Series
38
BAB 12 — MEREKA YANG MENUNGGU
Jauh dari Kerajaan Lumindor dan Vorath, sebuah reruntuhan kuno berdiri di tengah hutan yang telah lama ditinggalkan.
Dinding-dinding batu runtuh dimakan waktu. Pilar-pilar retak menjulang di antara pepohonan, sementara akar dan tanaman liar menutupi lantai bangunan yang pernah berdiri megah ribuan tahun silam.
Tidak ada jalan menuju tempat itu. Tidak ada penjaga ataupun tanda kehidupan.
Namun, jauh di bawah reruntuhan tersebut, sebuah ruangan tersembunyi masih bertahan.
Dindingnya terbuat dari batu hitam yang jauh lebih tua daripada bangunan di permukaan. Kristal biru keunguan tertanam di antara pilar-pilar, memancarkan cahaya redup yang membentuk bayangan panjang di lantai.
Di tengah ruangan terdapat sebuah meja batu besar yang dipenuhi dokumen, peta, dan catatan kuno.
Tiga sosok duduk mengelilinginya.
Dua pria dan seorang wanita.
Wajah mereka tersembunyi dalam bayangan, tetapi sikap mereka menunjukkan bahwa tempat itu bukan sesuatu yang baru bagi mereka.
Mereka bukan sedang mencari sebuah penemuan.
Mereka sedang menunggu.
Di belakang mereka, dua lambang terukir pada dinding batu.
Bulan sabit gelap.
Dan mawar hitam dengan kelopak terbuka sempurna.
Kedua simbol itu tampak menyerap cahaya kristal di sekitarnya, seolah-olah telah menyatu dengan kegelapan selama ribuan tahun.
Lambang Dark Lotus.
Sebuah nama yang tidak tercatat dalam sejarah resmi kedua kerajaan.
Salah satu pria mengangkat tangan. Selembar dokumen terangkat dari meja dan melayang di antara mereka.
Itu adalah salinan perjanjian kuno antara Lumindor dan Vorath.
Tulisan berusia seribu tahun masih terbaca jelas.
< Pernikahan kedua pewaris kerajaan akan dilangsungkan demi melanjutkan perdamaian untuk seribu tahun berikutnya. >
Wanita itu membaca kalimat tersebut sebelum mengangkat pandangan.
"Jadi, mereka benar-benar akan melanjutkannya."
"Ya," jawab salah satu pria.
"Dan hanya tersisa satu bulan."
Pria lainnya menyilangkan tangan.
"Jangan menganggap pernikahan itu sebagai tujuan akhir kita."
Wanita itu mengamati kedua rekannya.
"Lalu, bagaimana jika kunci yang kita cari ternyata tidak berada pada salah satu dari mereka?"
Untuk sesaat, kedua pria itu terdiam.
Kemudian, salah satunya tersenyum tipis.
"Setelah menunggu selama ini, aku tidak berniat meragukannya sekarang."
"Kau masih seyakin itu?"
"Kita akan mengetahui jawabannya ketika waktunya tiba."
Pria itu menggerakkan jarinya. Dokumen tersebut kembali ke meja, tepat di antara tumpukan catatan kuno.
"Persiapan kita sudah selesai. Sekarang, kita hanya perlu memastikan jalan yang telah kita bangun dapat digunakan."
Wanita itu melirik kedua lambang di dinding.
"Kalau begitu, mari kita kembali ke sana."
Kedua pria itu mengangguk.
Salah satu dari mereka mengangkat tangan. Sebuah lingkaran sihir terbentuk di lantai, memancarkan cahaya gelap yang perlahan meluas.
Simbol-simbol kuno berputar mengelilingi ketiganya. Kristal di dinding meredup ketika energi ruangan mengalir menuju lingkaran tersebut.
Sebelum cahaya menelan mereka, pria yang berdiri paling dekat dengan meja menoleh ke arah lambang Dark Lotus.
"Sebentar lagi."
Senyum samar muncul di wajahnya.
WUSHH!
Ketiga sosok itu menghilang.
---
Jauh di bawah tanah, sebuah lorong kuno membentang di antara dinding-dinding batu.
Tempat itu pernah hancur. Pilar-pilarnya runtuh, lantainya terbelah, dan jalur yang menghubungkan kedua ujungnya pernah terputus oleh kehancuran yang telah lama dilupakan.
Namun, kini lorong itu telah dibangun kembali.
Batu-batu retak tersusun rapi. Pilar-pilar berdiri tegak, sementara garis-garis sihir kuno mengalir di sepanjang dinding.
Seolah-olah seseorang telah mengembalikan tempat itu ke masa ketika ia masih berdiri utuh.
Cahaya gelap muncul di salah satu ujung lorong.
WUSHH!
Ketiga anggota Dark Lotus tiba.
Wanita itu melangkah maju, mengamati lorong yang terbentang di hadapannya.
"Kita berhasil mempertahankannya."
"Lebih dari itu," jawab salah satu pria. "Kita telah membangunnya kembali."
Tatapannya beralih ke bagian tengah lorong.
Pada sebuah bidang batu yang lebih luas, terukir lambang yang berbeda dari simbol Dark Lotus.
Dua bulan sabit saling berhadapan.
Satu tampak terang, sedangkan yang lain diselimuti kegelapan. Keduanya melengkung ke arah satu sama lain, mengitari sebuah bintang kecil dengan empat ujung.
Twin Eclipse.
Wanita itu terdiam di hadapan lambang tersebut.
Perlahan, tangannya terangkat, berhenti sebelum menyentuh permukaan batu.
"Jadi, kau masih mengingatnya," bisiknya.
Tidak jelas apakah dia sedang berbicara kepada lorong itu, lambang tersebut, atau sesuatu yang tidak terlihat oleh kedua pria di belakangnya.
Salah satu pria mendekat.
"Kita belum tahu apa yang masih tersimpan di dalamnya."
"Kita tidak akan mengetahuinya jika hanya berdiri di sini," sahut rekannya.
Saat pria itu melangkah mendekati lambang, garis tipis muncul di permukaan batu.
Cahaya merambat mengikuti bentuk kedua bulan sabit, lalu berhenti pada bintang kecil di tengahnya.
Lorong itu bergetar pelan.
Garis-garis cahaya muncul di sepanjang dinding, menghubungkan Twin Eclipse dengan ukiran-ukiran kuno yang tersembunyi di balik lapisan batu.
Ketiganya terdiam ketika getaran sihir memenuhi lorong.
Wanita itu menutup mata.
Sebuah pemandangan samar melintas di benaknya.
Tempat yang pernah dikenalnya.
Perasaan yang begitu akrab hingga membuat dadanya sesak.
Dia membuka mata dengan cepat.
"...Aku ingat."
Kedua pria itu menoleh kepadanya.
"Bukan semuanya," lanjutnya. "Hanya sebagian."
Salah satu pria mengembuskan napas panjang.
"Berarti tempat ini masih terhubung dengan sejarah kita."
Pria lainnya tidak menjawab. Pandangannya terpaku pada cahaya yang semakin terang.
Di dalam benaknya, sesuatu yang telah lama terkubur mulai bergerak.
Bukan sekadar pengetahuan dari catatan kuno.
Melainkan kenangan.
Kenangan yang tidak sepenuhnya dapat dijangkaunya, tetapi cukup nyata untuk membuatnya menyadari bahwa mereka pernah berdiri di tempat yang sama.
Pada masa yang sangat jauh.
Sebelum lorong itu hancur.
Sebelum sejarah berubah.
Sebelum nama-nama mereka terkubur oleh waktu.
Wanita itu perlahan menurunkan tangannya.
"Kita belum bisa membuka semuanya."
"Belum," jawab pria di sampingnya. "Namun, setidaknya kita tahu bahwa jalan ini masih mengenali kita."
Cahaya Twin Eclipse berdenyut sekali sebelum perlahan meredup.
Ketiganya tetap berdiri di hadapan lambang tersebut.
Mereka tidak menyebut nama siapa pun. Tidak menjelaskan apa yang mereka ingat, ataupun mengungkapkan alasan sebenarnya mereka membangun kembali lorong itu.
Namun, satu hal telah dipastikan.
Jalan tersebut masih ada.
Dan sejarah mereka belum sepenuhnya hilang.
Wanita itu menatap Twin Eclipse untuk terakhir kalinya.
"Kali ini, kita tidak boleh melupakan apa yang terjadi."
Kedua pria itu tidak menjawab.
Mereka hanya berdiri di sisinya, memandang lambang yang kini kembali diam.
Jauh di atas mereka, Lumindor dan Vorath terus menjalani kehidupan seperti biasa.
Kedua pewaris kerajaan itu bahkan belum mengetahui bahwa sesuatu dari masa lalu mulai bergerak.
Mereka tidak tahu bahwa sebuah jalan kuno telah dibangun kembali, atau bahwa tiga sosok yang telah menunggu selama berabad-abad akhirnya kembali ke tempat yang menyimpan sebagian sejarah mereka.
Dan Dark Lotus...
telah kembali ke jalan yang pernah menjadi bagian dari masa lalu mereka sendiri.
Share this novel