia mengetahui sifat sahabatnya yang keras kepala dan kecenderungannya untuk menyelesaikan masalah sendiri.
Jika Klause sedang kesal, biasanya ia hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Namun, jika sampai menggunakan sihir tanpa memedulikan batas kekuatannya, berarti ada sesuatu yang benar-benar membuatnya kehilangan kesabaran.
"Dia tidak pernah seperti ini hanya karena kalah dalam pertempuran," gumam Kaguya.
Penjaga itu memilih untuk tidak menjawab.
Kaguya mengusap wajahnya.
[Sepertinya keputusan Raja Valerius benar-benar membuatnya marah.]
Ia kemudian kembali menatap para penjaga.
"Biarkan aku masuk."
"Yang Mulia, itu berbahaya."
"Aku tahu."
Kaguya menghela napas.
"Justru karena itulah aku harus masuk."
Para penjaga saling berpandangan sebelum akhirnya mengaktifkan formasi untuk membuka celah pada penghalang.
Cahaya sihir perlahan terbelah.
Kaguya melangkah masuk.
Begitu melewati penghalang—
BOOM!
Ledakan besar kembali mengguncang lapangan.
Ia melihat Klause berdiri di tengah debu, dengan pedang di tangan dan aura crimson yang bergejolak di sekeliling tubuhnya.
"Klause!"
Sang pangeran tidak menjawab.
Ia justru mengangkat pedangnya, bersiap melancarkan serangan berikutnya.
Kaguya menyipitkan mata.
"Hei, kau ingin menghancurkan tempat latihan ini atau seluruh kerajaan?"
Klause akhirnya menoleh.
Tatapan merah gelapnya terlihat tajam.
"Kalau kau datang hanya untuk mengoceh, sebaiknya pergi."
Kaguya mengangkat alis.
"Begitu cara menyambut sahabat yang baru saja datang untuk memeriksamu?"
"Aku tidak meminta diperiksa."
"Tentu saja tidak. Kau bahkan tidak meminta siapa pun untuk mengingatkanmu bahwa tubuhmu baru saja melewati pertempuran panjang."
Klause mendengus dan kembali mengarahkan pedangnya ke target latihan.
"Aku baik-baik saja."
Kaguya melirik retakan di tanah, lalu penghalang yang masih bergetar.
"Ya, tentu. Kau terlihat sangat baik sampai-sampai para penjaga takut penghalang ini akan runtuh."
"Kalau begitu, suruh mereka memperkuatnya."
Kaguya terdiam sesaat.
Kemudian, ia menggelengkan kepala.
[Benar-benar keras kepala.]
"Klause, berhenti."
"Aku bilang aku baik-baik saja."
"Aku mendengarmu. Sayangnya, penghalang itu tidak akan mendengarkanmu jika akhirnya hancur."
Klause menatapnya dingin.
"Sejak kapan kau begitu peduli pada penghalang?"
"Sejak aku menyadari bahwa aku mungkin harus membantu memperbaiki tempat ini jika kau terus mengamuk."
Untuk sesaat, suasana di antara mereka terasa hening.
Namun, Klause tidak menunjukkan tanda-tanda akan menurunkan pedangnya.
"Aku tidak punya waktu untuk leluconmu, Kaguya."
"Aku juga tidak punya waktu untuk berdiri di sini sampai tengah malam hanya untuk memastikan kau tidak menghancurkan lapangan."
Kaguya melangkah beberapa langkah ke depan.
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?"
Klause menggenggam pedangnya lebih erat.
"Apa maksudmu?"
"Kau sudah berlatih sejak siang. Kau tahu tubuhmu kelelahan, dan kau tahu penghalang ini tidak akan bertahan selamanya. Jadi, apa yang sebenarnya ingin kau buktikan?"
Tatapan Klause mengeras.
"Aku tidak perlu membuktikan apa pun."
"Lalu kenapa kau belum berhenti?"
Pertanyaan itu membuat Klause terdiam sesaat.
Kaguya mengenal sahabatnya dengan cukup baik untuk mengetahui bahwa kemarahannya bukan sekadar akibat kelelahan.
Ada sesuatu yang lebih dalam.
Namun, ia juga tahu bahwa memaksa Klause menjelaskan perasaannya saat ini hanya akan memperburuk keadaan.
Klause mengalihkan pandangan.
"Pergilah, Kaguya."
Kaguya menghela napas.
"Maaf, teman. Kali ini aku tidak bisa menuruti permintaanmu."
Ia mengangkat tangannya. Lingkaran sihir terbentuk di udara, sementara senjatanya muncul dalam genggaman.
Sebagai seorang Grandmaster dalam ilmu pedang dan sihir, Kaguya tidak berniat menghadapi kekuatan Klause hanya dengan mengandalkan satu kemampuan.
Jika diperlukan, ia akan menggunakan keduanya.
Klause menatapnya tajam.
"Kau serius?"
"Kau pikir aku datang jauh-jauh hanya untuk melihatmu menghancurkan tempat latihan?"
Aura sihir mulai berkumpul di sekitar tubuh Kaguya.
Ia mengambil posisi bertarung.
"Bersiaplah, Klause."
Sang pangeran mengangkat pedangnya, sementara aura crimson di sekelilingnya kembali bergejolak.
Kaguya mengeratkan genggamannya.
Ia tidak ingin melukai sahabatnya. Ia hanya ingin menghentikannya sebelum amarah itu membuatnya kehilangan kendali sepenuhnya.
"Maaf, teman."
Tatapan biru gelapnya menjadi serius.
"Tapi kali ini, aku harus menghentikanmu dengan paksa."
Share this novel