17. Nama yang Bukan Milikku

Romance Series 38

Bab 17 — Nama yang Bukan Milikku

Hutan Vorath kembali dipenuhi suara pertempuran.

Raungan makhluk iblis menggema di antara pepohonan, memecah kesunyian malam yang mulai turun. Bayangan-bayangan bergerak cepat di antara batang pohon, sementara kilatan sihir menerangi tanah yang dipenuhi dedaunan kering.

Klause mengayunkan pedangnya.

Bilahnya berkilau ketika menebas makhluk iblis yang menerjang dari balik semak. Makhluk itu mengeluarkan raungan pendek sebelum tubuhnya lenyap menjadi serpihan energi gelap.

Namun, belum sempat Klause menarik napas, dua makhluk lainnya muncul dari sisi berlawanan.

Ia berputar, menghindari cakar yang menyambar, lalu melepaskan sihir untuk menghantam lawan kedua. Gerakannya tetap terukur meskipun pertempuran telah berlangsung cukup lama.

Tidak jauh darinya, Kaguya membantu para penjaga mengendalikan situasi. Pedangnya bergerak cepat, sementara sihirnya membentuk penghalang untuk melindungi seorang penyihir yang hampir diserang dari belakang.

"Sebelah kiri!" seru Kaguya.

Klause tidak perlu menoleh untuk memahami peringatannya.

Ia memutar tubuh dan menangkis serangan yang datang, kemudian mengirimkan tebasan sihir ke arah makhluk tersebut.

"Sudah kulihat," jawabnya singkat.

Kaguya hanya menggeleng kecil.

Bahkan di tengah pertempuran seperti ini, Klause masih sempat bersikap menyebalkan.

Namun, tidak ada waktu untuk melanjutkan percakapan.

Pertempuran kembali berlangsung.

Satu demi satu makhluk iblis akhirnya tumbang. Raungan mereka semakin jarang terdengar, hingga suara pertempuran perlahan mereda.

Kemudian, raungan terakhir menggema dari balik pepohonan.

Sebuah makhluk iblis berukuran besar terjatuh setelah menerima serangan gabungan para penjaga dan penyihir. Tubuhnya bergetar sesaat sebelum menghilang menjadi kabut gelap.

Hening.

Klause menurunkan pedangnya dan mengamati keadaan sekitar.

Tidak ada gerakan mencurigakan.

Tidak ada makhluk lain yang muncul dari balik pepohonan.

Aura iblis yang memenuhi kawasan itu pun perlahan melemah.

"Periksa sekeliling," perintahnya kepada para penjaga. "Pastikan tidak ada yang tersisa."

"Baik, Yang Mulia!"

Para penjaga segera menyebar bersama para penyihir untuk melakukan pemeriksaan terakhir.

Klause mengembuskan napas panjang.

Baru sekarang ia menyadari betapa berat tubuhnya terasa.

Sejak siang, ia telah menghabiskan banyak tenaga. Ditambah dengan pertempuran yang berlangsung cukup lama, bahkan tubuhnya yang terlatih membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Ia menyimpan pedangnya, lalu berjalan menuju sebuah pohon besar di dekatnya.

Batangnya cukup lebar untuk menopang tubuhnya.

Klause duduk bersandar di sana, membiarkan kepalanya menyentuh permukaan kulit pohon yang kasar.

"Aku hanya akan beristirahat sebentar..."

Ia memejamkan mata.

Hanya sebentar.

Setelah itu, mereka akan kembali ke istana.

Pikiran mengenai perjanjian pernikahan yang masih menunggunya di sana sempat melintas, tetapi rasa lelah segera mengalahkannya.

Tidak lama kemudian, napasnya menjadi teratur.

Klause tertidur.

---

Ketika Klause membuka matanya kembali, sesuatu terasa berbeda.

Ia masih bersandar pada batang pohon besar.

Namun, udara yang menyentuh wajahnya terasa begitu ringan, jauh berbeda dari udara dingin dan berat yang biasa menyelimuti hutan Vorath.

Klause perlahan mengangkat kepalanya.

Tidak ada bau tanah basah.

Tidak ada suara makhluk iblis.

Tidak ada aura gelap yang biasanya memenuhi kawasan hutan tersebut.

Sebaliknya, ia mendengar suara angin yang berembus lembut, disertai gemerisik dedaunan dan kicauan makhluk kecil yang tidak dikenalnya.

Klause terdiam.

Ia menegakkan tubuh dan memandang sekeliling.

Pohon tempatnya bersandar ternyata jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan. Batangnya menjulang tinggi, sementara cabang-cabangnya membentang luas hingga membentuk kanopi yang menaungi sebagian besar kawasan di sekitarnya.

Daun-daun berwarna hijau segar bergerak perlahan tertiup angin.

Cahaya keemasan menyusup melalui celah dedaunan, jatuh di atas hamparan rumput dan bunga-bunga kecil yang tumbuh di antara akar pohon.

Klause mendongak.

Di atas sana, matahari bersinar terang.

Namun, cahayanya tidak menyilaukan. Kehangatannya terasa lembut, menyentuh kulit tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman.

Pemandangan itu begitu asing baginya.

Ia telah mendengar banyak cerita mengenai Lumindor, kerajaan yang dikenal dengan cahaya dan keindahan alamnya. Akan tetapi, tempat ini bahkan terasa berbeda dari gambaran yang pernah ia dengar.

Klause mengangkat tangannya, mencoba merasakan energi sihir yang mengalir di dalam tubuhnya.

Gerakannya terhenti.

Matanya sedikit melebar.

Energinya...

Begitu penuh.

Sihir yang biasanya mengalir di dalam tubuhnya kini terasa padat dan melimpah, seolah setiap bagian dirinya dipenuhi kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Bukan sekadar pulih dari kelelahan.

Sensasi ini jauh melampaui itu.

Klause mengepalkan tangannya, lalu melepaskannya kembali.

[Tempat apa ini?]

Ia berdiri perlahan dan mengamati sekeliling.

Pepohonan yang menjulang, bunga-bunga yang bermekaran, langit cerah, serta udara yang dipenuhi energi sihir yang begitu murni.

Semuanya terasa asing.

Namun, anehnya, ia tidak merasakan ancaman apa pun.

Justru, ketenangan tempat ini membuatnya merasa seolah dunia tidak pernah mengenal peperangan.

Klause mengerutkan kening.

[Ini jelas bukan Vorath...]

Sebelum ia sempat memikirkan kemungkinan lain, sebuah suara terdengar dari bawah pohon.

"Rhae..."

Klause membeku.

Suara itu lembut dan akrab, seolah orang yang memanggilnya telah terbiasa melakukannya selama bertahun-tahun.

"...turunlah."

Klause perlahan menundukkan pandangan.

"Katanya kau ingin berjalan-jalan denganku?"

Matanya melebar.

Di bawah pohon berdiri seorang wanita muda dengan rambut panjang berwarna kuning keemasan. Rambutnya berkilau ketika terkena cahaya matahari, bergerak lembut mengikuti embusan angin.

Ia mengenakan pakaian sederhana yang tampak nyaman untuk berjalan-jalan. Tidak ada perhiasan mencolok atau hiasan rumit yang biasa dikenakan para bangsawan di istana.

Namun, ada sesuatu pada dirinya yang sulit diabaikan.

Matanya.

Sepasang mata berwarna emerald memandang ke atas dengan kilauan cerah. Senyumnya begitu alami, seolah kebahagiaan adalah sesuatu yang selalu dekat dengannya.

Untuk sesaat, Klause hanya menatap wanita itu tanpa berkata-kata.

Rambut emasnya mengingatkan Klause pada cahaya matahari yang jarang ia nikmati di Vorath.

Akan tetapi, bukan itu yang membuatnya terdiam.

Wanita tersebut sedang menatapnya seolah mereka sudah saling mengenal.

Seolah keberadaannya di atas pohon bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

"Rhae?"

Wanita itu memiringkan kepala.

"Kau baik-baik saja?"

Klause segera tersadar.

[Rhae?]

Ia menatap wanita itu dengan kening berkerut.

[Siapa Rhae?]

Tangannya mengepal tanpa sadar.

[Namaku bukan Rhae...]

Ia hendak menjelaskan, tetapi kata-kata itu tertahan ketika wanita tersebut kembali tersenyum.

"Baiklah, Rhae."

Wanita itu melipat kedua tangannya di belakang punggung.

"Kalau kau ingin bermain petak umpet denganku, setidaknya berikan aku kesempatan untuk menemukanmu."

Klause menatapnya semakin bingung.

"Aku—"

Namun, wanita itu sudah melangkah mundur.

"Kalau begitu, aku yang akan mencarimu!"

Sebelum Klause sempat memahami maksud perkataannya, wanita tersebut melompat.

Tubuhnya melayang ringan ke udara.

Klause langsung membelalakkan mata.

Wanita itu bergerak melewati cabang-cabang pohon dengan mudah, seolah gravitasi tidak memiliki pengaruh yang berarti terhadapnya.

Dalam beberapa detik, ia sudah berada di atas pohon.

Tepat di dekat Klause.

"Ketemu!"

Wanita itu tersenyum cerah, sama sekali tidak terlihat lelah setelah melompat setinggi itu.

Klause belum sempat menjauh ketika wanita tersebut duduk di sampingnya.

Jarak mereka begitu dekat.

Terlalu dekat bagi dua orang yang, menurut ingatan Klause, baru saja bertemu.

Namun, wanita itu tampaknya tidak merasakan kejanggalan apa pun.

Ia justru memiringkan tubuh ke arah Klause, mengamatinya dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.

"Kau aneh sekali hari ini."

Klause menegang.

Wanita itu terkekeh kecil.

"Biasanya kau sudah turun sebelum aku selesai memanggilmu."

Biasanya?

Klause hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

[Siapa sebenarnya wanita ini?]

Ia hendak bertanya, tetapi wanita itu tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya di lehernya.

Gerakannya spontan dan penuh keakraban.

Seolah tindakan itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan terlebih dahulu.

Klause membeku.

Pikirannya mendadak kosong.

[...Apa?]

Wajah wanita itu berada begitu dekat dengannya. Senyumnya masih terlihat jelas, begitu pula kilauan mata emerald yang menatapnya tanpa sedikit pun keraguan.

Klause tidak mengenalnya.

Ia bahkan tidak tahu nama wanita itu.

Namun, wanita tersebut memperlakukannya seolah mereka memiliki hubungan yang sangat dekat.

[Tunggu sebentar...]

[Siapa kau?!]

Klause secara refleks mencoba menjauh.

Sayangnya, gerakannya terlalu mendadak.

Salah satu tangannya kehilangan pegangan pada cabang pohon, sementara tubuhnya bergeser ke sisi luar tempat mereka duduk.

Untuk pertama kalinya, senyum wanita itu menghilang.

"Rhae?"

Klause mencoba menyeimbangkan tubuhnya.

Namun, semuanya sudah terlambat.

Tubuhnya terjatuh dari cabang pohon.

"Ah—!"

Mata wanita itu membelalak.

Tangannya terulur, berusaha meraih Klause.

"Rhaevor—!"

Suara itu menggema di antara pepohonan.

Sesaat sebelum tubuh Klause kehilangan keseimbangan sepenuhnya, ia melihat ekspresi wanita tersebut.

Bukan sekadar terkejut.

Ada kepanikan yang nyata di wajahnya.

Seolah ia baru saja melihat sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya akan terjadi.

Kemudian, semuanya menjadi gelap.

---

Klause membuka matanya dengan napas tersengal.

Langit gelap terbentang di atasnya.

Ia terbaring di tanah dengan satu tangan mencengkeram rumput di samping tubuhnya. Dadanya naik turun, sementara pikirannya membutuhkan beberapa saat untuk memahami keadaan di sekitarnya.

Suara dedaunan.

Udara malam yang dingin.

Aroma tanah basah.

Semuanya kembali seperti semula.

Hutan Vorath.

Klause berkedip beberapa kali sebelum perlahan mengangkat kepalanya.

"Akhirnya kau bangun."

Suara yang dikenalnya terdengar dari samping.

Klause menoleh.

Kaguya berdiri tidak jauh darinya, dengan pedang yang sudah tersimpan di sarungnya. Beberapa penjaga dan penyihir berada di sekitar mereka, tampaknya baru saja menyelesaikan pemeriksaan kawasan tersebut.

Kaguya mengamati Klause sejenak.

"Kau tertidur cukup lama."

Klause tidak langsung menjawab.

Tatapannya beralih ke pohon besar di belakangnya.

Pohon yang sama tempat ia bersandar sebelum tertidur.

Tidak ada cahaya keemasan.

Tidak ada bunga-bunga asing.

Tidak ada wanita dengan rambut emas dan mata emerald.

Hanya hutan Vorath yang diselimuti kegelapan.

[Mimpi...?

Tadi itu hanya mimpi?]

Klause perlahan mengangkat tangan ke wajahnya, kemudian mengusapnya.

Sensasi yang dirasakannya tadi masih tertinggal dalam ingatan.

Udara yang begitu ringan.

Energi sihir yang melimpah.

Cahaya matahari yang hangat.

Dan wanita itu.

Senyumnya.

Sentuhannya.

Ekspresi paniknya ketika ia terjatuh.

Semuanya terasa terlalu nyata untuk sekadar mimpi biasa.

Klause menurunkan tangannya.

[Rhaevor...]

Nama itu kembali terlintas di benaknya.

Ia mengerutkan kening.

[Siapa Rhaevor?]

Nama tersebut terdengar jelas ketika wanita itu memanggilnya. Tidak seperti panggilan sebelumnya, yang hanya terdengar sebagai nama pendek, kali ini ia mendengar nama itu secara utuh.

Rhaevor.

Nama yang bukan miliknya.

Namun, wanita itu menyebutnya dengan begitu alami, seolah tidak pernah ada kemungkinan bahwa orang di hadapannya bukanlah orang yang ia cari.

Klause mencoba mengingat wajahnya sekali lagi.

Rambut emas.

Mata emerald.

Senyum cerah.

Ia tidak mengenal wanita itu. Setidaknya, tidak berdasarkan ingatan yang dimilikinya sekarang.

Lantas, mengapa ia bisa memimpikan seseorang yang memperlakukannya seolah mereka sudah saling mengenal?

"Klause."

Suara Kaguya menariknya kembali ke kenyataan.

Klause menoleh.

"Kau terlihat seperti baru saja melihat sesuatu yang aneh."

Klause terdiam sejenak.

Ia bisa saja menceritakan semuanya kepada Kaguya. Namun, bahkan dirinya sendiri belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku hanya bermimpi," jawabnya akhirnya.

Kaguya mengangkat sebelah alis.

"Mimpi?"

"Ya."

Klause bangkit perlahan, membersihkan debu dan dedaunan yang menempel pada pakaiannya.

"Mimpi yang aneh."

Kaguya menatapnya selama beberapa detik, seolah mempertimbangkan apakah ia perlu bertanya lebih jauh.

Namun, pada akhirnya, ia tidak melakukannya.

"Kalau begitu, ceritakan kepada bantalmu nanti. Kita sudah selesai di sini."

Ia melirik ke arah para penjaga.

"Raja seharusnya sudah kembali ke istana. Sebaiknya kita tidak membuatnya menunggu lebih lama."

Klause mengangguk kecil.

Ia mengambil pedangnya dan memastikan senjata itu terpasang dengan benar sebelum mengikuti Kaguya.

Kelompok mereka mulai meninggalkan kawasan hutan.

Sepanjang perjalanan, Klause berusaha mengalihkan pikirannya pada hal-hal lain.

Namun, nama itu terus muncul kembali.

Rhae.

Rhaevor.

Ia tidak tahu siapa orang yang dimaksud wanita tersebut. Tidak tahu mengapa wanita itu begitu akrab dengannya, atau mengapa sebuah mimpi dapat terasa begitu nyata.

Ia bahkan tidak tahu mengapa energi sihir dalam mimpinya terasa jauh lebih padat daripada yang biasa ia rasakan.

Semakin ia mencoba memikirkannya, semakin banyak pertanyaan yang muncul tanpa jawaban.

Klause menghela napas.

[Mungkin hanya mimpi akibat kelelahan.]

Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Bagaimanapun, ia telah menghabiskan hampir sepanjang hari bertarung. Tidak aneh jika pikirannya menghasilkan sesuatu yang tidak masuk akal ketika tubuhnya akhirnya beristirahat.

Setidaknya, itulah penjelasan paling sederhana yang bisa ia terima untuk saat ini.

Klause mengangkat pandangan ke jalan di depannya.

Malam semakin gelap.

Dalam beberapa saat, mereka akan tiba di istana, dan ia masih harus menghadapi kenyataan bahwa pernikahan yang tidak diinginkannya semakin dekat.

Untuk saat ini, ia tidak membutuhkan pertanyaan baru.

Ia hanya ingin beristirahat.

Tanpa mimpi aneh.

Tanpa nama asing.

Dan, terutama, tanpa seorang wanita misterius yang memeluknya seolah ia adalah seseorang yang sangat dirindukannya.

Klause mengembuskan napas panjang.

[Semoga malam ini aku bisa tidur dengan tenang.]

Namun, jauh di dalam pikirannya, satu nama masih tertinggal.

Rhaevor.

Nama yang bukan miliknya.

Nama yang, entah mengapa, terdengar seperti milik seseorang yang pernah sangat berarti bagi wanita bermata emerald itu.

Dan Klause belum mengetahui bahwa pertemuan singkat dalam tidurnya tersebut mungkin bukan sekadar mimpi biasa.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience