Series
38
BAB 9 — DI ATAS PUNCAK
Kaguya masih duduk di samping Klause.
Sang pangeran terbaring di atas tanah, menatap langit tanpa sepatah kata pun. Napasnya mulai teratur, sementara aura crimson yang sebelumnya menyelimuti tubuhnya telah menghilang sepenuhnya.
Untuk beberapa saat, Kaguya membiarkannya menikmati keheningan.
Tidak ada pertanyaan. Tidak ada nasihat. Apalagi komentar tentang pernikahan yang telah membuat sahabatnya mengamuk sejak siang tadi.
Setelah pertarungan mereka, Kaguya tahu bahwa tempat ini bukan tempat yang tepat untuk membicarakan semuanya.
Dia melirik ke sekeliling.
Tanah dipenuhi retakan. Beberapa target latihan telah hancur berkeping-keping, dan sisa-sisa sihir masih berpendar samar di udara. Penghalang yang melindungi area latihan pun baru saja kembali stabil.
Kaguya menghela napas panjang.
"Kurasa kita sebaiknya pergi dari sini."
Klause tidak menanggapi.
Kaguya mengangkat tangan. Sebuah lingkaran sihir berwarna biru keperakan terbentuk di bawah mereka, cahayanya perlahan menyebar di atas tanah.
Klause akhirnya mengalihkan pandangan.
"Apa yang kau lakukan?"
"Memindahkanmu."
"Aku bisa berjalan."
Kaguya menatapnya datar.
"Kau baru saja tumbang karena kakimu tidak sanggup menopang tubuhmu sendiri."
Klause terdiam.
Senyum tipis muncul di wajah Kaguya.
"Jadi, diam saja dan biarkan aku bekerja."
Klause memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas pasrah.
"...Terserah."
Cahaya lingkaran sihir semakin terang.
Dalam sekejap—
WUSHH!
Keduanya menghilang dari tempat latihan.
---
Para penjaga yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa saling berpandangan.
Satu detik.
Dua detik.
Sang pangeran telah menghilang, begitu pula Kaguya.
Akhirnya, salah seorang penjaga mengembuskan napas lega.
"Syukurlah..."
"Setidaknya tempat latihan masih berdiri," sahut penjaga lain.
Mereka menatap area yang kini menyerupai medan perang kecil. Retakan tanah, target latihan yang hancur, serta bekas ledakan sihir tersebar hampir di seluruh tempat.
Seorang penjaga mengusap wajahnya.
"Semoga Yang Mulia tidak kembali mengamuk."
Penjaga di sebelahnya segera mengangguk.
"Aku sungguh berharap begitu."
Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara sang pangeran dan sahabatnya. Namun, setelah menyaksikan kehancuran hari itu, mereka sepakat akan satu hal.
Jika Klause kembali dengan amarah yang sama, mereka hanya bisa berharap penghalang tempat latihan cukup kuat untuk menahannya.
---
Jauh dari istana Vorath, di puncak sebuah gunung yang jauh dari keramaian, cahaya sihir muncul di atas dataran batu.
WUSHH!
Klause dan Kaguya tiba di sana.
Angin dingin langsung menyambut mereka, menerpa wajah dan mengacak rambut yang masih berantakan setelah pertarungan.
Kaguya berdiri sejenak, mengamati pemandangan di sekelilingnya.
Tempat ini sudah sangat akrab bagi mereka.
Sejak masih muda, mereka sering datang ke gunung tersebut untuk menjauh sejenak dari kehidupan istana. Di sini, Klause bukan seorang pangeran yang harus memikirkan urusan kerajaan, sementara Kaguya bukan putra keluarga bangsawan yang dituntut untuk selalu menjaga sikap.
Mereka hanya dua sahabat yang ingin menikmati waktu tanpa gangguan.
Ketika istana terasa terlalu ramai, mereka datang ke sini.
Ketika kewajiban membuat kepala mereka penuh, mereka datang ke sini.
Bahkan ketika tidak ada masalah apa pun dan mereka hanya ingin duduk tanpa melakukan sesuatu, tempat ini tetap menjadi pilihan mereka.
Kaguya menoleh kepada Klause.
Sang pangeran kini sudah mampu berdiri tegak. Setelah memastikan keseimbangannya kembali normal, Kaguya diam-diam menghentikan sihir yang sejak tadi menguras stamina Klause selama pertarungan mereka.
Klause tidak menyadari perubahan itu. Atau mungkin, dia menyadarinya tetapi terlalu lelah untuk memedulikannya.
Tanpa berkata-kata, dia berjalan menuju ujung tebing.
Kaguya mengikutinya.
Mereka duduk berdampingan di atas sebuah batu besar yang menghadap ke seluruh wilayah Vorath.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya menikmati angin gunung.
WUSHH...
Dari ketinggian itu, Kerajaan Vorath terbentang di hadapan mereka. Bangunan-bangunan tampak kecil dari kejauhan, sementara menara istana menjulang di tengah wilayah kerajaan. Hutan lebat membingkai sebagian perbatasan, membentang hingga garis cakrawala.
Jauh di sana, batas antara Vorath dan kerajaan tetangga terlihat samar.
Klause menatap pemandangan tersebut dalam diam.
Kerajaan itu adalah tempatnya dilahirkan dan dibesarkan. Tempat kenangan masa kecilnya tersimpan, tempat orang-orang yang dikenalnya menjalani kehidupan mereka, dan tempat yang suatu hari nanti akan berada di bawah pemerintahannya.
Dia telah dipersiapkan untuk menjadi raja sejak kecil.
Tanggung jawab itu bukan sesuatu yang baru baginya. Dia memahami kewajibannya, mengetahui apa yang diharapkan darinya, dan tidak pernah benar-benar menghindari perannya sebagai putra mahkota.
Namun, hari ini, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Dadanya sesak.
Pandangannya tetap tertuju pada kejauhan, tetapi pikirannya kembali pada percakapannya dengan Valerius.
[Dia adalah Putri Eiravelle dari Lumindor.]
Jari-jari Klause perlahan mengepal.
Suara ayahnya kembali terngiang di benaknya.
[Dalam satu bulan, kau akan menyambut Putri Lumindor sebagai istrimu.]
Klause menarik napas panjang.
Anehnya, udara dingin yang memenuhi paru-parunya tidak mampu meringankan beban di dadanya.
Seribu tahun.
Selama itulah perjanjian antara Vorath dan Lumindor telah bertahan.
Kini, perjanjian tersebut akan menentukan jalan hidupnya.
Pernikahan.
Dengan seseorang yang bahkan belum pernah ditemuinya.
Seorang putri dari kerajaan yang selama ini hanya dikenalnya melalui cerita dan urusan politik.
Lumindor.
Kerajaan cahaya. Kerajaan para elf.
Kerajaan yang terbentang di balik perbatasan yang kini terlihat dari tempatnya duduk.
Klause menatap garis cakrawala itu lebih lama.
[Begitu mudahnya mereka menentukan masa depanku.]
Rahangnya mengeras.
Dia tidak membenci Lumindor. Dia bahkan tidak mengenal Eiravelle, gadis yang namanya kini terikat pada masa depannya.
Lantas, mengapa dia harus menerima semuanya seolah-olah tidak ada yang salah?
Karena dia seorang pangeran?
Karena perjanjian itu telah bertahan selama seribu tahun?
Atau karena sebagai pewaris takhta, keinginannya sendiri tidak pernah sepenting kepentingan kerajaan?
Klause menundukkan kepala.
Dia bisa menerima bahwa suatu hari nanti akan ada banyak hal yang harus dikorbankannya demi Vorath. Dia telah memahami kenyataan itu sejak lama.
Namun, menerima tanggung jawab sebagai calon raja tidak berarti dia siap menyerahkan seluruh hidupnya tanpa diberi kesempatan untuk memilih.
Dan justru itulah yang paling menyakitkan.
Dia tidak diberi pilihan.
Bahkan untuk sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Kaguya yang duduk di sampingnya memperhatikan sahabatnya dari sudut mata.
Dia melihat perubahan kecil pada wajah Klause. Ketajaman tatapannya telah memudar, bahunya tampak lebih berat, dan tangan yang sebelumnya mengepal kini terdiam di atas lutut.
Kaguya mengenal Klause cukup lama untuk memahami perbedaan antara amarah yang meledak-ledak dan kekecewaan yang tidak tahu harus disalurkan ke mana.
Pertarungan mereka tadi dipenuhi amarah.
Namun, keheningan Klause sekarang terasa jauh lebih sulit dihadapi.
Kaguya ingin mengatakan sesuatu. Mungkin melontarkan lelucon untuk mengusik suasana, atau mengingatkan Klause bahwa dia belum tentu harus membenci seseorang yang bahkan belum dikenalnya.
Namun, dia mengurungkan niatnya.
Kali ini, lelucon tidak akan menyelesaikan apa pun.
Dan Klause tidak membutuhkan seseorang yang buru-buru membenarkan keputusan kerajaan atau memintanya menerima keadaan.
Jadi, Kaguya tetap duduk di sampingnya.
Tanpa bertanya.
Tanpa menasihati.
Membiarkan angin melewati mereka dan memberi sahabatnya waktu untuk menata pikirannya sendiri.
Terkadang, tidak semua masalah membutuhkan jawaban saat itu juga. Ada kalanya seseorang hanya membutuhkan ruang untuk memahami apa yang sebenarnya dia rasakan.
Dan jika Klause belum siap membicarakannya, Kaguya tidak akan memaksanya.
Dia menengadah, memandang langit Vorath yang terbentang luas di atas mereka.
Di puncak gunung itu, jauh dari tuntutan istana dan tatapan para bangsawan, mereka tidak perlu menjadi siapa-siapa selain diri mereka sendiri.
Setidaknya, untuk sementara waktu.
Kaguya menyandarkan kedua tangannya di belakang tubuh, lalu kembali melirik sahabatnya.
Klause masih menatap perbatasan.
Dan Kaguya tetap berada di sisinya, membiarkannya tenggelam dalam pikirannya sendiri tanpa harus menghadapi semuanya sendirian.
Share this novel